Chapter 2
2.4 "I get butterflies just thinking about you, boy." -Ariana Grande.
"Sumpah demi apa lo sama Rizal jadian?!" seru Anita setibanya aku sampai di kelas. Anita menatap Al penuh tanya.
Yang ditatap hanya menyunggingkan senyumnya. Begitu juga aku. Rasa baru sejak kemarin kami memulai rahasia kecil ini. Aku semakin yakin bahwa aku benar-benar mencintai Al dan tidak ingin kehilangan dia.
"Kalau gitu, lo sama June duduk bareng. Gue ngalah deh, duduk sama penyamun gila Aqil dung pret itu demi kelanggengan lo berdua," ucap Anita heboh. "Silakan nikmati deh, momen indah ini. Akhirnya kalian jadian juga!"
Al tersenyum. "Thank you, Anita cantik. Lo sama Aqil tetap langgeng juga."
"Ya Allah Gusti Nu Agung, jangan diijabah, deh. Geli banget," ucap Anita.
Mendengar Al memanggil Anita cantik mulai memberikan efek samping bagiku. Ada rasa iri yang sempat terbesit di antara kehebohan Anita dan keusilan Al. Aku hanya bisa menahan diri dan menyadari dalam hati bahwa yang nyata adalah rahasia di balik sandiwara aku dan Al. Kami hanya memainkan peran.
"Kamu mau duduk di mana?" tanya Al padaku lembut membuat aku terkesiap. 'Kamu'? Dalam sejarah persahabatanku dengan Al, baru sekali ini saja ia memanggilku seperti itu. Dan aku tak menolaknya.
"Aku di sini aja. Enak dekat jendela," jawabku larut dalam sandiwara ini. Al tersenyum lembut.
Tak lama pelajaran pertama di mulai. Al sesekali mencuri pandang padaku dengan tatapan yang tak biasa. Merasa agak canggung, aku menundukkan kepala. Kami sudah tak bisa lagi seakrab dulu. Dan apakah hal-hal seperti ini yang akan terjadi jika sandiwara ini menjadi nyata?
"Jadi, lo bakal pergi bareng Rizal dong, ke Pesta Dansa?" tanya Anita di jam istirahat pertama.
"Iya," jawabku singkat.
"Dia nembaknya gimana?" tanya Anita sambil mencomot roti.
Aku terkesiap tak tahu harus menjawab apa. Al tak pernah benar-benar menyatakan cintanya. Ah, kenapa tak terpikir olehku soal pertanyaan ini?!
"Kamu makan dulu, Ne. Ini aku beliin bubur ayam sama teh kotak," ucap Al tiba-tiba memecah hening yang nyaris terlalu lama. "Tadi lo nanya apa, Nit?"
"Iya, makasih ya, Al. Kamu juga enggak makan?" tanyaku. Al menggeleng sambil tersenyum.
"Enggak. Gue kepo aja lo nembak June gimana," jawab Anita melanjutkan kunyahannya.
"Biasa aja. Gue enggak pakai cara aneh-aneh," jelas Al. "Cuma nyatain aja dan ternyata Une juga suka. Ya sudah..."
Anita manggut-manggut, namun di matanya terbesit rasa tak puas. Aku menyunggingkan senyum padanya dan Al, kemudian melanjutkan makanku.
Tak lama bel masuk kembali berdenting. Sebagian dari kami sudah berganti pakaian memakai seragam olahraga. Aku segera mengajak Anita untuk berganti baju seusai menyantap bubur ayam.
"Enggak habis, Al. Buat kamu aja," ucapku seraya mendorong sisa bubur ayam ke hadapan Al.
"Makanya kamu enggak gemuk-gemuk, makan aja susah," ledek Al sambil mengambil alih sendok makanku. Aku tersenyum dan langsung mengajak Anita untuk ikut berganti baju.
Guru olahraga kami sudah menunggu cukup lama di lapangan saat kami mulai berbondong-bondong menghampirinya. Tak seperti guru lain, Bapak yang satu ini sangat bertoleransi dan santai. Jadi, tak ada salahnya bagi hampir seluruh siswa yang didiknya menyayangi dirinya. Terlebih usianya yang masih 21 tahun dan wajah yang terbilang lumayan menarik perhatian dan menjadi daya pikat murid-murid wanitanya. Termasuk Anita dan aku. Hal ini kadang membuat Al, Aqil, dan sebagian teman laki-laki kami lainnya panas-dingin.
"Selamat pagi, semua!" sapa guru olahraga kami yang akrab dipanggil Coach.
"Pagi, Coach!" balas kami.
"Sebelum kita memulai pelajaran olahraga pada pagi menjelang siang ini, ada baiknya kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing," ujar Coach. "Berdoa...mulai."
Suasana hening mengisi rongga udara di antara 36 murid yang sedang berkumpul di lapangan ini. Setelah memanjatkan doa bersama, pelajaran pun dimulai. Entah mengapa, semesta seperti menginginkan aku dan Al untuk selalu berada dekat dengan satu sama lain. Seperti pembagian regu voli gabungan ini. Aku dan Al secara kebetulan bersatu dan berdiri di sisi lapangan yang sama. Sementara dengan Aqil maupun Anita atau pun Dadan, mereka bisa secara kebetulan juga berada di regu yang berbeda-beda.
"Ne, jodoh banget ya, mentang-mentang kita habis 'jadian'," ucap Al mengutip dengan jemarinya pada kata 'jadian'.
Aku menyunggingkan senyum. "Jangan ngarep. Nanti suka beneran."
Al terkekeh sambil mengacak-acaj rambutku. "Enggaklah, beb. Kamu duluan nanti yang naksir, loh."
Jantungku berdegup kencang, lebih kencang dari jantung seorang pelari handal setelah ia melakukan satu putaran. Panggilan manis ini adalah awal dari banyak panggilan-panggilan manis lainnya. Aku harus menyiapkan jiwa dan ragaku serta pikiranku agar tak pernah berharap banyak dari sandiwara ini.
"Enggak usah sok genit," ucapku. Dengan kamu memanggilku seperti itu, Al, jantungku langsung menyalahi aturannya.
Al mengedipkan sebelah matanya. Kemudian kembali mengacak poniku. Cowok ini!!!
Permainan voli dimulai. Sejauh ini timku tertinggal dua poin dari tim lawan. Dengan anak-anak yang seperti kami, Coach harus cukup bersabar. Bahkan permainan voli saja bisa membuat panggung lawak tersendiri jika kami yang bermain. Ditambah lagi dengan kehadiran Aqil dan Al yang notabene badut kelas.
"June, awas!" seru Aqil.
***
"June, awas!" seru Aqil meneriakkan nama Une. Aku melihat bola voli melambung tepat di atas Une. Yang dipanggil tak sepenuhnya sadar akan apa yang sebentar lagi menyentuh kepalanya. Tak mau melihatnya terluka, aku menyerahkan diri sebagai pelindungnya. Kututupi tubuh yang cenderung mungil ini sambil membiarkan punggungku terkena bola. Sakit. Namun, jika tadi tak kulindungi gadis ini, akan lebih sakit lagi efek yang dihasilkan bola tersebut.
"Al!" seru Une dari balik rangkulanku. Setengah kehilangan nafas aku tersenyum. Lalu, semua darah dalam tubuhku terasa menyusut hingga aku tak sadarkan diri. Hal terakhir yang kuingat adalah usahaku bernafas yang terasa teramat berat.
"Al," panggil suara lembut yang tak asing bagiku. Dua telapak tangan lembut menyentuh pipiku membuat mataku berusaha terbuka. Memar bola voli yang tadi melambung masih sangat nyeri di punggungku.
"Udah, enggak apa-apa," ujarku pada Une yang tampak khawatir. "Ne, enggak usah khawatir. Gue cuma kaget aja tadi."
Une menghembuskan nafas lega. Wajahnya menyunggingkan senyum dihiasi mata berkaca-kaca yang membuatku ingin tetap merangkulnya saat ini. Ia mencemaskanku.
Aku meraih wajahnya sambil meringis. "Une nangis?"
Yang ditanya memalingkan wajahnya, lalu menduduk. Aku tertawa renyah. Gadis ini...
"Lagian, lo sok pahlawan banget sih, ngelindungin gue tadi. Coba gue aja yang pingsan kan, enggak akan buat satu kelas jantungan," oceh Une menutupi rona merah di atas kedua pipinya. "Dan enggak akan ada yang khawatir, kan."
Aku mencoba menegakkan tubuhku. Kuacak-acak rambut gadis manis ini sambil tersenyum menyentuh pipinya.
"Une sayang, kan, kalau kamu yang pingsan, aku yang kasihan. Khawatir kayak orang galau," ucapku tulus membuat kedua pipi Une kembali memerah.
"Al, apaan sih, ah. Kalau enggak dilihat orang, enggak usah sok kayak orang pacaran," ucap Une menepis kedua telapak tanganku. "Geli."
Aku tertawa. "Aduh, Ne, sakit lagi. Aduh!"
Une langsung panik tak menentu sambil mengusap-usap punggungku. Aku tersenyum jahil padanya membuat ia justru menepuk pusat rasa sakitku lebih kencang. Kesakitan, aku meringus hebat.
"Jahat lo, Ne, sama pacar sendiri," godaku.
"Kalau enggak dilihat orang, lo kan, cuma sahabat terngeselin gue," balas Une. "Mau dibeliin apa, nih? Mumpung kantin sepi."
"Siomay aja, dong. Ini uangny--" ucapku namun dipotong Une.
"Al sayang, aku kan, pacar kamu yang perhatian dan murah hati, jadi aku aja yang beliin," balas Une membuatku tersenyum. Lagi-lagi, gadis ini...
Tak lama Une hilang menuju kantin. Beberapa saat kemudian, Anita datang menengokku. Ada rasa teramat bersalah yang tak bisa kujelaskan sepenuhnya pada Anita. Bukan apa-apa, ia baru saja menasehatiku tentang perasaanku sendiri dan di hadapannya juga, dengan begitu cepat aku sudah menjadi 'pacar' Une.
"Gue tahu, kok," ucap Anita tiba-tiba.
Aku menatapnya pura-pura bingung.
"Lo sama June," jawabnya. "Kalian enggak benar-benar pacaran. Lo belum jujur, kan?"
"Nit, enggak cukup apa stat--" protesku, lagi-lagi diselanya.
"Zal, cukuplah lo bohongi gue selama beberapa tahun terakhir. Gue geregetan sama lo, ya. Kemarin lo seakan-akan yakin banget bakal jujur," oceh Anita. "Nyatanya, lo malah semakin pengecut dan malah lo mempermainkan perasaan menyedihkan lo itu dengan cara aneh kayak gini."
Aku menarik nafas. "Anita, lo dengar gue. Kali ini, dengan cara gue sendiri, gue akan jujur. Gue janji."
"Dan itu kapan?" tanya Anita penuh kesal.
"Enggak sekarang, tapi gue janji sama lo dan diri gue sendiri dan Une, gue bakal jujur. Gue janji," beberku. "Dan gue bukan orang yang melalaikan janji gue."
Aku menatap Anita sungguh-sungguh dan menarik bahunya.
"Gue janji," ucapku sekali lagi belum melepaskan tanganku.
"Al, domp--" Une membuka pintu dan memergokiku sedang berbicara pada Anita begitu dekatnya. "Ganggu, ya?"
***
Aku menyadari keteledoranku meninggalkan dompet bersama Al di UKS. Setengah berlari, aku kembali menuju ruangan tersebut.
"Al, domp--" aku membuka pintu dan mendapati Al sedang berbincang begitu dekatnya dengan Anita. Ada rasa aneh yang mulai menggerogoti hatiku. Susah payah aku menepis perasaan itu.
"Ganggu, ya?" tanyaku takut-takut, namun sarat akan kekesalan. Apa-apaan, Al? Katanya di depan semua orang ia adalah pacarku, bukan lagi sahabatku. Mana etiketnya?! Berduaan dengan Anita.
"Eh, Une. Enggak kok, gue tadi cuma nengokin Al aja," ucap Anita melepaskan tangan Al dari bahunya. "Udah sadar ternyata dia. Ya sudah, gue tinggal, deh."
"Enggak apa-apa. Lanjutin aja. Gue cuma mau ambil dompet gue. Tadi ketinggalan," jelasku sambil mengambil benda yang kucari dari dekat Al terduduk. Aku menghindari tatapannya untuk menyembunyikan rasa aneh ini. Aku cemburu.
"Enggak usah. Gue juga mau balik lagi ke kelas, kok," ucap Anita. Al masih belum bersuara.
Aku tersenyum padanya sebelum ia meninggalkan ruangan. Tak memedulikan orang satunya lagi, aku bergegas mengikuti langkah Anita. Yang tersindir dengan gerak-gerikku pun akhirnya menghela nafas.
"Ne," panggilnya.
"Hmm?" balasku singkat sambil pura-pura memeriksa isi dompetku.
"Sumpah, tadi gue enggak ngapa-ngapain sama Anita," ucap Al.
Aku memaksa untuk tertawa. "Lah, lo mau ngapa-ngapain juga, Al, gue enggak masalah. Kita juga kan, pura-pura pacaran. Apa hak gue? Baguslah sahabat gue ternyata naksirnya sama Anita. Bukan yang lain. Kan, gue enggak perlu kepo."
Al bangkit dari duduknya dan menarik pergelangan tanganku. "Yakin?"
"Iya. Udah ah, gue mau ke kantin dulu. Lo mau gue beliin makanan, kan?" tanyaku. Al tersenyum dan mengangguk.
Kemudian aku pergi menuju kantin. Pikiranku lagi-lagi harus dihadapkan dengan kenyataan pahit itu. Iya, aku dan Al kan, hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Untuk apa pula aku merasa cemburu jika Al menyukai Anita dan Anita-lah gadisnya selama ini? Lagian juga, Anita teman yang cukup baik dan perhatian meskipun kadang dia bisa menjadi sangat menyebalkan dengan praduga-praduga anehnya. Tapi, di balik status yang kini kupegang bersama Al, ada rahasia lain yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku benar-benar menyukai Al. Bukan untuk bersandiwara semata. Dan menyaksikannya bersama Anita tadi adalah seribu dari sejuta hal yang bisa membuatku semakin harus menahan sakit ini. Ya Tuhan, mengapa aku jadi bingung seperti ini?
"Ow!" seruku saat seseorang menabrakku.
"Eh, maaf-maaf. Gue enggak lihat," ucapnya. "Une?"
"Zeus," ucapku singkat. "Enggak apa-apa. Sakit dikit aja tadi gue keinjak."
"Kok, tumben sendirian? Enggak sama sahabat kamu itu?" tanya Zeus.
"Al? Dia di UKS. Tadi kegebok bola voli sampai enggak bisa nafas gara-gara ngelindungin gue," jawabku. "Ini mau beliin dia makanan. Gue duluan, ya."
Aku melanjutkan langkahku, namun tangan Zeua sudah melingkari pergelanganku.
"Soal Pesta Dansa, Ne," ucapnya. "Gue mau menunggu. Tapi, acaranya besok malam. Jadi, gue pergi sama sahabat gue. Kamu bisa kok, pergi sama sahabatmu itu. But, kamu ingat, seusai Pesta Dansa, gue masih menunggu jawabanmu."
Aku menarik nafas dan mengangguk. Mengapa sebatas permohonan maaf saja sampai terasa seperti teror? Zeus, seandainya masih ada jatah maafku untukmu. Namun, rasa sakit itu butuh waktu untuk terobati.
"Lama banget, Ne," tegur Al saat aku kembali dengan sebungkus siomay pesanannya.
"Udah syukur dibeliin," balasku kesal. "Makasih, kek."
"Makasih beb Une unyu-unyuku," ucap Al sambil menarik hidungku dengan jemarinya. Aku menepis tangannya.
"Sakit tahu!" gerutuku.
"Lo enggak jajan?" tanya Al. Aku menggeleng.
"Kenyang di jalan gue," jawabku. "Tadi ketemu Zeus."
Kulihat rahang Al mengeras. "Ngapain lagi dia?"
"Ngajakin pacaran," jawabku asal menambah ketegangan pada wajah Al. Aku menahan senyumku.
"Terus, lo jawab apa?" tanya Al menunda makannya.
"Ya gitu," jawabku abu-abu. Kemudian, aku melepas tawa yang tertahan.
"Oh, jadi lo gitu, Ne?" balas Al geram.
"Ya, gue bercanda, Al sayang," godaku. "Mana mungkin sih, gue balikan sama Zeus?"
Al menghembuskan nafas lega. "Kirain..."
"Cieeeeee..." godaku.
"Siapa yang cemburu?!" tanya Al retoris. Aku tersenyum sambil menikmati momen ini. Al masih mengkhawatirkanku.
"Siapa bilang lo cemburu?" balasku lebih bermaksud.
"Tapi, enggak ada masalah juga gue cemburu," tangkis Al. "Sekarang kan, Une pacar Al. Wajar aja dong, pacar Une enggak suka cowok lain dekat-dekat sama Une-nya."
Aku meninju lengannya. "Jangan keenakan. Nanti suka beneran malah ribet."
Al kembali mengacak-acak poniku. Kebiasaannya yang semakin hari semakin menarik hatiku.
"Jangan berdoa untuk diri sendiri gitu," balas Al membuatku mati kutu.
Aku merasa panas di pipiku akibat perkataan Al. Al hanya tersenyum jahil kemudian melanjutkan makannya.
Sepulang sekolah, Al mengajakku ke tempat tinjunya. Katanya, ia ingin memproklamirkan status baru kami. Aku hanya tertawa menanggapinya. Serupa dengan Anita tadi pagi, mereka pun terkaget. Sebagian malah berlagak kecewa karena telat mendahului Al. Lagi-lagi, aku hanya bisa tertawa.
"Al, punggung lo biru gitu," ucap salah seorang teman Al yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Tadi kegebok bola voli," beber Al.
"Jagoan," puji temannya itu sinis.
"Iyalah. Demi cewek gue," ucap Al sambil menoleh ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dalam hati, aku mengutuk perbuatan Al yang membuat degup jantungku semakin jadi.
Seusai sesi tinju Al, ia mengajakku mencari gaun untuk acara besok malam. Acara Pesta Dansa XII yang akan menjadi panggung unjuk gigi aku dan Al. Acara dimana teman-teman kami akan tahu status kami ini yang nyatanya adalah sandiwara biasa.
Memasuki sebuah toko pakaian pesta, aku dan Al setengah bergidik. Aku penyuka dunia mode, namun kelap-kelip gaun dan perhiasan ini menyilaukan mataku. Bukan jenis mode seperti ini yang kugemari. Namun, jenis yang kasual dan lebih sederhana.
"Al, emang lo udah punya jas?" tanyaku sambil menyentuh bahan gaun selutut yang menyambutku di depan pintu masuk.
"Belum. Makanya, gue sekalian mau nyari," jawab Al.
"Kenapa enggak pinjam ayah lo?" tanyaku bingung.
"Papa? Mana ada Papa nyimpen jas di rumah. Semua jasnya kan, diasingkan di kantor," beber Al. "Lagian, bisep gue enggak muat kalau dibalut sama jas Papa. Bakal kelihatan sempit gitu."
Aku menggeleng. "Sok kekar banget sih, lo."
"Emang iya," jawab Al sambil mengedipkan sebelah mata. Aku menamparnya pelan.
Aku mulai memilih beberapa gaun yang sekiranya cocok dengan seleraku. Al menyuruhku mencoba setiap pilihanku. Keusilannya tak pernah surut. Perintahnya ini akan dengan cepat membuatku letih. Namun aku tetap mengerjakannya.
Kumulai dengan gaun panjang tanpa lengan yang berwarna putih gading. Aku mematut di depan kaca kamar coba. Tak lama, aku keluar untuk menanyakan saran Al. Al menggeleng. Aku kembali masuk dan mulai menyortir beberapa gaun lagi yang agak serupa dengan gaun itu. Langkah pintarku untuk mempersingkat pengepasan ini.
Kemudian, aku kembali ke dalam kamar pas. Sisa pilihanku hanya tinggal tiga jenis. Dua di antaranya hampir satu tipe. Alhasil aku memisahkan satu yang serupa dengan yang lain itu. Kucoba gaun berwarna peach dengan renda emas di ujung-ujung jaitannya. Gaun ini manis, namun akan sangat sulit untuk Al mencari padanan yang dapat melengkapinya. Tanpa pikir panjang, aku keluar untuk bertanya pada Al. Al berpikir sejenak lalu menggeleng tak setuju. Aku menghela nafas kecewa. Padahal, gaun ini manis, sederhana, dan elegan. Aku tak mengerti.
Gaun terakhir. Warna yang paling Al tidak suka, violet. Kata Al, warna ini menyeramkan. Namun, hanya untuk kesenanganku, aku tetap keluar meminta sarannya. Kontan, Al menyuruhku menggantinya.
"Gue yang nyari. Gimana?" tanya Al. Tahu apa Al tentang gaun wanita? Tanpa perlu mendengar jawabanku, Al sudah meleburkan diri menuju rak gaun wanita.
Lima menit berlalu, Al kembali dengan gaun berwarna selai kacang dengan ornamen mawar-mawar putih gading di ujung bawah gaun yang menjuntai selutut ini. Di tangan kirinya ada tali pinggang berwarna senada dengan ornamen mawar itu.
"Coba," ujar Al sambil menyuguhkan gaun itu padaku. Aku mengambilnya takut-takut. Gaun ini indah.
Aku masuk kembali ke kamar pas membawa pilihan Al barusan. Bahan gaun ini begitu lembut. Desainnya juga sederhana, namun elegan. Warnanya...seperti selai kacang. Warna favoritku. Dan mawar putih kecil yang bertabur di ujung gaun ini. Al, apa lagi yang akan kau lakukan? Ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku jatuh cinta semakin dalam padamu.
Aku mulai memasangkan gaun ini di tubuhku. Hanya perlu satu ukuran di bawah ini, maka gaun ini sempurna membalut tubuh mungilku. Selesai mematut pantulan sosokku di cermin, aku keluar untuk menunjukkannya pada Al.
"Gimana?" tanyaku takut-takut.
Al menganga. Reaksi yang tak berani kuharapkan, namun saat ini terjadi.
"Ngomong, dong," ucapku berusaha menahan degup jantungku dan rona merah yang kuyakin muncul di atas kedua pipiku.
"Ne..." ucap Al singkat.
"Jelek, ya?" tanyaku langsung. "Kegedean. Masih harus satu ukuran di bawah ini."
"Lo anggun banget pakai gaun ini. Dan gue lagi enggak bercanda," aku Al membuat jantungku semakin tak berfungsi normal. "Gue bakal minta sama Mbaknya, supaya harus dapat yang seukuran sama badan lo. Bentar, ya."
Kemudian, aku ditinggal tanpa pertanyaan apapun. Aku menghembuskan nafas lega. Degup jantungku masih belum normal hingga saat pegawai toko ini memberiku gaun sejenis yang lebih kecil.
"Cantik banget pacarnya, Mas," puji pegawai tersebut sambil menepuk lengan Al. "Cocok sama Mas."
Al tertawa. "Dia sahabat saya, Mbak. Bukan pacar."
"Iya, Mbak. Kita cuma sahabat," tambahku diikuti seulas senyum. Jantungku kembali normal seketika. Ternyata, kenyataan memang lebih pahit dari harapan dan cinta.
Seusai mencarikan gaunku, kali ini giliranku membantu Al memilih setelan tuksedonya. Al mewajibkan warna yang harus serasi dengan gaunku tadi. Oke, putih gading dengan warna selai kacang. Ini akan sangat mudah.
Al memasrahkan segalanya padaku. Ia percaya bahwa kemampuanku dan kegemaranku akan dunia mode akan berhasil untuk membantunya memilihkan tuksedo.
"Nih, silakan dicoba. Gue cuma yakin sama yang ini aja," ucapku membawakan hanya satu setel tuksedo.
Al tersenyum. "Lo emang pintar banget soal baju, ya."
Aku tersenyum mendengar komentar Al. Al pun masuk ke kamar pas pria.
Aku menunggunya selama kurang lebih sepuluh menit. Begitu Al keluar, aku langsung menyunggingkan senyum puas. Otot Al terbalut rapi dan gagah dengan jas berwarna putih gading. Kemeja berwarna selai kacang yang hampir mirip dengan warna gaunku terpasang rapi di tubuhnya. Aku memakaikan tambah dasi kupu-kupu berwarna senada dengan jasnya di leher Al. Jarak yang nyaris habis di antara kami membuat hembusan nafas Al begitu hangat terasa menyentuh kulit wajahku.
"Dan lo kece banget, Al," ucapku jujur setelah selesai memakaikan dasi kupu-kupu tadi.
"Loh, katanya bukan pacar, Mbak. Tapi kok, pakaiannya serasi gitu?" tanya pegawai yang sebelumnya melayani kami tadi.
"Buat acara sekolah, Mbak," jawabku. "Jadi, kami tuh, salah satu pasangan gitu. Tapi bukan pacaran. Harus serasi biar bagus."
Pegawai tersebut manggut-manggut. Al tertawa renyah. Aku menyuruhnya membayar belanja kami ini. Cukup mahal memang, namun inilah kali pertama aku dan Al benar-benar membeli sesuatu yang sangat serasi. Kuganti uang Al yang keluar cukup banyak dengan uang pemberian Bunda. Al menolaknya.
"Anggap aja, ini kado dari gue," pinta Al. "Udah lama kan, gue enggak ngasih lo kado?"
"Enggak, ah. Ini mahal banget, Al. Gue juga udah dititipin Bunda uang," ujarku. "Enggak mau. Pokoknya kalau lo enggak mau terima, gue kasih ke nyokap lo."
Al tersenyum. "Mama juga enggak akan mau nerima. Yakin sama gue."
Aku menghela nafas. "Pokoknya, lain kali, gue yang wajib beliin lo sesuatu semahal ini."
Al mengangkat bahunya lalu merangkulku. "Anggap aja, lo hari ini beneran jadi pacar gue. Jadi, semua gue yang bayar."
Aku menoleh ke arah Al tak mengerti. "Ngarep banget."
Al pun tersenyum simpul.
0 comments:
Post a Comment