Monday, January 27, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (8)

Posted by Unknown 0 comments
Chapter 1

1.8 "If I say 'I love you, dear', will you say it back?"

Sabtu pagi tiba begitu cepatnya. Sinar matahari pagi di setiap akhir pekan memang tak pernah menyengat kulitku. Tidurku malam sebelumnya sangat nyenyak mengetahui bahwa hari ini tak ada tuntutan sekolah. Seperti biasa, aku memeriksa ponselku barang kali ada sebuah pesan masuk selama aku tertidur. Sesuai dugaanku, ada dua pesan masuk. Satu dari Al dan satu pesan lagi dari operator yang entah mengapa selalu sampai di kotak spam.
BANGUN! Gue udah setengah jam nunggu di depan pager rumah lo! Jadi, nonton pertandingan basket kakak gue, kan?!
Mampus aku! Aku benar-benar melupakan janjiku untuk menemani Al menonton pertandingan kakaknya. Setengah belum sadar, aku berdiri dan hampir terhuyung ke belakang karena belum sempurna membuka mata. Bergegas aku menuju lemari pakaian dan memilih baju sejadi-jadinya. Kemudian, aku panik mencari handuk yang mendadak hilang dari gantungan tempatku biasa meletakkannya. Kenapa di saat butuh semua hal penting selalu secara misterius tidak terlihat?
"Mbok Num!" panggilku sambil melongokkan kepala keluar kamar.
"Ya, Non?" balas Mbok Num.
"Al emangnya udah dari tadi di depan pagar?" tanyaku penasaran. Tidak ada jawaban. Ah, Mbok Num kenapa jadi labil begini? Sebentar bersuara, sebentar lagi hening.
Aku menyeret kakiku sendiri menuju ruang gosok untuk mengambil handuk baru. Langsung aku bergegas ke kamar mandi. Sepertinya, Mbok Num tak menjawab karena memang Al sudah menantiku di luar sana. Aku pun mengutuk pagi hari ini yang seharusnya bisa lebih tenang.
Seusai mandi, aku melihat pilihan bajuku yang tadi seenaknya saja kutarik dari lemari. Rasanya, aku begitu gagal menjadi perempuan melihat pilihan bajuku. Tak ada yang mengesankan rapi dan serasi. Ne, kenapa begitu bodoh? Aku kembali mengaduk-aduk isi lemari pakaianku. Kuambil lagi setelan pakaian yang lumayan cocok untuk dipadupadankan. Celana jeans putih selutut dengan paduan tank-top berwarna aqua dan rompi kulit berwarna cokelat membalut tubuhku. Tak lupa aku memakai kalung berhiasan kumis berwarna hitam-putih dan gelang yang sewarna dengan rompi yang kupakai. Aku menguncir kuda rambutku dan menyisakan sedikit rambut di kanan dan kiri pipiku. Poniku menutupi kening tanpa tersisir rapi. Setelah berhias, aku langsung mengambil tas vintage dan memakai sepatu vans-ku yang berwarna hitam dan berlalu menuju pagar rumahku tempat Al bilang tadi.
Sampai di depan pagar, aku kaget bercampur kesal bahwa Al ternyata sudah menipuku. Ia tak ada di sana, tak sedang menungguku dari setengah jam yang lalu. Bodohnya aku menghamburkan ketenangan pagiku hanya untuk diusilkan Al. Al, aku benar-benar membencimu untuk hal ini!
Tiba-tiba ada dua telapak tangan yang menutupi mataku saat aku menggeram hebat. Aku berusaha mengelak dan melepaskan kedua telapak tangan itu. Yang kudengar hanya suara tawa yang tertahan. Ini pasti Al. Pasti.
"Al! Lepasin!" geramku sambil berusaha melepaskan tangan Al dari wajahku.
Al tertawa terbahak-bahak setelah puas mengerjaiku. Aku memukul lengannya dengan penuh rasa kesal. Namun, usahaku sia-sia karena pukulan itu tak akan memberikan dampak apa-apa pada otot-otot Al. Kesal, aku mendiamkannya sepanjang ia bercakap-cakap. Al menggiringku ke mobilnya, membukakan pintu penumpang, dan mempersilakan aku masuk. Masih memasang wajah kesal, aku masuk dan duduk dengan sangat tak niat di atas jok penumpang sebelah sopir. Al harus membayar kejahilannya yang telah menguras semangat pagiku.
"Jutek banget, Ne," pancing Al sambil memutar setir mobilnya. Ujung bibirnya naik seperti sedang tersenyum puas akan apa yang telah ia lakukan.
Aku menyalakan radio mobil Al. Kucari frekuensi radio yang bisa meminimalisasi percakapan yang akan terjadi antara aku dan Al selama perjalanan. Al sesekali mencuri pandang melirikku diam-diam. Bukan aku tak tahu, aku bisa merasakan matanya yang tertuju tepat padaku. Aku pun melakukan hal yang sama saat Al sedang tidak memerhatikanku.
"Ya Allah, Ne, maafin gue, dong," pinta Al akhirnya. "Lagian, perasaan beberapa hari yang lalu kan, kita udah janjian Sabtu ini mau nonton pertandingan basket kakak gue. Masa lo lupa? Masa ketiduran?"
Aku tetap diam tak berniat menjawab rentetan pertanyaan Al.
"Une," panggil Al setengah memohon. "June Aphrodita Malik!"
Mendengar nama lengkapku diucapkannya sangatlah langka. Al tak pernah menyebutkan nama lengkapku secara cuma-cuma. Dulu, sempat kutanya mengapa ia anti sekali menyebutkan tiga kata itu. Jawaban Al singkat, katanya namaku terlalu istimewa jika diucapkan tanpa maksud apa-apa. Nama Dewi Yunani lebih tepat diucapkan seseorang ketika ingin menganugerahkan sesuatu atau ketika ingin mengungkapkan kata-kata penting. Lalu, nama June, kata Al, terlalu barat untuk gadis sepertiku yang sangat berwajah oriental. Dan kata Malik, atau lebih kukenal dengan sebutan ayahku di kantor, Al selalu segan mengucapkan nama beliau. Namun, baru saja kudengar Al memanggil nama lengkapku. Kaget, aku menoleh ke arahnya.
"Ini saat yang cukup penting buat gue memanggil nama lengkap lo," jawab Al seolah tahu apa yang kuekspresikan dengan wajahku. "Maaf, Ne, gue nguber-nguber lo pagi ini."
Aku membalikkan badanku 90 derajat menghadap Al. "Al, sumpah ya, tadi pagi gue benar-benar lagi kayak putri tidur baru dibangunkan pangeran. Bangun gue tuh, anggun sampai saat gue buka SMS dan ada pesan dari lo. Gue panik nyariin handuk, narikin baju sedapetnya, lari-lari dari kamar mandi ke kamar gue buat pakaian buru-buru karena lo bilang lo udah nunggu setengah jam. Eh, tahunya, pas gue lihat di depan pagar enggak ada siapa-siapa. Terus, lo sok asik banget nutup-nutupin mata gue kayak tadi. Pacar aja bukan, udah pegang-pegang."
Tepat saat lampu merah berdurasi dua menit, Al memutar tubuhnya menghadapku. "Iya, gue minta maaf. Maaf banget, my girl, my best friend, my Aphrodite. Gue enggak akan sok-sok ngejahilin lo lagi deh, di hari libur kayak gini. Gue bakal belajar mengerti kalau lo emang enggak bisa diganggu gugat pas akhir pekan. Jadi, lo lupa lo kemarin-kemarin bilang lo mikirin gue? Ah, lo ngarep banget gue jadi pacar lo, ya, Ne."
Aku menoyor kepala Al sampai membuat Al tertawa. Tangannya berusaha menutupi kepalanya sendiri dari hantamanku berikutnya. Di 30 detik sebelum lampu hijau menyala, aku dan Al masih bergulat hebat di belakang setir mobilnya. Lalu, Al meminta untuk memberhentikan permainan konyol kami ini sementara untuk kembali fokus pada jalan di hadapannya. Bertemu dengan lampu merah lagi, aku memukul lengan kiri Al. Al meringis pura-pura sakit. Kemudian, ia berusaha mengacak-acak poniku. Aku berusaha mengelak.
"Rizal Alqadr! Stop it!" rengekku pada Al sambil menyembunyikan seluruh kepalaku di atas dasbor mobil Al. Al tenggelam dalam tawanya yang riuh mengisi udara mobil ini. Perlahan aku pun ikut tertawa bersamanya.
Inikah yang kusebut-sebut persahabatan? Pantaskah dua orang sahabat tertawa dan bercanda sedekat ini? Wajarkah senyum dan tawanya menghembuskan desir kebahagiaan dalam hatiku? Wajarkah seorang sahabat merasa begitu nyaman sampai-sampai menahannya untuk tidak mencintai orang lain? Inikah yang kunamakan sahabat? Empat tahun bersembunyi di balik kata persahabatan, apakah masih kurang lama? Inikah rasanya jatuh cinta? Atau hanya rasa hangat saja karena terlalu sering bersama? Al, andai kamu bisa menjawabnya karena sampai saat ini aku belum mampu mencari tahu.
Seperti adegan manis dalam film-film romantis, tawa Al dan tawaku seolah-olah terjadi secara slow motion. Baik aku maupun Al menikmati renyahnya suara yang keluar dari rongga mulut kami yang terus menerus mengisi udara mobil ini. Menggantikan sejuknya pendingin yang dari tadi tak pernah kuanggap berfungsi. Ya, mungkin aku sudah jatuh cinta pada Al. Namun, satu lagi sisa pertanyaanku, apakah Al merasakan yang sama?
***
Aku melihatnya tertawa begitu cantik. Gadis ini tak pernah bosan menghadiahkan senyum dan tawanya padaku. Semua pertanyaan berkeliaran di benakku. Tak mampu mencari jawaban, aku berusaha mendiamkan mereka. Sadarkah engkau, Une, bahwa baru saja aku memanggilmu sebagai gadisku. Dewi Aphrodite pribadiku. Apa masih kurang perhatianku agar bisa membuatmu menyadarinya? Apa aku harus benar-benar mengungkapkan cinta padamu hingga kau bisa mengetahui semua itu? Tapi, apa kau akan merasakan hal yang sama? Akan begitu menyakitkan jikalau aku mengatakan segalanya padamu, namun kau sudah mempunyai orang lain yang mengisi hatimu. Zeus mungkin. Aku tahu, kadang kau masih mengingat memori indah bersamanya. Ah, Une...
"Al," panggil Une seusai tawanya.
"Hmmm?" balasku singkat sambil tetap memerhatikan kemudiku.
"Abang lo nomor punggungnya berapa?" tanya Une sambil menatapku penasaran. Jangan bilang Une diam-diam menyukai abangku.
"Kenapa? Lo suka sama abang gue dan niat ngasih sorak-sorai buat dia?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Enggak. Masa gue diajak, tapi gue enggak tahu siapa yang mau didukung?" balas Une masuk akal. Syukurlah, Une hanya bertanya demi formalitas pertandingan basket.
"Abang gue pakai nomor 16," jawabku sambil memutar setir ke kanan memasuki lahan parkir tempat pertandingan basket sedang dilangsungkan. "Siap-siap. Udah sampai."
Une mengangguk dan melepas sabuk keselamatannya. Setelah memosisikan mobil dengan benar di salah satu tempat parkir yang disediakan, aku langsung keluar dan membukakan pintu untuk Une. Satu dari seratus caraku memperlihatkan bahwa aku benar-benar menyayanginya dan ingin dia tahu bahwa dialah gadis yang selama ini aku bicarakan. Une hanya memberikan lekuk senyum khasnya yang kerap semakin besar efeknya untuk degup jantungku.
"Thank you, my gentleman," ucap Une bergurau. Aku tahu ia sedang tidak serius. Aku hanya bisa membalas kata-katanya dengan mengacak-acak poninya. Une menggeram sambil memukul-mukul lenganku. Maaf Ne, tapi tenagamu masih kurang.
Aku dan Une pun berjalan beriringan memasuki lapangan pertandingan. Tempat duduk penonton dan pendukung sudah ramai dengan aneka jersey dan pernak-pernik pendukung lainnya. Sebelum benar-benar menduduki salah satu tempat duduk yang tersisa, aku membelikan Une dan diriku sendiri camilan ringan beserta minuman bersoda untuk kami nikmati selama pertandingan berlangsung.
"Itu ya, abang lo? Yusuf, kan, namanya? Gue lupa-lupa ingat," tanya Une sambil menunjuk tepat menuju posisi abangku berdiri.
"Iya. Abang gue jarang main ke rumah sih, jadi jarang banget ngobrol sama lo," komentarku mengobati rasa penasaran Une. "Lagi sibuk dia, bentar lagi sidang. Doain, Ne, biar abang gue sukses jadi graphic designer. Katanya mau menyelam sambil minum kopi di London sana."
"Hah?" tanya Une setengah ingin tertawa.
"Iya. Dia bilang nanti mau cari beasiswa ke London sekaligus peluang jadi atlet basket di sana," jelasku membeberkan sedikit rencana besar abangku. Une manggut-manggut sok mengerti.
"Gue heran sama kalian berdua, Al. Abang lo basket sekaligus perancang grafis. Lo petinju merangkap pelawak dan orang iseng. Kenapa enggak ngikutin langkah abang lo?" tanya Une penasaran sambil sesekali mengunyah camilan yang tadi kubelikan untuk kami berdua.
Aku tersenyum padanya. "Abang gue sama gue tuh, dulu enggak pernah bisa ngerjain hal yang sama. Misalnya, dulu gue suka main bola sama Papa. Nah, dia pasti gambar-gambar komik di ruang tamu. Selesai sesi gue dan Papa, baru gantian abang gue yang main bola, terus gue yang heboh mainin galon kosong sambil nyanyi-nyanyi lagu rock gitu. Semakin besar, hobi gue sama abang gue semakin tabrakan. Abang gue mulai nyoba renang sama taekwondo. Makanya badannya kayak monas, tinggi menjulang. Sementara gue, gue mulai suka tuh, lari pagi sendirian ngitarin komplek rumah gue yang lama dulu. Betis gue mulai kebentuk. SMP, lo ingat kan, betapa guru olahraga kita suka banget berpendapat gue sering olahraga ke gym? Padahal enggak. Gue cuma disuruh rajin push-up aja sama Papa setiap hari. Makanya bisep dan betis gue kebentuk banget. Nah, pas abang gue mulai fokus kuliah, gue kesempatan deh, nyari peluang apalagi yang bisa gue ikutin selain sekolah. Akhirnya, pas kelas sembilan, gue mulai ikut tinju. Dan di saat yang sama pas gue daftar ke klub tinju, abang gue bilang ke Papa dan Mama kalau dia mau jadi perancang grafis merangkap pemain basket."
Une terlihat tekun mendengarkan ceritaku tentang persaudaranku dengan abangku. Merasa tidak enak, aku menanyakan Une tentang hidupnya. Jarang kami bisa seserius ini membahas masa kecil kami. Une menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
"Jadi, dulu gue dan kedua kakak gue itu susah banget akurnya. Kakak gue yang pertama, yang enggak pernah lo lihat, sayangnya, meninggal pas lagi mau nerima hasil skripsinya dia. Padahal dulu itu, dia sempat jadi mahasiswa pilihan. Tapi, ya, memang jalannya bukan melanjutkan kuliah. Jadi, sejak itu gue dan kakak gue yang kedua semakin parah keenggak-akurannya. Abang gue itu dulu dekat banget sama kakak gue yang pertama. Bahkan mereka pas gue kecil suka banget barengan ngejahilin gue. Ya, faktor umur yang agak beda jauh juga, sih. Jadi, gue semacam korban kejahilan mereka. Mulai SD kelas enam, gue dan abang gue mulai bisa akur. Itu juga karena kakak gue yang pertama udah enggak tinggal serumah sama kita. Nah, pas gue kelas tujuh, kakak gue yang pertama itu meninggal dan abang gue semakin sadar kalau tinggal gue saudara dia satu-satunya. Dan dari sana gue mulai bisa akur," cerita Une. "Nah, abang gue pas gue kelas delapan itu lagi nakal-nakalnya SMA. Dia kelas sebelas suka banget setiap pulang sekolah enggak pulang langsung. Pas Bunda sama Ayah menyidang dia di ruang makan, akhirnya dia ngaku dia suka jalan ke perpustakaan UI yang segede apaan tahu itu. Katanya, dia suka baca ensiklopedia sama buku-buku sejarah. Nah, gue mulai sering diajak kesana setiap Sabtu sama dia. Emang menakjubkan banget ngeliat hobi terpendam abang gue, Al. Gue enggak pernah nyangka. Dan dari situ gue belajar banyak. Tentang Indonesia, dunia, sama teori-teori yang sekarang kita pakai tapi ternyata menyalahi peraturan semesta. Pokoknya, hebat, deh. Abang gue makanya sekarang kuliah ahli sejarah di Australia. Lo jarang ngeliat dia pulang, deh. Nah, hobi gue muncul pas abang gue mulai pindah ke sana. Gue jadi suka fotografi, tapi hal-hal yang super kuno. Jadi, kalau ke museum, biasanya gue suka banget, tuh. Selain fotografi, gue senang sama dunia adibusana. Nyocok-nyocokin baju mana yang selaras sama celana apa. Gitu ceritanya."
Aku mengangguk-angguk selama Une bercerita tentang dirinya. Ada sedikit informasi baru tentang gadis ini yang selama ini tak pernah diungkapkannya padaku. Une suka fotografi dan hal-hal kuno. Hal-hal bersejarah. Aku jadi ingin menguraikan setiap hal yang Une suka dalam benakku. Warna selai kacang yang selalu membuat Une tersenyum setiap kali melihatnya, namun ia tak pernah mencintai selai kacang itu sendiri. Lalu, rambut Une yang tidak pernah melebihi dadanya. Kebiasaan Une saat berbohong yang tak pernah berhasil menipuku. Keterbukaan Une akan segala isi pikirannya yang kadang membuatku justru bertanya apa itu saja yang mengitari otaknya selama ini? Lalu, keloyalan Une pada tangki bensin motorku. Yang ini memang menjadi hal favoritku tentang Une. Haha... Dan kini, hobi fotografinya serta kecintaannya dalam dunia mode. Selain itu, ada Une yang jarang sekali mengungkit masa lalu tentang almarhumah kakaknya. Une yang selalu menyimpan rapat persoalan keluarganya, terutama hubungannya dengan abangnya. Bunda Une yang tak pernah alpa memberikan Une segenap ceramah setiap kali Une melakukan kesalahan. Lalu, terakhir... ayah Une yang jarang sekali kulihat ada di rumah, namun selalu setiap ia pulang membawakan Une dan aku sesuatu yang seragam. Une, andai lo tahu apa yang sudah tercatat dalam memori gue selama bersahabat dan jatuh cinta pada lo.
Aku kembali memfokuskan pikiranku pada pertandingan basket ini. Skor masih berhimpit. Tim abangku menang satu poin akibat tembakan tiga-angka oleh salah satu anggotanya. Une sesekali ikut berseru bersama pendukung lainnya membuatku tersenyum.

"Gila, tadi abang lo keren banget. Gue naksir, ah," ucap Une sambil melemparkan botol bekas minuman bersodanya ke dalam tempat sampah.
"Masa naksir direncanain? Nih, Ne, gue kasih tahu sama lo, ya. Kalau kita mencintai seseorang, jangan direncanain. Biarkan aja mengalir sampai mentok," ujarku. "Eh, jangan sampai mentok, nanti susah pindahnya."
Une terkekeh. "Lo tuh, kapan sih, seriusnya?"
"Maunya kapan? Gue bisa nih, diajak serius. Suer!" ucapku seraya mengangkat dua jariku. Une hanya menyengir membalas perkataanku.
Setibanya di mobil, aku membukakan pintu untuknya sebelum masuk ke tempat dudukku sendiri. Perjalanan awal kami cukup hening sampai akhirnya Une menyebut namaku.
"Apa?" tanyaku balik.
***
"Al," ucapku sambil melirik ke arah yang dipanggil.
"Apa?" tanyanya balik.
Aku menggumam cukup lama sampai akhirnya bertanya, "Lo pernah ngerasain jatuh cinta enggak, Al?"
Al tersedak lalu tertawa. "Pertanyaan lo berat banget, Ne."
"Ih, serius!" balasku sambil menepuk lengannnya. "Jawab jujur."
"Pernah. Bahkan sedang jatuh cinta, Ne," jawab Al apa adanya. Aku mengangguk-angguk. Pasti perempuan itu.
"Kalau lo, Ne?" tanya Al membuyarkan seribu kutukanku akan perempuan itu.
"Hah?" balasku tak siap.
"Iya. Lo pernah jatuh cinta, enggak?" tanya Al memperjelas maksudnya.
"Hmm... Sebenarnya, gue enggak ngerti Al, sama perasaan gue yang sekarang ini. Gue bingung apa yang sekarang gue rasain ini cinta apa bukan. Ya, gini deh, kita baru 16 tahun. Gue sama lo cuma beda empat bulan. Apa sih, yang kita tahu soal cinta?" beberku mengeluarkan seluruh kegalauanku tanpa menyebutkan nama Al sekali pun.
Al tersenyum. "Oke, sekarang gue mau serius sama lo. Soalnya, ini menyangkut perasaan sahabat gue tersayang. Dia gimana ke lo, Ne?"
Ah, Al... hanya sahabat tersayang rupanya aku untukmu. "Baik. Baik banget. Perhatian sama kadang-kadang sih, ya, masih ada sifat cowoknya yang teramat menyebalkan. Tapi, selebihnya gue nyaman sama dia. Bahkan, gue dan dia udah kenal cukup lama." Jangan berbohong, Ne. Lo dan Al sudah kenal luar biasa lamanya.
Al mengangguk-angguk. "Hmm... Itu udah bagus, kok, situasinya, Ne. Tinggal lo kasih sinyal sedikit sama dia. Mungkin dia sama kayak gue, suka sama cewek udah lama banget. Udah perhatian banget, tapi takut kalau-kalau si cewek itu enggak suka balik. Padahal, belum tentu. Contohnya, lo dan doi lo ini."
Giliran kini aku yang mengangguk-angguk. "Jadi, gue harus mempertaruhkan harga diri gue supaya kode gue nyampe ke doi?"
Al terkekeh. "Kurang lebih kayak gitu."
Aku terdiam selama beberapa menit. Meresapi kata-kata Al. Andai ia tahu bahwa cowok itu adalah dirinya. Mengapa begitu sulit terbuka pada orang yang selama ini sudah menjadi penopang keluh kesahku? Mengapa begitu sulit mengatakan aku telah jatuh cinta padanya setelah selama ini? Namun, aku tak mau jika nanti aku bersikap jujur, ia malah menyakitiku. Al malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar rahasia hatiku yang isinya adalah dirinya sendiri. Dan aku tak mau marah pada reaksi Al kalau-kalau aku benar-benar jadi mengungkapkannya.
"Ne," panggil Al membuyarkan keheninganku. "Kakak gue pernah ngasih gue satu kalimat bagus. Cocok banget buat lo sama gue saat ini."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Dengerin lagu ini, terus dengerin kata-katanya," pinta Al.
If I say 'I love you, dear', will you say it back?...

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (7)

Posted by Unknown 0 comments
Chapter 1

1.7 "I have loved you for a thousand years." -Christina Perri.


"Al, lo enggak salah, kok. Enggak ada yang salah. Lo dan janji lo masih gue simpan rapat-rapat di ingatan gue," ucap Une mencoba mengurangi rasa sesal dan kesalku. "Lagian, meskipun tadi jantung gue olahraga pas Zeus duduk di dekat gue, tetap aja itu cuma karena kebetulan ada bangku kosong di sebelah gue. Masa tega banget dia kita suruh duduk semeter jauhnya dari kita. Padahal, tadi gue lihat Anita antusias banget ngajakin Zeus ngobrol. Bersikap sedikit untuk menutupi masa lalu enggak ada dosanya, Al."
Aku menarik nafas panjang dan berat. Perkataan Une ada benarnya. Namun, tetap saja. Aku masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana takut dan gemetarnya cewek yang ada di sampingku saat ini ketika dihadapkan kembali dengan manusia, tepatnya iblis, dari masa lalunya itu. Aku cukup salut dengan sikapnya yang tegar.
"Ya sudah, kita enggak usah urusin masalah ini. Asal lo juga janji sama gue, Ne, jangan pernah lo biarkan dia masuk ke kehidupan lo lagi," ujarku penuh harap. "Soalnya, enggak cuma lo doang yang menderita kesakitan. Gue, Anita, Nadine, Fian, Esa, Rangga, bahkan Aqil dan Dadan sekalipun pasti bakal ngerasain sakit yang sama kayak lo. Ya, terutama gue. Karena kalau lo enggak jaga diri dari dia, sama aja gue udah gagal memenuhi janji gue."
Une memberikan senyumnya. Senyum yang teramat indah dan mempesona yang tak akan pernah bisa kuhapuskan dari hidupku. Senyum yang selalu hadir baik di siang dan malamku saat aku sedang bermimpi. Ne, dan karena senyum lo yang begitu indahlah gue enggak akan pernah rela Zeus dekat-dekat dengan lo untuk hanya menghilangkannya saja.
"Iya, Al, gue janji," jawab Une mantap sambil melingkarkan lengannya di lenganku. "Gue masih punya satu janji buat ngasih tahu lo tentang masalah gue, ya? Ingat, kan?"
Aku tersadar akan pertanyaan Une. "Iya, ya. Ya sudah, nanti kita sebelum sampai rumah makan dulu di mana gitu sambil gue dengarkan lo curhat." Dengan jawabanku, Une pun tersenyum simpul.

Seusai pelajaran terakhir, aku dan Une bergegas meninggalkan gedung-gedung tua ini agar bisa dengan cepat saling bercerita. Entah kenapa, aku begitu semangat untuk mendengarkan curahan hati Une kali ini. Padahal, sudah seribu kali aku menjadi jurnal berjalannya yang menampung ribuan keluh kesah dan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.
Kami memesan satu meja di sebuah restoran cepat saji. Sambil memilih-milih menu, aku memerhatikan Une yang sibuk dengan ponselnya. Tebakanku satu, Anita dan rentetan pertanyaan penuh rasa penasaran tentang keberadaan Une dan aku saat ini. Mendengarkan Anita dan Aqil yang sangat ngotot mengatakan bahwa aku dan Une sudah pacaran menghadirkan rasa tersendiri di hatiku. Seperti ada gema yang mengaminkan setiap kata dan praduga mereka. Seperti ada yang mengaminkan dengan harapan setiap kali Aqil atau Anita meledek hubungan aku dan Une. Ini akan terdengar sangat banci saat aku mengucapkannya, tapi kalau boleh jujur, apa benar aku dan Une hanya sebatas sahabat?
"Al, itu ditanya mau pesan apa," tegur Une yang menangkap lamunanku.
"Oh, iya. Saya pesan spaghetti aja, Mbak. Minumnya iced lemon tea," pesanku pada pelayan yang sudah dari tadi menanti pesananku. "Ne, lo udah pesan?"
Une tertawa. "Lo tulalit banget sih, Al. Gue udah dari tadi cerewet nyuruh Mbak-nya nulis pesanan. Lo aja tuh, ngelamun melulu. Sama aja kayak gue."
Giliranku yang menyengir malu. "Maaf ya, Mbak."
Si pelayan tersenyum simpul dan mengulai pesanan kami. Aku dan Une kompak mengangguk seusai ia membacakan seluruh pesanan kami dan meminta kami menunggu sekitar 20 menit sampai pesanan diantar. Aku menatap Une penuh tanya. Dengan cepat Une menangkap maksudku. Ia pura-pura tak mau tahu dan tak mau bicara. Aku menyenggol kakinya yang berada tepat di dekat kakiku di bawah meja makan ini.
"Al!" bentak Une terganggu menghadirkan tawa di wajahku.
"Makanya, ceritaaaaaaa!" rengekku seperti seorang adik kecil. Une sudah biasa menghadapi sikap kekanak-kanakanku, apalagi gurauan yang kerap kulontarkan di sela-sela curahan hatinya.
Une menarik nafas membuatku semakin deg-degan. Kemudian, ia pun bercerita tentang semuanya.
***
"Al!" kubentak Al sepenuh hati karena kesal dengan senggolan kakinya yang amat mengganggu.
"Makanya, ceritaaaaaaa!" rengek Al seperti seorang anak kecil. Bersahabat dengannya, hal seperti ini sudah sangat wajar. Apalagi nanti pasti Al akan melontarkan seribu gurauan dan ledekan untukku saat aku mulai bercerita. Aku menarik nafas panjang seraya menguatkan diriku sendiri untuk mengungkapkan isi pikiranku pada Al. Al sahabatku, bukan? Dia pasti mengerti.
"Jadi, akhir-akhir ini tuh, gue kepikiran lo terus. Enggak tahu kenapa, ya. Jangan kegeeran. Apa mungkin karena Anita sama Aqil ribut banget soal kita makan bareng dan bolos, eh maksudnya izin, bareng kemarin. Gue enggak ngerti kenapa," beberku menelanjangi isi pikiranku sendiri. "Terus, soal pesta dansa itu. Gue agak ngerasa risih setiap kali harus mendengarkan lo, Esa, Nadine, Fian, bahkan Rangga sekali pun di SMS ngomongin itu melulu. Terutama lo sama Fian yang suka banget bawa-bawa cewek incaran kalian ke topik ini. Gue ngerasa kekalahan gue semakin tercium gitu dan penderitaan gue menjabat sebagai jomblo semakin berasa. Esa-Nadine mah, bahagia udah pasti bakal datang berdua menantang segala aturan Fian. Rangga paling ngajak Anita atau siapa itu namanya, Winda? Dinda? Ninda? Siapalah itu... Dia suka cerita sama gue. Ah, pokoknya gue bosen sama cerita kalian."
Al tertawa terbahak-bahak mendengar curahan hatiku. Sudah kuduga akan seperti ini reaksi darinya. Diam-diam aku menyesali keputusanku membeberkan isi kepalaku pada Al. Anak ini pasti tak akan pernah meresponku secara serius. Tak akan benar-benar pernah memberikanku saran bermutu.
"Cieeee kepikiran gue. Jadi, salah tingkah gini gue," ledek Al sambil kembali menyenggol-senggol kakiku. "Mungkin nih, Ne, lo mulai suka sama gue. Jadi, kepikiran terus. Suka ngelamun mikirin gue terus. Atau pas nulis rumus fisika, harusnya angka sama huruf, lo malah nulis nama gue. Ayo, ngaku!"
Aku menampar tangannya yang berada di atas meja. Susah payah aku menutupi rona merah yang muncul di wajahku selama Al menggodaku seperti itu. Sialan, Al! Lagi pula, mengapa aku sesalah tingkah ini?! Anggap saja Al bercanda, Ne. Jangan dianggap serius.
"Kan, mulai salah tingkah gitu. Itu pipinya merah banget," goda Al berusaha meraih dan mencubit pipiku. Berhasil. Ia berhasil membuat jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya, ia berhasil membentuk rona merah muda di kedua pipiku, ia berhasil membuatku tersenyum tanpa alasan. Selamat, Al!
"Al! Apaan, sih. Jangan kegeeran deh, lo. Maksud gue tuh, gue kepikiran lo terus karena keseringan digosipin ini-itu sama si Anita dan Aqil. Makanya, mungkin kepikiran. Geer banget sih, lo!" ledekku kesal karena merasa amat tersudut oleh tatapan Al yang penuh godaan.
Al tertawa sambil menepuk kedua pipiku dengan telapak tangannya. "Enggak apa-apa juga lo suka sama gue. Setidaknya, kalau kita pacaran, si Fian enggak bisa maksa kita buat traktir karena kalah tantangan. Ya, kan?"
Al! Tak cukupkah rona merah dan degup jantung yang nyaris terdengar ini untuk kata-kata barusan? Kenapa harus dibangunkan harapan yang sudah susah payah kuredam akhir-akhir ini? Apa di ujung sana ada harapan yang sama yang akan saling menjawab nantinya? Al, sialan!
"Ih, ngarep banget, sih," ucapku sok jaga sikap. Aku pura-pura mendiamkannya, padahal kenyataannya, aku berusaha mendiamkan gejolak hatiku sendiri. Al membalasku dengan tawanya yang entah mengapa terdengar sangat renyah dan menghangatkan.
"Soal pesta dansa, lo enggak perlu ngerasa jomblo banget, Ne. Sumpah, gue dan cewek itu tuh, benar-benar... ya... Duh, gue enggak bisa bilang ke lo. Nanti, lo tambah kepikiran sama gue," ledek Al sambil cengar-cengir kuda. Wajahnya kini benar-benar ingin kubalut dengan sejuta kain pel agar tidak memberikan efek macam-macam pada hatiku. Al kembali tertawa mencairkan segalanya.
"Idih, percaya diri banget, ya," ucapku sinis. "Atau, jangan-jangan lo yang suka sama gue, Al. Makanya lo pura-pura ngeledek gue."
Al tertawa renyah. "Idih." Hanya itu. Hanya sepatah kata namun berhasil membuat diriku bertanya-tanya apa yang ada dalam benak Al.
"Jadi, lo kapan mau mengusahakan cinta lo?" tanyaku iseng sambil memainkan garpu yang ada di samping tanganku. Sejujurnya, aku tak mau mendengar jawaban Al. Namun, aku terlalu penasaran akan isi kepalanya yang tak pernah seterbuka isi kepalaku.
Al tersenyum penuh makna menghasilkan pertanyaan besar. Seraya dengan itu, lagi-lagi degup jantungku mempercepat temponya. Kenapa aku ini?
***
"Jadi, lo kapan mau mengusahakan cinta lo?" tanya Une sambil memainkan garpunya. Aku menatapnya lekat-lekat tanpa sepengetahuannya. Ada goresan yang berbeda di mata Une saat bertanya akan hal ini. Ada sebuah tatapan yang tak jauh berbeda dengan tatapanku saat kami bergurau tentang perasaan kami.
Sebelum menjawab aku tersenyum pada Une, mencoba memancing rasa penasarannya. Aku mengingat lagi betapa merah merona pipi Une saat aku menggodanya. Une memikirkanku akhir-akhir ini. Apa karena itu aku merasa agak aneh di dekatnya? Tapi, ia memikirkanku. Mengkhawatirkan pilihanku akan pasanganku untuk pesta dansa. Oh Une, apa lo merasakan hal yang sama? Setengah berharap aku memojokkannya dengan praduga-pradugaku. Une semakin terlihat malu dan salah tingkah. Tuhan, bolehkah aku berharap akan adanya jawaban yang sama atas harapanku? Bolehkah aku berharap akan hati Une yang mungkin juga sedang berharap padaku? Namun, mengapa aku begitu yakin?
"Jadi?" tanya Une sekali lagi membuatku semakin tersenyum. Akhirnya, aku berhasil membuatnya penasaran.
"Februari udah dekat, ya, Ne? Lo mau tahu banget soal rencana gue? Oke," jawabku sambil menyusun rencana untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya pada Une. "Nanti, beberapa hari lagi tepatnya, lo bakal tahu siapa cewek yang selama ini susah banget menyadari keberadaan gue."
Une tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyum terluka. Ne, apa lo benar-benar menjawab harapan gue?
"Jangan takut, gue enggak akan bikin lo semakin menyedihkan, kok. Lo enggak akan pergi ke pesta dansa sendirian," janjiku.
***

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (6)

Posted by Unknown 0 comments
Chapter 1

1.6 "It's just a feeling that I have..." -Maroon 5.


Esoknya, setelah sehari izin tidak hadir di sekolah, aku kembali menampakkan wajah di hadapan teman-temanku. Anita memberikanku sejuta tatapan penasaran dan menuntut akan penjelasan yang teramat jelas perihal mengapa aku dan al bisa dengan kompaknya tidak hadir kemarin. Aku menarik nafas panjang sebelum menceritakan segalanya pada Anita. Selain Nadine dan keempat teman laki-lakiku, Anita cukup dekat denganku untuk bisa menguak beberapa hal dariku.
"Jadi, kalian tadi malem dinner? Berdua?! Ahh... So sweet!" seru Anita mulai terdengar menyebalkan.
"Apaan sih, Nit? Gue sama dia tuh, cuma sahabatan lama. Udah sering kali gue sarapan, makan siang, makan malam, bahkan bahkan camilan bareng sama dia. Udah enggak asing lagi kata 'barengan' antara gue dan Al, eh maksudnya Rizal," jelasku panjang lebar.
Anita tersenyum penuh arti sambil memandangku. Selang beberapa waktu, Al datang sambil berdebat hebat dengan Aqil. Bisa kutebak bahwa mereka sedang mendebatkan hal yang tak jauh berbeda dengan apa yang sedang kudiskusikan bersama Anita. Al menghampiri mejaku sambil menyerukan bahwa Aqil sebaiknya meminta penjelasan yang lebih padaku kalau ia tak mau percaya pada apa yang Al katakan.
"Oke, jadi, kemarin kalian makan malam bersama di kafe? Terus, yang bayarin lo, June?" tanya Aqil tepat pada titik berat masalah ini. "Cowok macam apa lu, Al? Masa pacaran yang ngasih ongkos ceweknya?"
Aku kaget setengah ingin mendepak Aqil atas ucapannya. Pacaran?! Sejak kapan rumor ini beredar? Ah, pasti ini kerjanya Anita dan Aqil sendiri pintar-pintar mereka merangkai gosip. Dasar!
"Sumpah, demi langit dan bumi serta pencipta-Nya Yang Mahaagung, gue dan Rizal enggak ada apa-apa. Kita enggak pacaran. Kita cuma bersahabat," balasku setengah menekankan pada kata 'enggak'. Ada sedikit rasa yang ganjil di hatiku saat mengucapkan kalimat deklarasi itu. Aku melirik Al sekilas, mengharapkan setidaknya ada rasa tidak setuju. Sedetik kemudian, aku tersadar bahwa baru saja aku mengharapkan sesuatu yang tak seharusnya pernah kuharapkan. Ah, ada apa denganku?!
"Harusnya, kalian berdua cukup pintar dan sadar dong, sudah dua tahun mengenal gue dan Rizal. Kita cuma bersahabat dekat dan lama. Ya, wajar aja ya, setiap saat pasti kalian selalu melihat gue diekorin dia dan dia mengekor gue ke mana-mana," ucapku membuyarkan pikiranku sendiri. "Ya kan, Al?"
Sambil menunggu jawaban Al dan mendengarkan protes keras Anita dan Aqil, aku setengah berharap Al akan menjawab kontra dari apa yang sudah kunyatakan. Ada secercah harapan yang tiba-tiba saja, setiap ada yang mengungkit perihal kedekatanku bersama Al, pasti akan muncul dan mengapung di permukaan. Harapan yang entah mengapa terasa teramat wajar bagiku jika melihat dan menjalani apa yang sudah kujalani bersama Al selama ini. Terkadang dalam lamunanku akhir-akhir ini, pertanyaan itu perlahan semakin membentuk wujud yang nyata. Sudahkah waktunya aku jatuh cinta...pada Al? Apalagi kami sudah sangat akrab selama hampir empat tahun. Bukankah empat tahun waktu yang sudah terlalu lama untuk terlalu naif menganggap semua rasa nyaman dan aman kami sebatas kasih sayang antarsahabat? Apakah segitu kabur harapan ini sampai-sampai baik aku atau mungkin Al tak mau ambil pusing untuk memikirkannya?
"Iya. June benar, tuh. Harusnya lo, Qil, dan lo, Nit, sudah bisa paham kalau kedekatan gue dan June hanya sebatas sahabat baik. Bahkan bisa dibilang sangat baik dan sangat dekat. Jadi, ayolah... Berpikirlah rasional dan realistis, kami makan malam bersama adalah hal yang teramat wajar dalam hal ini. Oke? Sekarang perdebatan kita selesai, kan?" jawab Al yang tanpa sadar membuat hatiku terasa sangat sakit. Namun, aku berusaha menyangkalnya dan tidak memikirkannya.
Al menyunggingkan senyumnya padaku. Hatiku terlalu sakit untuk membalasnya dengan senyum tulus. Sebisa mungkin aku memamerkan lekuk palsu di atas bibirku agar Al tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Ya Tuhan, mengapa aku jadi penuh rahasia dan galau seperti ini?

"Nih, minum dulu. Jangan kebanyakan bengong," sapa Al mengacak lamunanku. Aku terkekeh malu karena tertangkap basah sedang melamun.
"Makasih," ucapku singkat. Sambil menyeruput minuman pemberian Al, aku kembali melamun.
"Ne, Al! Gimana nih, perjuangan kalian?" sapa Esa yang muncul entah dari mana.
"Perjuangan apaan?" tanyaku bingung, tepatnya bodoh.
"Itu loh, soal pesta dansa dan tantangan dari Fian. Asli, gue jadi susah buat ngedeketin gebetan gue kalau peraturannya serumit itu," komentar Esa panjang lebar.
Terimakasih, Esa, omonganmu baru saja membawakan mimpi buruk yang akhir-akhir ini tak pernah alpa dari malamku. Aku mengutuk Esa sepenuh hati sambil menghiraukan pertanyaan dan komentarnya.
Al lagi-lagi mengacak lamunanku, kali ini dengan tawa renyahnya. "Gue juga bingung, Sa, Ne. Ada cewek yang udah lama banget jadi pusat perhatian gue. Tapi, masalahnya adalah itu cewek enggak pernah sadar akan kehadiran dan perhatian gue. Yang lebih jadi masalah lagi, gue enggak tahu deh, bakal punya nyali atau enggak buat ngajak dia ke pesta dansa."
Argh! Topik tentang pesta dansa dan perempuan istimewa Al! Lagi-lagi hal ini. Kenapa harus selalu pesta dansa dan perempuan itu? Rasa perih itu kembali lagi tertoreh dalam hatiku membuatku perlahan-lahan membenci Al setiap kali ia mengungkitnya. Dan saat ini adalah salah satu momen di mana rasa benci dan kesalku terhadap Al memuncak. Tanpa sadar, aku beranjak pergi meninggalkan Esa dan Al berdua. Tak perlu aku membalikkan badan pun, aku tahu mereka bingung dengan sikapku. Dan sama seperti mereka, aku juga sedang bingung dengan sikap serta perasaanku sendiri.
"Une!" panggil Al lantang menarik beberapa perhatian siswa yang sedang ramai memenuhi koridor. Dengan cepat Al menyamai langkahku. Salah tingkah, aku pun hanya bisa memalingkan wajahku dari tatapan Al yang terlihat sangat bingung.
"Une, lo kenapa?" tanya Al. Iya, Ne, lo kenapa? batinku menggemakan pertanyaan Al yang menurutku sudah cukup jelas dan tidak perlu diulang.
Aku tersenyum lalu menggeleng. Kebiasaan bodoh yang selalu membuatku gagal berbohong di depan Al. Dan Al tahu inilah kelemahanku. Al menatapku dengan seribu pertanyaan terpancar dari matanya. Ia tahu aku sedang menyimpan sesuatu dan tak berani mengungkapkannya. Namun, membicarakan perasaanku pada Al sama saja membeberkan rahasia yang beberapa hari terakhir ini mulai memenuhi rongga otakku. Apalagi, sebagian besar menyangkut Al dan aku serta hal-hal yang kami ikutsertakan di atas alibi persahabatan. Naif!
"Enggak ada apa-apa dan gue baik-baik aja. Gue cuma lagi enggak stabil aja," jawabku tak memberikan kepuasan untuk Al. Putus asa, Al pun mengangguk lesu. Ia tahu aku tahu aku sedang berbohong. Aku tak akan menyangkalnya.
"Une yang gue kenal selama ini paling anti sama yang namanya nutup-nutupin perasaan," ucap Al begitu tepat mengenai hatiku. Kemudian entah berniat untuk membuatku mengungkapkan segalanya, Al berlalu begitu saja di sampingku. Kesal, aku mengejarnya.
"Nanti deh, gue kasih tahu lo apa yang lagi berkeliaran di dalam kepala gue. Jangan kaget aja," balasku setengah tak sadar aku baru saja akan menelan pahit kenyataan yang akan terlontar dari mulut Al ketika nanti aku memberi tahunya. "Lo kenapa kepo banget, sih?!"
Al tersenyum puas saat berhasil merayuku dengan ucapannya yang telak tadi. "Gue kepo karena gue peduli sama lo, Ne. Lo mau gue enggak memedulikan lo dan beralih memedulikan orang lain?"
Gengsi, aku menjawab, "Enggak masalah. Lagian harusnya nih, ya, lo harus bergerak lebih cepat sekarang untuk mengejar cewek impian lo itu. Otomatis, cepat atau lambat juga lo enggak akan sepeduli ini sama gue. Iya, kan?" Pernyataanku baru saja menuai luka baru di hatiku. Namun, yang kukatakan barusan adalah kemungkinan besar yang akan terjadi jika perempuan yang dikejar-kejar Al menerima kebaikannya sepenuhnya. Kasarnya, ia akan mengambil Al dari sisiku membuat Al melupakan janjinya.
"Kok, lo ngomongnya gitu, Ne? Gue kasih tahu ya, sama lo. Mau sesayang apapun gue sama calon cewek gue itu, masih lebih sayang lagi gue sama lo. Lo sahabat gue dan lebih baik gue mati menjomblo bareng lo daripada harus taken dan melihat lo ngejomblo sendirian," ucap Al tak pernah bisa mengatakan sesuatu yang serius. Bahkan dalam situasi seperti ini. Aku menoyor kepalanya pelan dan tersenyum kecut. Diam-diam dalam hati, aku tahu kalau apa yang dijanjikan Al barusan adalah janji yang dapat kupercaya. Al, meskipun penuh dengan kekonyolan dan gurauan, tetap saja pemegang janji yang teguh.

Jam pelajaran sehabis fisika kebetulan kosong. Kebiasaan kelasku saat pelajaran kosong cukup unik. Kami sering kali berbondong-bondong meninggalkan kelas menuju kantin. Jika ada yang bertanya sepanjang perjalanan singkat kami menuju kantin, dengan sangat mudah dan tak berdosa kami akan kompak menjawab  sedang ada tugas ekonomi kolektif. Dengan jawaban seperti itu, tak akan ada yang protes kami pergi ke kantin sesuka hati. Kali ini, syukurnya tak ada yang bertanya. Sesampainya di kantin, kami semua agak kaget melihat anak kelas lain mengalami keberuntungan yang sama.
Aku dan Anita langsung tanpa basa-basi mengantre di kedai soto langganannya. Sambil bercakap-cakap tentang hal-hal yang sungguh tak penting, kami menunggu pesanan di dekat kedai tersebut. Anehnya, aku merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang yang tak jauh dariku. Bukan Al, tenang saja. Al sedang sibuk bersama Aqil dan Dadan mengganggu penjual jus di ujung kantin ini.
"June, itu si anak baru kenapa serius banget melihat ke lo?" tanya Anita iseng sekaligus menjawab dugaanku. Anak baru? Zeus?
"Siapa?" tanyaku takut-takut dan tak kuat harus mendengar apa yang tidak ingin kudengar dari Anita.
"Siapa namanya? Yang kayak nama Dewa itu, loh. Aduh, yang ada di film yang pernah kita tonton," jawab Anita susah payah mengingat nama sesederhana itu. Aku sengaja tak mau mewakilinya untuk menjawab. Tiba-tiba, suara lain datang dari belakang Anita.
"Zeus," ucap sang pemilik suara yang tak asing lagi di telingaku. "Nama gue Zeus."
"Ah, iya!" seru Anita bahagia sambil berbalik menghadap orang yang bersangkutan. "Anita. Ini June."
Kulihat Zeus dengan mantap menjabat tangan Anita seperti dulu dia menjabat tanganku saat awal berjumpa. Anita memberikan Zeus senyumnya dan dengan sangat tulus Zeus membalasnya. Mau tak mau, akibat perkenalan singkat Anita dengannya, aku jadi harus ikut menjabat tangan Zeus. Mengulang kembali masa lalu di saat awal bertemu dengannya. Aku tersenyum sekenanya saat pandanganku dan Zeus bertemu. Sumpah, seantusias apapun Anita memperkenalkan aku pada orang ini, aku tak akan mau lagi kenal dengannya. Cukup dua tahun bersamanya dan terperangkap dalam tipuan busuknya hanya untuk terlihat teramat bodoh di hari perpisahan kami. Kalau kupikir lagi, untuk apa dulu aku menangis hebat karenanya?
"Neng, sotonya mau ditaruh di mana?" tanya ibu-ibu penjual soto membuyarkan kilas balik singkat yang baru saja terjadi di dalam benakku.
"Oh iya, di meja itu aja, Bu. Yang ada Rizal dan kawan-kawannya," jawab Anita sambil menunjuk meja tempat Al, Aqil, dan Dadan sedang tertawa-tawa setelah puas mengganggu penjual jus. Ibu penjual soto pun berjalan membawa nampan berisi pesanan Anita dan aku menuju meja tersebut. Tanpa segan sekali pun, Zeus mengekor kami yang berjalan di belakang ibu penjual soto menuju Al.
Setibanya di meja Al, aku langsung mengutuk diriku sendiri telah mempertemukan dua orang yang seharusnya tak boleh bertemu. Rahang Al mengeras melihat aku yang diekori musuhku sendiri. Tatapan Al langsung tertuju padaku meminta penjelasan tentang apa yang sedang dilihatnya. Aku membalas tatapan itu penuh pengharapan agar Al mengerti saat ini bukan waktu yang tepat untuk memulai keributan. Aku tak mau Anita, Aqil, dan Dadan sekali pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Zeus, Al, dan aku dulu.
"Zal, Qil, Dan, ini namanya Zeus. Anak baru yang dari Singapura itu," ucap Anita riang sambil memperkenalkan Zeus pada teman-teman kami. Zeus hanya memberikan mereka senyum andalannya yang misterius tapi selalu bisa membuat orang penasaran. Al bergeming, dingin dan emosi membalut sekujur postur tubuhnya. Aku mengerti situasi ini. Maafkan aku, Al. Tapi ini semua karena ada Anita, batinku memohon.
"Duduk aja," ujar Aqil mempersilakan Zeus duduk. Sangat kebetulan, satu-satunya tempat yang tersisa untuknya duduk adalah di sampingku.
"Enak ya, lo pernah sekolah di Singapura," komentar Anita sambil mengaduk-aduk kuah sotonya yang terlihat menggiurkan. "Kok, pindah?"
Zeus tertawa ringan. "Biasa aja. Lebih enak sekolah di Indonesia. Orang-orangnya lebih hangat dan bersahabat," jawab Zeus singkat sesekali mau menjatuhkan lirikannya padaku yang tepat di sampingnya.
"Oh, jadi karena orang Indonesia bersahabat, lo bosan di Singapura?" tanya Dadan retoris. Zeus mengangguk pasti.
"Gimana di sini?" tanya Anita lagi. "Maksud gue, sekolah di sini gimana? Pasti banyak banget ya, fasilitas yang enggak secanggih di sana?"
Zeus tersenyum setuju. "Tapi, enggak ada masalahnya sama fasilitas ataupun karakter sekolahnya. Dari dulu, orangtua gue selalu bilang, kalau memang kita mau sukses, jangan bergantung sama sekeliling kita."
Aqil manggut-manggut sok mengerti, Dadan pun begitu. Anita seolah tersihir oleh perkataan Zeus. Aku dan Al bergeming tak memberikan komentar apa pun. Mengenal dan mengetahui masa lalu Zeus yang dulu sempat jadi bintang sekolah, tak heran kata-katanya begitu berisi dan cerdas. Untuk urusan ini, kekagumanku padanya tak akan pernah surut. Selain urusan prestasi, aku tak akan pernah mau mengagumi orang seperti Zeus sekali pun dia berubah menjadi ulama hebat dan cerdas. Namun, kurasa itu tak mungkin.
"Gue pamit ke kelas dulu, ya. Mau lihat ada tugas apa enggak," ucap Al tiba-tiba. Melihat reaksi Al seperti itu, aku jadi semakin merasa bersalah. Tapi, ini impas buat kami. Akhir-akhir, selalu saja ia mengungkit topik tentang perempuan incarannya. Kini, bolehlah Zeus mengusiknya sedikit saja untuk membalaskan kesalku padanya.
"Ne, lo enggak nyusul?" goda Aqil membuatku tersenyum.
" Ya sudah, gue juga mau nyusul Al ke kelas. Kalian lanjut aja ngobrolnya. Gue bisa lain kali, kok," ujarku sambil menyudahi makanku. Gue sudah cukup kok, menguak asal-usul Zeus dan kehidupan masa lalunya, aku membatin.
Al belum jauh melangkah menuju kelas kami yang hanya berjarak beberapa meter dari kantin. Aku mengejarnya dan memanggil namanya agar menungguku. Seperti biasa, Al benar-benar menunggu kedatanganku untuk menyamai langkahnya. Ingin sekali aku memohon maaf yang teramat sangat pada Al atas perbuatan Anita yang memang tidak salah, namun begitu ganjil jika berurusan dengan Al dan aku. Tapi, sekali lagi, aku menganggap ini balasan  kecil untuknya karena terlalu sering mengungkit urusan perempuan incarannya di hadapanku. Biarlah kali ini, aku kembali dalam masa lalu dan mengenang manisnya masa bersama Zeus. Kali ini saja, hanya sekali dan setelah itu aku akan kembali membencinya. Aku hanya ingin membuat Al sedikit merasa bahwa jika ia terus membicarakan perempuan itu, aku tak akan segan meninggalkannya sebelum aku ditinggalkan bersama janjinya.
"Hebat," ucap Al singkat. Amarah dan ketegangan kurasakan dalam sepatah kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Aku menunduk bersalah.
"Tadi, Anita yang ngajak dia duduk bareng kita," jelasku takut-takut. "Bukan salah lo dan gue juga, Al. Dan bukan salah Anita juga. Dia enggak tahu apa-apa."
Al tersenyum pahit. "Gue gagal ya, menjalankan janji gue? Tidak akan pernah ninggalin lo dan tidak akan pernah biarkan si Zeus itu menyentuh lo. Haha... Busuk. Maafin gue tadi gue malah lebih memilih untuk ngegodain mbak-mbak tukang jualan jus daripada ngekorin lo sama Anita kayak biasanya. Maafin gue juga, gara-gara gue si Zeus jadi duduk persis bahu ke bahu di samping lo."
Maaf Al tidak tulus. Terlalu sinis untuk sebuah permohonan maaf.
***
Aku tersenyum terpaksa pada Une. "Gue gagal ya, menjalankan janji gue? Tidak akan pernah ninggalin lo dan tidak akan pernah biarkan si Zeus itu menyentuh lo. Haha... Busuk. Maafin gue tadi gue malah lebih memilih untuk ngegodain mbak-mbak tukang jualan jus daripada ngekorin lo sama Anita kayak biasanya. Maafin gue juga, gara-gara gue si Zeus jadi duduk persis bahu ke bahu di samping lo."
Permohonan maafku barusan benar-benar murni luapan emosiku. Melihat Zeus kembali dekat dengan Une, meskipun karena kebetulan saja ada posisi kosong di samping Une tadi, sungguh membuatku tak rela. Tak rela kalau-kalau kedekatan sesederhana itu akan mengundang kembali perasaan dan kenangan manis antara mereka. Karena jika itulah yang terjadi nanti, aku tak akan pernah sanggup untuk memertahankan janjiku pada Une. Menjadi sahabat dan tumpahan keluh kesahnya selama empat tahun ini saja sudah sangat berat. Apalagi harus membiarkannya bersama orang yang dulu pernah menyakitinya untuk kedua kali. Mau diapakan perasaan ini? Kutelan sementah itu tanpa ada bumbu lain?

Sunday, January 26, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (5)

Posted by Unknown 0 comments
Chapter 1

1.5 "The way he makes me feel every time he's around..."


Kejadian kemarin sungguh menghabiskan tenagaku. Hari ini, aku izin tidak masuk sekolah. Mendengar kabar ini, Al berusaha keras meyakinkan ibunya untuk mengizinkannya mengambil cuti dari sekolah sepertiku. Akhirnya, Al pun mendapatkan izin dengan catatan Al tidak boleh lagi bertingkah seperti ini dan wajib menuruti semua perintah ibunya. Aku tertawa hebat mendengar Al bercerita lewat telepon tadi pagi. Siangnya, aku menyambut kehadiran Al.
"Mbok Num ada, enggak?" tanya Al tanpa basa-basi. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Mau ngapain? Pasti minta makan, kan?" tanyaku begitu yakin sambil menjatuhkan tubuh ke sofa. Al mengangguk antusias, lalu berjalan ke dapur mencari orang yang ia idam-idamkan.
"Mas Al, mau request dimasakin apa, nih?"  tawar Mbok Num. Lalu, aku tak mendengar jawaban apapun dari Al. Tak penasaran, aku menyalakan televisi. Dalan hati aku meledek Al manja karena setiap kali bertemu Mbok Num, ia selalu memintanya untuk membuat suatu makanan istimewa. Mbok Num memang jago dalam hal masak-memasak. Karena itulah, Al dan segenap temanku yang lain menyukainya.
"Mbok, terus ini diapain lagi? Tinggal dimasukin ke oven, kan?" tanya Al yang terdengar sangat semangat dan penasaran.
Mbok Num menghela nafas. "Iya. Tinggal tunggu setengah jam. Mas Al mending bersih-bersih bantuin Mbok Num. Ini jadi berantakan banget."
"Oke, deh!" seru Al senang. Mendengar mereka membuatku terkikik ringan. Sedang apa mereka di dapur?
Tak lama, Al menghampiriku sambil menyunggingkan senyumnya yang memperlihatkan deretan gigi agak kekuningan efek hobinya meminum kopi. Aku menatapnya bingung sekaligus geli. Anak ini begitu aneh hari ini.
"Kenapa lo?" tanyaku nyaris tertawa.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Al penuh rahasia. Mendengar jawaban itu, aku langsung kembali pada acara televisi yang entah mengapa begitu menarik saat aku tidak bersekolah.
"Kok, lo enggak penasaran, sih?" tanya Al gemas.
"Kok, lo jadi sewot?" tanyaku balik berpura-pura cuek. Nyatanya, aku ingin tertawa melihat reaksi Al.
Al menghembuskan nafas sok kecewa. "Ah, ya sudah. Gue enggak jadi ngasih lo kejutan."
Perkataan Al berhasil membuatku tertarik. Sangat jarang bagiku menerima kejutan Al selama kami bersahabat. Satu-satunya waktu Al akan memberikanku kejutan adalah hari ulangtahunku, selebihnya ia tak pernah repot-repot merancang rencana mengejutkanku. Dan hari ini bukan hari ulangtahunku. Cukup aneh.
"Mas Al, sudah siap," panggil Mbok Num sebelum aku sempat mencari tahu kejutan apa yang Al siapkan untukku.
"Siap, Mbok. Sebentar, aku ambil sesuatu dulu dari motor," ucap Al.
Penasaran, aku melangkah menuju dapur. Baik Mbok Num maupun Al yang hendak berjalan ke garasi menghentikan langkahku dengan seruan mereka.
"Non, Mbok Num belum diperbolehkan ngizinin Non, buat ke dapur sama Mas Al," ucap Mbok Num sambil sedikit memelas.
"Eits! Ne, kalau lo berani menginjakkan kaki ke dapur, gue serang!" ancam Al mencoba terdengar menakutkan.
"Kalian mah, suka rahasia-rahasiaan. Kesal, ah," rengekku mengalah dan berjalan kembali ke sofa. Aku melirik Al sekilas dan ada senyum jahilnya yang tertera jelas yang entah bagaimana caranya membuat jantungku berdegup lebih semangat.
Setelah kurang lebih 20 menit menekan rasa penasaran, Al akhirnya memanggilku ke dapur. Aku memasrahkan diri pada apa yang akan ia berikan padaku. Setibanya di dapur, aku melihat satu loyang brownies cokelat dengan hiasan di atasnya bertuliskan "GWS UNEEEEE!!!" dihias dengan ornamen kue yang bisa dimakan. Lagi-lagi jantungku berdegup kencang seraya aku menatap Al tak percaya.
"Surprise!" seru Al bahagia membuat degup jantungku terasa cukup keras untuk bisa didengarnya.
"Jadi, dari tadi lo sama Mbok Num bisik-bisik tuh, lagi buat ini?" tanyaku sok kaget. "Hebat juga."
Al memberikan senyum termanisnya pada komentarku barusan. "Cicipin, deh. Gue rasa enggak enak."
"Terus kenapa lo kasihin ke gue?" tanyaku heran dengan saran Al.
Al terkekeh. "Bercanda, Non. Gue yakin pasti enak. Soalnya yang lebih banyak kerja Mbok Num. Jadi, lebih pro."
"Yah, kalau gitu berarti ini kejutan bikinan Mbok Num, dong. Bukan bikinan lo," balasku memancing Al untung mengeluarkan protesnya.
"Tapi, kan, gue juga bantuin, Ne," ucap Al sok sedih mendengar kata-kataku barusan. "Ya sudah, sini gue potongin buat lo. Terus, kalau enggak enak, gue paksa lo habisin."
"Idih, lo aja," ucapku singkat lalu menunggu Al memotongkan satu bagian kecil untukku. Aku mencicipinya dan langsung jatuh cinta dengan brownies ini. Tak pernah kusangka, Al dapat berkontribusi dalam pekerjaan Mbok Num soal masak-memasak dan membuat kue.
"Gimana?" tanya Al penasaran.
"Kalau gue bukan sahabat lo, gue rasa gue udah jatuh cinta sama keahlian baru lo ini," jawabku memberikan efek senyum di wajah Al. "This is amazing for a boy who has never baked anything before."
Al terkekeh. "Berarti, gue nanti kalau nembak cewek yang gue incar, tinggal pakai brownies aja, ya?"
Aku mengangguk-angguk meskipun dalam hati aku tidak setuju dengan yang dikatakan Al barusan. Ada perasaan perih setiap kali topik tentang perempuan incaran Al dimunculkan ke permukaan. Namun, aku tak pernah benar-benar ambil pusing tentang hal ini. Ini urusan Al, bukan urusanku.
Tiba-tiba dari salah satu ponsel kami terdengar bunyi telepon masuk. Aku dan Al bergegas menuju sumber panggilan. Aku menemukan ponselku dan ternyata nama Anita tertera di sana. Al sudah lebih dulu mengangkat panggilan untuknya saat aku masih sibuk mencari ponselku tadi.
"Ada apa, Nit?" tanyaku akhirnya.
"Lo sama Rizal janjian izin?" tembak Anita langsung tanpa memanjang-panjangkan waktu.
"Enggak, kok," jawabku singkat sambil menahan tawa saat bertemu pandang dengan Al.
"Terus, kenapa lo berdua bangkunya kosong?" tanya Anita layaknya seorang polisi.
"Bentar, ya," ucapku.
Al dan Aku bertukar ponsel sambil sebisa mungkin menahan tawa. Sebelumnya, Al membisikkan siapa yang sedang meneleponnya. Aqil, kata Al. Aku rasanya ingin meledek Anita dan Aqil yang selalu entah kebetulan atau tidak, kompak dalam beberapa hal.
"Jadi, Nit, gue dan Une, eh maksud gue, June, izin sekolah hari ini tuh, hasil kesepakatan dan kontrak kerjasama," jawab Al pada Anita dengan gaya sok artis.
"Qil, gue sama Rizal tuh, izin bukan mau pacaran. Tapi, disuruh dan dianjurkan orangtua gue dan orangtua Al," ucapku pada Aqil yang dari tadi menunggu jawaban pasti.
"Tapi, June, masa orangtua kalian berdua sesesat itu? Masa anaknya bolos, eh izin, dibolehin?" protes Aqil tak puas.
"Idih, tanya Al, eh Rizal, aja deh, kalau lo enggak percaya," balasku agak kesal.
"Nit, kompak banget lo sama Aqil, ya," komentar Al pada Anita lewat ponselku. Al memberikanku kode agar mengatakan hal yang mirip pada Aqil.
"Qil, kompak ya, lo sama Anita rajin nanyain gue sama Al," ucapku sambil mengigit bibir menahan tawa yang tak kunjung berhasil diredam.
"Idih! Anita aja yang ngikutin gue," sangkal Aqil. Dari balik suara Aqil, terdengar suara Anita yang lumayan keras.
"Apa-apaan, Zal! Aqil tuh, yang sok perhatian sama lo," seru Anita lantang. Al menjauhkan ponselku dari telinganya.
"Santai aja, Bu," balas Al terkekeh.
"Kan, kalian juga lebih kompak lagi sama-sama menyangkal. Awas loh, nanti jadian," godaku pada Aqil.
"June, gue deklarasiin ke lo ya, bahwasannya gue dan Anita enggak akan pernah sekalipun memendam atau bahkan menyimpan rasa saling suka. Janji gue," jawab Aqil tegas.
Al yang kurasa dapat mendengar perkataan Aqil lewat obrolannya bersama Anita tertawa lepas.
"Karma, Qil," komentarku dan Al singkat kemudian menukar kembali ponsel kami.
"Ya sudah, Nit, gue mau istirahat dulu," ucapku pada Anita. "Jangan umbar janji yang enggak bisa ditepati, bilang sama Aqil."
Anita menggeram gemas dan sesaat sebelum ia sempat melanjutkan protesnya, aku memutus panggilan secara sepihak. Berbeda denganku, Al masih bicara dengan Aqil sambil sesekali tertawa-tawa. Aku tahu betul maksud Al memanjangkan obrolannya. Al ingin menjahili Aqil dengan secara pintar menghabiskan pulsa sohibnya itu. Aqil tidak cukup cerdas dengan kenakalan Al. Tak lama, obrolan mereka terputus sepihak dari sisi Aqil. Al dan aku melepas tawa kami. Aku hanya bisa menggelengkan kepala pada kelakuan Al yang teramat jahil.
"Sumpah, gue enggak akan pernah nelpon lo. Takut jadi korban penghamburan pulsa," ucapku sambil mengambil posisi duduk di sebelah Al.
"Ne..." panggil Al pelan, namun cukup untuk terdengar oleh telingaku yang berada dekat mulutnya.
"Hmm?" jawabku. Al terdiam dan saat aku menatapnya, hanya ada satu lekuk senyum di bibirnya. Aku membalasnya sambil menyenderkan kepalaku di pundaknya. Bersahabat dengan Al selama bertahun-tahun tak pernah memunculkan perasaan risih saat kami mulai bermanja seperti ini. Al sudah seperti saudaraku sendiri.

Sorenya, tepat pada jam sekolah kami bubar, aku dan Al bergegas bersiap-siap menyusul kedua ibu kami. Ibuku memberikan pesan agar mengajak Al ke restoran tempat ibuku dan ibunya Al akan bertemu. Lapar, baik aku dan Al menyetujui ajakan kedua ibu kami. Al memang cerdas selalu meninggalkan kaos cadangan di tempat-tempat yang kerap ia kunjungi, contohnya tempat latihan tinjunya serta rumahku. Dengan sigap, ia memintaku mengambilkan kaosnya dari lemari pakaianku. Kebiasaan Al yang satu ini tak pernah membuatku kesal karena hanya inilah kebiasaannya yang bisa kuterima dengan akal sehat. Selebihnya Al adalah otak konyol dan jahil yang berbentuk manusia
Setelah memberikan Al kaosnya, aku menutup pintu kamarku untuk bersiap-siap. Terlahir sebagai perempuan, aku masih agak perhatian dengan penampilanku. Aku mengambil crop-top dan tank-top hitam serta celana bermotif mirip seperti hiasan pada atasanku. Kombinasi ini memberikan efek pecah yang digoreskab motif dari celana bahanku terhadap hiasan pada atasanku. Untuk aksesoris, aku hanya akan membawa tas vintage dan memakai kalung dengan hiasan bunga mawar di ujungnya. Setelah berpakaian, aku mengepang rambutku dengan model fishtail braid ke samping kanan. Al pernah berkomentar soal rambutku yang waktu itu kukepang seperti ini. Katanya, aku terlihat benar-benar seperti perempuan jika berdandan seperti ini. Kulayangkan satu tinju ke lengannya karena merasa setengah terejek oleh perkataan Al.
"Une! Buruan! Ibu gue sudah nelpon," seru Al dari luar kamarku.
"Bentar!" jawabku singkat.
Setelah selesai sempurna, aku keluar dan mengajak Al untuk mempercepat langkahnya untuk memakai sepatu dan menyalakan motor. Kupanggil Mbok Num untuk meminta izin padanya dan menitipkan rumah padanya sampai kami pulang. Mbok Num mengangguk dan berpesan hati-hati padaku.
"Cantik, Ne," komentar Al saat melihat riasanku.
"Mulai, kan, ngeledek," balasku berusaha menyimpan rona merah yang baru saja ditimbulkan Al di pipiku. "Udah, buruan!"
"Ya sudah, kalau enggak mau dibilang cantik," jawab Al putus asa. "Baik, Nona..."
Al pun menginjak pedal gas dan melajukan motornya ke tempat ibuku dan ibunya berada. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih satu jam dikarenakan ada sedikit kemacatan di jalan.
"Tante," ucapku seraya memberikan salam khas perempuan, cium pipi kanan-cium pipi kiri. "Bunda."
Al melakukan hal yang sama tanpa cipika-cipiki sepertiku. Tante Renata, ibunda Al, tak pernah alpa memujiku cantik dan manis. Awal mengenalnya dan mendengar ucapan itu darinya sempat membuatku salah tingkah apalagi Al sesekali mau menambahkan pujiannya di atas pujian ibunya itu. Namun, setelah berjalan dua-tiga tahun bersahabat dengan Al, pujian Tante Renata hanya memberikan efek rasa syukur padaku yang kadang tak pernah mau meyakini bahwa aku cantik. Aku memang tidak cantik.
"Tan, masa tadi kan, Al buatib aku brownies. Nah, kagetnya lagi tuh, browniesnya enak," ucapku di sela-sela sesi makan kami.
"Wah, Al, kamu bisa masak?" tanya ibuku kaget pada Al yang langsung memberikanku tatapan tajam yang sok membunuh.
"Hidden talent, Tan," jawab Al sekenanya membuat ibuku dan Tante Renata tertawa. "Lagian, Al tadi tuh, iseng sama Mbok Num. Berhubung tadi alasan Une enggak masuk sekolah tuh, gara-gara enggak enak badan, ya sudah, Al buatin brownies aja. Ya, sebagian besar sih, ide Al. Mbok Num yang merealisasikannya."
Tante Renata tersenyum, begitu juga ibuku. Entah apa yang berkeliaran di benak mereka saat ini, aku tak ingin tahu. Namun, keduanya menatap penuh harap padaku dan Al bergantian.
Mirip denganku, Tante Renata tak pernah tertutup dengan anaknya dan teman-teman anaknya. Tante Renata adalah oranf yang tanpa rahasia. Terbuka dan penuh kasih sayang. Berbeda dengan ibu yang kadang masih menutup-tutupi beberapa hal dariku, dari Al, dan dari orang-orang sekitarnya. Mungkin, sifatku ini menurun dari sifat Ayah yang begitu terbuka dan blak-blakan dalam berbicara.
"Kalian ini mirip banget sama waktu Tante dan papanya Al lagi pacaran. Main bareng, bolos bareng, bahkan karena kami enggak sekelas dulu, kami sempat bertukar absen di kelas," komentar Tante Renata membuat aku dan Al nyaris tersedak dengan makanan kami yang belum sepenuhnya turun ke lambung.
"Iya. Bunda setuju," tambah ibuku. "Dulu, jamannya Bunda sama Tante SMA, pacaran yang sehat tuh justru yang kayak kalian. Yang cowok selalu dekat ceweknya buat ngelindungin. Tapi, enggak pernah macam-macam. Terus, kalau mau main, ngajakin teman-teman yang lain. Kalau mau keluar berdua, nonton layar tancap, duduknya pasti di antara teman-teman yang lain. Naik motor, dulu sih, becak ya, pasti enggak seaneh anak sekarang. Pokoknya, beradablah."
Al terkekeh. "Tapi, Al sama Une enggak pacaran, Tan, Ma."
Aku mengangguk setuju. Ada sedikit rasa kecewa mendengar kata-kata itu dari Al. Namun, itulah kenyataannya dan aku tak boleh membiarkan perasaan aneh ini mengusik keistimewaan persahabatan kami.
***
"Tapi, Al dan Une enggak pacaran, Tan, Ma," ucapku diikuti rasa sesal yang teramat dalam. Aku melirik Une sesaat, melihatnya mengangguk setuju sungguh menyakitkan. Namun, aku tak boleh membiarkan perasaanku yang sudah tumbuh terlalu besar ini mengusik persahabatan ini. Kehilangan Une sebagai sahabat akan lebih menyakitkan daripada harus melihatnya bahagia bersama orang lain.
"Iya, Bun, Tan. Aku sama Al tuh, cuma sahabat. Kayak saudara sendiri. Lagian, Al juga sudah punya cewek incarannya, kok," tambah Une begitu naif membuatku tersudut.
Aku hanya menyunggingkan senyum pada mama dan Tabte Shania, bundanya Une. Cepat atau lambat, aku mau tidak mau bercerita pada mama tentang hal ini. Hampir lima tahun memendam perasaan pada Une dan menyembunyikannya dari mama adalah dua hal yang cukup berat yang harus selalu kubawa. Melihat Une tersakiti dua tahun lalu juga sungguh amat menyakitkan.
"Siapa, Al?" tanya mama.
"Nanti Al cerita ke mama pas di rumah. Supaya Une tambah penasaran," jawabku sambil tersenyum simpul pada mama dan Une.
Une menguncupkan bibirnya, kebiasaannya setiap kali tak bisa membantahku. "Jahat lo, Al."
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Une. Ne, sebenarnya siapa yang jahat? Gue yang sudah menanti lo selama hampir lima tahun tanpa lo menyadarinya atau hal sesepele gue yang belum bisa mengungkapkan perasaan gue ke lo, Ne? aku membatin.
***
Makan siang menjelang sore kali ini cukup menyenangkan karena dihabiskan dengan ibuku, Al, dan ibunya. Selain membahas aku dan Al, ibuku dan Tante Renata sempat berencana membuat liburan keluarga saat libur kenaikan kelas nanti. Aku teringat tantangan dari Fian. Libur bersama keluarga Al keluar kota akan menjauhkanku dari tagihan makan-makan keenam teman-temanku. Ide bagus.
"Setuju, Tan! Une setuju banget!" seruku sambil menyikut Al. Kemudian, aku merogoh tasku dan mengirimkan Al pesan mengenai tantangan Fian agar ia dapat menangkap maksudku.
Setelah membaca pesanku, Al tersenyum dan ikut berseru. Sifat kekanak-kanakan kami tak akan pernah luntur jika berhadapan dengan kedua ibu kami. Tante Renata dan ibuku hanya bisa tersenyum dan terkekeh.
Seusai makan, aku dan Al tidak langsung pulang. Kami berjalan mengitari pusat belanja dekat restoran tadi sebentar sampai waktu makan malam. Untuk menutup hari menyenangkan ini, aku mengajak Al makan malam bersama sekaligus membelikannya bensin seperti biasa. Kami pun pulang sebelum jarum jam menyentuh angka sembilan.
"Ne..." panggil Al sesaat aku hendak melangkah masuk ke rumah.
***
"Ne..." panggilku. Lo cantik, Ne, hari ini. Makasih, udah mau mengajak gue nemenin lo jalan.
"Apa?" jawab Une dengan sebuah pertanyaan.
"Tidur yang nyenyak, ya. Good night," salamku singkat sambil memberikan Une senyum tulusku. Une membalasnya. Ah, Une... Senyum lo memang selalu jadi hal terindah buat gue. Selamat tidur, Une.
Aku bergegas pulang. Kubawa senyum Une yang begitu tulus itu bersamaan dengan laju motorku dan deru angin yang menyambar helmku. Sudahkah lo menangkap maksud gue, Ne? Masih belum cukupkah seloyang brownies istimewa dan pujian dari gue untuk menyadarkan lo?
***

Saturday, January 25, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (4)

Posted by Unknown 0 comments
Chapter 1

1.4 "He comes back and now I'm trapped."


Aku mencengkram lengan Al. Seribu macam kenangan tentang orang yang kini berhadapan denganku menerobos masuk kembali ke pikiranku. Mengapa ia begitu jahat? Mataku terasa hangat dan basah. Tak lama lagi aku sangat yakin akan ada yang menetes di pipiku. Seolah merasakannya, Al merangkulku dan membawaku pergi. Fian pun begitu. Namun, orang itu angkat bicara.
"June..." panggilnya lembut selembut dan selirih pada saat terakhir kami bertemu.
Aku menghentikan langkahku. Al bersikeras memaksaku untuk tetap berjalan. Tak bisa kuelakkan lagi airmataku dan di tempat itu juga aku beserta genangan air dari mataku jatuh ke pundak Al. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Ne, gue antar lo ke kelas. Ian, lo coba cek UKS kosong enggak, biar nanti gue izin sama Une buat istirahat di sana," ujar Al serius. Untuk masalah ini memang Al tak pernah mau bercanda. Dialah saksi nyata aku benar-benar terluka.
Al merangkulku menuju kelas. Seluruh pasang mata di koridor sekolah tempat Al dan aku berjalan saat ini memerhatikan kami. Beberapa berbisik cukup lantang hingga membuat tangisku semakin parah. Al mengelus-elus punggungku berusaha sebisa mungkin menghentikan isak tangisku.
"Une, dengarkan gue. Ne, gue ada di sini buat lo. Dia cuma masa lalu, Ne. Lo enggak boleh kalah kayak gini dong, sama kenangan dari masa lalu," ucap Al sesampainya kami di tempat dudukku. Posisi Al sekarang berlutut dekat kakiku. Aku sendiri menyembunyikan wajahku dalam telapak tanganku dan membungkukkan tubuhku agar tak ada yang berniat untuk mencari tahu masalahku.
"Ne, dengar gue! Cuma ada gue di sini. Yang tadi itu hanya kenyataan yang pahit. Sekarang cuma ada gue. Lo enggak perlu takut," ujar Al panik sambil mengusap rambutku dan mengelus punggungku. "Une, I'm here and I promise I won't leave you. I promise I won't let him touch you."
Aku tetap tak sanggup mengatakan apapun. Al, semesta kami saat ini, bahkan bangku yang sedang kududuki pun pasti tahu rasa kagetku akan yang baru saja terjadi. Zeus telah kembali. Orang terakhir yang akan kutemui jikalau dunia ini akan berhenti berputar. Orang yang paling tidak ingin kulihat wajahnya tapi tetap saja sesekali di antara waktu bahagiaku dia tetap akan muncul. Dan kini, di awal yang teramat baru dalam hidupku, lagi-lagi dia muncul. Menguak kenangan dan trauma lama yang susah payah kukubur selama dua tahun terakhir. Mengembalikkan aku yang lama, aku yang rentan akan perasaan dan rahasia serta kata-kata. Aku yang penuh kepekaan dan amat terlihat lebih dari apa yang terpampang. Kembalinya Zeus adalah malapetaka. Dan saat ini, hanya Al yang bisa menyelamatkan aku sekali lagi dari sambaran luka yang sebentar lagi akan diantarkan oleh Zeus.
Tiba-tiba kurasakan dua lengan mendekap tubuhku. Dua lengan yang cukup kekar melingkar dengan hangat menutupi tubuhku yang sedari tadi belum usai bergetar mennagis. Lengan yang sudah beberapa tahun terakhir ini menemaniku kapanpun aku butuh. Lengan Al.
"Udah, Ne. Keluarkan semua dan setelah itu gue enggak mau lagi melihat lo kayak gini. Ingat, ada gue dan akan selalu ada gue di sebelah lo," ucap Al lembut di dekat telingaku.
Aku merasakan sensasi berbeda. Nyaman. Tapi di saat yang sama, ada berpuluh pasang mata yang merekam adegan cukup mesra ini. Namun, baik Al dan aku terlalu tak peduli dengan mereka.
"Al..." lirihku. "Makasih."
Al menyunggingkan senyumnya. Tak lama, Fian memasuki kelasku dan melapor bahwa UKS kosong. Al, tanpa meminta persetujuanku lagi, membopongku ke sana. Aku memasrahkan diri, setidaknya di orang yang berjanji tak akan pernah menyakitiku dan membiarkan aku disakiti.

Pintu ruang UKS terbuka. Al sedang pergi membelikanku bubur ayam karena sudah setengah hari kami di sekolah, tepatnya di ruangan ini dan tak ada satu pun dari kami berinisiatif makan siang. Al pun izin pergi membelikan aku dan dirinya sendiri makanan. Lalu, saat ini ada orang yang sedang berusaha masuk menjengukku. Kupikir itu Al.
"Al, nanti ya, gue bayarnya sekalian kita isi bensin," ucapku yakin bahwa yang baru saja memasuki ruangan ini adalah Al.
"June..." suara itu lagi. Rambut di balik leherku berdiri. Kaget dan tak siap dengan siapa yang akan muncul di hadapanku.
Aku mendiamkannya. Masih terlalu terluka dengan kejadian dua tahun lalu dan suara yang terdengar palsu di telingaku.
"June, maafkan gue. Mau sampai kapan lo marah sama gue?" tanyanya lirih. Ada secercah harapan di antara nada-nada sok parau itu.
Aku tetap bisu sampai ada lagi suara pintu terbuka bersamaan dengan sapaan riang Al. Aku mengintip sedikit dari balik selimut UKS ini. Rahang Al mengeras, kebiasaannya setiap kali sedang marah dan tak senang akan sesuatu. Diletakkannya nampan berisikan mangkuk makan siang kami dan dua botol minum di atas meja. Dengan tatapannya yang tajam, Al mendekati orang yang baru saja memohon maaf padaku.
"Lo silakan jauhi dia! Atau gue yang bakal buat lo sama sekali enggak bisa lagi melihat dia!" ancam Al tegas dan penuh emosi.
Orang yang diancam pun mengerti bahwa ini bukan saat yang bagus untuk mencoba merayu dan memohon akan maafku. Aku setengah berayukur Al tidak melayangkan pukulannya pada orang itu, pada Zeus. Ditutupnya pintu UKS rapat-rapat agar tak ada lagi yang masuk menggangguku, mengganggu kami.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Al cemas. Aku mengangguk pelan.
Al mengambil mangkuk buburku dan membantuku untuk duduk. Ia langsung menyuapkan sesendok bubur tanpa basa-basi. Aku nyaris tersedak karena perbuatannya. Al terkekeh pelan diikuti ucapan maafnya.
"Mulai sekarang, gue satpam lo. Dan lo enggak boleh protes," ucap Al sok serius. "Kalau ada yang mau dekat-dekat dengan lo, harus negosiasi dulu sama gue."
Aku tertawa. "Lebay banget sih, lo! Tapi, makasih ya, gue enggak kebayang tadi pas ngeliat dia kalau enggak ada lo, gue jadi apa."
"Makanya, lo butuh satpam, Ne," saran Al sambil mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk yang ada di genggamannya.
"Iya, deh," balasku pasrah.
Sesi makan siang kami berlangsung cukup santai dan menyenangkan. Al berusaha menghiburku dengan gurauan khasnya yang kadang terkesan jayus. Untuk menghargai upayanya, aku tertawa sukarela. Diam-diam ada perasaan baru yang menyelinap di antara canda tawa kami. Dan aku merasa nyaman dengan perasaan ini.
"Bengong lagi! Jadi, apa jawabannya?" tegur Al sambil menyuguhkan minuman yang tadi dibelikannya untukku.
"Emang tadi lo nanya apa?" tanyaku balik tak mengerti.
"Hari Sabtu, ikut gue ke pertandingan basket abang gue, yuk! Sekalian lo cari cowok ganteng tuh, di lapangan basket," ajak Al ramah.
"Boleh banget. Sama abang lo juga gue enggak keberatan," balasku senang.
Al menoyor kepalaku sambil terkekeh. "Abang gue yang keberatan. Masa jalan sama anak umur 16 tahun."
"Lah, masalah emangnya? Kan, katanya cinta tidak memandang umur. Asik!" ucapku senang sambil mengganti posisi dudukku.
"Ya, tapi kalau dia jalan sama lo, Ne, udah kayak bapak sama anak. Abang gue kan, boros muka," beber Al. Aku tertawa mendengar ucapannya.
"Ah, enggak ngaca," balasku ringan.
"Hei! Jangan begitu, gini-gini junior kita banyak yang ngantri," balas Al menyombongkan eksistensinya.
"Berarti lo tinggal milih ya, mau ngajak siapa ke pesta dansa," pancingku sedikit. Aku mulai penasaran dengan perempuan yang akan dijadikan Al teman dansanya nanti.
Al terdiam. "Nih, Ne, gue mau serius. Jadi, gue tuh, udah tahu sebenarnya mau ngajak siapa dari awal sebelum tantangan ini bahkan muncul. Masalahnya, ngedeketin cewek ini tuh, lebih rumit daripada tebar pesona ke adek kelas."
Aku menarik nafas panjang dan mantap. Kali ini, Al benar-benar ingin serius. Tak pernah kubayangkan akan seberuntung apa perempuan yang sedang diperhatikan Al saat ini ketika mereka sudah berpacaran nanti.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujarku. "Lo cuma perlu satu, percaya diri. Kalau lo perlu bantuan gue, sebagai cewek dan sahabat lo, gue bakal ada di sini buat lo seperti lo yang janji bakal ada di sini buat gue."
"Ne, tapi..." Al menggantungkan kalimatnya membuat aku semakin penasaran. "Enggak jadi. Pokoknya, apapun yang terjadi, lo bakal bantuin gue dekat sama dia, kan?"
Aku mengangguk setuju. Ada perasaan bahagia serta perih yang kurasakan bersamaan dengan anggukanku. Al, sahabatku dan satu-satunya laki-laki yang saat ini memegangiku agar tidak kembali dalam masalah kelam dari masa laluku. Al yang sedang mengejar perempuan lain. Al yang cepat atau lambat akan lebih memerhatikan perempuan lain. Satu harapku selama mendengar curahan hati Al adalah agar ia tak melupakan janjinya.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucapku seraya memberikan Al tepukan semangat di pundaknya. Aku menutup kata-kataku dengan senyum.
***
Kenapa dia balik lagi ke kehidupan Une? Apa belum selesai dia menyakiti Une? Dan lagi-lagi, aku di sini hanya bisa berjanji pada Une untuk tak pernah meninggalkannya dan membiarkan orang itu menyentuhnya dan menyakitinya. Dan selamanya, bagi Une, aku hanya seorang sahabat.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujar Une padaku. Tak pernah ia sadari bahwa yang kumaksud itu adalah dirinya. Ah, Une...
"Ne, tapi..." ucapku menggantung kalimatku sendiri. Tapi, yang gue maksud adalah lo, Ne, aku membatin. Kemudian kuubah kalimatku, menutupinya dengan alibi klasik tanda aku sudah tak bisa bercerita lebih jauh lagi.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucap Une sambil menepuk bahuku dan tersenyum. Senyum manis yang sejak dulu tak pernah alpa menghiasi hariku. Senyum tulus darinya yang kerap selalu membantuku percaya bahwa aku dan Une punya harapan. Aku punya harapan untuk selalu bersama Une.
Sayangnya, cewek yang lo bilang enggak pernah merasakan bahwa dirinya sudah beruntung, Ne, bisikku dalam hati.
Aku memberikan Une tawa renyahku. "Lebay banget, Ne. Belum tentu dia bakal ngerasa begitu. Dia aja enggak pernah tahu gue perhatiin setiap hari."
"Wah, berarti udah lama dong, lo ngejar ini cewek?!" seru Une kaget, naif. Sudah terlalu lama bahkan jika harus dihitung. Aku mengangguk singkat, membuat Une menampilkan senyumnya. Lagi-lagi, harapan itu muncul ke permukaan setiap kali dia tersenyum.
"Al, lo harus gerak cepat! Pokoknya, pesta dansa nanti lo harus sama dia!" perintah Une, masih belum sadar bahwa dialah yang sedang kubicarakan.
Pesta Dansa Senior! Sial, kenapa Fian harus membuat tantangan itu?! Niatku untuk melangkah mengejar Une jadi berantakan meskipun pada akhirnya aku yakin kami berdua akan berakhir datang bersama. Fian sialan! Kesempatanku dengan Une dibuat semakin sempit oleh Fian dengan ide konyolnya ini. Aku membencinya jika harus melihat Une datang bersama orang lain.
"Lo nuntut melulu, Ne. Lo sendiri nanti dateng sama siapa? Jomblo memang bisa bawa cowok?" godaku, menekan rasa sakit hatiku sendiri.
Une terdiam. Aku sudah salah bicara. Reaksi ini adalah kebiasaan Une setiap kali aku sudah melampaui batas dalam bercanda bersamanya. Matilah aku!
"Ne, maksud gue... Gue enggak bermaksud..." ralatku terbata-bata. Une memalingkan wajahnya, ada gerakan kekecewaan bersamaan dengan hembusan nafasnya. Tanpa dia tahu, aku juga sudah kecewa dengan diriku sendiri.
"Une... Ne, gue minta maaf. Sumpah, gue enggak bermaksud," pintaku dengan setulus hati. "Ne..."
"Lo jahat!" ucap Une sedikit bergetar.
Aku mendekat ke Une untuk memeluknya. Une menolak tawaranku. Namun, aku memaksa agar dia tahu bahwa aku benar-benar tidak sengaja.
"Lepas!" geram Une.
"Ne, jangan marah, dong. Sumpah, gue benar-benar enggak ada niat buat bikin lo sakit hati lagi," akuku. "Une cantik, baik hati, teman terbaikkuuuuuuu! Gue mohon jangan marah, ya?"
Une menatapku. Ada luka di matanya yang dapat kulihat jelas. Luka lama yang baru saja kubuka lagi, membuatnya basah dan menyakitkan untuk yang memilikinya. Membuat Une terluka lagi.
"Argh! Al, kalau gue enggak sayang sama lo dan enggak anggap lo sahabat, gue rasa tadi gue udah membulatkan tekad buat enggak pernah ngomong lagi sama lo," ungkap Une. Mendengar kata-kata itu dari bibirnya menyejukkanku. Une sayang padaku... Namun, hanya sebatas sahabat, bodoh, ejek batinku sendiri.
"Une! Lo emang paling super! Ah, lega akhirnya dimaafin," seruku gembira. Ne, andai semesta memberikan kita harapan yang nyata untuk tetap bersama dan melangkah lebih dekat dari sekadar bersahabat.
***

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos