"Maksud kamu apa sih, Man?" tanya Aldy nggak ngerti.
"Nggak usah pura-pura bego, Kak. Mulai besok, aku mohon jangan ngasih perhatian lagi. Terutama, kalo Kakak udah punya satu prioritas. Makasih buat yang sebelumnya. Sekarang, pulang deh, Kak," ujar Amanda yang akhirnya pecah dalam tangis. Aldy mendengar tangisan cewek itu. Ya, gue sayang sama elo, Man. Sayang banget... akunya dalam hati.
"Kalo itu bisa buat kamu tenang, Kakak pulang ya, Man. Kakak mohon, someday, bisa dapet penjelasan ya, Amanda. Good evening. Sleep well, beautiful. Jangan nangis lagi," ucap Aldy.
Amanda semakin terisak. Ucapan itu cuma sebatas ucapan. Nggak tulus! Perhatian, rangkulan, antar-jemput, dan segala yang udah dilakukan Aldy itu cuma sebatas balas dendam. Balas dendam yang ninggalin luka, perasaan yang nggak terbalas, dan harapan yang udah terlanjur tinggi. Amanda berusaha sabar dan nggak mau mikirin lagi.
&&&
Berbulan-bulan setelah itu, SMA se-Jabodetabek mengadakan pertarungan basket. Tim putri dan tim putra dipisah, namun masih satu arena tournament. Aldy yang selama berbulan-bulan berusaha mengubur perasaannya ke Amanda, masih belum begitu berhasil. Amanda sendiri yang berusaha sekeras mungkin ngelupain segala perhatian Aldy, juga ikutan nggak berhasil.
"Udah siap semua?" tanya Bima, sebelum pertandingan antara SMA-nya dan SMA lawan dimulai.
"Siap, Kapten, Siap!"
"Berdo'a sesuai keyakinanan masing-masing dan berharap sama Tuhan semoga kita berhasil," ujar Bima. "Berdo'a... Mulai!"
Hening. "Selesai!"
Setelah beryel-yel ria, pemain inti menyebar sesuai posisi. Aldy yang posisinya emang paling pewe, tinggal enak aja nyelip sana, nyelip sini, angkat bola. Selain badan tinggi, kaki panjang, pandangan Aldy nggak terbatas. Jadi, dia bisa mencari teman satu tim untuk meneruskan operan bola hingga sampai di ring.
&&&
Skor terakhir adalah 42-46. Sekolah Aldy unggul. Saat ingin melakukan three-points-shot, waktu langsung menjerit memberitahu kalau permainan sudah cukup. Sekarang, giliran yang putri.
Posisi Amanda paling nggak enak! Jagain ring dan nggak boleh terlalu jauh nyamperin temen di lapangan lawan. Jadi, harus kayak satpam pribadi ring sekolahnya. Saat lawan main membawa bola dan hendak memasukkan bola, lawan tersebut sengaja menyikut tulang rusuk kiri Amanda dan permainan langsung dihentikan. Amanda mengerang kesakitan. Aldy dan teman-teman cowok lainnya langsung heboh. Terutama Aldy. Dia langsung menerobos kerumunan yang berkumpul mengelilingi Amanda yang sudah memegangi tulang rusuk kirinya. Cewek yang sengaja menyikutnya hanya merendahkan.
"Makanya, kalo nggak punya badan kebal, jangan ikutan! Nangis juga, lo!" ejeknya diikuti tawa teman-teman setimnya.
Aldy menatap mereka tajam. Langsung lari nyali cewek-cewek itu. "Makanya, kalo lidah doang yang jadi senjata, jangan pernah berani ngelawan dia!" Tunjuk Aldy dengan dagunya ke arah terkaparnya Amanda. Amanda sudah menangis. Semakin terisak, semakin sakit rasanya. Aldy bergegas menggotong tubuh Amanda yang sudah dingin dan bergetar ke ruang rawat darurat yang sengaja disediakan panitia pertarungan basket ini.
"Saya yang ngurus, Pak. Tenang aja," ucap Aldy pada pelatih basketnya yang wajahnya sudah mirip orang habis dikejar hantu.
"Jangan sampai kenapa-napa, Dy!"
"Udah kenapa-napa, Pak!"
Aldy bergegas ke ruangan rawat darurat. Amanda hanya bisa melingkarkan lengannya di leher Aldy, sambil sebentar-sebentar mengerang sakit dan memegang rusuk kirinya.
&&&
Pulang dari pertandingan yang makan korban itu, Amanda tertidur di mobil Aldy. Aldy tersenyum melihat cewek yang ia sayangi itu. Wajahnya cantik dan nggak pantes buat Aldy yang biasa-biasa aja. Tapi, keberanian cewek ini bisa buat dia sempat ingin balas dendam, karena sangkin nyolotnya sama senior..
DEG!!!!
Aldy langsung memukul jidatnya.
"Pantes dia marah sama gue! Dia ngira gue merhatiin gue cuma buat bales dendam, karena gue nggak suka sama sikap nyolotnya. Nah, Erlin nggak sengaja denger rencana abal Bima sama gue waktu itu. Terus, denger Erlin yang kabarnya punya mulut setajem silet, dia nyerongin rencana itu. Dia ngasih tau Amanda, Amanda marah. Tapi, kenapa dia marah kalo dia nggak ngarep lebih dari gue? Toh, Amanda nggak suka sama gue? Atau, jangan-jangan..." senyum Aldy mengembang. "Cewek ini punya malu juga.. Syukur, dia punya perasaan yang sama."
&&&
"Ngapain sih, Kak, saya diajak ke lapangan basket?!" protes Amanda saat Bima menariknya secara paksa ke lapangan basket.
"Ada teater Romeo-dan-Juliet, Man. Lo harus nonton!" ucap Bima tegas.
Lapangan penuh dengan sorak-sorai anak-anak yang mengelilingi sekitarnya. Ini memang waktu istirahat, jadi nggak ganggu pelajaran. Tapi, tetep aja sempet bikin guru senewen! Setelah tahu apa yang sedang ditonton anak-anak yang ramai itu, Amanda menarik nafas dalam-dalam. Cowok itu udah nganterin dia pulang, nyelamatin dia di pertandingan kemarin, nemenin dia diperiksa tulang rusuknya, dan terlebih buat dia ngerasa suka sama cowok itu. Aldy.
Sorakan 'Cieeeee' dateng dari segala macam arah saat Amanda sudah berhadapan dengan Aldy. Aldy tersenyum.
"Main basket, yuk! Tapi, caranya, setiap elo mau masukin bola ke ring, elo harus ngasih tau kesan elo terhadap gue sejak kita pertama kali deket," ajak Aldy. "Jawaban elo cuma dua, mau apa nerima tantangan gue."
"Nggak mau, Kak. Maksa!" jawab Amanda ketus dan langsung berlalu sambil mengentakkan kaki. Aldy bergerak cepat dan menarik pergelangan Amanda. Pononton bersorak. "Nggak usah pegang-pegang."
"Yaudah. Kita nggak usah tanding basket. Nggak imbang juga lawannya. Gini aja, gue yang nyatain perasaan pertama gue sambil latihan nge-shot ke ring, ya?" tawar Aldy masih menggenggam pergelangan Amanda. Amanda menyerah dan berdiri di tengah lapangan menghadap ring yang ada di sebelah kanan.
"Lo itu nyolot banget! Tapi elo itu cewek tulen yang mentalnya mirip supergirl, tapi tampangnya mirip putri raja."
"Lo itu gengsinya luar biasa parah! Tapi, kalo udah deket sama elo, baru orang tau elo sebenernya butuh seseorang yang bisa ngertiin gengsi lo."
"Seorang Amanda itu paling nggak tahan sama panas matahari! Sekalinya kena panas matahari lebih dari sejam, pasti langsung pingsan. Kejadian pas demo ekskul."
"Terakhir, Amanda itu suka nutupin perasaannya dan bisa percaya sama mulut orang nggak bener. Kadang, dia nutupin perasaannya dan rela buat dirinya sakit, diri orang yang dia sayangi sakit, dan hubungan keduanya jadi bener-bener nggak harmonis lagi!"
"Tapi, gue salut sama Amanda. Gara-gara dia, gue jadi pinter dan bisa nyusun peristiwa dengan benar. Nah, sayangnya, gue masih bingung pengen nyatain gimana."
Penonton udah berapa kali bersorak seraya shots yang udah berhasil diraih Aldy sudah mencapai lima three-points-shot.
"Kak, nyatain dong!" seru seorang penonton.
"Buruan, Dy! Keburu bel!" ujar kawan sekomplotannya Aldy.
"Terima ya, Amanda! Kasian Aldy udah keringetan!" saran salah seorang dari mereka.
Aldy mendekat ke Amanda yang wajahnya sudah berubah wujud jadi kepiting rebus! Aldy mendekat dan meraih jari-jari Amanda. Bima yang melihat dari kejauhan udah ketawa ngakak! Nggak nyangka Aldy bakal beneran menjelma jadi Romeo nyasar!
"Gue sayang sama lo, cantik. Tadinya, emang bener pengen balas dendam. Tapi, pas tau ibu lo deket sama ibu gue, elo tinggal deket di blok yang sama kayak gue, elo ikut ekskul yang gue ikutin, dan elo selalu bisa jadi diri elo sendiri pas sama gue, gue jadi nyadar kalo gue punya perasaan yang jauh beda dari balas dendam. Gue beneran jadi sayang sama elo. Karma, ya? Kasian elonya, deh. Elo itu cantik, baik, berani, dan bener-bener enak dan terbuka sama gue. Tapi, gue? Gue itu bejat, biasa-biasa aja, baik pilih-pilih, dan bener-bener nggak enak dan nggak pengertian. Kasian, deh. Tapi, gue cuma pengen tau apa perasaan elo ke gue, cantik," ucap Aldy yang saat ini jadi serius--asli!--berubah kayak Romeo!
"Aku juga ngerasain yang sama. Sempet kecewa, tapi akhirnya ada beginian. Tapi, Kakak nggak pantes nyebut diri Kakak itu bejat, biasa-biasa aja, dan apalah itu. Kakak baik, di mata aku, Kakak punya nilai lebih yang nggak semua cowok punya. Jadi, aku cuma pengen bilang aku pengen deket sama Kakak kayak dulu lagi," jawab Amanda ikutan menjelma jadi Juliet yang nggak kalah romantis!
"Jadi, kamu beneran sayang sama aku, Amanda? Serius?" tanya Aldy nggak percaya.
"Dua rius. Thanks for everything, Kak! I love you," salam manis Amanda di pipi Aldy di depan tatapan hampir seluruh siswa. Tepat saat itu, bel berbunyi. Aldy masih nggak percaya, Amanda masih ngefly, anak-anak masih ikutan bahagia, Bima masih ikutan bersorak.
&&&
"Hai, cantik, pulang bareng, yuk!" sapa Aldy yang tiba-tiba nongkrong di atas motor.
"Tumben naik motor, Kak?" tanya Amanda dengan senyum polosnya.
"Biar bisa dipeluk sama putri cantik yang namanya Amanda itu, loh," jawab Aldy gombal.
"Lebay aja... Udah, buruan, aku laper!" rengek Amanda.
"Makan dulu, deh. Di rumah kamu, aku suapin," ucap Aldy yang kemudian langsung tancap gas ketika Amanda sudah naik.
0 comments:
Post a Comment