Monday, August 1, 2011

Aku dan Mereka (Part 2)

Posted by Unknown
 “Kalo kamu nggak mau, nggak apa-apa. Tapi, gue minta, jangan buat gue sakit hati, ya, Din. Karena gue bener-bener sayang sama lo,” ujar Andi.
            Sebelum aku sempat menjawab, Rian mengetuk pintu. Dia meminta maaf karena melihat aku dan Andi belum selesai bicara. Tapi, kemudian, aku menahannya untuk pergi ke luar lagi. Kemudian, aku menyuruh Rian menggantikanku dengan alasan ingin ke kamar mandi.
            “Lo apain dia, An?” tanya Rian yang suaranya terdengar dari kamar mandi yang letaknya di dalam kamar rawat.
            “Gue minta dia jadi cewek gue,” jawab Andi santai.
            “Lo tuh, bego! Curang! Terlebih, lo aneh!” cibir Rian.
            “Kenapa? Lo suka sama dia juga? Sayang sama dia? Lo pingin dapetin dia dan jadi cowoknya? Gitu?” tanya Andi ketus.
            “Ya. Gue sayang sama dia sejak saat lo deket sama dia. Dulu mungkin gue hanya sekedar naksir dia. Tapi, gue sekarang udah dewasa, An. Gue pengen jadi cowoknya dan… kalo gue perlu bersaing sama lo, gue akan bersaing sama lo,” ucap Rian tegas.
            Pikiranku terusik dan tak terasa, mataku berair. Aku menangis. Perasaanku saat ini kacau dan benar-benar campur aduk. Aku merasa bersalah, tersanjung, takut, kecewa, risih, bingung, galau, dan sedih. Semuanya jadi satu dan saat itu juga menusuk diriku sendiri. Dengan susah payah, aku keluar dari kamar mandi. Aku ingin pulang sekarang juga! Terserah pada kakak-adik itu, aku tidak mau tahu!
            “Dina!” panggil Rian dan Andi bersamaan saat melihatku berlari seperti itu.
&&&
            Berminggu-minggu setelah pengakuan kedua teman laki-lakiku itu, aku menjauh. Menjauh dari jangkauan dan pendekatan keduanya. Berusaha untuk menahan tangis, rindu, dan yang paling susah adalah berusaha untuk memberikan mereka isyarat bahwa aku menolak keduanya dengan paksa. Sampai saat yang tidak ingin kulewati datang juga. Saat dimana mama mengundang keluarga Tante Reni makan-makan di rumah kami. Parahnya, aku harus berdan-dan.
            “Mereka berdua naksir lo, Dek?” tanya Intan seraya menyisir rambut coklatnya.
            “Nggak usah diinget-inget bisa?!” pintaku dengan penuh paksaan.
            “Lo hebat, Din. Gue bersyukur banget bisa jadian sama Sena dan bersyukur itu semua karena lo bertiga, plus mama,” jawab Intan tidak nyambung. “Lo pilih yang mana, Dek?”
            Aku mendengus kesal dan memukul Intan dengan sekuat tenaga pakai guling. Intang mengerang kesakitan. Tapi, erangannya itu terdengar setengah tertawa. Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur.
            “Aku pilih seseorang yang nanti bakal jadi pasangan hidupku selamanya,” jawabku ambigu.
            “Pret… Bahasa lo tua!” ledek Intan.
&&&
            Aku belum juga turun dari kamar. Intan sudah asyik berduaan dengan Sena. Aldo malah menyingkir dan menikmati permainan PS-nya sendiri di ruang tivi. Dari tadi, Rian dan Andi belum terdengar saling menyapa satu sama lain. Apa mereka masih marah?
            Mama, untuk yang kesekian kalinya, memanggilku lagi. Aku menyahut dan akhirnya memutuskan turun. Malam ini, aku memakai gaun yang selutut yang bagian atasnya berbentuk V yang tidak terlalu rendah. Kemudian, aku menambahkan kalung yang berbentuk inisialku, anting-anting, dan terakhir gelang. Rambutku digerai biasa dan aku hanya memakai lip-gloss dan sedikit blush.
            “Tuh, si Dina akhirnya turun juga,” ucap Intan yang melihatku turun.
            Rian dan Andi menatapku. Salah satu dari mereka kaget. Aku tersenyum kecil dan berusaha untuk terlihat tenang. Setidaknya, lebih tenang daripada detak jantungku. Andi adalah salah satu dari mereka yang lebih dulu menurunkan pandangan. Sinyal itu memberitahuku bahwa dia sudah tidak lagi ada perasaan apa-apa denganku.
            Setelah diberi panggilan dari mama, semua menyatu di ruang makan. Sialnya, aku duduk di antara Rian dan Andi. Tempat dudukku nyaman, makanan yang disajikan mama enak, tapi yang tidak cocok adalah posisiku saat ini. Di tengah-tengah. Kalau ibarat orang perang, aku berperan sebagai sesuatu yang berharga yang sedang diperebutkan.
            “Kamu cantik, Din,” puji Andi sambil berbisik.
            “Makasih ya, Di,” jawabku.
            You look gorgeous, Din,” puji Rian setelahnya.
            Thanks, Yan,” jawabku.
            Keduanya terlihat tenang, tapi juga terlihat dingin. Aku bingung serta khawatir. Apa mereka menyimpan pisau untuk saling menghajar saat salah satu sudah keterlaluan memujiku? Apa ini hanya aku yang terlalu geer? Wow!
&&&
            Makan malam berjalan damai. Andi benar-benar sudah moved-on dariku. Tapi, dia juga menyuruhku untuk ikut dengannya ke halaman belakang rumahku. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
            “Din, lo cantik banget malem ini. Hari-hari sebelumnya dan mungkin hari-hari besok, tetep cantik,” mulai Andi. “Gue mau bilang, lo sekarang nggak usah takut sama gue dan Rian. Sekarang kita udah nggak main bersaing lagi, Din. Gue akhirnya sadar kalo gue dan elo hanya bisa saling menyayangi sebagai sahabat. Gue tau, gue keras kepala, kadang egois, dan parahnya gue suka maksa. Tapi, akhirnya, gue juga yang harus sadar duluan. Karena, selama ini, gue dan elo akrab sebagai sahabat. Dan, gue tau, kita nggak bisa lebih dari itu. Tapi, lo dan Rian bisa. Gue hargai itu. Lagipula, gue bisa cari yang lain, kok. Sekarang, silakan terima Rian, Din. Gue bakal ngedukung, kok.”
            Aku melongo sebentar. Kemudian, “Makasih ya, Di. Aku sayang sama kamu sebagai sehabat, kakak, tetangga, dan sebagai seseorang yang ngasih pengaruh besar sama aku. Aku seneng kamu bisa bener-bener jadi kakak yang baik untuk Rian dan untuk aku. Makasih ya, Di. Aku yakin, suatu hari nanti, pasti kamu bakal fall in love with someone better.”
            Andi tersenyum dan menunjuk ke sesuatu atau seseorang yang sedang memerhatikan dirinya dan aku. Aku membalikkan badan dan menemukan Rian menatapku. Andi memelukku dan menghampiri Rian. Dia sempat membisikkan kata-kata yang berhasil buat Rian tersenyum senang.
            “Halo, cantik!” sapa Rian.
            Aku memerah dan tersenyum. “Hai juga, Yan!”
            “Masa aku nggak dipanggil ‘ganteng’, sih?”
            “Emangnya, kamu ganteng?”
            “Mau jawaban jujur atau bohong?”
            “Bohong.”
            “Aku mirip Ashton Kutcher, loh,” ucap Rian. Aku terkekeh.
            “Yang jujur?”
            “Aku ganteng,” jawab Rian dengan bangganya. Aku menggelengkan kepala dan memutar bola mataku. Rian meraih tanganku dan menggenggam jemariku. “Kalo aku ganteng, kamu cantik. Kalo aku jelek, kamu tetep cantik, kok. Jadi, di mata aku, kamu akan selalu jadi cewek yang cantik. Beautiful on the outside and gorgeous on the inside. That’s so you.
            Sekarang, wajahku mirip kepiting rebus! “Makasih, Yan. Berlebihan banget. Gombal!”
            “Berhubung aku lagi bisa ngegombal, kamu mau jadi pacar aku nggak, cantik?”
            “Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku balik mengulang ucapan Rian. Rian tersenyum.
            “Bohong.”
            “Mau.” Terlihat wajah Rian yang kecewa.
            “Yang jujur?” suara Rian terdengar ragu.
            “Aku mau banget jadi pacar kamu,” jawabku singkat, kemudian meninggalkan Rian yang masih melongo dan kaget.
            Rian mengejarku. Saat langkahnya sudah sejajar denganku, dia merangkulku dan mengecup kening kiriku. Hangat. Masih seperti dulu.
&&&
            “Lo pilih siapa tadi, Dek?” tanya Intan penasaran, setelah makan malam selesai.
            “Coba tebak!” jawabku.
            “Andi?”
            “Bukan.”
            “Rian, dong?”
            “Sebenernya, bukan milih. Tapi, Andi bilang dia sadar kalo dia cuma suka sama aku sebagai sahabatnya aja. Nah, si Rian masih punya perasaan yang sama. Alhasil, karena aku juga suka sama Rian, pas Rian nembak aku, aku terima dan mulai jam 8 tadi, aku resmi jadian sama Rian,” jelasku.
            Intan mengangguk puas.
            “Kak, aneh ya? Anak tengah di antara keluarga kita sama keluarga Tante Reni akan punya pasangan sendiri-sendiri,” ucapku.
            “Iya juga, ya,” kata Intan meyakinkan. “Aldo bakal punya cewek sendiri. Andi juga akan punya cewek sendiri. Mereka berdua anak tengah. Sementara aku, aku sama Sena. Kamu, kamu sama Rian. Dan kita, kita bukan anak tengah.”
            Aku tersenyum. Kemudian, klakson motor Rian terdengar dari depan rumah. Intan menatapku dengan wajah menggoda. Aku memukulku pelan dan berlari ke bawah.
            “Hai, cantik! Jalan, yuk!” ajak Rian.
            “Hai, ganteng! Ayo!” jawabku.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos