Tuesday, July 17, 2012

Requestan Siapa Aja Yang Belum Gue Selesaiin Naskahnya. Wkwkwk

Posted by Unknown 0 comments
Deyna, 15 tahun, murid baru, inceran cowok kelas 11 bernama Haykal. Rumornya, Haykal dan Deyna pernah satu sekolah sebelum SMA. Bagi Deyna, Haykal cuma seorang kakak kelas yang sekaligus menjabat sebagai sahabat dekat dan tetangganya. Tidak lebih. Haykal sendiri awalnya merasakan hal yang sama, namun seiring beranjak dewasa, Haykal paham bahwa apa yang dirasakannya pada Deyna itu lebih dari sekedar sahabat, tetangga, atau kakak kelas.
Haykal cukup beruntung bisa menembus organisasi sekolah, OSIS, dan membimbing Deyna selama masa ospek atau MOS. Teman satu csan Haykal mengenal betul bahwa sohibnya itu berusaha mendapatkan Deyna. Jadi, selama MOS, bukannya Deyna yang dijahili, justru Haykal yang kena getahnya.
"Kal, gak inget sahabat masa kecil?" goda Erik, teman satu kelas Haykal.
"Apaan sih lo, Rik! Bacot!" balas Haykal. "Gue cari angin dulu, ya! Rik, tanggung jawab nih kelas!"
Erik mendengus. "Sialan lo, Kal! Gak usah salting gitu, dong!"
"J*ng!" sumpah Haykal kesal. Erik membuntuti sumpah serapah itu dengan tawanya.
"Di sini yang namanya Deyna mana?" tanya Rifky, yang tiba-tiba masuk kelas. Tampaknya ia sudah berpapasan dengan Haykal.
Deyna mengangkat tangannya. "Saya, kak."
Rifky menggerakkan jemarinya menyuruh Deyna berjalan ke arahnya. Deyna berdiri dan melangkah ke arah Rifky. Rifky menarik Deyna keluar kelas. Bertepatan dengan itu, seluruh peserta MOS diperintah untuk keluar membentuk beberapa barisan.
"Haykal mana Haykal?!" teriak Rifky heboh.
"Disana, Rif," jawab Dinda cenge-ngesan, mengerti bahwa junior yang dibawa Rifky adalah Deyna, gebetan Haykal.
Haykal tampak di ujung pandangan Rifky. Ia sedang tertawa-tawa dengan beberapa OSIS cowok lainnya. Seiring dengan itu, keadaan di lapangan sudah menghadap depan semua. Rifky mengajak Deyna menuju ke tengah lapangan. Haykal yang tahu bahwa dirinya sebentar lagi akan ikut dalam hal memalukan ini hanya bisa menyumpahi Rifky dalam hatinya.
"Hey, kalian semua! Dengerin ya, Haykal bakal nembak dia, nih," beber Rifky. Di ujung lapangan, Haykal sudah memberikan Rifky salam jari tengah. "Pakai mik. Jadi, bakal jelas dan kalian harus dengerin sejelas-jelasnya. Sebagai peresmian, kalian ntar saya tanya 'sah' apa nggak."
HAYKAL! HAYKAL! HAYKAL! Sorak sorai anak-anak OSIS sudah membahana di lapangan sekolah. Peserta MOS ikutan menyoraki Haykal dan Deyna. Deyna sendiri merasa ilfeel dengan kejadian tersebut. Tapi, dia tidak bisa protes.
Rifky memberikan mik kepada Haykal. Haykal menoyor kepalanya. Rifky dan seluruh peserta MOS tertawa.
"Nama kamu siapa?" tanya Haykal pada Deyna basa-basi, kaku.
"Halah! Udah tau juga, sok banget jaim lo!" ledek Bella dari kanan lapangan.
"Deyna, Kak," jawab Deyna lebih kaku dan kesal.
"Oh. Di sini mau ngapain?" tanya Haykal tidak menghiraukan ocehan Bella tadi.
Deyna cuma bisa diam.
"Ya sudah, kamu boleh duduk," ucap Haykal.
"Heh, nggak-nggak! Lo harus nembak, Kal," ucap Rifky tanpa pengeras suara. "Setuju?"
SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUUUU! Jawab peserta MOS. Deyna kembali berdiri atas perintah Rifky.
"Yang romantis ya!" Annisa mengompori. Haykal sudah seribu kali mengutuk teman-teman OSIS-nya.
Haykal akhirnya berdehem. Jujur, ia cukup senang bisa menyatakan perasaannya, meskipun ini dianggap bercanda oleh kebanyakan orang. Tapi, kalau Deyna menerimanya, berarti bukannya mereka resmi pacaran?
"Dey, kita dulu kan, sahabatan, tetanggaan, satu sekolahan... Awalnya aku nggak ngerasa kayak gini, tapi sekarang aku tau kayaknya aku naksir sama kamu," Haykal memulai. "Deyna, mau nggak kamu jadi pacarku? Bukan sahabat lagi?"
TERIMA! TERIMA! TERIMA!
Wajah Deyna memerah. Seharusnya, Deyna cukup bangga ditembak oleh salah satu dari 10 orang terkece se-SMA ini. Tapi, Deyna merasa geli dan kesal dengan perlakuan mereka.
"KALO DIEM ARTINYA DITERIMA!" ucap Rifky membuat suatu perjanjian tidak resmi.
Kata-katanya diikuti oleh 'CIE'-an seluruh peserta MOS dan OSIS. Berarti, Haykal-Deyna sudah resmi pacaran. Masalah perasaan urusan nanti. Yang penting ada dua makhluk yang bisa diledek-ledekin untuk beberapa waktu ke depan.
~~~
"Gak ngajak pulang bareng, Kal?" tanya Erik.
Haykal diam sebentar. "Gue...bingung, Rik. Gue beneran pacaran apa nggak sama Deyna."
"Beneranlah. Udah diresmiin sama OSIS dan junior-junior kita. Masa masih lo bilang boong?!" tanya Erik balik. "Otak lo diupdate dong, Woy!" Erik menoyor kepala Haykal.
"Sialan lo!" umpat Haykal. "Ya udah, gue pulang bareng Deyna."
Mendengar itu, Erik tersenyum. "Cie daaaaah" Haykal meninju lengan sohibnya itu.
Karena kelas Deyna berada di lantai dua, Haykal balik lagi ke atas menjemput 'pacar'-nya itu. Deyna juga dari tadi nggak habis-habisnya diledekin teman-teman barunya. Dia makin tambah cemberut.
Melihat kedatangan Haykal, teman-teman Deyna pamit lebih dulu. Deyna makin bete melihat sosok Haykal.
"Na, pulang naik apa?" tanya Haykal.
"Angkot," jawab Deyna jutek.
"Sama gue aja. Naik motor," tawar Haykal.
"Nggak usah," tolak Deyna.
"Beneran?" Haykal bertanya lagi, agak sedikit berharap Deyna mau.
"Iya," jawab Deyna lebih tegas. Haykal merasakan desir kecewa.
"Ya udah, deh. Lain kali, lo mau kan?" tanya Haykal. Deyna diam. "Eh, gue balik deh. Gue ganggu lo, kan?"
Haykal berjalan balik dengan sangat kecewa. Deyna yang merasa tidak enak, memanggil Haykal lagi.
"Aku ikut kakak, deh," ucap Deyna, terpaksa. Haykal tersenyum puas.
~~~
Selama perjalanan pulang, Haykal dan Deyna sama-sama membisu. Haykal cuma berusaha menikmati waktunya dengan Deyna, sementara Deyna sendiri berdo'a agar lalu lintas lancar supaya dia cepat pulang.
Sampai di rumah, Haykal mengantarkan Deyna lebih dulu. Padahal, rumah Haykal berhadapan dengan Deyna. Orangtua mereka cukup dekat.
"Na..." panggil Haykal.
"Ya?" jawab Deyna.
"Kamu nggak marah kan?"
"Nggak, kok."
"Makasih ya."
"Buat apa?"
"Udah nerima gue."
Deyna cuma mengangguk kaku. Berharap tadi dia tidak diam dan berkata 'Maaf, Kak. Saya lebih milih kita sahabatan.' Tapi, semua itu sudah terlambat. Deyna sendiri memasrahkan perasaannya pada apa yang akan terjadi. Hati Deyna bukan untuk Haykal, tapi untuk orang lain.
~~~
Tak terasa sudah dua bulan Deyna-Haykal berpacaran. Haykal begitu baiknya dan sabarnya menghadapi sikap Deyna yang biasa-biasa aja, dan lebih sering jutek. Teman-teman Deyna menganggap Deyna keterlaluan. Sebagian teman satu angkatan Haykal menganggap Deyna belagu. Sementara senior-senior mereka, tidak berkomentar. Haykal sendiri tidak masalah dengan sikap Deyna. Selama mereka masih berpacaran, Haykal mempunyai semua kesempatan untuk membuat Deyna membalas perasaannya.
"Na, kok lo gitu sih sama kak Haykal?" tanya Riri, teman sebangku Deyna saat mereka sedang duduk-duduk di kantin.
"Kok gitu sih gimana?" tanya Deyna balik diikuti satu suapan nasi goreng.
Riri menarik nafas dan menghembuskannya. "Kak Haykal udah usaha banget buat perhatian sama lo, tapi elo justru sok jaim pura-pura gak tau kalo dia itu pacar lo."
Deyna menelan nasi goreng tadi. "Gue gak pernah bilang 'iya' pas dia nembak, gue juga nggak bilang 'nggak'. Bagi gue, gue gak 'gimana-gimana' sama sikap dia. Kalo dia bersikap kayak gitu, gue hargain, kok. Gue nggak sebejat itu, Ri."
"Tapi, sadar gak sih, elo dianggap sombong sama kakak kelas kita?" tanya Dini sekarang yang juga sedang menemani Deyna dan Riri di kantin.
"Sadar, kok," jawab Deyna santai. "Tapi itu problem mereka. Gue...nggak urusan."
Entah dari mana, Eka mendengus kesal. "Dey, menurut gue lo belagu, sombong! Kak Haykal bukan cowok 'biasa' di sekolah ini. Dia pinter, baik, ramah, banyak yang naksir. Harusnya lo bersyukur dong, digebet sama cowok kayak dia."
Deyna panas. "Tapi, hati gue nggak merasa digebet!" Bentak Deyna. Saat itu juga, Haykal sedang berdiri hendak menghampiri Deyna. Mendengar kata-kata 'pacar'-nya itu, Haykal hanya menatap Deyna dan pergi. Deyna membalas tatapan Haykal dari ujung kantin, merasa bersalah.
~~~
Sejak kejadian tadi, Haykal tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Ia meminta izin pada guru untuk beristirahat di UKS. Setelah diberikan izin, Haykal tidak benar-benar ke UKS. Ia pergi ke perpustakaan dan merenung disana.
'Hati gue nggak merasa digebet' kalimat itu terngiang di benak Haykal terus-menerus. Jadi, selama dua bulan ini, Deyna tidak pernah menganggap hubungan mereka ada? Cuma sebatas perjanjian sebelah pihak, dimana pihak tersebut dibodohi? Segitu parahnya kah Deyna berfikir? Haykal, sebagai cowok jantan, hanya bisa bangkit lagi dengan cara menutup diri dan bersikap dingin pada Deyna.
~~~
Selama kerenggangan hubungan Deyna-Haykal terjadi, Deyna menyempatkan diri untuk bermodus dengan Erik. Deyna sebenarnya menyimpan perasaan ke Erik, sahabat baik Haykal. Rasanya sangat salah menaksir sahabat pacar sendiri. Tapi, bagi Deyna, Haykal tetap bukan siapa-siapa dia.
"Eh, Deyna. Kok gak sama Haykal?" tanya Erik berusaha ramah dan menjaga diri.
Deyna terkekeh. "Lagi... Lagi istirahat, Kak."
Erik langsung mengerti maksud Deyna. Akhir-akhir ini, Erik memerhatikan sohibnya itu tidak fokus dan sering murung sendiri. Haykal juga akhir-akhir ini banyak diam.
"Cepet baikan, ya," ucap Erik.
"Kak, aku kan lagi istirahat sama Kak Haykal, terus aku jadi nggak ada temen pulang. Kakak mau nemenin aku pulang nggak?" tanya Deyna langsung.
"Boleh aja sih. Tapi, Haykal nggak marah emang?" tanya Erik hati-hati.
"Kalopun dia marah, kenapa?" tanya Deyna terdengar sedikit tersinggung.
Erik menarik nafas. "Dek, gue gak mau Haykal marah sama gue. Apalagi elo. Dia udah lama berusaha dapetin elo dan gue gak mau usahanya sia-sia."
Deyna agak kesal. "Haykal gak bakal marah. Dia bakal ngerti. Bukannya dengan ini dia bakal bisa ngerti kalo aku perlu diperhatiin lagi?"
Erik menangkap poin bagus dari ucapan Deyna. Akhirnya ia sepakat akan pulang bersama Deyna. Deyna seneng banget bisa pulang bareng Erik.
~~~
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Haykal hendak meluruskan hubungannya dengan Deyna. Namun, dilihatnya Deyna sedang berjalan mengekori Erik. Haykal berusaha berfikir jernih. Erik nggak ada andil disini. Ini cuma taktik Deyna supaya Haykal balik sama dia. Dan sejauh ini, asumsi itu berhasil.
"Rik!" panggil Haykal.
Yang dipanggil menoleh dan menyapa balik. Deyna cuma bisa melongos dan mengutuk Haykal.
"Deyna pulang bareng gue aja. Kita udah baikan, kok," ucap Haykal sambil memberikan satu kode pada Erik bahwa ia hanya ingin bicara dengan Deyna sebentar. Erik mengangguk dan berjalan meninggalkan kedua anak itu.
Deyna melipat tangannya di depan dada. "Apa-apaan sih, Kak?! Aku mau pulang sama Kak Erik  gak boleh!"
"Jelas gak bolehlah. Kamu itu pacar gue atau pacarnya Erik?" tanya Haykal ikut kesal dengan sikap Deyna.
Deyna diam, menarik nafas. "Saya bukan siapa-siapa kakak. Saya nggak pernah bilang 'iya' pas kakak nembak saya. Niat saya waktu itu nolak kakak, kalo boleh jujur. Saya nggak ada perasaan apa-apa buat kakak. Sebatas sahabat dan tetangga. Nggak lebih. Dan perasaan saya yang asli itu nggak pernah tertuju buat kakak."
Haykal berusaha menahan emosinya. "Kenapa kamu gak bilang?! Jadi selama dua bulan ini, kamu cuma kasih gue harapan palsu aja? Hebat ya! Buat seorang cewek, terutama baru umur 15 tahun, bisa nginjek-nginjek harga diri cowok 16 tahun yang udah bertahun-tahun nyoba buat deketin dia?! Kalo boleh jujur, lebih baik gue pacaran sama cewek-cewek yang dari sananya udah naksir sama gue, daripada harus diPHPin sama cewek kayak lo! Dan lo tau, nggak cuma hubungan kita yang rusak, kata 'sahabat' kayaknya juga udah ilang dari kamus gue, Dey. Makasih."
Deyna terdiam.
"Bagus! Hebat, Dey," puji Haykal sinis. "Gue harap elo nggak nyakitin Erik, Dey. Dia udah punya pacar lagian. Jangan cuma bisa jadi perusak aja."
Haykal berjalan menuju gerbang sekolah dan mengambil motornya. Semua nggak akan mudah mulai dari hari ini. Haykal berniat menjauhi bahkan menghapus Deyna dari pikirannya dan mungkin hatinya juga.
~~~
Sudah hampir satu semester Haykal berhasil melupakan Deyna. Deyna sendiri makin kelihatan terpuruk. Kabar putus Haykal-Deyna menyebar dua minggu setelah kejadian dulu. Jujur, Deyna merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak ada lagi perhatian, telepon, sms, atau ajakan. Nggak ada lagi sapaan, status, atau apapun yang beberapa bulan lalu pernah ia dapatkan dari Haykal. Deyna bukan hanya kehilangan Haykal sebagai 'pacar', tapi juga sebagai 'sahabat'.
"Ri, menurut lo, gue sejelek itu ya?" tanya Deyna sambil menatap kosong ke depan.
"Maksud lo?" tanya Riri loading lambat.
"Gue...cuma bisa jadi perusak aja?" tanya Deyna lagi.
Riri sekarang menatap sahabatnya. "Kata siapa?"
"Haykal," jawab Deyna sedikit merasa sesak. Menyebut namanya saja sudah terdengar menyakitkan.
"Jujur nih, Dey?" tanya Riri.
"Iya."
"Menurut gue, Kak Haykal bener."
"Kok?"
"Janji, lo bakal dengerin gue sepenuhnya, ya?" pinta Riri. Deyna mengangguk. "Dey, lo ngerasa kehilangan kan? Ngerasa ada sesuatu yang nggak biasa? Mungkin baru sekarang hal itu bener-bener kerasa, tapi gue yakin, lo ngerasa itu semua pas Haykal mutusin elo. Secara nggak langsung Dey, lo ngerusak tiga hal."
"Iya? Apa aja?" tanya Deyna tidak mengerti.
"Lo ngerusak hubungan lo yang harusnya masih berjalan lancar, lo ngerusak persahabatan lo yang udah lama lo jalanin sama Haykal, dan yang terparah... lo ngerusak perasaan Haykal," ucap Riri. "Cewek emang susah buat move on, Ri. Tapi, saat cowok ada di posisi kayak gitu, mereka bakal lebih kelihatan menderita. Kakak gue contohnya, dia down banget saat tahu ceweknya nggak bakal hidup lama. Dan buat mulai suka sama yang baru itu butuh waktu."
Deyna merasa tersayat dengan kata-kata Riri. "Segitu parahkah gue?"
"Well, menurut gue iya," ucap Riri jujur. "Gue saranin, elo minta maaf ke dia. Mungkin nggak bakal langsung dimaafin sama dia, tapi setidaknya elo udah nunjukin bahwa lo menyesal. Lo mau persahabatan lo balik. Setidaknya itu."
"Ri, makasih ya, sarannya," ucap Deyna. "Nanti, pulang sekolah gue mau ke rumah Haykal. Ngomong berdua aja."
~~~
Rencana Deyna hampir berhasil. Ketika melihat Haykal mengeluarkan motor dari garasinya, bersama seorang cewek yang dikenali Deyna, Eka. Haykal dan Eka tampak seperti mereka akan keluar bersama. Dada Deyna terasa sesak melihat peristiwa itu.
"Riri salah. Cowok itu lebih gampang ngelupain," jawab Deyna. "Selalu kayak gitu."
Haykal bisa melihat sosok Deyna melangkah lesu ke dalam rumahnya. Luka yang masih basah di hatinya kembali berdenyut sakit. Namun, Eka sudah disini. Mencoba untuk mengganti posisi Deyna. Tapi, nggak bakal semudah itu.
~~~
Sabtu pagi, Deyna berusaha menarik pertahian Haykal dengan menghabiskan paginya di teras depan. Haykal sedang mencuci motornya. Deyna membawa kameranya dan mulai memotret suasana pagi dari terasnya. Sebentar-sebentar, kamera ia arahkan kepada sosok Haykal. Baru kali ini, Deyna sadar bahwa Haykal masih jauh lebih baik daripada Erik. Tapi, semua ini sudah telat. Haykal sudah dalam proses menutup hatinya buat Deyna.
Haykal menyadari Deyna yang sedang memotretnya.
"Jangan jadi pengecut!" sindir Haykal lantang. Deyna yang merasa melihat Haykal, langsung tidak lewat kamera.
Deyna menghampiri Haykal. Hati-hati dan penuh harap.
"Hai," sapa Deyna sehati-hati mungkin.
"Ada perlu?" tanya Haykal dingin.
"Aku...aku mau bicara," jawab Deyna.
"Bicara aja. Mumpung gue masih mau denger," ucap Haykal.
Deyna menarik nafas. "Kal, gue minta maaf."
"Buat apa?" tanya Haykal.
"Buat beberapa bulan yang lalu," ucap Deyna.
"Baru sadar sekarang?"
Deyna hanya bisa diam.
"Slow. Gue udah maafin," jawab Haykal dingin. "Eh, Eka!"
Deyna membalikkan badan dan mendapati Eka ada di hadapannya. Mereka hanya bisa berbagi pandangan tidak percaya antara satu sama lain.
"Lo ngapain disini?" tanya Eka ketus.
"Gue baru mau balik, kok," jawab Deyna. "Congrats ya, kalian. Long last."
Butuh satu pengorbanan buat mengucapkan kata-kata itu. Deyna buru-buru memasuki rumahnya, karena kalau tidak airmatanya akan mengalir membasahi pipinya. Haykal, menyadari bahwa Deyna sedang menahan tangis. Membuat seseorang yang berharga menangis itu salah satu hal yang paling menyakitkan.
~~~
Deyna menyediakan karton hitam. Semua potret berisi Haykal sudah ia cetak. Ia merencanakan sesuatu agar Haykal mau benar-benar memaafkan dia dan mengulang semuanya dari awal.
Semua foto ditempel di atas karton hitam itu dan di sudut kanan karton ditempeli dengan selembar surat.

"Untuk Haykal,

Gue tau gue udah pernah minta maaf. Tapi, gue gak mau kalo elo memaafkan gue karena terpaksa.
Lima tahun ya, Kal? Lo nunggu gue, tapi gue dengan cueknya cuma nganggep elo sahabat. Tetangga. Kakak kelas. Maaf, Kal. But, love is a fight. Dan akhirnya, perasaan lo terbalas. Gue akhirnya suka sama lo, Kal.
Gue nyesel kenapa gue nggak ngerasa kayak gini dari awal. Tapi, love needs time juga. Dan thanks for fighting, holding on. Gue berharap elo masih nyimpen perasaan buat gue. Gue mau kita ngulang semuanya dari awal.

Deyna"
~~~
Mading ramai dengan desas-desus tidak jelas. Semua memerhatikan karton hitam dengan foto-foto Haykal di atasnya. Tiba-tiba, Haykal datang ikut dalam kerumunan anak-anak tersebut. Haykal melepas suratnya, lalu membacanya. Semua mata memerhatikannya.
Selesai membaca Haykal berlari menuju kelas Deyna.
"Dey, gue mau ngomong," panggil Haykal. Deyna tersenyum, berharap semua akan berubah menjadi baik.
Haykal menarik Deyna ke ujung teras lantai dua. Agak jauh dari pintu kelas Deyna.
"Ngapain tempel di mading?" tanya Haykal, berpura-pura tidak suka. Padahal, luka di hatinya sudah membaik. Melihat perjuangan dan usaha Deyna.
"Lo... Gue, gue pengen lo bener-bener maafin gue, Kak," jawab Deyna. "Kalo lo nggak maafin gue juga gak apa-apa. Gue tau, gue emang perusak segalanya."
Haykal tersenyum. "Love is a fight and love needs time. Dan finally, I got my girl."
Deyna mengangkat kepalanya yang tadi sempat tertunduk. "Jadi, elo beneran mau start dari awal?" Haykal cukup mengangguk. "Kali ini, I'll never let you go."
"Ternyata, butuh perjuangan banget ya, buat bener-bener bikin elo ngebales perasaan gue, Dey?" goda Haykal.
"Kan, love is a fight," jawab Deyna ngocol. Haykal mengacak-acak rambut Deyna. "Ih, genit!"
"Cuma sama lo," jawab Haykal.
"Terus Eka?"
"Cuma buat taktik aja. Supaya lo jeles."
"Sial! Tau gitu, gue nggak bakal capek-capek beli karton, jadi paparazi!" Deyna ngambek.
"Kalo nggak gitu, sampe lebaran monyet juga elo nggak bakal sadar sama perasaan lo sendiri," ujar Haykal. "Semua ada hikmahnya. Buktinya, elo sekarang balikan lagi kan, sama satu dari 10 orang kece di sekolah ini."
Deyna hanya terkekeh. "Ya, deh, Haykal."

Monday, July 16, 2012

MOS

Posted by Unknown 0 comments
Eh-eh-eh, masa kaki gue sakit banget-bangetan.___.

Jadi tuh, tadi gue (untuk tahun kedua menjabat osis) ngemosin adek-adek kelas 7 yg baru. Yep, sekarang gue udah senior dan ntar lagi LENGSER!

Angkatan kali ini.............................sepi,sunyi,senyap,selaw
Yang heboh tuh justru kakak-kakak osisnya. Eh-eh, tapi di kelas 7-5 (kelas gue), ada namanya Farhan dan dia versi Juniornya Al anaknya Ahmad Dhani. Ya Allah, dia itu kece+manis dan gue...foto bareng sama dia. *O*

Oh iya, gue udah selesai mengganti utang puasa!!!!!! ^^ Ya Allah, ini one of the BEST FEELINGS I've ever had. Kalo nggak lunas, tahun depan menumpuk, gue tekor bayar sama Allah yang udah ngasih banyak banget nikmat *haseeek*

Jadi, kegiatan MOS kali ini lebih banyak diisi sama kegiatan pengarahan, materi, visi-misi, dan sebagainya. OSISnya kebagian ngerusuh dan membina aja.

Tadi, adek-adek junior oenyoekoeh (unyukuh), menyerbu gue minta tanda tangan. Awalnya gue masih seger ngasih-ngasihin. Kesini-sininya, gue sudah capek pake banget dan akhirnya gue selonjoran depan 7-4. Siapapun yang minta tanda tangan gue, kalo islam gue suruh baca Al-Fatihah, kalo non-is gue suruh nyanyi. KURANG BAEK APA GUE?!?!?!?!?

Sekian. Terimakasih. *gue dapet mizone 3 dari adek kelas, 1 gue kasih ke Dhimas, 1 gue kasih ke Farrel, jadi cuma sisa 1-_-*

Saturday, July 14, 2012

Bullshit!

Posted by Unknown 0 comments
NGEFLY... sayangnya, 'ngarep' dibuat ngefly. HAHA *insert sarcasm*

Capek tau gak sih, suka sama orang tapi dia terlalu BATU buat sadar! Gue bego juga sih nggak pernah ngomong sama sekali. Cuma CURI-CURI 'modus' aja.

Kalo FRONTAL, gue gak masalah. Senior year. Mau pisah. Whatever banget. Tapi, gue cewek yang harga dirinya TINGGI. Nggak semurah 'nembak' duluan. Haha...

Susah ya? Pernah kalian ngerasain gini? Susah banget tau! Kadang, udah kerasa move on atau  (I have no idea what the fuck this means) MOVE OUT (?). Tapi, tiap kali ketemu, masih deg-degan, shit and shit. Capek ya? Nahan terus sampe pengen nangis, teriak, segala macem. Sembunyi, ngestalk. Bego lo! Sama kayak gue.

KOK GAK BISA YA JUJUR AJA?
Satu pertanyaan yang nggak bisa gue jawab sampe saat ini. Dia kaku, bego, batu, sialan...jadi bukannya lebih gampang buat dijauhin? Tapi, nggak segampang itu. Goblok deh, dia jelas-jelas bukan siapa-siapa kita, tapi kita cemburu. Siapa lo gitu?!...

Haha, sori berkicau disini. Gue terlalu purik dan jenuh kepikiran terus. Kebiasaan gue yang masih belum hilang adalah... ngetik nama dia di box 'go to user' sadar gak sadar. Wew. Sabar banget ya gue? u,u

SELAMAT MALAM!

Sunday, July 8, 2012

Big Epic Failure

Posted by Unknown 0 comments
How are ya? Kalian pasti ngestalk ya?? *berharap*
Soooooooooo... BIG EPIC FAILURE.

Jadi, hari ini gue mencoba membuat 3 gambar GIF (Graphics Interchange Format) atau gambar yang bergerak (buat kalian yang belom tahu atau nggak familier sama kata GIF).  Oke, gue buat 3 gambar, gue rancang sebaik-baiknya, gue save setelah selesai... lalu gue pandangin..

"BAGUS JUGA" pikir gue, PEDE. Akhirnya, setelah merasa agak 'oke' sama hasilnya, gue mencoba untuk berbagi lewat tumblr (lo bisa lihat tumblr gue di sini). Gue menunggu 15 menit agar gambar itu selesai uploading.

*15 menit kemudian*

Betapa BAHAGIA-nya gue melihat gambar itu udah selesai ke-upload dan udah keshare. Ada yang ngereblog dan karena itu GIF tentang JUSTIN BIEBER, yang reblog banyak Beliebers. ;3

Gue coba 2 gambar lagi. Gue nunggu sejam karena kecepatan koneksi internet di rumah suddenly MELEMAH. *insert emot ngejambak rambut*
Gue nungguin sambil ngegalau di twitter, ngestalk si 'itu', ngetweet, ngestalk JUSTIN BIEBER, cari-cari gambar Callan McAuliffe (Perlu lo ketahui, dia ini sangat ganteng, jago fotografi, baik, real, dan sedikit arogan serta sarkastik tapi gue ngefans sama dia *O*), gue juga ngesearch gambar Andrew Garfield yang sekarang lagi naik daun karena film The Amazing Spiderman (which is the coolest best spiderman movie I've ever watched after the old ones. I've never been that interested in Marvel super heroes), gue tumblr-walking ke orang-orang--mostly girls--yang ngepost some stuff related to The Hunger Games, Justin Bieber, One Direction, Flipped, Dear John, A Walk To Remember atau yang ngepost stuff like quotes, fashions, music, dsb.
Akhirnya.....uploading selesai. Image sudah muncul di dashboard. Tapi, gak bisa GERAK. Lo harus tau betapa FRUSTASI-nya gue saat tau gambar GIF gue menjadi satu EPIC FAILURE di dashboard gue dan followers gue.____. Alhasil gue delete dan internet gue shut down. Fck!

Gue coba-coba terus dan pada akhirnya gue berpikir... Screw you, gue tetep bakal ngeshare hasil karya gue! Bodo amat! Mau bisa diliat, mau nggak, gue gak peduli! *kalo udah gini, berarti gue udah frustasi dan stress gara-gara hal sepele*

Dan itulah kisah gue hari ini... Bye! Have a nice night with your family or friends! :D

Friday, July 6, 2012

Manis

Posted by Unknown 0 comments
Terik matahari menjadi tempatmu berteduh
Tercucur tetes asam dari tubuhmu
Tatap mataku tertuju pada siluet punggungmu
Tegap...sempurna untuk benakku

Langkah kakimu mendekati tubuh gemetarku
Tatap matamu pancarkan letih
Andai aku milikmu, kuusap semua letihmu dengan gemuruh hatiku
Dan disini kau berdiri...sangat dekat namun begitu jauh

Surya masih tegak berdiri di ujung langit
Namun lututku bergetar dengan sengit
Seiring dengan degup jantungku dan langkah kakimu
Aku...jatuh terperangkap dalam manismu

Kau menyentuh telapakku, mengirim satu dentuman untuk jantungku
Aku melemah dan semua dinding batu itu runtuh
Hanya dengan sentuh jemari manismu
Dan selamanya mungkin...aku akan susah untuk menggerakkan kakiku

Dunia berisi seribu sumber nafsu
Bagiku kau satu dari seribu
Manis senyummu, tegap tubuhmu, lembut tatapmu
Gugurkan semua pertahananku dan bangkitkan semua nafsu

Manis
Tak lebih, sempurna
Tetap seperti itu untukku
Tanpa tersadar kau sudah memerangkapku dengan mantramu
Dan aku menyukai itu

Flu..

Posted by Unknown 0 comments
Malam, readers yang entah gimana masih ngestalk blog tak terurus ini... *Thank you for staying* Tonight, gue mengalami tiga sesi bersin... #sick

Jadi, flu yang gue dapatkan bermula dari..... gatau kapan, pokoknya sehari setelah nonton di bioskop. I felt really unwell. Gue kira bakal fine-fine aja, tapi ternyata gue puyeng parah banget. Awalnya ingus masih nggak separah ini ngocornya. But lama kelamaan, dia menyerang hidung gue dan inilah yang gue rasakan sekarang.

Tadi pagi, keluarga gue minus bapak gue yang lagi kerja, menjenguk bersilaturahmi ke rumah temen kakek gue yang kebetulan lagi sakit (mohon do'a agar sembuh O:)). Gue kesana dengan taksi karena kata ibu gue mobil kami lagi diservice blablabla *gue gangerti masalah mobil* Kita sampe disana... ngobrol-ngobrol, makan-makan, dan jalan-jalan. Gue bersama ibu dan adik gue pulang duluan untuk menjemput mobil yang udah selesai diservice. Naik angkot. Pengalaman langka buat adek gue yang jarang naik angkot. Kalo gue udah jadi juru angkot (?) Abis itu kita ke mall belanja buat undangan besok *jangan tanya*. Dan kebetulan, warna pakaian keluarga gue...ungu!!!! Warna favorit gue!! :3 Blablablabla.... kita selesai, jemput kakek-nenek gue, pulang.

Perjalanan pulang adalah sesi pertama bersin-bersin gue. Fck! Dan berdo'a aja virusnya tidak menyebar lewat AC mobil._.

Sampai di rumah, gue nyetel album Justin Bieber yang baru aja dirilis yaitu BELIEVE. Lo harus tau, mau Beliebers atau bukan, lagu-lagu disini itu keren-keren banget. Oke kalo lo gak suka mukanya Bieber, tapi lo harus denger suaranya yang udah makin seksi dan 'matang'. Mungkin lo akan sedikit menghargai karyanya. :)
Terlepas dari kerjaan sehari-hari Belieber, gue nyetel album One Direction juga yang UP ALL NIGHT. Lagu-lagu mereka juga super enak. Tak lupa, mereka juga ganteng-ganteng, unyu-unyu, kece-kece, cakep-cakep, manis-manis, baik-baik, keren-keren... ya you-know-lah. Pokoknya album ini recommended.
Dua album super-enak-didenger itu berhasil buat bersin-bersin gue reda...sesaat.

Setelah selesai, flu menyerang lagi pas gue lagi nyiapin baju buat undangan besok._. Itu sesi kedua bersin-bersin gue. Dan sesi ini paling gak penting sepanjang masa.

Udah ready semua, datanglah sesi ketiga.

Gue bersin berulang kali, berturut-turut, berjeda-jeda, menyakitkan. Setelah menghabiskan banyak tisu dan ingus, gue minum banyak banget supaya tenggorokan gue gak ikutan radang. Kan galucu gitu, udah merana flu ditambah radang. Typical banget (?)

Dan sekarang, gue harus bercincong ke elo semua tentang bersin dan flu gue. Saran gue....

Kalo lagi flu..
  1. Jauhi debu
  2. Jauhi es
  3. Jauhi galau
  4. Jauhi kemoceng
  5. Jauhi keluarga lo supaya nggak nular *sumpah sesat*
  6. Jauhi poster artis yang lo idolain supaya nggak kena ingus lo pas bersin (?)
  7. Jauhi bantal yang nggak empuk, karena idung lo bakal mampet sebelah. (?)
  8. Jauhi posisi tidur miring, karena paginya saluran napas lo mati sebelah (?)
  9. Jauhi tisu, ntar abis dipake buat ingus lo semua *ini jahat banget*
  10. Jauhi sesama korban flu...ntar nggak sembuh-sembuh
Kalo lagi flu...
  1. Dekati minyak angin
  2. Dekati selimut
  3. Dekati tisu supaya ingus lo terbuang
  4. Dekati barang-barang useless supaya terkena virus dan akhirnya dibuang
  5. Dekati orang yang buat lo kesel supaya dia ikutan kena flu
  6. Dekati gebetan lo supaya kalo flu dua-duanya berasa Romeo-Juliet (?)
  7. Dekati bantal empuk
  8. Dekati FreshCare, balsem atau apalah...supaya ngangetin *ambigu*
  9. Dekati air hangat supaya ingus lo ngocor dan berkurang persediaannya (?)
  10. Dekati tempat tidur terus buat istirahat
  11. Dekati Tuhan Yang Maha Esa buat nyembuhin penyakit lo
  12. Dekati blog gue supaya ngemoodbooster. :D
Itu 22 saran dari gue ketika elo terserang flu. Dan dari semuanya, gak ada yang gue kerjain. :D Ini saran buat lo, jadi LO yang harus mengerjakannya. ^^

Get well soon, Yasmin!!! *sedih banget* BYE!

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos