Tuesday, February 4, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (10)

Posted by Unknown
CHAPTER 2

2.2 "Being honest is the hardest."

Tak terasa, sudah tinggal seminggu lagi. Beberapa hari lagi, mau tak mau aku harus menyatakan perasaanku pada Une. Ya Tuhan, berikanlah aku kemudahan...
***
Ne, apa kabar? Gue kangen ngomong sama lo...
Pesan ini masuk dalam ponselku beberapa hari yang lalu. Nomor tak dikenal membuatku malas menghiraukannya. Ini pasti bukan Al dan tidak mungkin juga salah satu dari orang-orang yang kukenal. Tapi, kenapa dia begitu akrab memanggilku dengan sebutan 'Ne'? Bukannya hanya kelima sahabatku yang biasa dengan panggilan itu? Ah, sudah berhari-hari pengirim pesan misterius ini mengusikku. Apa aku harus balas? Tapi, coba aku tanya pada Al dulu. Mungkin Al tahu apa-apa soal ini. Tapi, kenapa harus pada Al aku bertanya?
Getar dan nada dering telepon masuk membuyarkan pikiranku. Nama Al beserta fotonya tertera di layar ponsel. Sangat kebetulan ia menelponku di saat aku sedang memikirkannya. Tak banyak berpikir, aku pun mengangkat telepon Al.
"Al, pas banget lo nelpon gue," ucapku tanpa basa-basi sebelum Al mengatakan apapun.
"Hah?" tanya Al balik di ujung sana.
"Iya. Tadi, gue baru aja mau nelpon lo. Ternyata Allah masih baik sama gue dan pulsa gue. Jadi, Dia buat lo yang nelpon gue duluan," jelasku sambil buru-buru ingin menanyakan Al tentang pengirim pesan misterius itu. "Al, masa sekitar dua atau tiga hari yang lalu, gue dapat SMS masuk isinya orang nanyain kabar gue. Dia juga bilang dia kangen ngomong sama gue. Apa banget, ya?"
Al menarik nafas. "Bentar-bentar. Jadi, Une sekarang punya penggemar rahasia? Wah, Ne! Kemajuan!"
Mau tak mau aku sedikit tersipu dengan perkataan Al, meskipun niatnya pasti ingin mengejekku. "Ih, apaan sih, lo?! Tapi, ya, bagus juga sih, berhubung sebentar lagi pesta dansa. Setidaknya kalau ini orang benar-benar penggemar rahasia gue, ya, gue bisa selamat dari kekalahan tantangan si Fian."
"Nah, tuh, akhirnya lo jadi semangat juga ngikutin tantangan ini," komentar Al cukup singkat. "Yah, Ne, tega banget lo. Nanti gue jadi menjomblo di Pesta Dansa itu. Hopeless gue sama cewek incaran gue. Yakin banget dah, gue enggak akan dapat perhatian dia lagi."
Aku setengah prihatin pada Al, tapi juga setengah bahagia mendengar bahwa ia sudah nyaris putus asa mengejar siapapun gadis itu. Al, seandainya lo bisa lebih melihat gue. Ah, tapi sekarang mungkin takdir memutar segalanya. Giliranku Al, yang akan membuat kamu sadar kalau selama ini pembicaraanmu tentang gadis itu pelan-pelan menyakiti hatiku. Dan maaf jika memang penggemar rahasiaku ini yang akan membalas itu padamu sebagai perantaraku. Karena sejujurnya, aku tak pernah ingin menyakitimu. Ya, sebab kamu bahkan tak menyukaiku.
"Ne, kok, diem? Biasanya lo udah nyerocos ngasih gue saran-saran penyemangat! Ini malah diem?" tegur Al. "Lo mikirin siapa? Si penggemar rahasia itu? Duh, udah ah, yang lagi jatuh cinta mah, bedaaaaaa!"
Pipiku memerah mendengar ucapan Al barusan. Syukurlah, Al tak bisa melihatnya.
"Ih, apaan sih, Al? Ini gue juga lagi mikir gimana caranya lo enggak menjomblo di pesta itu," balasku. "Oh, gue tahu! Gimana kalau tiga atau empat hari lagi, lo nyatain perasaan lo? Ya, sekalian sama yang lain-lain. Gue yakin deh, Al, enggak akan tega dia nolak lo. Janji, deh! Soalnya, masa sih, dia tega menolak seorang cowok yang katanya kece kayak lo padahal udah H min berapa mau acara? Pasti dia mikir juga, selain lo belum ada yang ngajak dia atau enggak ada bahkan yang ngajak dia."
Aku menjelaskan segala yang sebenarnya tak ingin kujelaskan pada Al. Menyarankan Al untuk melakukan ini itu untuk gadis itu sungguh memakan hatiku sendiri. Sakit. Tapi, Al berhak merasakan bahagia, walaupun bukan dariku. Ah, kenapa aku jadi superPD begini? Al bahkan tidak menyukaiku. Sadar, Ne!
"Oh iya, Ne! Ah, emang deh, Une gue ini cerdasnya selalu di saat yang tepat!" puji Al sekaligus mengejek. Sial! Tapi, baru saja ia memanggilku 'Une gue'! Tuhan, dua kebahagiaan sederhana dalam satu waktu. Aku mencintai-Mu, wahai Allah Yang Maha Agung! Une, sadar! Al hanya bersikap menyenangkan, bisik hatiku seolah aku malah mendustai karunia-Nya. Membalas ucapan Al, aku hanya bisa tersenyum walaupun Al tak dapat melihatnya.
***
Selesai perbincanganku dengan Une di telepon tadi, aku membulatkan tekad untuk mengatakan hal yang sejujur-jujurnya pada Une. Ya, tidak ada lagi rasa yang terpendam. Tidak ada lagi sakit hati, kuharap. Dan tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Semoga, Une merasakan hal yang sama.
"Al, kamu senyum-senyum gitu?" tanya Papa seraya menurunkan korannya.
"Apaan sih, Pa? Masa cowok sekeren Al, senyum-senyum kayak cewek jatuh cinta? Cucok banget," balasku asal. Papa terkekeh.
"Memangnya, hanya cewek yang senyum-senyum kalau jatuh cinta?" tanya Papa dengan satu alisnya terangkat. "Asal kamu tahu, Al, dulu tuh, pas Papa ketemu Mama dan melakukan seratus jurus andalan Papa, setiap di rumah juga Papa senyum-senyum. Almarhum Kakek kamu sering tuh, menegur Papa kayak sekarang ini."
Aku bergidik geli. "Itu sih, Papa aja. Al mah, classy kalau jatuh cinta."
"Memangnya, kamu pernah jatuh cinta?" tanya Papa membalasku. Pertanyaannya barusan seperti seruan SKAKMAT dalam permainan catur. Bagus, Pa, sekarang Al mau tak mau harus kalah! Smart move, Pa!
"Al tuh, lagi jatuh cinta, Pa. Makanya akhir-akhir suka banget ngelamun, diam sana diam sini kayak orang salah tingkah. Terus, gitu tuh, suka senyum-senyum sendiri," beber Mama tiba-tiba hadir di antara aku dan Papa. Tak cukupkah Papa yang memperlakukan anak laki-laki paling kecilnya seperti tadi? Haruskah kedua orangtuaku datang dan menggodaku soal perasaanku sendiri? Ya Allah, kumohon...
"Mama!" protesku agak kesal. "Sumpah, Ma, Pa, Al lama-lama cucok banget digodain begini. Persoalan cinta-cintaan lagi. Idih!"
Mama tertawa. "Pa, Al ini tuh, sebenarnya udah lama jatuh cinta. Cuma dia pintar banget acting polos, sok enggak pernah jatuh cinta. Sok gengsi, sok kece gitu, Pa. Ngaku cowok banget, tapi soal cinta Al enggak pernah berani ngomong."
Papa terkejut seakan-akan berita Mama barusan adalah hal yang tak pernah dialami siapapun. Ia bertingkah seolah-olah kakakku tak pernah membahas apa-apa tentang cinta. Bang, aku mengutuk ketidakhadiranmu!
"Memangnya, Al lagi jatuh cinta sama siapa, Ma?" tanya Papa penasaran. Ma, tolong jangan katakan pada Papa.
"Siapa lagi? Masa Papa enggak tahu?" Mama balas bertanya sambil memainkan mata pada Papa membuatku bergidik lagi. Tak bisa kupungkiri, degup jantungku yang semakin tak mau ditahan.
"Une?" tanya Papa tepat sekali. Aku tak bisa berbohong pada Papa. Lebih tepatnya, pada perasaanku sendiri.
Mama mengangguk dengan senyumnya yang tersungging manis. Ya, kadang memang untuk membuat kita bahagia, kita harus sedikit menyiksa orang lain. Itulah yang Mama lakukan barusan. Menyiksa jantungku dengan momen beberapa detik itu hanya untuk tersenyum puas pada Papa. Senyum Papa ikut terukir di bibirnya. Dan mau tak mau aku tersenyum pasrah dan mengangguk mengiyakan tebakan Papa. Sekarang, selain Tuhan Yang Maha Kuasa, aku, dan Mama, ada Papa yang tahu akan perasaanku. Cukup... Orang berikutnya yang sebentar lagi akan tahu harus Une. Bukan yang lainnya. Jangan sampai yang lainnya.
"Jadi, selama kalian 'bersahabat', kamu diam-diam menyimpan rasa buat Une, Al?" tanya Papa sambil mengutip kata 'bersahabat' dengan jarinya. Aku cukup mengangguk, SKAKMAT memang kata yang tepat untuk menguraikan keadaanku detik ini juga.
"Wah, kenapa kamu enggak jujur ke dia? Kuat kamu nunggu dia segitu lama, Al? Apa kamu takut?" tanya Papa lagi yang terdengar lebih penasaran daripada Mama.
"Gini, Pa, Ma, Al sama Une tuh, udah bersahabat lama banget. Kami dekat dan nyaman sebagai sahabat. Kalau Al jujur sama Une, Al takut perasaan Al malah ngerusak semuanya. Ngerusak rasa dekat dan nyaman itu. Al enggak mau itu terjadi," jelasku kembali merasa bimbang akan rencanaku untuk mengungkapkan perasaanku. "Lagipula, Une enggak ngerasain hal yang sama. Jadi, buat apa Al jujur?"
Papa tersenyum. "Al, alasan kamu itu masuk akal, tapi terlalu klise. Papa sendiri bisa lihat setiap dia datang ke sini main sama kamu, kalian itu enggak bisa dikatakan sahabat lagi. Ada sesuatu yang enggak kalian sadari yang sebenarnya itu lebih membuat kalian nyaman. Bukan lagi sebagai sahabat. Tapi, entah Une juga mempunyai alasan seperti kamu, Papa enggak tahu. Ya, yang Papa lihat, setiap dia ada di dekat kamu, kalian sama-sama merasakan hal itu. Perasaan saling suka, saling membutuhkan, dan saling ingin memiliki lebih dari sekedar sahabat. Enggak selamanya, menjalin hubungan lebih serius dengan sahabat kamu sendiri bakal merusak persahabatan itu. Lagipula, kalian sudah sama-sama tahu dan maklum dengan kekurangan masing-masing. Masa sih, kalian masih mau sembunyi di balik alibi dan alasan persahabatan? Kamu enggak nyesal ketika nanti ini udah terlambat buat diulang?"
Aku meresapi kata-kata Papa. Ada benarnya. Tapi, tak semudah itu, Pa. Une sudah menanti yang lain dan sayangnya, bukan aku. Penggemar rahasianya juga akan disambutnya dengan tangan terbuka dan wajah berbinar. Haruskah Al merusak itu semua dan malah melihat Une terluka karena keinginan dan keegoisan Al saja? Al masih ingin melihat Une tersenyum meskipun senyum itu bukan karena dan untuk Al. Bahagia itu sederhana, Pa... Bahagia Al sederhana. Cukup melihat orang yang Al sayang tersenyum. Cukup.
"Iya, Pa," jawabku tak sesingkat refleksiku barusan.
"Jadi, Al ada rencana apa buat pesta dansa itu?" tanya Mama meringankan pembicaraan ini.
"Enggak tahu. Al mau jujur sama Une. Tapi, Al masih ragu," akuku sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku.
Mama menepuk pundakku. "Kalau Mama jadi Une, Mama enggak akan minta yang macam-macam sama kamu. Cukup kamu yang tanpa bercanda dan kamu yang penuh perasaan. Se-simple itu."
"Iya, Papa setuju. Bunga, cokelat, boneka, puisi, dan nyanyi-nyanyian itu sudah basi. Papa juga dulu nyatain cinta ke Mama enggak seribet itu," ucap Papa sambil merangkul Mama. Aku hanya bisa tersenyum melihat kedua orangtuaku. Tapi, ada rasa geli yang tak pantas dalam hatiku.
"Ya, iyalah, Pa. Papa kan, langsung lamar Mama ke ayah Mama. Ya, emang enggak muluk-muluk dan enggak seribet itu," ucap Mama membuat Papa tersenyum. Satu lagi kebahagian sederhana, melihat kedua orangtuaku bahagia dan tertawa serta tersenyum seperti ini. Ya, meskipun agak geli, tapi tetap saja...

Kembali bersekolah di masa kritis seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan. Aku sudah menolak kurang lebih tiga ajakan datang ke pesta dansa bersama juniorku hanya untuk mempersiapkan diri akan ketidakpastian rencanaku. Bodoh! Sangat bodoh! Tapi, kalkulasiku sudah rapi. Hanya perlu dipraktikan. Semudah itu.
"Al!  Lo harus tahu, gue dapat bunga!" beber Une dengan senyumnya yang tak biasa. Sebahagia itukah Une akan bunga mawar putih jelek ini? Aku memaksakan senyumku. Rasa gondok dan cemburu benar-benar merasuki jiwaku.
"Gue dua hari yang lalu dapat kiriman cokelat sama jam tangan. Udah tiga Ne, adek kelas yang ngajak gue pergi bareng," beberku tak mau kalah. Oke, Une lo mau main permainan ini? Baiklah...
Une menghiraukanku. Sial!
"Ah, lo emang playboy! Gue dong, seumur-umur sekolah, selain yang dulu, baru kali ini dapet bunga mawar putih lagi! You have no idea how vintage this flower is and how in love I am with vintage stuff!" seru Une sambil terus menciumi bunga yang kudoakan busuk itu. Ugh! Siapa sih, yang sudah berani mencuri langkahku?! 
"Mama juga biasanya ngasih lo hal yang lebih kuno, reaksi lo begini. Udah paham gue," aku menanggapi sesuai mood-ku yang mendadak rusak karena hal ini.
"Ih, lo susah banget bahagia buat gue!" protes Une akhirnya. Senang melihatnya berkata seperti itu. Sebentar lagi pasti ia akan menanyakan kemajuanku akan rencanaku untuk mengajak 'gadis' incaranku itu. Ia tidak tahu saja bahwa gadis itu adalah dirinya.
"Lo kapan ngasih bunga ke cewek lo itu? Masa penggemar gue lebih cepat selangkah dari lo?" ledek Une tak lepas dari mawar putihnya.
"Gue enggak mau keburu-buru. Semua sudah gue atur," ucapku singkat, sudah tak ada niat lagi membicarakan ini.
"Semangat, dong!" seru Une tak memberikan efek apapun pada feeling-ku saat ini. Aku hanya tersenyum kecut membuat Une sadar akan keganjilan dalam caraku merespon keceriaannya.
"Al, lo kenapa, sih? Perasaan ini jadwal gue kedatangan tamu bulanan, tapi kenapa lo yang super nge-down gitu?" tanya Une akhirnya meletakkan mawarnya di atas meja kantin tempat kami beristirahat saat ini sambil menunggu keempat kawan kami yang lain.
Aku menggeleng singkat dengan senyum, tak ingin merusak kebahagian Une meskipun rasa cemburu itu nyaris mengambil kewarasanku. "Enggak kenapa-napa. Gue kesel aja, dari tadi pagi, isi sekolah ini cuma bunga mawar dari yang warna merah asli sampe yang warna-warni plastik. Terus, bungkus cokelat bertaburan di mana-mana. Udah gitu, cowok bergitar manggung di sudut-sudut kelas ceweknya. Ih, banci banget."
Une mengerutkan keningnya. "Al, justru terkadang, hal-hal se-cheesy atau senorak atau sebanci itulah yang dicari cewek-cewek. Ya, gue sih, jauh lebih prefer hal yang sederhana. Tapi, naluri cewek emang selalu sekuat baja. Mau seberapa susah pun gue nahan gengsi gue buat senyum ketika diperlakukan sebanci yang lo bilang, tetap aja, hati gue enggak bisa nahan buat enggak berbunga-bunga."
Aku manggut-manggut. Jadi, haruskah aku nanti memakai cara sebanci dan seklise itu? Ne, gue aja enggak tahu lo bakal jawab apa. Dan sekarang lo bilang lo suka sama cara-cara itu? Perlukah gue menjadi pangeran kesepian merangkap banci? Ne, please, tell me you don't need another cheesy stuff like that! PLEASE! Aku membatin setengah ingin meneriakkan kata-kata itu pada Une.
"Jadi, gue harus memperlakukan cewek incaran gue itu kayak mereka-mereka? Duh, Ne, enggak bisa apa gue cuma sekadar bilang, 'Gue suka sama lo udah lama. Mau enggak lo jadi pacar gue? Terus, kita datang bareng ke pesta dansa itu?' atau 'Gue suka sama lo dari dulu, bahkan udah sayang banget sama lo. Dan gue harap lo mau nerima ajakan gue jadi pasangan gue ke pesta dansa itu sekaligus jadi pacar gue...'?" tanyaku pada Une. Une tersenyum penuh arti sambil memegang mawarnya lagi. NE, TOLONGLAH FOKUS KE GUE DULU! MAWAR LO ITU ENGGAK LEBIH PENTING DARI MASALAH YANG BAKAL GUE HADAPIN! teriakku dalam hati.
"Ya, kalau gue sih, fine-fine aja sama yang kayak gitu. Enggak tahu deh, doi lo," ucap Une simple, namun tak membantu. Ah, cewek ini...
Tak lama, Fian dan Rangga datang menghampiri meja kami. Baguslah, setidaknya Une tak akan semeriah tadi tentang bunga pemberian dari penggemar rahasianya itu.
"Fian, Rangga, lihat! Ada yang ngasih gue bunga! Kali ini, gue enggak akan kalah dari tantangan lo!" pamer Une sambil mengangkat-angkat mawar tadi. Demi Tuhan, aku ingin sekali merontoki seluruh kelopak mawar itu saat ini!
"Cie, udah enggak trauma lagi, nih," goda Rangga. Une tersenyum.
"Baguslah, Ne. Ada kemajuan. Emang inti dari tantangan ini tuh, kita harus berani mengungkapkan dan berani menerima," ucap Fian sok  bijak. Ya, Al, harus berani mengungkapkan dan berani menerima...menerima kenyataan kalau Une tak akan pernah membalas cinta lo.
Rangga mendatangi kios soto dan kulihat ia memesan semangkuk untuk mengisi perutnya. Fian hanya membeli sebotol minuman dingin dan roti. Dari gaya mereka, aku yakin kedua sohibku ini sudah berhasil mendapatkan pujaan hati mereka. Menyedihkan, Al, tinggal lo yang belum, batinku mengejek.
"Gimana, Al? Udah berhasil?" tanya Fian di sela-sela makannya.
"Udah. Tiga adek kelas ngajakin gue. Mana bisa gue 'iya'-in tiga-tiganya. Yang satu ternyata teman satu gengnya yang lain. Enggak enak juga ngerusak geng mereka," jawabku. "Yang baru aja ngajakin gue, sepupunya teman yang dua lagi. Lebih kasihan lagi kalau dia dimusuhin gara-gara gue terima."
Fian tertawa. "Ah, sayang sih, Une udah taken sebentar lagi."
"Maksud lo apa?" balasku agak kesal.
"Santai, Bro. Lo udah ada rencana mau ngajak seseorang, kan? Apa lo mau kalah gitu aja?" tanya Fian mengusikku.
"Udah. Sekitar dua kali 24 jam lagi, rencana gue akan gue laksanakan," jawabku singkat, namun berhasil menarik perhatian Une.
"Asik! Al akhirnya berani juga! Semangat!" seru Une.
***
"Asik! Al akhirnya berani juga! Semangat!" seruku pada Al sambil terus memegang mawar putih ini. Sejujurnya, mawar ini tak seindah itu. Aku hanya terpesona saja dengan pengirim rahasia bunga ini yang sampai detik ini belum juga menampakkan dirinya. Aku menatap Al. Beruntung sekali gadis itu, tapi dia juga egois. Al harusnya milikku. Seharusnya begitu...
Al hanya tersenyum padaku. Senyum itu. Sebentar lagi akan menjadi milik gadis itu. Al, siapa dia? Kamu tahu Al, aku belum ingin melihatmu melupakan janjimu waktu itu. Dan usahaku membalas sakit hati yang kamu buat mungkin sia-sia. Justru aku yang kini merasa lebih sakit dari sebelumnya.

Mendekati hari penting itu, Pesta Dansa XII yang menjadi tradisi sebelum kakak kelasku benar-benar serius menghadapi ujian, sekolahku semakin marak dengan hiasan berwarna merah jambu atau merah hati. Ditambah lagi, ini bulan Februari. Mengapa semua itu begitu bersamaan? Dan aku, layaknya ikut terinfeksi virus Februari, juga merasakan hal-hal aneh yang sebelumnya tak perna kurasakan. Aku semakin penasaran dengan penggemar rahasiaku itu. Setengah berharap, aku memikirkan Al dan gadisnya. Harusnya, hari ini ia merealisasikan rencananya.
"June, ini dari penggemar rahasia lo," ucap Anita tersenyum penuh arti sambil memberikanku sepucuk surat dengan kertas menguning yang berhasil menarik perhatianku. Aku tersenyum menerima surat itu.
Temui gue di halaman sekolah, kalau lo mau tahu siapa gue...
Sambil menerka-nerka dalam hati, aku melipat kembali sepucuk surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop seperti sedia kala. Anita menatapku dengan senyumnya. Aku membalasnya sambil agak salah tingkah.
"Al mau di kemana-in?" tanya Anita pura-pura tak bersalah.
"Apaan sih, Nit?" aku membalas malu-malu.
"Udah, disuruh ke halaman sekolah itu. Keburu dia tua, loh, June," ujar Anita mempersilakanku menghadapi penggemar rahaiaku. Aku berdiri dan berniat untuk menemuinya. Menemukan jati diri penggemar rahasiaku itu.
***
Ya, Al, ini saat yang tepat berhubung banyak yang sedang melakukan hal yang ingin lo lakukan. Ayo! Jangan sampai lo terlambat lagi mencuri hati Une. Ini sudah H-3 Pesta Dansa XII dan enggak bisa ada kata 'nanti' lagi.
Otakku berputar hebat dan jantungku berdetak kencang. Aqil dan Dadan yang menemaniku saat ini melihatku. Kringat dingin yang dari tadi mengucur di sekujur tubuhku tidak mengindahkan apapun. Aqil tertawa melihatku.
"Bro, gue yakin, siapapun tuh, cewek, pasti enggak bakal tega nolak lo. Ini udah H-3 mau pesta," ujar Aqil seraya menepuk-nepuk bahuku. "Kuat, Riz! Kuat!"
Aku menoyor kepalanya. "Lo sih, enak Qil, udah ada cewek. Gue? Udah nunggu lama, sampai sekarang belum tahu kepastian dari dia."
"Lebay banget lo, Jal! Lo siapin aja bunga mawar berapa tangkai, terus lo tembak. Selesai!" komentar Dadan santai. "Yakin deh, itu cewek bakal bilang 'mau'. Kalau dia nolak, lo tunjukin aja tuh, otot lo yang selalu lo banggakan. Enggak mungkin lagi dia nolak."
Aku menarik nafas frustasi karena saran dan perkataan teman-temanku barusan. Seandainya mereka tahu bahwa yang sedang ada di benakku saat ini adalah Une, cewek yang notabene paling woles sama urusan seperti ini. Paling tidak mau memikirkan hal-hal kayak gini. Tapi, tak ada salahnya saran Dadan soal bunga mawar dan ototku. Une sendiri pernah bilang aku terlihat gagah ketika memamerkan bisepku di hadapannya.
"Udah, buruan! Keburu diincer yang lain," ucap Aqil sambil menyenggol lenganku. Oke, dan jika aku gagal, Aqil-lah orang pertama yang akan kuapa-apakan.
Tak lama kemudian, aku pamit dari Aqil dan Dadan untuk bersemedi menunggu keberanianku datang. Berjalan tanpa kepastian memang bukan hal yang tepat di bulan Februari yang katanya bulan kasih sayang ini. Aku melihat sosok Esa yang sedang gelisah menunggu di depan kelas Nadine. Haha... Tak mungkin. Seberani itukah Esa karena cinta? Tapi, ia benar-benar akan melakukannya. Aku menghampirinya karena pensaran.
"Bro," sapaku diikuti tepukan pelan di pundaknya. Esa langsung terlihat seperti orang terkena serangan jantung. Separah inikah cinta merusak kestabilan mentalnya? Aku tertawa melihat reaksi Esa.
"Dasar lo, Al! Gue udah mau mati gini di depan kelas Nadine, lo malah ketawain!" protes Esa melayangkan tinjunya yang langsung kutepis. "Lah, lo enggak melakukan jurus lo ke Une?"
Dari mana Esa tahu?! "Kok, Une?" tanyaku agak kaget. Ralat, sangat kaget.
"Bro, lo enggak bisa bohongin gue. Gara-gara gue tahu rasanya suka sama orang, tepatnya Nadine, gue juga jadi belajar ngeliat orang lain ngerasa suka sama seseorang," jelas Esa agak lebih tenang dari sebelumnya. "Dan, dari gelagat lo, terlalu jelas kelihatan lo naksir Une."
Aku tertawa menyangkal kebenaran dari mulut Esa barusan. "Lo kebanyakan nonton film romantis. Udah, buruan itu si Nadine keburu ubanan!"
Esa menaikkan sebelah alisnya menatapku sebelum masuk ke kelas Nadine. Aku ikut masuk bersamanya, meminta seisi ruangan itu tenang.
"Woy, tolong diam sebentar, ya!" seruku saat sudah berada di depan papan tulis di dalam kelas Nadine. Semua pasang mata sekarang menatapku dan Esa. Mendadak wajah Esa terlihat khawatir. Orang ini, sudah tinggal mengucapkannya saja masih menahan diri. Aku menyenggol lengannya memberikannya sinyal untuk mengambil alih bicara.
"Iya, jadi, gue mau ngajak seorang cewek spesial dari kelas ini. Namanya, Nadine Alya Putri," ucap Esa lantang. Aku cukup terkesan pada keberaniannya di antara rasa khawatir dan gemetarnya. Setidaknya Esa lebih berani daripada aku. Bagus, kawan!
Nadine berdiri malu-malu sambil berjalan menghampiri Esa. "Lo ngapain, sih? Malu!"
"Udah, biarin dia ngomong dulu," ujarku.
"Nadine, lo mau enggak jadi pasangan gue ke Pesta Dansa XII sekaligus jadi pasangan gue seterusnya?" pinta Esa setelah ia menekuk lututnya di depan Nadine. Mual melihat ini, aku menjauh. Inikah yang harus aku lakukan untuk Une nanti?
"Iya, mau banget," jawab Nadine setelah beberapa detik bertingkah agak kaget, padahal aku yakin ia akan menjawab seperti itu.
Seisi kelas Nadine saat ini benar-benar serupa dengan pasar malam, ramai dan berisik. Aku memutuskan untuk keluar menjauh seraya berpikir apa niatku ini benar-benar akan berakhir manis seperti Esa. Setengah berlari  aku berusaha menemukan buket bunga yang dalam tradisi Februari di sekolahku selalu disediakan di beberapa sudut. Ketika menemukan satu, aku memasukkan donasi lima ribu rupiah untuk setangkai mawar berwarna putih. Sambil menatap bunga yang ada di genggamanku, aku menuju kantin untuk membeli sebatang cokelat mahal. Ya, tak akan kusia-siakan dua puluh ribu jajanku hanya untuk tak jadi menyatakan cinta. Akan lebih menyayat hati menghabiskan uang saku sebanyak itu untuk hal yang sia-sia. Kuingat lagi kapan terakhir aku melihat Une. Oh, ia sedang menuju halaman sekolah. Kuharap ia masih di sana...sendiri.
***
Aku berjalan hendak menemui penggemar rahasia yang jujur saja sudah berhasil meluluhkan hatiku. Sampai di tempat yang ia janjikan, aku melihat sesosok orang yang dari bentuk tubuhnya amat kukenal. Mungkinkah dia? Takut-takut, aku mendekatinya berharap dugaanku tak akan semengejutkan itu. Aku menepuk pundaknya sambil menahan rasa deg-degan itu.
"Lo?" tanyaku membuat orang itu menampakkan wajahnya.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos