Saturday, February 1, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (9)

Posted by Unknown
Chapter 2


2.1 "And I'm feeling you so close but yet so far." -Jessica Jarrell.

Februari sudah sampai di sini menyapa dan menyentuh kulitku. Aku membalik lembaran kalender Januari yang sudah terlalu usang untuk terus dipertahankan. Tanggal 1 Februari. Tanggal ini mengingatkanku pada seseorang dan segenap kenangan lama. Ah, Zeus... Iya. Hari di mana Zeus menyatakan perasaannya padaku. Hari di mana aku memulai sakit hati yang terlapis rapi oleh tipu dayanya. Zeus...
"Une!" panggil suara seseorang yang kukenal samar-samar dari bawah. Suara Al. Ini Sabtu pagi dan aku belum berniat untuk melakukan apapun atau berbicara dengan siapapun, tetapi suara Al sudah memenuhi dan menutupi sinar matahari pagi yang tenang ini.
Aku mengerang sambil menutup wajahku dan kedua telingaku dengan bantal. Aku menyayangi sahabatku, namun hal seperti ini benar-benar membuatku bertanya apa sebaiknya aku membencinya ketimbang menyayanginya. Al memang sama malasnya denganku dalam urusan bangun pagi di akhir pekan. Tapi, jika ada maunya dan jika maunya itu bersangkutan dengan aku, pasti Al memakai segala cara untuk mengajakku dan memaksaku memenuhi keinginannya. Ia tak peduli hari apa dan kapan, yang penting aku harus mau ikut dalam rencana anehnya.
Terdengar suara ketukan pintu. "Non, Mas Al, nih."
Aku mengerang lebih kencang mencoba menghiraukan ucapan Mbok Num barusan yang memperjelas keadaan pagi ini. Seribu sumpah serapah kuteriakkan pada Al dalam hatiku dan memberinya gelar 'Perusak Akhir Pekan' karena sudah berkali-kali ia melakukan hal seperti ini. Mbok Num masih terus mengetuk pintu dan bertanya harus diapakan Al yang kurasa sedang menungguku di luar kamar.
"Mbok, Al suruh pulang aja sana. Aku masih  mau tidur," rengekku sambil menarik selimut agar semakin menutupi seluruh tubuhku. Seandainya bisa, aku ingin menutup kedua lubang telingaku dari bisingnya kehadiran Al.
Mbok Num terkekeh pelan lalu kudengar ia berbicara pada makhluk super menyebalkan itu. Al pun tertawa lalu entah sengaja atau tidak, Al mengetuk pintuku membuat serangkaian irama aneh. Aku ingin tertawa namun rasa kesalku padanya sudah melampaui batas.
Tak dapat kembali tidur, aku memaksakan diri untuk membuka mata dan bangun dari ranjangku. Aku mamatut wajah di cermin yang berada agak dekat dengan pintu. Rambutku berantakan bak rambut singa yang melingkar di kepalanya. Aku menyisirnya dengan jariku lalu kuikat seadanya. Celana pendek yang kukenakan menjadi sangat kusut, begitu juga dengan kaos yang saat ini menutupi tubuhku. Dandanan seperti ini di pagi hari serta penantian seseorang di luar kamarku adalah padanan yang tidak sesuai. Namun, aku terlalu terbawa suasana akhir pekan ini untuk memikirkannya. Lagian, Al tak mungkin meledek aku jelek. Aku pun memutar kunci kamarku, membukanya agar siapapun yang mencariku bisa masuk. Semenit dua menit, aku tak melihat siapapun peduli untuk memasuki kamarku. Malas, aku bangkit dan keluar dari kamar.
"Ngapain lo?" tanyaku yang agak kaget melihat Al berdiri di anak tangga rumahku dengan nampan berisi sepiring roti, selai, dan susu di tangannya.
Al tersenyum. "Tadinya nih, Ne, gue mau ngeguyur lo pakai susu biar bangun. Tapi, ternyata udah bangun. Gagal deh, gue."
Aku meminta nampan yang sedang Al pegang. Kemudian, aku membawanya turun ke lantai bawah. Bukan kesal, aku hanya tak mau merepotkan Al dengan membawa-bawa nampan ini. Satu lagi, aku tak mau perbuatan Al yang teramat kecil dan sederhana ini mempercepat detak jantungku. Ini masih pagi dan ini awal bulan. Bukan waktu yang tepat untuk Al mengusik damainya hatiku.
"Lah, mau diapain, Ne? Kok, dibawa turun lagi?" tanya Al bingung sambil mengikuti langkahku.
"Gue belum lapar, Al. Mending lo yang sarapan," jawabku berbohong.
Al terkekeh. "Gak usah gengsi gitu, dong. Langka banget kalau lo bilang lo belum lapar padahal ini udah jam sembilan pagi."
Aku menoleh kepada Al, menyipitkan mata lalu kembali membelakanginya. Tatapan pura-pura kesal itu selalu membuatnya tertawa. Dan mendengar tawanya untuk saat ini adalah hal yang kuinginkan. Bahagia itu sederhana, kawan.
"Lo ngapain sih, pagi-pagi banget ngebangunin gue? Apa hobi lo udah ganti?" omelku setelah meletakkan nampan tadi di atas meja makan. "Apa tinju ngebuat lo bosan? Terus, lo beralih jadi pengganggu hari libur gue?"
Al tertawa lalu mengacak-acak rambutku. Hal baru bagiku melihat Al mulai sering mencari kesempatan untuk menghancurkan rambutku, terutama poniku.
"Gue ditinggal lari pagi sama Papa sama Mama. Abang gue udah balik lagi kuliah. Ya udah, gue gangguin lo aja," aku Al sambil mengambil posisi duduk di salah satu dari empat kursi makan.
Aku duduk berhadapan dengan Al. Bibirku menguncup, reaksi pertama yang selalu kulakukan setiap kali Al memberikan alasan yang membuatku ingin menghajarnya namun tak pernah bisa.
"Gue lagi males ke mana-mana. Hari ini mau di rumah aja. Jadi, lo bakal tambah enggak ada kerjaan di sini," ujarku. Kuambil selembar roti dan mulai mengoleskan selai srikaya di atasnya.
Al menjatuhkan tubuhnya ke senderan kursi. "Ya udah, sekalian aja ajak Fian dan kawan-kawan ke sini. Berhubung lo males ke mana-mana."
Aku mengangguk-angguk seraya berusaha menelan roti yang baru saja kumasukkan ke dalam rongga mulutku. "Boleh. Tapi, lo yang nelpon mereka. Gue lagi males buang-buang pulsa."
"Idih, cewek kok, males banget. Nanti doi lo ilfeel, loh, Ne," ledek Al. Aku melemparkan serbet makan ke wajah Al. Kalah cepat, sehelai kain itu jatuh di wajah Al membuatku tertawa. Aku tersedak karena terlalu asik tertawa. Kini, Al-lah yang tertawa. Namun, aku benar-benar nyaris kehabisan nafas karena roti yang menggumpal itu terasa sangkut di saluran yang salah. Al panik dan langsung mengambilkanku minum. Sambil mengusap-usap punggungku, Al membantuku meneguk minum agar apapun yang tersangkut pada saluran yang salah itu bisa mengalir ke jalan yang seharusnya.
Al terkekeh. "Makanya, jangan zalim sama gue."
Aku memukul lengannya dengan mata berkaca-kaca akibat menahan rasa sakit di leherku tadi. Al melihatku dan entah kenapa ia langsung panik. Kurasa Al mengira kalau aku menangis karena perkataannya.
"Yah, Ne, jangan nangis gitu, dong," pinta Al panik. "Maaf, maaf..."
Aku tak tahan untuk tidak tertawa. "Ya Allah, Al, lo ngira gue nangis? Yah, cupu banget sih, lo."
Al mengangkat alisnya kaget bercampur kesal. Lalu, ia mulai berpura-pura memberikanku silent treatment. Aku membalasnya dengan senang hati. Oke, pagi yang cukup menyenangkan.

Siangnya, setelah berdebat hebat dengan Al karena urusan mandi, aku pun berusaha menghidupkan semangatku agar dapat menggerakkan tubuhku untuk pergi membasahinya. Al sudah menghubungi keempat teman kami lainnya dan mereka bilang jam tiga akan datang dengan beberapa makanan ringan. Sekarang sudah hampir pukul satu dan aku bukan salah satu dari mereka yang menghabiskan waktu cepat di dalam kamar mandi. Akhir pekan adalah waktuku satu-satunya untuk merawat tubuhku dan menikmati aliran air dari shower yang sangat menyejukkan. Meskipun tadi Al perlu berdebat hebat dulu denganku agar aku mau mandi.
"Mandinya jangan lama-lama. Nanti airnya abis," ujar Al sekenanya sambil menyalakan televisi di ruang tamuku.
"Enggak bisa, Al. Udah rutinitas hari libur gue mandi harus lebih dari setengah jam. Kan, gue juga cewek. Butuh perawatan biar banyak yang naksir," ucapku setengah ingin membuat Al sekali saja menganggapku worth his glance. Maksudnya, pantas untuk ia lirik.
Al berdehem. "Lo sih, enggak mau nerima pujian gue. Jadi, gini kan, susah ngerasa cantik. Padahal..."
"Padahal apa?" tanyaku yang dari tadi belum benar-benar mengukuhkan niat untuk memasuki kamar mandi.
"Enggak. Udah sana mandi!" perintah Al berusaha menahan senyumnya yang terlihat mengembang bahkan dari posisiku yang lumayan jauh darinya saat ini.
Aku tersenyum, menyimpan senyum Al yang dipaksanya untuk tidak terlihat. Menduga bahwa diam-diam Al juga menyukaiku. Hmm... maksudku berharap Al diam-diam menyukaiku. Duh, ada apa ini? Kenapa aku jadi sangat menyedihkan seperti ini?
Alhasil, aku pun masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, kunyalakan shower-ku agar air hangat dan air dingin yang bersatu di ujung pancurannya dapat bercampur terlebih dahulu. Satu hal yang Al tidak tahu tentang hobiku adalah mencium bau air. Air apa saja, kecuali air kencing dan air banjir. Bau air hujan, air kolam, air pancuran, dan bau tanah basah sehabis hujan. Aku selalu suka air, kecuali airmata.
Selesai menikmati pancuran air yang begitu menyegarkan, aku pun memilih pakaian rumah paling santai untuk menyambut kedatangan teman-temanku. Sudah 45 menit aku berdiam di bawah derasnya pancuran air itu dan tanpa kusadari sudah ada suara-suara ramai yang hadir di depan hamparan rumahku. Teman-temanku sudah datang. Terdengar suara Al yang begitu semangat mengajak mereka masuk seakan-akan rumahku adalah rumahnya sendiri.
"Uneeeee!!" panggil Al lantang membuatku mau tak mau menyumpahinya dalam hati.
"Iya, gue udah selesai!" balasku terganggu.
Nadine, seperti biasa selalu mencoba menahan diri untuk tidak duduk di sebelah Esa, meskipun kami semua tahu ia menyukai Esa separah Esa menyukainya. Esa sendiri terlalu takut untuk memperlihatkan perasaannya yang sudah terlalu lama tertahan. Alasan Esa selalu klise, gue enggak mau nanti ketika gue sudah memilikinya, gue harus melepaskannya. Terutama kalau harus melepaskannya sebagai sahabat gue. Tapi, alasan itulah yang sebenarnya lama kucari untuk menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan retoris yang akhir-akhir ini semakin banyak bermunculan. Ya, aku tak mau kehilangan Al sebagai sahabat jika aku mengungkapkan perasaanku padanya. Lebih baik aku sedekat ini dengannya tanpa status apa-apa daripada harus menganggapnya orang asing.
"Duh, Sa, udah itu duduk di sebelah Nadine aja! Lo masih suka sama cewek, kan?" goda Al sambil mendorong-dorong Esa ke tempat kosong di sebelah Nadine.
"Tahu, Sa. Jangan jaim gitulah," timpa Rangga diikuti senyumnya yang langsung membuat kedua pasang pipi milik Nadine dan Esa memerah. Aku tersenyum geli. Ah, dua orang yang saling suka, tapi terlalu takut untuk mengambil kesempatan...
***
Sa, lo beruntung! Seharusnya lo bersyukur, Sa, Nadine sudah jelas memberikan sinyal kepada lo supaya lo cepat menjadikannya bagian dari kisah cinta lo! Lo enggak harus menekan perasaan lo sendiri selama ada di dekat orang yang paling lo nantikan dan lo sayang. Lo enggak harus berusaha susah payah kayak gue, Sa.
Diam-diam, aku melirik Une yang sedang tersenyum melihat kedua tingkah teman kami yang dengan sangat terbukanya memperlihatkan rasa ketertarikan mereka terhadap satu sama lain. Une, andai gue juga merasakan bahagia yang dirasakan Esa dan Nadine.
"Al, jadi pesan apa nih, buat makan siang?" tanya Fian membuyarkan lamunanku.
"Eh... Oh... Pada mau apa? Gue sih, ikut aja," ucapku terbata-bata. Une menatapku penuh arti dan penuh tanya.
"Sumpah ya, Al akhir-akhir ini jadi sering ngelamun enggak jelas gitu. Kalau ditanya, pasti dia nanya balik. Kita tuh, jadi dikacangin," ejek Une sambil memutar bola matanya tanda sedang kesal.
Aku hanya memberikannya senyum pasrah karena apa yang dikatakannya memang yang sebenar-benarnya. Lagian, lamunanku juga salah Une. Dialah yang selama ini berkeliaran dalam benakku membuat otakku terkadang berhenti memerhatikan sekelilingku. Hasilnya selalu begitu memang, bingung dan menanyakan apa yang baru saja dikatakan lawan bicaraku.
"Al lagi galau," ucap Rangga memecah kecanggungan. "Dia bingung mau ngajak siapa ke pesta dansa nanti. Coba gue tanya, emang ada yang tertarik sama muka kayak Al?"
Aku berdehem dengan gayaku. "Oh, jangan salah, Ga. Gue sudah merencanakan aksi gue buat ngajak cewek idaman gue nanti. Lo berlima bakal kaget, deh."
"Halah, lo ngomongnya aja yang besar, Al. Banyak teori. Prakteknya malah bikin ketawa," komentar Esa, tak sadar ia telah mengecilkan nyaliku.
Fian tertawa. "Nih, gue kasih saran buat lo, Al. Dan siapa tahu, Une juga butuh."
Une melirik ke arah Fian. Aku memerhatikan Fian seolah-olah benar-benar tertarik dengan sarannya. Padahal, nyatanya aku sama sekali tak ingin mendengarnya.
"Lo mending nih, Al dan Une, perginya berdua. Kalian tuh, udah terlalu dekat untuk enggak jalan berdua," ujar Fian. "Kalian tuh, lama-lama mirip Esa sama Nadine."
"HAH?!" balasku dan Une bersamaan.
"Apa-apaan lu, Fi!" sangkal Une.
"Fian emang suka gitu, deh. Ngasih saran tuh, suka ngawur," komentarku membuat Fian semakin bersemangat untuk meneruskan pembicaraan absurd ini.
Fian terkekeh. "Coba gue tanya ke Esa, Rangga, dan Nadine. Menurut kalian, Al sama Une tuh, kayak gimana?"
"Emang gue sama Esa kenapa, An?" tanya Nadine sok tidak mengerti, padahal dari sinar matanya terlihat bahagia yang teramat jelas.
"Duh, ini lagi cantik-cantik telmi," ledek Rangga. "Menurut gue nih, Ian, Al sama Une tuh, udah enggak bisa dibilang sahabat lagi. Coba deh, gue sedekat-dekatnya sama Une tuh, paling cuma curhat di SMS. Nanya-nanya saran gimana gue bisa begitu dan begini. Lah, Al? Dia berapa tahun terakhir setia banget nganterin sama jemputin Une. Tukang ojek aja enggak segitunya."
Une menoyor kepala Rangga sambil tertawa. "Rangga, itu namanya sahabat yang loyal. Yang memperlihatkan perhatiannya. Toh, gue tiap akhir pekan juga ngeganti bensinnya Al."
"Tuh, kan. Enggak wajar kali, Ne," sanggah Rangga kekeuh. "Udah gitu, gue dengar dari Anita sama Aqil, lo berdua pernah makan malam bareng? Semesta tahu kali, Al, Ne, kalian tuh, ada apa-apanya. Orang pacaran aja enggak semewah makan malam bareng. Ini sahabat? Masa, sih?"
Aku terkekeh, terlalu tersudut untuk membalas perkataan Rangga dengan denial yang sudah dipatahkan bahkan sebelum aku mengucapkannya. "Namanya panggilan alam, Ga. Gue sama Une waktu itu lagi lapar banget. Ya udah, Une-nya juga ngajakin plus janjiin dia yang bayarin. Masa rezeki gue tolak?"
Fian dan Rangga menggelengkan kepala. Sebenarnya, mereka ada benarnya. Tapi, menyedihkan sekali untuk aku, harus menelan mentah-mentah kebodohanku yang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan hatiku sendiri. Justru malah sahabat-sahabatku yang menjawabkannya untukku.
***
"Ne, memang lo pernah makan malam sama Al?" tanya Nadine tak percaya padaku. Aku cukup mengangguk. Tak ingin memperjauh percakapan ini.
"Oke, kita sebaiknya memesan makanan. Ngomongin makan, gue jadi lapar," ucapku setengah memerintah. Alasanku menghentikan pembicaraan absurd ini adalah agar aku tak semakin merasa tersudut oleh teman-temanku sendiri. Kulirik Al sekilas, mencari alasan yang lebih kuat dari matanya. Di sanalah, kutemukan realita. Semua yang dikatakan Fian dan Rangga hanya spekulasi. Hipotesis kacangan yang tidak berdasar teori apapun. Sudah jelas, Al tidak menyukaiku. Sudah lebih jelas lagi, bahwa perasaanku ini harus kutekan semakin dalam agar nantinya tak bertepuk sebelah tangan.

Esoknya, hari Minggu tenang. Hari sebelum keramaian sekolah mengisi benakku lagi. Hari sebelum wajah Zeus tiba-tiba muncul lagi seperti beberapa saat yang lalu. Hari di mana Anita sibuk menanyakan PR dan tugas-tugas yang terlihat tak pernah ia kerjakan. Hari di mana Al akan menemaniku suntukku seharian, entah itu hanya sebatas di telepon sampai ajakan Al untuk mengitari tempat-tempat aneh yang selalu berhasil ia temukan di sudut-sudut kota ini.
Al, main, yuk!
Kemana?
Terserah. Biasanya lo tahu tempat-tempat bagus.
Ke rumah gue aja, Ne. Mumpung ada Mama. Dari tadi gue disuruh ngajak lo ke sini.
OK. Tapi gue request nasi goreng, dong. Masakan Mama lo kan, topcer!
Haha... Iya, deh. Buruan ke sini. Dicariin!
Tante Renata, Mama Al, sudah seperti ibu kedua bagiku. Kurasa, ia pun bisa menyebutkan hal-hal favoritku, seperti nasi goreng buatannya, foto-foto vintage darinya setiap kali ia pulang dari dinasnya di luar negeri, dan masih banyak lagi. Sifat Tante Renata yang mirip denganku membuat kami lebih cocok dikatakan sebagai ibu dan anak daripada Al dan beliau sendiri. Al sangat tertutup tentang perasaan dan pikirannya. Ia hanya akan membuka diri ketika memang ingin serius. Selebihnya, Al akan selalu bersembunyi di balik setiap candaan dan kejahilannya.
Merasa ditunggu, aku pun siap-siap pergi ke rumah Al yang tak jauh dari rumahku. Sesampainya, aku disambut hangat oleh Tante Renata. Wangi nasi goreng kesukaanku sudah memenuhi rongga hidungku. Al hanya tersenyum padaku saat melihat kehadiranku. Ia terlalu asyik dengan acara televisi sehingga tak mengucapkan apa-apa.
"Nih, Tante udah masak nasi goreng yang kamu request. Al baru aja selesai makan satu piring. Tumben dia cepat kenyang," beber Tante Renata.
"Tante makan juga, dong. Masa aku makan sendiri kayak gini. Jomblo banget," ujarku.
"Ini nih, Tante emang mau makan, kok," balas Tante Renata.
Aku, bersama Tante Renata, akhirnya makan berhadap-hadapan. Memang nasi goreng buatannya tak pernah mengecewakanku. Kami berbincang-bincang tentang hal-hal unik di sela-sela suapan nasi.
***
Sembunyi-sembunyi, aku mencuri dengar Une dan Mama berbincang-bincang. Hal yang cukup menyenangkan bagiku setiap kali mereka bertemu dan menganggapku seolah tak ada di sana. Aku jadi bisa mendengarkan mereka tanpa perlu diperhatikan.
"Jadi, kata Al, kalian sebentar lagi ada undangan ke pesta dansa senior kalian, ya?" tanya Mama begitu polos.
"Iya, Tan. Terus, si Fian masa nantangin supaya setiap orang dari kita berenam nih, Al, Aku, Fian, Rangga, Esa, sama Nadine, harus cari pasangan. Yang enggak dapet, nanti liburan disuruh traktir semuanya," beber Une pasrah. "Dan aku udah yakin seribu persen bakal kalah, Tan."
Mama tertawa. "Kamu kenapa enggak sama Al aja? Dia juga belum ngajak siapa-siapa."
Une terdiam. "Al katanya lagi nyusun rencana buat ngajak ceweknya itu. Dia sedang memberanikan diri."
Mama tertawa lagi. Duh, Mama kayaknya cuma bisa tertawa. Aku diam-diam menyumpahi Une. Sial, Une. Kenapa masih sangat naif, sih?!
"Ah, paling-paling Al gagal. Terus, ngajakin kamu," tebak Mama ringan.
"Tapi, ada aturan mainnya, Tan. Kalaupun Al nanti gagal terus ngajak aku, kita tetap harus traktir. Soalnya, kata Fian, kita enggak boleh pergi bareng sesama berenam ini sampai benar-benar enggak ada lagi yang ngajak kita," ungkap Une. "Al sih, enak. Dia cowok dan reputasi dia di sekolah agak lumayan karena dikenal anak tinju. Ya, paling enggak ada aja satu atau dua cewek yang ngajakin. Lah, aku?"
Mama terkekeh, lagi-lagi membuatku kesal sendiri mendengarnya. "Duh, kalian tuh, takut banget suruh traktir. Lagian, kalau bagi dua kan, enggak akan seberat itu. Udahlah, Tante benar-benar lebih setuju kalau kalian pergi berdua. Daripada Al harus sama cewek lain yang Tante enggak kenal. Mending Al sama kamu aja, Ne."
Kali ini giliran Une yang tertawa. "Aku go with the flow aja deh, Tan. Enggak enak sama Al dan usaha dia buat ngajak si cewek itu. Emang Tante enggak penasaran sama cewek incaran Al?"
"Enggak. Tante kan, udah tahu siapa," jawab Mama, nyaris membuat jantungku berhenti berdetak.

Beberapa hari yang lalu...

"Al, katanya kamu mau cerita sama Mama soal cewek yang kamu suka," ucap Mama saat aku sedang santai tanpa kesibukan di teras rumahku.
Aku terkekeh malu-malu. Meskipun aku terlahir sebagai laki-laki, tetap saja, rasa malu itu selalu ada jika menyangkut perasaanku. Siapa sih, yang tak deg-degan ditanya perihal orang yang sudah lama kita sukai?
"Mama tahu banget orangnya. Al enggak perlulah sebutin nama," jawabku berusaha membuat stabil detak jantungku.
"Une?" tanya Mama langsung. Aku mengangguk.
"Tapi, Al mohon dengan teramat sangat ya, Ma. Mama jangan pernah bilang ke Une," pintaku sambil memegang jemari Mama dan berlutut di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Mama singkat dengan senyum yang mulai merekah di wajahnya.
"Ya, Al enggak mau Une tahu. Al enggak mau perasaan Al ke Une jadi malah ngerusak semuanya," ungkapku. "Lebih baik Al ada di dekat Une setiap saat meskipun enggak benar-benar memiliki Une daripada harus jauh dari dia gara-gara Al egois mau buat Une tahu perasaan Al, Ma."
Mama tersenyum. "Anak Mama udah dewasa. Tapi, walau bagaimana pun, Al tetap harus kasih tahu Une. Mama enggak akan maksa kapannya atau gimananya, Mama cuma enggak mau ngeliat Al nanti jadi patah hati terus-terusan. Lagian, suatu saat, ketika Al nanti kasih tahu Une, Mama yakin Une juga akan sadar kalau dia suka sama Al sebagaimana Al suka sama dia. Karena kalian udah terlalu dekat dan terlalu lama bersama buat hanya sekedar menyayangi satu sama lain sebagai sahabat."
Aku tersenyum lega mendengar ucapan Mama. Setidaknya, selain Tuhan Yang Maha Agung dan aku, Mama sudah tahu tentang rahasiaku ini. Dan Mama bukanlah orang yang salah.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos