Wednesday, August 3, 2011

Musik Cinta dari Romi (Part 3)

Posted by Unknown
            “Kalo gitu, kita ketemuan di taman dekat rumah, ya? Kamu mainin biola kamu, aku mainin gitar aku,” usul Romi tak kalah mantap.
            “Oke, deh. Hari apa, Rom?”
            “Sabtu, tanggal 1 April.”
            Cinta tersenyum mengiyakan dan menatap Romi dengan tatapan aku-janji. Hati Romi menghangat dan terasa tenang. Dia berjanji akan mempersembahkan lagu paling romantis untuk gadis ini. Hanya untuk gadis ini.
&&&
            Sesuatu bisa terjadi kapan saja secara tiba-tiba. Di hari sebelum tanggal yang sudah ditentukan Romi akan memainkan lagu buat Cinta, ternyata dia jatuh sakit. Kemudian, Cinta punya kabar buruk yang akan merusak semuanya.
            “Halo?” sapa Cinta di telepon saat suara orang yang diinginkannya terdengar di seberang. “Romi, tanggal 1 April, aku berangkat konser ke Bali.”
            Romi meringis. Hening.
            “Romi, jangan marah, ya. Aku janji lain kali pasti bisa.”
            “Terserah, Cin. Kamu tahu, aku juga lagi sakit. Jadi, silakan pergi ke Bali. Semoga sukses. Oh iya, jangan pernah berjanji kalo kamu tau nggak bisa menyanggupi janji itu, Cin. Orang yang kamu janjikan itu akan sakit hati kalo ternyata kamu melanggar janjimu,” balas Romi ketus. “Selamat konser!”
            Setelah mengucapkan itu, Romi menutup telepon. Ingin sekali dia berteriak. Kali ini, dia tidak mau membahas segala sesuatu tentang Cinta. Cukup! Dua tahun sudah terlalu lama dan jika saat bertemu lagi akan selalu dikecewakan, lebih baik Romi mundur dan mengekspresikan sayangnya secara diam-diam.
            Di tempat lain, Cinta menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Di saat yang sama, Cinta sadar kalau dia mulai menyukai Romi. Parahnya, dia baru sadar setelah sekian lama mengenal cowok itu. Di awal pertemuannya, Romi terlihat familier, seperti pernah bertemu sebelumnya. Kemudian, setelah diingat lagi, Romi memang pernah bertemu Cinta di konser Tahun Baru saat umurnya 12 tahun. Romi adalah laki-laki berumur 13 tahun yang menjabat tangannya saat bundanya mengenalkan Cinta pada Romi dan Tante Yuli, ibu Romi. Cinta juga sempat memandang Romi yang duduk di depan panggung saat dirinya tampil solo di konser itu. Saat itu juga, dia melihat senyum dan pandangan kagum dari kedua mata Romi. Setelah kejadian itu, Cinta mengucapkan selamat tinggal pada Romi untuk (tebakannya) selamanya. Bodohnya, dia tidak menanyakan nama. Tapi, YME sangat adil dan bijaksana. Ia mempertemukan Cinta dengan Romi lagi di waktu yang berbeda.
            “Andai saja, waktu itu aku dekat dengannya. Mungkin, kini aku dan dia tidak saling seperti ini,” Cinta mengutuk diri sendiri dan mulai berkhayal.
&&&
            Romi sudah sembuh dari sakitnya saat Cinta sudah balik dari Bali. Perasaan Romi kacau, tapi dia berusaha untuk menutupinya. Perlahan, dia menuliskan teks lagu untuk Cinta agar perasaannya cair. Kalau tidak, dia bisa mati!
            “Wan, lo pindah ke sebelah Cinta, ya? Gue udah males jadi bahan candaan anak-anak satu angkatan. Lo sih, biang kerok!” cecar Romi pada Irwan saat memergoki teman sekelasnya sedang hendak membenahi tas.
            “Kenapa? Lo putus?” goda Irwan tidak mempedulikan keluhan Romi.
            “Sialan! Suka aja kagak! Gimana bisa jadian? Kalo udah nggak jadian, apa yang perlu diputusin?” giliran Romi yang menggoda Irwan seraya membohongi perasaannya sendiri. Irwan terlihat idiot saat ini. “Bego sih, lo! Dosa ngejekin gue melulu.”
            Cinta mendengar ucapan Romi tadi dan langsung menghembuskan nafas pelan. Why does my love always ends up unrequited?! Am I a sinner? Am I a bad person? What did I do? tangis Cinta dalam hati. SAKIT!
            Bagus malas ikut debat tak berujung di kelas. Ia memutuskan untuk keluar kelas dan berjalan-jalan. Tidak sengaja, pandangannya tertuju pada Cinta yang sedang membungkuk dan menangis. Bagus yang otak care-sama-cewek-nya udah nggak bener, malah balik ke dalem kelas dan duduk dengan tampang super dodol.
            “Lo kenapa, Gus?” tanya Irwan diikuti teman-teman lain termasuk Romi.
            “Si Cinta kok, pagi-pagi udah nangis, sih?” Bagus bertanya balik. Romi tersentak.
            “Hayoloh, Rom! Makanya, cewek secakep dan sebaik Cinta jangan diputusin!” olok Irwan dan di-copy-paste teman-teman lainnya.
            “Lo tuh, kampret banget, asli! Emang, Cinta nangis gara-gara gue? Siapa bilang? Dia nangis, urusan dia. Nggak ada hubungannya sama gue. Lagian, gue sama Cinta itu cuma temen sekelas yang kebetulan sebangku dari semester ke semester! Jadi, dia nangis, lapor bokapnya,” ucap Romi kesal sambil menggebrak meja. Teman-teman yang lain jadi panik dan berusaha menenangkan suasana.
            Romi pergi keluar dan melihat sosok yang sedang dibicarakan. Melihat Cinta menangis, Romi menangis juga dalam hati. Tapi, dia berusaha tidak terlalu berurusan.
            “If it’s true, tell me!” pinta Cinta sambil menatap Romi.
            “What?” tanya Romi balik tidak mengerti.
            “Yang tadi kamu bilang di dalem. Itu semua bener-bener dari hati, ya?”
            “Ng…”
            “Oh iya, Rom, makasih banget udah jadi temen sekelas yang sebangku sama aku. Makasih udah nganterin aku dan do’ain aku pas aku ingkar janji dan malah memutuskan pergi ke Bali. Makasih udah jadi temen aku,” ucap Cinta lirih. “Terakhir, jangan pernah bohongi perasaan kamu. Karena kalo kamu bohong, bukan hanya kamu yang sakit. Orang yang dibohongi juga sakit, Rom.”
            Sebelum berkata apa-apa, Romi ditinggal Cinta. Sebagai cowok yang logikanya di atas rata-rata logika cewek, Romi sadar. Romi sayang dan peduli dan suka pada Cinta, Cinta pun sebaliknya. Tapi, baru saja dia membohongi perasaannya dan menyakiti orang yang dia sayang. Hebat!
&&&
            Hari itu adalah hari terakhir Romi dan Cinta bercakap-cakap. Sampai akhirnya, Romi meletakkan sesuatu di depan teras rumah Cinta saat hanya ada Cinta di rumah yang sedang asyik memainkan biola. Romi mendengarkan permainan biola Cinta sebentar dan tersenyum. Senyum pedih dan senyum harap jadi satu. Kemudian, dia pergi setelah meletakkan sesuatu itu dan memencet bel rumah Cinta.
            Romi menyembunyikan diri di balik tirai kamarnya yang bisa menerawang ke halaman rumah samping. Cinta menatap dan mengamati teks lagu yang diletakkan Romi. Dengan saksama, Cinta membaca tulisan kecil di sudut kanan bawah teks itu. Dia tersenyum. Romi tersenyum lega.
&&&
            Beberapa hari setelah itu, Cinta tidak hadir di sekolah. Hal ini mengusik Romi. Akhirnya, dia bertanya pada Ethan. Ethan dengan wajah murung memberitahu Romi bahwa Cinta kecelakaan dan batal menghadiri konser Tahun Baru yang sebentar lagi datang. Romi merasa seperti disayat-sayat.
            Setelah diberikan alamat rumah sakit tempat Cinta dirawat, Romi bergegas ke sana. Dia mengambil gitarnya terlebih dahulu. Hatinya seakan-akan sedang badai besar. Setelah diberikan teks lagu buatannya sendiri, kenapa Cinta kecelakaan?
            “Hai,” sapa Romi saat memasuki ruang rawat Cinta. Leher Cinta dibalut dengan alat penopang leher. Tangannya patah dan ada luka goresan di kening kirinya.
            “Hey,” sapa Cinta balik berusaha terlihat tidak apa-apa.
            “Udah. Nggak usah pura-pura sehat, Cin. Tiduran aja,” ujar Romi perhatian. Cinta tersenyum lemas. “Kamu udah mainin itu, kan?”
            “A..apa?” tanya Cinta serak.
            “Teks yang aku kasih kemarin?”
            “Udah, kok. Ba… gus. A.. ku suka banget.”
            “Boleh aku mainin versi gitarnya?”
            Cinta mengangguk pelan dan memejamkan matanya berusaha menikmati permainan gitar Romi.
            Romi memulai aksinya. Senar gitar mulai dipetik dan hal yang terjadi adalah Romi memenjamkan mata sambil menikmati alunan musik itu. Cinta menatap Romi. Romi merasa diperhatikan, lalu membuka mata dan mempertemukan matanya dengan sepasang mata Cinta.
            Usai memainkan lagu itu, Cinta tersenyum tulus. Dia ingin bertepuktangan, tapi salah satu tangannya patah. Romi juga tidak mengharapkan apresiasi tepuk tangan. Senyum dari Cinta sudah cukup.
            Romi meletakkan gitarnya di atas sofa di samping tempat tidur rawat Cinta. Kemudian, dia menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang rawat tersebut. Romi meraih jemari Cinta dan menatap dengan serius dan dalam mata kedua gadis yang dia sayangi itu. Hanya sekedar menatap.
            “Kok, kamu ngeliatin a.. ku kaa..yak gitu, sih, Rom?” tanya Cinta penasaran dan malu.
            “Everything about you is indescribable in so many good ways. And I love that,” komentar Romi. “Cin, aku sayang sama kamu. Dari dua tahun lalu dan mungkin sampai kapanpun. Biolamu, musikmu, semuanya tentangmu itu indah dan sulit dideskripsikan, Cinta. Itu membuatku fall in love and I want you to know that I love you like I love music. Will you be my girlfriend?
            Cinta mengeratkan genggaman Romi. “I’d love to. I’ve loved you since that day when I met you. You have captivating smile and a pair of beautiful hazel eyes. And last and most important, you have that sense of music and romanticness that you always show whenever you’re near. Aku kagum.”
            Romi mengecup pipi Cinta dan setengah memeluknya. Akhirnya, gadis yang selama ini ia cari menjadi miliknya juga. Cinta nyaman dengan genggaman dan kehangatan Romi. Semua berkat musik Cinta dan biolanya, serta rasa sayang untuk musik.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos