Saturday, January 25, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (3)

Posted by Unknown
Chapter 1

1.3 "Help me out! The past hurts too much!"


Bel pulang berdering kencang. Al membantuku membereskan buku-buku agar dia dapat segera mengantarku pulang dan langsung pergi menuju tempat latihan tinjunya. Kadang, jika tak ada tugas untuk dikerjakan di rumah, Al mengajakku untuk ikut. Aku selalu senang melihatnya latihan menggebuk kantung tinju dengan semangat.
"Hari ini nonton gue, enggak?" tanya Al sambil memasukkan kunci motornya ke dalam lubang kunci.
"Ayo! Gue mau lihat lo sparing lagi," jawabku antusias sambil membantunya memegangi helm. "Sekalian lihat-lihat cowok ganteng teman-teman boxing lo."
Al terkekeh. "Tumben, Ne, lo jadi kegenitan gitu."
"Kalau enggak genit, gue kalah ditantangin Fian," ucapku. "Omong-omong, lo mau ngajak siapa ke pesta dansa nanti?"
"Oh iya. Fian keterlaluan banget. Tapi entah kenapa gue agak setuju sama dia soal tantangan ini. Kan, gue bisa sekaligus modusin gebetan gue," ucap Al sambil memainkan matanya. "Ada aja. Kepo banget."
Aku menyerahkan helmnya dan dengan sigap Al memakainya lalu menaiki motornya. Kemudian, dia menyuruhku ikut naik.
"Gue enggak kepo. Tapi, khawatir aja sama pilihan lo," ucapku sebelum deru motor Al memenuhi udara.
Perjalanan menuju tempat Al latihan tinju cukup jauh dari sekolah. Di tengah perjalanan, Al memberhentikan motornya dan menyuruhku memakai jaket kulitnya. Udara semakin dingin dan mencubit. Al selalu tahu kalau aku tak pernah kuat dingin.
"Jangan dilepas! Kalau lo sakit, nyokap lo marahnya sama gue," ujar Al sambil membalutku dengan jaketnya.
"Iya. Thanks, ya. Lo sendiri enggak kedinginan?" tanyaku agak sedikit takut jikalau gara-gara mengorbankan diri, Al justru sakit.
"Gue kan, manusia kutub, Ne. Masa gue kedinginan," guraunya membuat satu tepukan halus melayang ke bahunya.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku memegang dan meremas hand-bar motor Al yang terletak di bawah jok tempatku duduk. Rasanya agak riskan menggantungkan tubuh sendiri pada pegangan yang nyaris tak bisa kujangkau.
"Pegang aja pinggang gue. Gue mau ngebut, bentar lagi hujan soalnya. Jadi, peluk aja. Enggak usah jaim," ujar Al setengah berteriak di balik helm hitamnya.
Aku memeluk pinggangnya dan benar saja, Al langsung tancap gas. Jaket Al tidak begitu berpengaruh pada tubuhku. Hujan akhirnya turun lebih dulu daripada prakiraan Al yang berkata akan sampai sebelum hujan turun. Aku menggigil hebat sesampainya di tempat latihan Al. Dan setelah benar-benar tidak kuat, aku tak sadarkan diri. Hal terakhir yang sempat kudengar adalah Al memanggil-manggil teman satu pelatihannya.

"Ne," panggil Al seraya aku mencoba membuka mata. "Ne, lo udah sadar?"
Aku menghela nafas lega, bersyukur dalam hati aku masih hidup. "Udah. Gue pingsan berapa lama?"
"Setengah jam lebih, Ne," jawab Al. "Maaf banget gara-gara gue lo jadi kehujanan terus pingsan gini."
Aku terkekeh. "Enggak usah direpotin masalah gini. Yang penting gue sudah sadar. Thanks, ya."
Al tersenyum. Tak lama, kawan-kawannya berbondong memasuki ruangan hangat ini. Aku baru tahu kalau saat ini aku sedang ada di ruang pelatih tinju Al.
"Ini tehnya minum dulu," ujar salah seorang dari mereka yang sedang mengaduk-aduk minuman pekat di tangannya. Ia kemudian menyuguhkannya padaku, tapi justru Al yang mengambilnya. Al lalu membantuku menegakkan tubuhku untuk menyeduh teh tersebut.
"Pacar Al, ya?" tanya laki-laki yang tadi memberikan teh ini padaku dengan tatapan hangat. Teman-teman Al yang lain ikut memberikan ekspresi yang tak jauh berbeda dari ekspresi wajah orang yang sedang bertanya.
"Bukan, saya sahabatnya al. Ya kan, Al?" tanyaku retoris pada Al.
Al mengangguk setuju sambil meletakkan cangkir teh tadi di atas meja pelatihnya. "Namanya June, tapi gue manggilnya Une. Kalau June terlalu keren buat dia."
"Oh. Tapi kayaknya si Al perhatian banget sama lo sampai gue sering banget ngeliat lo di sini nungguin Al," komentar teman Al tadi. "Nama gue Satrio, akrabnya Io."
Io mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya sambil tersenyum. Setelah Io, teman-teman yang lain ikut melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, Al, June sudah sadar. Nah, lo sparing aja," ujar Ferdi. "June, kamu istirahat aja di sini. Atau mau lihat Al sparing? Nanti biar dibawain kursi ke dekat ring."
"Une di sini aja. Istirahat," jawab Al tegas sebelum aku bahkan berpendapat. "Oke, Ne?"
Hal terakhir yang ingin kulakukan sekarang adalah membantah Al. Aku mengangguk setuju dan menyunggingkan senyum pada teman-teman Al serta Al. Sebelum keluar dari ruangan, Al berpesan padaku agar aku menjaga diri. Meskipun Ferdi, Io, dan sederet orang lainnya tadi adalah teman Al, mereka tetap laki-laki. Al kembali menyadarkanku tentang satu hal, aku masih trauma dengan laki-laki dan semua perkataan mereka.
"Al, jangan lama-lama," pesanku sebelum Al menutup pintu dan memberikan senyumnya.

Usai Al berlatih dan melakukan satu babak tanding, aku langsung dibantunya siap-siap. Satu tentang Al yang kuhafal, ia selalu menyimpan kaos cadangan di lokernya. Kupakai salah satu kaos cadangannya karena seragamku basah akibat terguyur hujan tadi. Al memakai kaosnya yang lain. Ukuran tubuh Al yang bisa dikatakan dua kalinya tubuhku membuat kaos yang saat ini kupakai lebih terlihat seperti karung. Untuk mengakalinya, aku memasukkan bagian bawah kaos ini ke dalam rok sekolahku yang tidak terlalu basah. Tapi tetap saja, bagian lengan dan kerahnya begitu turun hingga membuatku risih sendiri. Al tiba-tiba berkomentar tentang bajuku. Tawanya mengisi ruangan beraroma keringat ini.
"Ne, ini karung atau kaos?" tanya Al dengan nada mengejek.
"Badan lo tuh, badan apa samsak tinju?" balasku sambil berusaha memperkecil kerah dan lengan kaos ini. Usahaku yang sia-sia mengundang tawa Al untuk lagi-lagi memenuhi ruangan ini.
"Bentar, gue pinjemin jaket teman gue dulu supaya lo enggak kelihatan pakai karung banget, ya," ujar Al sambil berlalu menghampiri temannya. Ia kembali beberapa saat kemudian dengan jaket yang tak kalah besar dari kaos ini. Walaupun begitu, aku menghargai usahanya yang sama sia-sianya dengan usahaku tadi.

Sampai di rumah, baok Al maupun aku dapat kultum dari ibu. Sambil membuatkan kami air jahe, ibu terus menceramahi kami tentang bahaya masuk angin, hujan, dan kecapekan. Al terus-menerus menyikutku memberikan efek lebih menyebalkan daripada ocehan ibuku sendiri. Aku menendang kakinya dan membulatkan mataku padanya untuk mengisyaratkan bahwa aku tak mau lagi disikut olehnya. Al mengikik pelan diikuti satu tegukkan air jahe hangat yang tadi ditawarkan ibu di sela-sela kultumnya.
"Jadi, besok-besok kalian harus sediakan jas hujan. Ibu enggak mau lihat lagi seragam basah kalau kalian pulang," nasihat ibu pada aku dan Al.
"Baik, Tante. Enggak akan Al ulangi lagi, deh. Al tobat menerobos hujan sama Une," jawab Al membuatku sedikit tersinggung.
"Ih, tadi yang meyakinkan gue buat menerjang hujan kan, lo! Harusnya gue yang tobat diyakinkan lo soal pulang bareng kalau mendung," balasku kesal.
Al terkekeh. "Oh jadi Une sekarang enggak mau lagi gue antar-jemput? Baguslah..."
Aku kaget mendengar balasan al. Saat itu juga, ada perasaan sesal yang hadir di hatiku karena telah berhasil terpancing oleh umpan Al. Aku meninju lengannya dan Al berpura-pura meringis kesakitan. Bosan dengan gurauannya, aku melangkah pergi. Ibu hanya bisa heran sambil tersenyum melihat tingkah Al dan aku. Bagi ibu, Al sudah seperti anak sendiri dan menghadapi pertengkaran kecil antara aku dan Al tadi adalah hal yang menjadi kebiasaannya.
"Kalian ini enggak ada kerjaan selain bertengkar, ya?" tanya ibu.
"Seru sih, Tan, berantem sama Une," seru Al lantang mencoba mencari perhatianku. "Iya kan, Ne?!"
Aku mendiamkannya berakting seolah acara televisi yang sedang berlangsung benar-benar menarik seluruh perhatianku. Tak mendengar jawaban dariku membuat Al gemas dan langsung mendatangiku.
"Ya sudah, Ne, gue pulang dulu. Besok jangan lupa mandi dulu sebelum gue jemput," gurau Al untuk yang kesekian kalinya. "Istirahat lo, Ne. Nanti pingsan lagi, loh."
Aku menoyor kepalanya kesal sambil menutup wajahnya. "Pulang sana! Gue bosen dengar lo ngomong melulu."
Al terkekeh. "Oke, deh. Selamat malam, Non." Dengan ucapan itu pun Al pamit pulang. Aku menerawang ke arah layar televisi yang menyala. Memang cuma omongan dan janji lo Al yang gue percaya, aku membatin.

Esoknya masih seperti biasa. Al datang membuyarkan lamunanku. Posisiku pagi ini masih seperti pagi kemarin, malas dan tidak ada niat untuk bersekolah. Bahkan sampai Al berdiri menungguiku di dekat pintu masuk ruang tamu rumahku saja, aku masih terlalu malas untuk memakai kaos kaki serta sepatu. Al menggelengkan kepalanya bergaya seolah dirinya lebih rajin dariku untuk masalah sekolah. Nyatanya, justru Al yang selalu berharap dirinya sakit setiap pagi agar tidak dibangunkan sekolah.
Sampai di sekolah, banyak desas-desus yang kudengar tentang anak baru yang katanya pindahan dari Singapura. Yang lebih mengagetkannya lagi, anak baru ini tidak hanya satu orang, melainkan dua orang. Aku semakin tidak berhasrat untuk mencari tahu siapa mereka.
"Ne," sapa Fian dengan wajah tak senang.
"Lo kenapa?" tanyaku dan Al yang masih di sampingku kaget.
Tak lama, seseorang mnyenggol bahu Al membuatnya nyaris tersungkur. Al bangkit dari posisinya dan hendak memulai satu pertikaian dengan siapapun yang menyenggolnya. Si pelaku memutar badannya, membuat tak hanya Al yang terkesiap melihatnya tapi aku juga. Zeus.. Zeus datang lagi.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos