Dari sejak bertemu gadis itu, Romi jadi cinta dengan biola dan alat-alat musik yang mengeluarkan nada indah. Terutama, alat musik yang mempunyai senar. Romi bertemu gadis itu di konser Tahun Baru dua tahun yang lalu. Romi termasuk salah satu undangan spesial yang kebagian tempat duduk di barisan depan. Tepat di depan panggung. Dari sanalah, wajah dan postur serta gesture gadis pemain biola itu terlihat jelas. Gadis itu juga membawakan bagian solo dan sebuah lagu dengan iringan gitarnya sendiri. Satu kata yang menetap di benak Romi saat melihat gadis itu, indah.
Beberapa hari setelah itu, Romi yang bakat bermain gitar makin bersemangat. Meskipun sebelum bertemu dengan gadis itu, dia tidak terlalu niat dengan alat musik. Namun, sekarang setengah jiwanya memilih musik. Berkat gadis itu.
&&&
“Assalamu’alaikum, Anak-anak! Selamat pagi, Semuanya!” sapa bu bahasa Indonesia yang kebetulan dapat bagian mengajar pertama di hari Rabu.
“Wa’alaikumsalam, Bu! Pagi!” jawab anak-anak serempak. Sebagian menjawab dengan malas-malasan, sebagian dengan tampang yang dibuat semangat, sebagian malah hanya mouthing saja.
“Hari ini, kita kedatangan murid baru. Cinta, silakan masuk!” ujar bu bahasa Indonesia sambil mengayun-ayunkan tangannya ke pintu masuk.
Sesaat kemudian, seorang gadis berumur 14 tahun berambut oranye, berkulit putihnya orang luar, dan berpostur tubuh ideal masuk ke kelas. Seluruh pasang mata dari kalangan cowok di kelas tiba-tiba terlihat hidup seperti baru dibangunkan jam beker. Di sisi lain, seluruh pasang mata dari kalangan cewek malah makin lesu dan hampir serempak tertutup. Malah, ada yang melirik tajam dan memasang tampang jutek to-the-max untuk gadis yang bernama Cinta itu.
Kedua mata Romi terpaku pada sosok Cinta. Ini gadis yang dia lihat di konser Tahun Baru dua tahun lalu itu. Sudah dua tahun dia berharap bisa bertemu lagi. Akhirnya, YME memberinya kesempatan. Akhirnya… batin Romi lega.
“Silakan perkenalkan dirimu di depan kelas, Cinta,” ujar bu bahasa Indonesia.
Cinta berdiri dengan femininnya di depan kelas. Ini memang gaya naturalnya yang jika diartikan miring bisa menimbulkan kesan ‘cari muka’, padahal sama sekali tidak. Setelah posisinya tepat, Cinta memberikan senyum kepada seisi kelas.
“Assalamu’alaikum, Kawan! Selamat pagi!” sapa Cinta ramah. “Namaku Cinta Rasyid Martin. Aku baru saja datang dari Sydney dan memutuskan untuk bersekolah di Indonesia dan tinggal bersama tanteku. Karena sekolah ini termasuk sekolah unggulan, aku didaftarkan di sini lewat jalur prestasi. Aku gemar bermain alat musik yang memiliki senar dan aku cinta seni. Semoga, kita bisa berteman baik.”
Romi dan seluruh makhluk yang ada di kelas itu tersenyum balik. Yang tatapannya jutek dan tidak bersahabat jadi mengurungkan kejutekannya. Melihat sikap Cinta yang ramah dan tidak sombong, mereka berubah pikiran. Romi benar-benar beruntung hari ini. Dia duduk di bangku yang sebelahnya kosong dan di barisan tengah. Jadi, kalau Cinta disuruh memilih tempat duduk, ada kesempatan besar untuk Romi bisa mengenal Cinta. Minus diganggu para penghuni gua hantu yang duduk di barisan tepat di belakangnya. Namun, setelah melemparkan pandangan ke seluruh ruangan, ternyata tidak hanya Romi yang duduk di bangku yang sebelahnya kosong. Farhan ternyata bernasib beruntung seperti Romi. Malah, lebih beruntung, karena tidak dekat dengan makhluk gua hantu.
“Silakan duduk, Cinta. Ada dua tempat. Kamu yang memilih,” tutur bu bahasa Indonesia.
Jalan pikiran Cinta ternyata berbeda dari tebakan negatif Romi. Cinta memilih duduk dekat Romi ketimbang bersama Farhan. Dalam hati, Romi berseru, jodoh! Maap, Han, lo bisa dapet lain waktu…
&&&
Istirahat sudah tiba. Saat sedang diberi tugas, Romi dan Cinta sempat mengobrol. Romi berjanji pada Cinta akan menjadi tour guide sementara. Makhluk gua hantu yang duduk berjejer di belakang Romi bersorak-sorai pada kedua anak itu saat sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Romi, enak, ye? Gebetan lu langsung dapet yang mirip peri,” cibir Irwan seenak jidatnya.
“Cin, lo liat apa di Romi? Jangan bilang, Romi itu berwajah malaikat. Bakal diopname setahun gue denger kayak gitu dari mulut seorang Cinta,” tambah Bagus tak kalah dalem.
Romi mendengus kesal. “Cin, daripada lo masuk ke gua hantu karena mereka, mendingan, kita keliling sekolah aja. Siapa tau, pas kita balik, mereka udah terkubur di bawah gedung sekolah yang segede bagong ini. Yuk!”
Cinta tertawa menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Hanya gigi taringnya saja yang tidak serapi barisan gigi lainnya. Tapi, Cinta masih terlihat manis di mata Romi dan kaum sejenisnya. “Ayo, deh. Irwan, Bagus, kami duluan, ya!”
“Hati-hati, Cin,” Bagus memperingati. Mereka yang dari tadi menyumbang tawa, jadi hanyut dalam tawa yang lebih terbahak-bahak lagi. Romi memasang tampang bakal-gue-makan-lo-semua-hidup-hidup!
Tidak disangka, Cinta kenal salah satu anak basket yang bernama Ethan. Ternyata, Ethan adalah anak teman dekat ayah Cinta yang kebetulan juga baru pindah ke Indonesia sembilan bulan yang lalu. Saat bertemu Ethan, Romi menjelma jadi obat nyamuk. Melihat Cinta begitu akrab dengan Ethan (kakak kelas Romi yang digemari hampir seluruh isi sekolah), ada rasa cemburu dan kesal. Karma gue! batin Romi berbisik pada dirinya sendiri.
“Cin, mau lanjutin jalan-jalannya, nggak?” tanya Romi yang sudah hampir mendidih.
“Rom, nggak jadi, deh. Ntar, aku minta Ethan aja di lain hari. Makasih, ya. Mendingan, kamu balik aja ke kelas, Rom,” ujar Cinta lembut dan sedikit bersalah. “Maaf ya, aku jadi ngerepotin.”
“Nggak apa-apa,” jawab Romi setengah tidak yakin dengan jawabannya. Sial! umpatnya dalam hati.
&&&

0 comments:
Post a Comment