Friday, January 24, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita

Posted by Unknown
Chapter 1

1.1 "A fresh start never hurts."

Ponselku menyala seraya berteriak "Bangun!". Jam digital yang cukup besar terpampang di layarnya, 05:30. Waktu yang cukup pagi untuk orang sepertiku terbangun dari tidur. Ya, aku memang bukan orang yang mencintai silau matahari pagi. Namun aku juga bukan orang yang tahan mendengar ocehan seorang ibu tentang betapa pantangnya anak perempuan tidur sampai mendekati waktu Dzuhur. Dengan susah payah aku mengangkat tubuhku sendiri untuk bergegas mandi dan sarapan. Hari pertama kembali ke sekolah setelah dimanjakan oleh libur panjang. Memikirkannya saja, aku ingin menangis. Aku rindu libur, Tuhan.
Kupaksa kakiku untuk berdiri tegak agar ada semangatku mengambil handuk lalu mandi. Namun, butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan nyawa dalam tubuh ini sampai aku benar-benar sadar ini hari perdanaku untuk kembali menampilkan diri di sekolah. Akhirnya, kedua kakiku berhasil melawan kantuk yang membara. Dengan ini, kumulailah rutinitas pagi yang entah mengapa tak pernah tak membuatku jenuh.
Omong-omong, namaku June Aphrodita Malik. Nama yang cukup kompleks dan kontras untuk orang seperti diriku. Terlalu rumit untuk gadis berkepribadian santai sepertiku memiliki nama salah satu Dewi Yunani yang terkenal dengan keanggunan dan kecantikannya yang dapat memikat dunia dan isinya. Oke, bahkan membicarakannya saja aku agak tergelitik. Jujur saja, seumur hidupku hanya kedua orangtuaku yang memujiku cantik layaknya Sang Dewi yang namanya kupinjam dalam akte kelahiranku. Aku selalu menanggapi pujian mereka dengan senyum terimakasih karena aku tahu baik aku maupun mereka sama-sama belum pernah melihat Sang Dewi yang dibicarakan itu.
Berbicara tentangku, ada segudang hal yang tak perlu kalian gali dariku karena sesungguhnya apa yang kalian lihat dariku adalah apa yang sebenarnya ada dalam diriku. Singkat kata, aku cukup terbuka dan transparan dalam hal apapun kecuali berpakaian dan urusan cinta. Untuk hal yang kedua itu, kurasa wajar. Mana ada anak umur 15 tahun mengerti tentang cinta? Jadi, bersikap tertutup tentang hal itu adalah permasalahan yang wajar. Apalagi jika kalian bersahabat dengan banyak anak laki-laki yang tidak pernah dalam hidup mereka menganggap cinta adalah sebuah persoalan yang wajib dibicarakan. Ya, mungkin dalam hal ini nama Aphrodite benar-benar menunjukkan arti sebenarnya karena frankly aku memang yang tercantik di antara teman-teman laki-lakiku.

Selesai bersolek dan panik mencari kaos kaki putih yang secara misterius hilang dari lemariku, aku pun menunggunya di depan pagar rumah. Oh iya, aku lupa memberitahumu. Rizal Alqadr, salah satu dari segenap teman laki-lakiku sudah tiga tahun ini sukarela merangkap peran menjadi sopir pribadiku. Faktor lain yang mendukungnya rela menjadi tumpanganku adalah rumah kami searah dan aku tak pernah absen memberikannya uang bensin. Persis seperti sopir, bukan? Biarlah, setidaknya dengan rasa prihatinnya terhadapku menunjukkan bahwa dia teman yang cukup loyal.
Suara klakson motor yang khas itu muncul bersamaan dengan terlihatnya roda depan motor tersebut. Di balik helmnya, aku yakin sang pengemudi terkesiap melihatku sudah rapi dan siap menyambut sekolah. Aku melambaikan tanganku memberikan sinyal padanya untuk membuka kaca helmnya.
"Wah, tumben banget si Nona sudah siap," sapa Al sambil memindaiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Al adalah nama akrabnya yang kucetuskan sejak awal persahabatan kami.
"Ah, biasanya juga gue pagi-pagi tiap lo jemput sudah siap, Al," balasku.
Al menyunggingkan senyumnya. "Siap, sih. Tapi, pasti tas lo belum ditutup, kaos kaki lo tinggi sebelah, rambut lo acak-acakan kayak orang belum mandi. Siap, sih."
Aku melayangkan tinjuku ke lengannya. Cukup bertenaga sampai bisa membuatnya terhuyung. Al membalas pukulanku dengan tawa. Baginya, tinjuku barusan tidak ada apa-apanya dengan bombardir tinju dan hantaman dari kawan-kawan boxing-nya.
"Ya sudah, ayo berangkat. Gue enggak sabar mau ketemu yang lain," ujarku bersemangat diikuti tepukan di bahunya.
"Oke, Nona," balas Al singkat. Dipakainya lagi helm hitam favoritnya dan singkat cerita, aku dan Al sudah tiba di parkiran sekolah setelah menghabiskan setengah jam di jalan.

Ramainya lorong sekolah dengan ceriwis anak-anak perempuan dengan rok yang tampaknya semakin terlihat kecil mengusikku. Mereka dengan penampilan yang banyaj berubah itu terlihat semakin menyebalkan.
"Kenapa, Ne?" tanya Al yang dari tadi berjalan di belakangku. Dia berhasil menyejajarkan langkahnya denganku.
"Kalau rok gue diperkecil terus dipersempit kayak punya mereka, kira-kira lo bakal komentar apa, Al?" tanyaku sedikit naif. Aku memandang Al yang dengan cepatnya memberikan reaksi pada perkataanku.
Al meledak dalam tawanya mengundangku untuk ikut tergelak juga. "Ne, sumpah demi Tuhan, malaikat-Nya, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya, kalau sampai rok lo jadi kayak rok mereka, gue enggak akan bawa motor lagi. Gue jemput lo bawa mobil. Nanti benangnya putus di jalan kan, bahaya. Ya kan, Ne?"
Aku tertawa mendengar komentar Al. "Gue juga bersumpah, Al, dan lo wajib mencatatnya. Gue bersumpah tidak akan pernah mempercil dan mempersempit rok gue karena gue terlalu cinta sama jok motor lo. Ingat ya, Al. Sumpah gue ini sifatnya abadi. Tapi memori gue jangka pendek, jadi bantuin gue mengingat, ya."
Al kembali lepas dalam tawanya. Kali ini mengundang beberapa pasang mata memandang kami. Aku menegurnya dengan tepukan pelan pada lengannya. Al membungkam, berusaha keras menahan tawanya yang mendesak ingin dilepaskan. Wajah Al merangsang gelak tawaku yang semakin lama semakin ingin meledak juga. Sialan, Al.
"June! Gila, kurusan. Enggak bohong, June, lo liburan diet, ya?" sapa Anita sesampainya aku di meja kami. Ya, Anita adalah teman semejaku.
"Ah, masa? Perasaan gue liburan makan terus, deh. Tapi, baguslah kalau memang gue terlihat lebih kurus. Semoga yang lain bilang begitu juga, jadi gue enggak merasa lo bilang gitu buat nyenengin gue aja," balasku diikuti tawa kecil yang ramah pada Anita. Anita pun terkekeh.
"Masih bareng Rizal, nih?" tanya Anita.
Satu hal tentang Anita yang sangat menyebalkan adalah bahwa dirinya selalu memotivasiku untuk segera memastikan hubunganku dengan Al atau yang dikenalnya sebagai Rizal. Sudah seribu kali kukatakan padanya, aku dan Al hanya berteman dan urusan berangkat dan pulang bersama sepenuhnya adalah cara dari Al yang ingin menunjukkan bahwa sebagai teman, dirinya bisa diandalkan. Penjelasan ini tak pernah dianggap fakta oleh Anita. Dan selama setahun terakhir ini, aku mulai terbiasa dengan hal itu. Tepatnya, aku mulai memaksakan diri untuk terbiasa dengan hal itu.
"Iya, Nit. Kayaknya sampai pertanyaan lo yang ke sejuta juga kalau rumah gue dan rumah Al, maksud gue Rizal, masih berdekatan juga kita berdua bakal tetap berangkat dan pulang bareng," jawabku lelah. "Lo sendiri, masih sama ojek?"
"Ih, kalian jadian aja, kek. Enggak usah bersembunyi di balik alibi persahabatan. It drives me crazy seeing you guys have yet to become a couple!" protes Anita untuk yang kesekian kali. "Eh, jangan mentang-mentang lo punya Rizal yang setia mengantar dan menjemput lo, ya, June! Jadi meledek gitu."
Aku terkekeh. And it also drives me crazy hearing your protest for the last twelve months, batinku berbisik.
Tak lama, Al beserta Dadan dan Aqil masuk ke dalam kelas. Al dan Aqil adalah dua penyamun yang bertugas di belakang aku dan Anita. Sedangkan Dadan mengepung kami dari depan. Sial bagi Dadan, ia duduk dengan Rana, Sang Bintang Kelas yang teramat sensitif dengan kejahilan. Aku berterima kasih pada Rana untuk yang satu ini.
"Jodoh, June. Baru saja kita obrolin Rizal, dianya datang," bisik Anita diam-diam sambil berlagak menyiapkan buku Bahasa Indonesia, pelajaran pertama untuk hari ini. Aku hanya tersenyum tak berniat memperpanjang obrolan tentang hal ini.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos