Kemudian, secara tiba-tiba, ponselku berdering. Nada panggilnya sudah memberitahuku bahwa yang menelepon itu Nathan. Karena, aku menyetel ringtone khusus untuk nomornya.
“Nathan?! Kamu dimana, sih? Aku cariin dari tadi pagi kok, nggak nongol-nongol?!” omelku.
Nathan menarik nafas. “Aku balik ke L.A, Min. Ada urusan mendadak disana yang harus aku hadiri. Maaf ya. Aku nggak mau ganggu tidur kamu, makanya aku nggak ngabarin. Takutnya, kamu marah dan ngambek.”
“Terus, dengan cara ninggalin aku disini, liburan sendiri, buat aku nggak marah dan ngambek? harus aku hadiri. Maaf ya. Aku nggak mau ganggu tidur kamu, makanya aku nggak ngabarin. Takutnya, kamu marah dan ngambek.”
“Terus, dengan cara ninggalin aku disini, liburan sendiri, buat aku nggak marah dan ngambek? You know, I’m even more pissed and annoyed! And guess what, leave me alone!” ucapku ketus dan kesal.
“Jasmine? Please, don’t be mad at—“ aku memutuskan panggilan. Kesal!
###
Berhari-hari sudah, aku tidak berhubungan dengan Nathan. Sungguh, ini pertama kali kami bertengkar lebih dari 3 jam. Tapi, aku tidak mau ambil pusing. Liburanku tinggal dua minggu. Aku sudah balik ke L.A sekarang. Jadi,aku harus bisa manfaatin itu sebaik-baiknya dengan cara merelakskan diri.
Acara tivi kali ini gosip semua. Namun, saat ada wawancara seperti Talk-Show waktu itu, aku jadi kaget sedikit. Nathan jadi bintang tamu.
“Apa benar, kamu dan Jasmine hanya sekedar sahabat?” tanya Gee.
Nathan menatap kamera, berasa kayak sedang bicara padaku. “Kalo untuk aku pribadi, kami hanya teman. Karena, beberapa hari ini, kami nggak terlalu deket. Jadi, aku nggak tau kalo bener apa nggak, kami itu ada hubungan lebih dari teman.”
Aku meringis. “Teman, Than? Ternyata, sesederhana itu kamu nganggep aku? Makasih.” Diam-diam, airmataku menetes. Aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, aku suka Nathan. Bahkan, sayang sama dia. Bukan hanya sekedar sebagai sahabat, tapi sebagai lebih dari itu. Tapi, Nathan menilaiku hanya sebagai teman. Itu menyakitkan!
###
Sudah 8 kali nomor Nathan memenuhi kotak missed-call di ponselku. Aku masih sakit hati. Kalo dia waktu itu masih bilang kita sahabat, aku mungkin nggak sakit hati. Tapi, dia bener-bener jujur bilang kalo aku sama dia hanya sekedar TEMAN! Padahal, aku udah anggep dia sahabat. Apa aku yang terlalu banyak berharap?
“Jasmine, angkat telepon aku, ya. Sekali aja. Cantik, aku kangen suara kamu. Paling nggak, aku pengen denger ‘halo’ dari kamu. Kalo kamu mau langsung tutup, silakan. Aku cuma mau denger suara kamu… untuk yang terakhir. Tapi, aku harap nggak. Angkat, ya.”
Isi voice-mail Nathan yang tidak kugubris memang terdengar sangat menyayat hati. Tapi, hati siapa yang sebenarnya lebih tersayat? Aku atau dia?!
“Hei,” sapaku. Akhirnya, memutuskan untuk memanggil. Namun, tak lama ini akan berakhir.
“Hai, Jasmine. Aku kangen kamu. Thanks udah mau ngejawab panggilan aku,” jawab Nathan buru-buru seperti tidak ingin aku menyela. “Kamu kenapa? Kok, dari kemarin—“
“Nathan, mulai sekarang, aku cuma pengen, kamu tau kalo kita hanya TEMENAN! Bahkan, sekarang aku nggak tau kita apaan. Jadi, aku pengen, kita nggak usah kayak dulu lagi. Di salah satu dari dua sisi ada yang bener-bener luka nanti. Aku nggak mau itu sampe jadi nyata,” jelasku sedikit meminta. “Aku pengen, kita nggak usah temenan lagi. Demi kebaikan aku, kamu, sama demi ngejelasin semuanya kalo kita beneran bukan apa-apa.”
Nathan diam. Hanya diam. Aku mengira dia mematikan panggilan. Tapi tidak. Lalu, “Kalo itu bisa buat kamu bahagia, aku mau ngelakuinnya. Karena, aku sayang sama kamu. Bye, Jasmine. Bye for a long long time…”
Giliran aku yang terdiam. Kemudian telepon putus. Ini berakhir. Benar-benar berakhir!
###
Acara KCA (Kids Choice Awards) berlangsung delapan bulan setelah perpisahan aku dan Nathan. Aku diundang ke acara itu, mendapat tiga nominasi, dan akan menjadi pembaca dua kategori penghargaan.
Hari ini, tepat saar acara KCA, aku memakai dress selutut berwarna ungu dengan ikat pinggang kecil berwarna putih. Sepatuku tidak begitu tinggi dan berwarna ungu dengan corak putih. Rambutku di-smoothing dan warnanya yang coklat keemasan jadi elegan dipadu dengan kostumku. Dandanan wajahku tidak begitu mewah. Hanya beberapa olesan beige blush, light purple eye shadow, mascara, light pink lipstick, dan lipgloss.
Sampai di Red Carpet, aku berpose di depan ramainya kamera. Lalu, Gee yang mewakili acara tivinya untuk mewawancarai beberapa artis yang hadir menyapaku dan bertanya singkat padaku.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Bahagia. This is EPIC!”
“Apa Nathan ikut?”
Mendengar nama itu lagi setelah delapan bulan berusaha aku tipe-x dari otakku, ternyata berpengaruh besar. Aku berusaha tenang dan menjawab pertanyaan itu.
“I don’t know. You should ask him.”
“Hmm.. Baiklah. Selamat menikmati acaranya, Jasmine!”
Aku tersenyum, cipika-cipiki, lalu melanjutkan sesi berpose di depan kamera-kamera itu. Setelah 15 menit menuju mulainya acara, aku berjalan sedikit buru-buru ke arah pintu masuk acara. Tidak sengaja, aku bertabrakan dengan cowok kekar, seumuran denganku, dan harum parfumnya sudah ramah keluar masuk hidungku. Nathan.
“Eh, maaf. Aku tadi nggak sengaja. Maaf, ya. Tadi, beneran nggak sengaja,” ucapnya masih membersihkan jasnya. Aku menatapnya, lebih tepatnya mengamati perubahan-perubahan kecil yang kulewati selama delapan bulan ini.
Wajah Nathan lebih dewasa sekarang. Rambutnya dipotong dan mirip model rambut Taylor Lautner. Kulitnya sedikit berubah oranye matahari. Bibirnya masih berwarna merah muda cerah yang murah senyum. Matanya lebih berbinar, tapi bisa kurasakan kalau tatapannya hampa. Ada bagian kosong yang terbaca olehku saat dia sibuk membersihkan jasnya.
“Na... Nathan?” sapaku, setengah bertanya.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatapku. Terlihat cahaya yang selama delapan bulan lalu redup bersinar kembali. Ada senyum yang tersembunyi dan tatapan rindu. Aku merasakan kehangatan yang selama ini lenyap. Ingin aku memeluknya, tapi tidak etis. Ini acara resmi. Nathan hanya bisa menatapku tanpa kata-kata.
“Hey,” sapanya. “Aku kangen sama kita.”
Aku hanya bisa diam. Perasaan itu muncul lagi. Kali ini, aku mau lebih berani dan membiarkan perasaan itu mencari jalannya sendiri ke tempat yang ditujunya.
“Aku juga,” ucapku setengah berbisik.
###
“And the winner for Most Favorited Female Young Artist is…” ucap Nathan di atas panggung utama bersama dengan Justin Bieber. Tatapannya melihat kertas hasil itu dan sedikit kaget. Aku, entah bagaimana, merasakannya.
“Jasmine McJames!” Justin meneruskan.
Aku terperanjat. Senang, sedih, semua perasaan jadi satu. Aku memeluk manajerku yang duduk di sebelahku. Sambil menuju panggung, aku menyalami teman-teman lainnya. Mereka semua mengucapkan selamat padaku. Senang, tapi juga sedih. Sepanggung dengan orang yang membuat hidupku hangat dan berwarna, tapi juga membuat hidupku hampir hancur dan hitam-putih.
Nathan memandangku bahagia. Aku menatapnya balik dengan perasaan yang sama.
“Whoa! Aku nggak percaya, deh. Tapi, aku mau ngucapin makasih buat Sherryl, manajerku. Ibuku, ayahku, kakakku, teman-temanku, dan semuanya, thanks so so so so much! Terutama fans-ku yang selalu mendukungku. Ini dari kalian, buat kalian! Ini hasil kita bersama. Makasih semuanya!” aku berpidato singkat.
Tepuk tangan mengisi ruangan itu. Aku tersenyum. Seusai membacakan pidato, Justin mengucapkan selamat padaku di atas panggung sambil mengecup pipi kiriku. Ini biasa. Nathan merangkul pinggangku. Aku kaget, tapi menikmatinya. Ini adalah sesuatu yang melengkapinya, dan menghangatkanku juga.
###
Seminggu setelah acara KCA, suasana kembali seperti biasa saat tidak ada Nathan. Namun, tiba-tiba ada sms dari nomor Nathan masuk. Dia mengabariku bahwa dia masih kangen dan ingin bertemu lagi. Sekarang, dia sedang ada di acara Talk-Show lagi. Entah kenapa, aku juga merasakan kangen.
Aku meminta sopirku mengantarkanku ke gedung acara itu. Sesampainya di sana, Nathan tidak ada. Hanya ada riuh rendah tepuk tangan penonton.
“Here she comes…” kata Gee sayup-sayup.
Lampu mati semua. Aku langsung gemetar. Dari dulu, aku benci kegelapan. Tiba-tiba, ada tangan menyentuh dan menggenggam jari-jariku. Aku membalasnya dan mengeratkannya. Karena tidak bisa melihat, aku dituntun orang itu.
“Jangan buka mata kamu, sebelum aku kasih aba-aba, ya,” pinta orang itu. Aku mengangguk. “Jangan takut. Ntar lagi, kamu nggak bakal ngerasain ini dan nggak bakal sendiri.”
Lampu sudah menyala dan aku masih menutup mata. Setelah mendengar aba-aba ‘Buka!’, aku membuka mataku. Ruangan kosong. Hanya aku dan seseorang yang memelukku dari belakang. Pelukan ini familier.
“Jangan pernah bohongi perasaan sendiri, cantik,” ucapnya. Ucap Nathan. “Kamu tahu, waktu itu, aku sempet down saat kamu bilang kita nggak ada hubungan spesial. Menurut aku, kita punya hubungan yang lebih dari persahabatan. Aku sadar, aku kelebihan berharap. Tapi, ternyata bener-bener sakit kalo kelebihan berharap itu. Nyesek! Nah, alhasil, aku pergi jauh supaya aku bisa perlahan move on, tapi tetep aja susah.” Nathan berhenti. “Until that day, you told me to stop being your something. Aku hancur. Tapi, aku nggak mau kamu ikutan hancur. Lagian, waktu itu kamu kedengerannya marah banget. Nah, karena aku sayang dan penget banget ngebahagiain kamu, aku rela udahan jadi ‘sesuatu’ kamu. Demi kamu. Sampai akhirnya kita ketemu pas acara penghargaan itu. Kalo rasa seneng aku butuh penjelasan, jujur, aku gak punya deskripsi yang bagus. Susah ngejelasin setiap detik yang aku rasain pas sama kamu. Aku cuma pengen tau kalo kamu ngerasain yang sama atau nggak. Kalo nggak, gak apa-apa, asal kamu bahagia. Kalo iya, baca tulisan yang ntar lagi muncul.”
“Nathan, please… Jadi, kamu… Aku… Aku minta maaf, Than. Aku nggak tau,” jawabku sambil meneteskan airmata. Dengan cepat, Nathan mengubah posisinya. Sekarang dia berhadapan denganku.
“Jangan nangis, dong. Ntar, cantiknya ilang,” ujar Nathan. “Kamu nggak perlu minta maaf. Aku udah dan selalu maafin.”
“Nathan, aku waktu itu takut. Takut kalo aku sempet ngerasain sesuatu yang bakal buat kamu kecewa. Buat kita kecewa. Jadi, aku nggak mau ngaku. Tapi, pada akhirnya, kamu benar. Aku semestinya nggak boleh bohongin perasaan aku sendiri. Karena, itu beneran lebih parah daripada bunuh diri. Jadi, sekarang aku harus ngeliat apa?” tanyaku penasaran dengan senyum.
Tiba-tiba, tulisan “Be my girl!” muncul dari kerumunan penonton. Aku tersenyum. Wajahku bisa disamakan dengan buah tomat yang matang! Semua indah seketika. Nathan melihatku dengan tatapan berharap. Aku membalasnya dengan senyum.
“Traktir aku makan pizza, ya, babe. I love you,” ucapku diikuti kecupan di pipi kanan Nathan dan pelukan. Kemudian, aku berlalu ke belakang panggung.
“Jadi.. Jadi kamu nerima aku, Jasmine?” seru Nathan.
“ What do you think?” tanyaku balik.
Nathan mengejarku dan penonton member tepuk tangan yang sangat meriah.
###
Sahabat sama cowok bisa berakhir hanya sahabat, bisa juga kayak Nathan dan Jasmine. Tapi, aku lebih suka kisah yang dimana cowok dan cewek berteman, saling suka, tapi karena nggak mau saling menyakiti, mereka berusaha menyayangi sesama secara diam-diam dan hati-hati. Bahkan, mereka bertahan sebagai dua orang yang berteman dan tahu satu sama lain, tapi saling sayang.
0 comments:
Post a Comment