Chapter 1
1.4 "He comes back and now I'm trapped."
1.4 "He comes back and now I'm trapped."
Aku mencengkram lengan Al. Seribu macam kenangan tentang orang yang kini berhadapan denganku menerobos masuk kembali ke pikiranku. Mengapa ia begitu jahat? Mataku terasa hangat dan basah. Tak lama lagi aku sangat yakin akan ada yang menetes di pipiku. Seolah merasakannya, Al merangkulku dan membawaku pergi. Fian pun begitu. Namun, orang itu angkat bicara.
"June..." panggilnya lembut selembut dan selirih pada saat terakhir kami bertemu.
Aku menghentikan langkahku. Al bersikeras memaksaku untuk tetap berjalan. Tak bisa kuelakkan lagi airmataku dan di tempat itu juga aku beserta genangan air dari mataku jatuh ke pundak Al. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Ne, gue antar lo ke kelas. Ian, lo coba cek UKS kosong enggak, biar nanti gue izin sama Une buat istirahat di sana," ujar Al serius. Untuk masalah ini memang Al tak pernah mau bercanda. Dialah saksi nyata aku benar-benar terluka.
Al merangkulku menuju kelas. Seluruh pasang mata di koridor sekolah tempat Al dan aku berjalan saat ini memerhatikan kami. Beberapa berbisik cukup lantang hingga membuat tangisku semakin parah. Al mengelus-elus punggungku berusaha sebisa mungkin menghentikan isak tangisku.
"Une, dengarkan gue. Ne, gue ada di sini buat lo. Dia cuma masa lalu, Ne. Lo enggak boleh kalah kayak gini dong, sama kenangan dari masa lalu," ucap Al sesampainya kami di tempat dudukku. Posisi Al sekarang berlutut dekat kakiku. Aku sendiri menyembunyikan wajahku dalam telapak tanganku dan membungkukkan tubuhku agar tak ada yang berniat untuk mencari tahu masalahku.
"Ne, dengar gue! Cuma ada gue di sini. Yang tadi itu hanya kenyataan yang pahit. Sekarang cuma ada gue. Lo enggak perlu takut," ujar Al panik sambil mengusap rambutku dan mengelus punggungku. "Une, I'm here and I promise I won't leave you. I promise I won't let him touch you."
Aku tetap tak sanggup mengatakan apapun. Al, semesta kami saat ini, bahkan bangku yang sedang kududuki pun pasti tahu rasa kagetku akan yang baru saja terjadi. Zeus telah kembali. Orang terakhir yang akan kutemui jikalau dunia ini akan berhenti berputar. Orang yang paling tidak ingin kulihat wajahnya tapi tetap saja sesekali di antara waktu bahagiaku dia tetap akan muncul. Dan kini, di awal yang teramat baru dalam hidupku, lagi-lagi dia muncul. Menguak kenangan dan trauma lama yang susah payah kukubur selama dua tahun terakhir. Mengembalikkan aku yang lama, aku yang rentan akan perasaan dan rahasia serta kata-kata. Aku yang penuh kepekaan dan amat terlihat lebih dari apa yang terpampang. Kembalinya Zeus adalah malapetaka. Dan saat ini, hanya Al yang bisa menyelamatkan aku sekali lagi dari sambaran luka yang sebentar lagi akan diantarkan oleh Zeus.
Tiba-tiba kurasakan dua lengan mendekap tubuhku. Dua lengan yang cukup kekar melingkar dengan hangat menutupi tubuhku yang sedari tadi belum usai bergetar mennagis. Lengan yang sudah beberapa tahun terakhir ini menemaniku kapanpun aku butuh. Lengan Al.
"Udah, Ne. Keluarkan semua dan setelah itu gue enggak mau lagi melihat lo kayak gini. Ingat, ada gue dan akan selalu ada gue di sebelah lo," ucap Al lembut di dekat telingaku.
Aku merasakan sensasi berbeda. Nyaman. Tapi di saat yang sama, ada berpuluh pasang mata yang merekam adegan cukup mesra ini. Namun, baik Al dan aku terlalu tak peduli dengan mereka.
"Al..." lirihku. "Makasih."
Al menyunggingkan senyumnya. Tak lama, Fian memasuki kelasku dan melapor bahwa UKS kosong. Al, tanpa meminta persetujuanku lagi, membopongku ke sana. Aku memasrahkan diri, setidaknya di orang yang berjanji tak akan pernah menyakitiku dan membiarkan aku disakiti.
Pintu ruang UKS terbuka. Al sedang pergi membelikanku bubur ayam karena sudah setengah hari kami di sekolah, tepatnya di ruangan ini dan tak ada satu pun dari kami berinisiatif makan siang. Al pun izin pergi membelikan aku dan dirinya sendiri makanan. Lalu, saat ini ada orang yang sedang berusaha masuk menjengukku. Kupikir itu Al.
"Al, nanti ya, gue bayarnya sekalian kita isi bensin," ucapku yakin bahwa yang baru saja memasuki ruangan ini adalah Al.
"June..." suara itu lagi. Rambut di balik leherku berdiri. Kaget dan tak siap dengan siapa yang akan muncul di hadapanku.
Aku mendiamkannya. Masih terlalu terluka dengan kejadian dua tahun lalu dan suara yang terdengar palsu di telingaku.
"June, maafkan gue. Mau sampai kapan lo marah sama gue?" tanyanya lirih. Ada secercah harapan di antara nada-nada sok parau itu.
Aku tetap bisu sampai ada lagi suara pintu terbuka bersamaan dengan sapaan riang Al. Aku mengintip sedikit dari balik selimut UKS ini. Rahang Al mengeras, kebiasaannya setiap kali sedang marah dan tak senang akan sesuatu. Diletakkannya nampan berisikan mangkuk makan siang kami dan dua botol minum di atas meja. Dengan tatapannya yang tajam, Al mendekati orang yang baru saja memohon maaf padaku.
"Lo silakan jauhi dia! Atau gue yang bakal buat lo sama sekali enggak bisa lagi melihat dia!" ancam Al tegas dan penuh emosi.
Orang yang diancam pun mengerti bahwa ini bukan saat yang bagus untuk mencoba merayu dan memohon akan maafku. Aku setengah berayukur Al tidak melayangkan pukulannya pada orang itu, pada Zeus. Ditutupnya pintu UKS rapat-rapat agar tak ada lagi yang masuk menggangguku, mengganggu kami.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Al cemas. Aku mengangguk pelan.
Al mengambil mangkuk buburku dan membantuku untuk duduk. Ia langsung menyuapkan sesendok bubur tanpa basa-basi. Aku nyaris tersedak karena perbuatannya. Al terkekeh pelan diikuti ucapan maafnya.
"Mulai sekarang, gue satpam lo. Dan lo enggak boleh protes," ucap Al sok serius. "Kalau ada yang mau dekat-dekat dengan lo, harus negosiasi dulu sama gue."
Aku tertawa. "Lebay banget sih, lo! Tapi, makasih ya, gue enggak kebayang tadi pas ngeliat dia kalau enggak ada lo, gue jadi apa."
"Makanya, lo butuh satpam, Ne," saran Al sambil mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk yang ada di genggamannya.
"Iya, deh," balasku pasrah.
Sesi makan siang kami berlangsung cukup santai dan menyenangkan. Al berusaha menghiburku dengan gurauan khasnya yang kadang terkesan jayus. Untuk menghargai upayanya, aku tertawa sukarela. Diam-diam ada perasaan baru yang menyelinap di antara canda tawa kami. Dan aku merasa nyaman dengan perasaan ini.
"Bengong lagi! Jadi, apa jawabannya?" tegur Al sambil menyuguhkan minuman yang tadi dibelikannya untukku.
"Emang tadi lo nanya apa?" tanyaku balik tak mengerti.
"Hari Sabtu, ikut gue ke pertandingan basket abang gue, yuk! Sekalian lo cari cowok ganteng tuh, di lapangan basket," ajak Al ramah.
"Boleh banget. Sama abang lo juga gue enggak keberatan," balasku senang.
Al menoyor kepalaku sambil terkekeh. "Abang gue yang keberatan. Masa jalan sama anak umur 16 tahun."
"Lah, masalah emangnya? Kan, katanya cinta tidak memandang umur. Asik!" ucapku senang sambil mengganti posisi dudukku.
"Ya, tapi kalau dia jalan sama lo, Ne, udah kayak bapak sama anak. Abang gue kan, boros muka," beber Al. Aku tertawa mendengar ucapannya.
"Ah, enggak ngaca," balasku ringan.
"Hei! Jangan begitu, gini-gini junior kita banyak yang ngantri," balas Al menyombongkan eksistensinya.
"Berarti lo tinggal milih ya, mau ngajak siapa ke pesta dansa," pancingku sedikit. Aku mulai penasaran dengan perempuan yang akan dijadikan Al teman dansanya nanti.
Al terdiam. "Nih, Ne, gue mau serius. Jadi, gue tuh, udah tahu sebenarnya mau ngajak siapa dari awal sebelum tantangan ini bahkan muncul. Masalahnya, ngedeketin cewek ini tuh, lebih rumit daripada tebar pesona ke adek kelas."
Aku menarik nafas panjang dan mantap. Kali ini, Al benar-benar ingin serius. Tak pernah kubayangkan akan seberuntung apa perempuan yang sedang diperhatikan Al saat ini ketika mereka sudah berpacaran nanti.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujarku. "Lo cuma perlu satu, percaya diri. Kalau lo perlu bantuan gue, sebagai cewek dan sahabat lo, gue bakal ada di sini buat lo seperti lo yang janji bakal ada di sini buat gue."
"Ne, tapi..." Al menggantungkan kalimatnya membuat aku semakin penasaran. "Enggak jadi. Pokoknya, apapun yang terjadi, lo bakal bantuin gue dekat sama dia, kan?"
Aku mengangguk setuju. Ada perasaan bahagia serta perih yang kurasakan bersamaan dengan anggukanku. Al, sahabatku dan satu-satunya laki-laki yang saat ini memegangiku agar tidak kembali dalam masalah kelam dari masa laluku. Al yang sedang mengejar perempuan lain. Al yang cepat atau lambat akan lebih memerhatikan perempuan lain. Satu harapku selama mendengar curahan hati Al adalah agar ia tak melupakan janjinya.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucapku seraya memberikan Al tepukan semangat di pundaknya. Aku menutup kata-kataku dengan senyum.
***
Kenapa dia balik lagi ke kehidupan Une? Apa belum selesai dia menyakiti Une? Dan lagi-lagi, aku di sini hanya bisa berjanji pada Une untuk tak pernah meninggalkannya dan membiarkan orang itu menyentuhnya dan menyakitinya. Dan selamanya, bagi Une, aku hanya seorang sahabat.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujar Une padaku. Tak pernah ia sadari bahwa yang kumaksud itu adalah dirinya. Ah, Une...
"Ne, tapi..." ucapku menggantung kalimatku sendiri. Tapi, yang gue maksud adalah lo, Ne, aku membatin. Kemudian kuubah kalimatku, menutupinya dengan alibi klasik tanda aku sudah tak bisa bercerita lebih jauh lagi.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucap Une sambil menepuk bahuku dan tersenyum. Senyum manis yang sejak dulu tak pernah alpa menghiasi hariku. Senyum tulus darinya yang kerap selalu membantuku percaya bahwa aku dan Une punya harapan. Aku punya harapan untuk selalu bersama Une.
Sayangnya, cewek yang lo bilang enggak pernah merasakan bahwa dirinya sudah beruntung, Ne, bisikku dalam hati.
Aku memberikan Une tawa renyahku. "Lebay banget, Ne. Belum tentu dia bakal ngerasa begitu. Dia aja enggak pernah tahu gue perhatiin setiap hari."
"Wah, berarti udah lama dong, lo ngejar ini cewek?!" seru Une kaget, naif. Sudah terlalu lama bahkan jika harus dihitung. Aku mengangguk singkat, membuat Une menampilkan senyumnya. Lagi-lagi, harapan itu muncul ke permukaan setiap kali dia tersenyum.
"Al, lo harus gerak cepat! Pokoknya, pesta dansa nanti lo harus sama dia!" perintah Une, masih belum sadar bahwa dialah yang sedang kubicarakan.
Pesta Dansa Senior! Sial, kenapa Fian harus membuat tantangan itu?! Niatku untuk melangkah mengejar Une jadi berantakan meskipun pada akhirnya aku yakin kami berdua akan berakhir datang bersama. Fian sialan! Kesempatanku dengan Une dibuat semakin sempit oleh Fian dengan ide konyolnya ini. Aku membencinya jika harus melihat Une datang bersama orang lain.
"Lo nuntut melulu, Ne. Lo sendiri nanti dateng sama siapa? Jomblo memang bisa bawa cowok?" godaku, menekan rasa sakit hatiku sendiri.
Une terdiam. Aku sudah salah bicara. Reaksi ini adalah kebiasaan Une setiap kali aku sudah melampaui batas dalam bercanda bersamanya. Matilah aku!
"Ne, maksud gue... Gue enggak bermaksud..." ralatku terbata-bata. Une memalingkan wajahnya, ada gerakan kekecewaan bersamaan dengan hembusan nafasnya. Tanpa dia tahu, aku juga sudah kecewa dengan diriku sendiri.
"Une... Ne, gue minta maaf. Sumpah, gue enggak bermaksud," pintaku dengan setulus hati. "Ne..."
"Lo jahat!" ucap Une sedikit bergetar.
Aku mendekat ke Une untuk memeluknya. Une menolak tawaranku. Namun, aku memaksa agar dia tahu bahwa aku benar-benar tidak sengaja.
"Lepas!" geram Une.
"Ne, jangan marah, dong. Sumpah, gue benar-benar enggak ada niat buat bikin lo sakit hati lagi," akuku. "Une cantik, baik hati, teman terbaikkuuuuuuu! Gue mohon jangan marah, ya?"
Une menatapku. Ada luka di matanya yang dapat kulihat jelas. Luka lama yang baru saja kubuka lagi, membuatnya basah dan menyakitkan untuk yang memilikinya. Membuat Une terluka lagi.
"Argh! Al, kalau gue enggak sayang sama lo dan enggak anggap lo sahabat, gue rasa tadi gue udah membulatkan tekad buat enggak pernah ngomong lagi sama lo," ungkap Une. Mendengar kata-kata itu dari bibirnya menyejukkanku. Une sayang padaku... Namun, hanya sebatas sahabat, bodoh, ejek batinku sendiri.
"Une! Lo emang paling super! Ah, lega akhirnya dimaafin," seruku gembira. Ne, andai semesta memberikan kita harapan yang nyata untuk tetap bersama dan melangkah lebih dekat dari sekadar bersahabat.
***
"Lah, masalah emangnya? Kan, katanya cinta tidak memandang umur. Asik!" ucapku senang sambil mengganti posisi dudukku.
"Ya, tapi kalau dia jalan sama lo, Ne, udah kayak bapak sama anak. Abang gue kan, boros muka," beber Al. Aku tertawa mendengar ucapannya.
"Ah, enggak ngaca," balasku ringan.
"Hei! Jangan begitu, gini-gini junior kita banyak yang ngantri," balas Al menyombongkan eksistensinya.
"Berarti lo tinggal milih ya, mau ngajak siapa ke pesta dansa," pancingku sedikit. Aku mulai penasaran dengan perempuan yang akan dijadikan Al teman dansanya nanti.
Al terdiam. "Nih, Ne, gue mau serius. Jadi, gue tuh, udah tahu sebenarnya mau ngajak siapa dari awal sebelum tantangan ini bahkan muncul. Masalahnya, ngedeketin cewek ini tuh, lebih rumit daripada tebar pesona ke adek kelas."
Aku menarik nafas panjang dan mantap. Kali ini, Al benar-benar ingin serius. Tak pernah kubayangkan akan seberuntung apa perempuan yang sedang diperhatikan Al saat ini ketika mereka sudah berpacaran nanti.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujarku. "Lo cuma perlu satu, percaya diri. Kalau lo perlu bantuan gue, sebagai cewek dan sahabat lo, gue bakal ada di sini buat lo seperti lo yang janji bakal ada di sini buat gue."
"Ne, tapi..." Al menggantungkan kalimatnya membuat aku semakin penasaran. "Enggak jadi. Pokoknya, apapun yang terjadi, lo bakal bantuin gue dekat sama dia, kan?"
Aku mengangguk setuju. Ada perasaan bahagia serta perih yang kurasakan bersamaan dengan anggukanku. Al, sahabatku dan satu-satunya laki-laki yang saat ini memegangiku agar tidak kembali dalam masalah kelam dari masa laluku. Al yang sedang mengejar perempuan lain. Al yang cepat atau lambat akan lebih memerhatikan perempuan lain. Satu harapku selama mendengar curahan hati Al adalah agar ia tak melupakan janjinya.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucapku seraya memberikan Al tepukan semangat di pundaknya. Aku menutup kata-kataku dengan senyum.
***
Kenapa dia balik lagi ke kehidupan Une? Apa belum selesai dia menyakiti Une? Dan lagi-lagi, aku di sini hanya bisa berjanji pada Une untuk tak pernah meninggalkannya dan membiarkan orang itu menyentuhnya dan menyakitinya. Dan selamanya, bagi Une, aku hanya seorang sahabat.
"Al, lo itu cowok paling baik dan perhatian yang pernah gue kenal. Lo enggak perlu susah payah sebenarnya untuk buat cewek itu melihat lo," ujar Une padaku. Tak pernah ia sadari bahwa yang kumaksud itu adalah dirinya. Ah, Une...
"Ne, tapi..." ucapku menggantung kalimatku sendiri. Tapi, yang gue maksud adalah lo, Ne, aku membatin. Kemudian kuubah kalimatku, menutupinya dengan alibi klasik tanda aku sudah tak bisa bercerita lebih jauh lagi.
"Dia, cewek itu, pasti bakal beruntung, Al," ucap Une sambil menepuk bahuku dan tersenyum. Senyum manis yang sejak dulu tak pernah alpa menghiasi hariku. Senyum tulus darinya yang kerap selalu membantuku percaya bahwa aku dan Une punya harapan. Aku punya harapan untuk selalu bersama Une.
Sayangnya, cewek yang lo bilang enggak pernah merasakan bahwa dirinya sudah beruntung, Ne, bisikku dalam hati.
Aku memberikan Une tawa renyahku. "Lebay banget, Ne. Belum tentu dia bakal ngerasa begitu. Dia aja enggak pernah tahu gue perhatiin setiap hari."
"Wah, berarti udah lama dong, lo ngejar ini cewek?!" seru Une kaget, naif. Sudah terlalu lama bahkan jika harus dihitung. Aku mengangguk singkat, membuat Une menampilkan senyumnya. Lagi-lagi, harapan itu muncul ke permukaan setiap kali dia tersenyum.
"Al, lo harus gerak cepat! Pokoknya, pesta dansa nanti lo harus sama dia!" perintah Une, masih belum sadar bahwa dialah yang sedang kubicarakan.
Pesta Dansa Senior! Sial, kenapa Fian harus membuat tantangan itu?! Niatku untuk melangkah mengejar Une jadi berantakan meskipun pada akhirnya aku yakin kami berdua akan berakhir datang bersama. Fian sialan! Kesempatanku dengan Une dibuat semakin sempit oleh Fian dengan ide konyolnya ini. Aku membencinya jika harus melihat Une datang bersama orang lain.
"Lo nuntut melulu, Ne. Lo sendiri nanti dateng sama siapa? Jomblo memang bisa bawa cowok?" godaku, menekan rasa sakit hatiku sendiri.
Une terdiam. Aku sudah salah bicara. Reaksi ini adalah kebiasaan Une setiap kali aku sudah melampaui batas dalam bercanda bersamanya. Matilah aku!
"Ne, maksud gue... Gue enggak bermaksud..." ralatku terbata-bata. Une memalingkan wajahnya, ada gerakan kekecewaan bersamaan dengan hembusan nafasnya. Tanpa dia tahu, aku juga sudah kecewa dengan diriku sendiri.
"Une... Ne, gue minta maaf. Sumpah, gue enggak bermaksud," pintaku dengan setulus hati. "Ne..."
"Lo jahat!" ucap Une sedikit bergetar.
Aku mendekat ke Une untuk memeluknya. Une menolak tawaranku. Namun, aku memaksa agar dia tahu bahwa aku benar-benar tidak sengaja.
"Lepas!" geram Une.
"Ne, jangan marah, dong. Sumpah, gue benar-benar enggak ada niat buat bikin lo sakit hati lagi," akuku. "Une cantik, baik hati, teman terbaikkuuuuuuu! Gue mohon jangan marah, ya?"
Une menatapku. Ada luka di matanya yang dapat kulihat jelas. Luka lama yang baru saja kubuka lagi, membuatnya basah dan menyakitkan untuk yang memilikinya. Membuat Une terluka lagi.
"Argh! Al, kalau gue enggak sayang sama lo dan enggak anggap lo sahabat, gue rasa tadi gue udah membulatkan tekad buat enggak pernah ngomong lagi sama lo," ungkap Une. Mendengar kata-kata itu dari bibirnya menyejukkanku. Une sayang padaku... Namun, hanya sebatas sahabat, bodoh, ejek batinku sendiri.
"Une! Lo emang paling super! Ah, lega akhirnya dimaafin," seruku gembira. Ne, andai semesta memberikan kita harapan yang nyata untuk tetap bersama dan melangkah lebih dekat dari sekadar bersahabat.
***
0 comments:
Post a Comment