Wednesday, February 12, 2014

A Sampai Z, Kita Punya Cerita (13)

Posted by Unknown
Chapter 2

2.5 "God damn, you're beautiful to me." -Chester See.


Aku mengajaknya pergi ke sebuah toko pakaian pesta yang menjadi salah satu tempat langganan Mama. Sejak mencetuskan ide gila itu, aku susah berhenti memikirkannya. Terus menerus aku menerka dan berpikir akan jadi seperti itukah aku dan Une nanti. Apa cerita antara Al dan Une akan menjadi seindah ide gila ini? Aku mengacuhkan pertanyaan itu dan mengajak Une masuk ke toko serba gemerlap ini. Sudah kuniatkan dalam hati, berapa pun nanti biaya yang harus kukeluarkan demi sebuah gaun untuk Une, aku rela. Aku ingin melihatnya terbalut gaun yang teramat cantik agar ia sadar bahwa ia gadis yang jelita.
"Al, emang lo udah punya jas?" tanya Une memecah serabut-serabut rumit di benakku.
"Belum. Makanya gue sekalian mau nyari," jawabku.
"Kenapa enggak pinjam punya ayah lo?" tanyanya lagi.
"Papa? Mana ada Papa nyimpen jas di rumah. Semua jasnya kan, diasingkan di kantor," jelasku. "Lagian, bisep gue enggak muat kalau dibalut sama jas Papa. Bakal kelihatan sempit gitu."
"Sok kekar banget sih, lo," Une menggeleng.
"Emang iya," jawabku sambil mengedipkan sebelah mata padanya. Une membalasku dengan satu tamparan pelan di pipiku.
Tak lama, Une pun terlarut dalam dunianya dan kegemaran akan mode. Aku mengasingkan diri ke bagian laki-laki untuk mencari tuksedo yang sekiranya akan senada dengan gaun yang nantinya dipakai Une. Selera dan keterampilanku akan mode sangat rendah. Jangan salahkan aku, DNA-ku masih sepenuhnya membentuk otak laki-laki. Memang seharusnya tak pandai untuk memilah atau pun memilih pakaian mana yang cocok buatku. Yang penting nyaman. Mulai menyerah, aku akhirnya menunggu Une selesai mengambil beberapa opsi untuk dicoba. Aku menyuruhnya pergi ke kamar pas wanita untuk benar-benar memakai satu per satu gaun pilihannya. Kejahilanku padanya tak akan pernah surut seberapa besar pun aku menyukainya. Melihatnya kesal denganku adalah satu dari banyak kebahagian sederhana. Namun, kepintaran Une untuk mengakali akal-akalanku melebihi dugaanku. Disortirnya beberapa gaun di dalam kamar pas sana hingga aku hanya melihat empat jenis.
Une keluar dari bilik kecil itu memakai sebuah gaun panjang tanpa lengan berwarna putih gading. Melihatnya mengubah penampilannya secepat dan secantik itu mengagetkanku. Namun, aku menggeleng tidak setuju pada pilihan pertama Une. Gaun ini elegan di tubuhnya, namun begitu melampaui wajahnya yang muda. Une kembali masuk ke dalam kamar pas dan beberapa saat kemudian keluar memakai gaun yang berbeda.
Kali ini, balutan warna peach dengan hiasan emas di ujung-ujung jaitannya. Aku berpikir sejenak akan gaun ini. Manis sekali Une. Sejujurnya, gaun apa pun yang dipakainya tak akan pernah membuat Une tak lebih cantik dari dirinya saat ini. Akhirnya, aku menggeleng dan menyuruh Une kembali mencoba yang lain.
Tak lama, Une keluar memakai gaun berwarna violet. Warna paling menyeramkan yang tidak pernah kusukai. Aku selalu memprotes Mama jikalau ia memakai warna serupa. Dan kali ini, cengiran sok polos hadir di wajah Une selagi memaksaku menilai gaun jelek yang dipakainya itu. Kesal, aku mengambil alih pilihannya.
"Gue yang nyari. Gimana?" tanyaku. Une tak menjawab dan kuambil reaksi itu sebagai tanda setuju. Segera aku berkeliling toko ini.
Apa yang Une suka? Warna selai kacang, sesuatu yang oldish, dan mawar putih. Tiga petunjuk sederhana, namun akan menjadi sangat membingungkan jika dihadapkan padaku dan dunia mode. Tapi, aku tetap berusaha mencari setidaknya yang menurutku cocok dengan tiga petunjuk itu. Dan... Tuhan memang Maha Penolong. Aku melihatnya. Gaun berwarna cokelat mirip warna selai kacang dengan hiasan mawar putih kecil yang bertabur di bagian bawah gaun itu serta seikat tali pinggang berwarna serupa dengan mawar putih kecil itu menghiasi seluruh bentuk gaunnya yang menggantung di ujung rak. Tanpa pikir panjang, aku mengambil gaun itu dan membawakannya pada Une.
"Coba," ujarku seraya menyerahkan baik ikat pinggang dan gaun itu pada Une. Mata dan wajahnya berbinar melihat pilihanku barusan. Ada rasa puas yang menyelimuti seluruh tubuhku memerhatikan reaksi Une barusan.
Une kembali masuk ke kamar pas. Kali ini, ia menghabiskan waktu lumayan lama di dalam sana hingga membuatku nyaris mati karena bosan dan penasaran. Dan ketika aku hampir benar-benar merasakan bosan yang memuncak, Une keluar. Seperti adegan slow motion di dalam film-film romantis, aku pun merasakan hal yang serupa. Une keluar dengan anggunnya dalam balutan kain berwarna selai kacang itu. Tuhan, gadis ini begitu cantik...
"Gimana?" tanyanya dengan kedua alis bertaut. Aku terlalu terpesona sampai tak bisa memberikan komentar apa pun. Ne, you're gorgeous and I'm now the luckiest guy to ever live on Earth.
"Ngomong, dong," ucap Une sekali lagi kali ini dengan tatapan takut-takut.
"Ne..." balasku gantung tak tahu harus berkata apa.
"Jelek, ya?" tanyanya sambil menunduk. "Kegedean. Masih harus satu ukuran di bawah ini."
"Lo anggun banget pakai gaun ini. Dan gue lagi enggak bercanda," akuku tanpa memedulikan degup jantungku yang semakin menjadi. "Gue bakal minta sama Mbaknya, supaya harus dapat yang seukuran sama badan lo. Bentar, ya."
Tak peduli akan jawaban apa yang keluar dari mulut Une, aku langsung bergegas mencari pegawai toko ini dan memintanya mencarikan ukuran yang lebih kecil. Setengah tak sabar, aku berseru dalam hati. Selamanya tak akan pernah gue lupakan momen ini. Une...
"Buat siapa sih, Mas? Pacarnya tadi?" tanya Mbak pegawai yang sedang melayani permintaanku.
"Hmm..." jawabku. "Bukan pacar saya, Mbak."
Lawan bicaraku mengangguk penuh maksud. Aku hanya bisa mengaminkan pertanyaannya tadi dan berharap permainanku dengan Une akan status kami berakhir seindah pertanyaan dari pegawai toko ini.
Setelah menunggu sang pegawai mencarikan apa yang kuminta, ia pun menemukannya. Kami kembali pada Une. Aku benar-benar handal dalam menyembunyikan rasa bahagiaku melihat dan menunggu Une barusan. Ah, dan sekarang aku semakin tak sabar membawanya ke Pesta Dansa XII besok malam...
"Cantik banget pacarnya, Mas," ucap si pegawai mengulanginya lagi dan membuatku semakin semangat mengaminkan perkataannya. "Cocok sama Mas."
Aku memaksakan tawa. "Dia sahabat saya, Mbak. Bukan pacar."
"Iya, Mbak. Kita cuma sahabat," ulang Une membawa pahit tersendiri ke kedua gendang telingaku. Suatu saat, Ne, kita tak akan lagi menjawab seperti ini melainkan mengiyakan ucapan Mbak ini. Gue janji...
Setelah mendapatkan gaun untuk Une, kini gilirannya membantuku memilihkan tuksedo yang senada. Aku memintanya, tepatnya memaksanya untuk mencarikan setelan yang harus dan wajib serasi dengan gaunnya. Tanpa protes, aku menyerahkan segala pilihan di atas tangan Une. Ya, aku percaya pada kemampuan Une akan mode.
Une kembali padaku beberapa saat setelah berkeliling mengitari bagian pakaian pria toko ini. Ia membawa satu setel tuksedo berwarna putih gading dan satu lipas kemeja berwarna agak mirip dengan gaunnya. Gadis ini memang tak pernah membuatku tak tersenyum.
"Nih, silakan dicoba. Gue cuma yakin sama yang ini aja," ucap Une sambil menyodorkan tuksedo pilihannya padaku.
Aku tersenyum puas. "Lo emang pintar banget soal baju, ya."
Aku melihat sebuah senyum terlampir di atas wajahnya. Segera aku masuk ke dalam kamar pas dan mencoba pakaian ini. Entah mengapa, pilihan Une begitu nyaman dan sesuai dengan yang kumau. Kupakai kemeja berwarna selai kacang tadi dan kutata rapi. Lalu, kukenakan jas berwarna putih gading di atas kemeja itu. Aku menyisir rambutku agar tampak lebih keren, meskipun aku tahu itu tak perlu karena sesungguhnya aku sudah keren. Oke, mungkin aku terlalu percaya diri. Aku membetulkan kerah jas ini sambil menatap pantulan diriku di cermin. Ya, tinggal gel rambut, setangkai mawar putih, dasi, dan Une. Kami pun akan terlihat benar-benar seperti sepasang kekasih. Aku mengaminkannya. Kemudian, aku berdoa pada Tuhan Yang Mahakuasa agar ketika aku keluar dari bilik kecil ini, Une akan melayangkan pujian yang serupa padaku.
"Ya Allah, semoga ia menyukainya," pintaku dengan suara berbisik. "Amin."
Aku pun keluar untuk memperlihatkan bagaimana sempurnanya tuksedo ini membalut tubuhku. Une tersenyum dan mendekat kepadaku untuk memakaikan dasi kupu-kupu berwarna putih gading. Perlakuannya yang menghabiskan banyak jarak di antara kami membuatku gugup, namun bahagia di waktu yang sama. Ia memasangkan dasi itu begitu dekat di hadapanku. Nafasku mengacak-acak poninya dan nafasnya menyentuh leherku mengirimkan rasa hangat yang ingin selamanya kunikmati. Tanpa sadar, aku hampir melingkarkan lenganku di belakang tubuh Une. Namun, kuurungkan niatku saat ia sudah selesai memakaikan dasi itu.
"Dan lo kece banget, Al," ucapnya. Tuhan, selamanya aku berterimakasih kepadamu...
"Loh, katanya bukan pacar. Tapi kok, pakaiannya serasi gitu?" tanya Mbak yang tadi melayaniku.
"Buat acara sekolah, Mbak," jawab Une. "Jadi, kami tuh, salah satu pasangan gitu. Tapi bukan pacaran. Harus serasi biar bagus."
Aku tertawa renyah seraya Mbak pegawai itu mengangguk-angguk frustasi. Iya, Mbak, gue juga frustasi harus menelan kenyataan sepahit itu. Mending lo, Mbak, baru sekali ketemu kita. Gue udah empat tahun mendampingi cewek ini dan sampai sekarang status gue sama dia masih 'sahabat'. Frustasi! Membuyarkan caci makiku, Une mengajakku membayar semua ini. Benar saja, mahal memang. Namun, ini demi Une dan apapun yang terjadi, Une tak boleh mengeluarkan uang sepeser pun. Kami berdebat hebat setelah keluar dari toko ini. Une memaksaku menerima uang gantinya.
"Anggap aja, ini kado dari gue," ujarku. "Udah lama kan, gue enggak ngasih lo kado?"
"Enggak, ah. Ini mahal banget, Al. Gue juga udah dititipin Bunda uang," protesnya. "Enggak mau. Pokoknya kalau lo enggak mau terima, gue kasih ke nyokap lo."
Aku tersenyum. "Mama juga enggak akan mau nerima. Yakin sama gue."
Une menghembuskan nafas pasrah. "Pokoknya, lain kali, gue yang wajib beliin lo sesuatu semahal ini."
Aku mengangkat kedua bahuku tanda tak setuju, lalu merangkulnya. "Anggap aja, lo hari ini beneran jadi pacar gue. Jadi, semua gue yang bayar."
Ya, Ne, hari ini saja lo bisa menjadi pacar gue kalau lo enggak bisa menjalankannya untuk beberapa tahun ke depan. Hari ini lo adalah permaisuri gue dan hari ini, Ne, lo bakal gue manjakan dengan berbagai macam hal. Dan ketika nanti realita ingin mengganggu, gue rela akan melepas semua keindahan itu.
Une menoleh ke arahku. "Ngarep banget."
Aku tersenyum padanya dan memperat rangkulanku. "Ya sudah. Jarang-jarang loh, Ne, lo pacaran sama orang keren kayak gue."
Kali ini Une menamparku pelan. "Bakal semakin jarang lagi gue rasa, Al."
Aku menghembuskan nafas kecewa. "Oke. Sekarang, lo mau jalan ke mana lagi?"
"Makan, yuk! Gue yang bayar," ajaknya. Aku menggeleng.
"Hari ini, berhubung ceritanya kita baru 'jadian', sebagai 'pacar' yang baik hati dan tidak sombong, gue yang bakal membelikan lo segala hal yang lo mau," ucapku. "Dan lo enggak boleh protes."
"Idih, apaan, sih. Lo tuh, udah terlalu baik, Al. Uang bensin aja belum gue kasih-kasih, kan? Ini mau nraktir lagi," bantah Une. "Pokoknya, gue yang bakal bayarin makan. Habis itu enggak ada belanja apa-apa lagi. Enggak enak sama nyokap lo."
Aku membungkam Une dengan sebelah tanganku. "Baby, nurut aja sama gue. Hari ini aja, Ne. Gue mohon."
Une menghembuskan nafas pasrah sambil berusaha melepaskan diri dari bungkamanku. "Hari ini aja, ya?"
"Sama besok?" pancingku langsung mendapat gelengan hebat dari Une seraya melepaskan bungkamanku tadi. "Besok kan, pestanya. Jadi, mau enggak mau besok juga, Ne."
Une menggeram. "Fine! Selain hari ini dan besok, enggak ada gitu-gituan lagi. Oke?"
Aku terkekeh dan menyengir seperti anak kecil. "Oke, Une-ku sayang yang cantik jelita."
Une meraup wajahku dengan telapak tangannya dan mendorongku menjauh. Kemudian, ia berlari meninggalkanku membuatku mau tak mau harus mengejarnya. Beberapa pasang mata memerhatikan kami sambil tersenyum. Kami hanya sahabat, Tuan dan Nyonya. Tak lebih...

"Saya pesan salmon steak, tapi gravy-nya dipisah ya, Mbak," pinta Une pada pelayan yang sedang mencatat pesanan kami.
"Saya chicken steak aja. Gravy-nya enggak usah dipisah," kini giliranku yang memesan. Si pelayan mengangguk-angguk.
"Minumnya?" tanya pelayan tersebut.
"Iced capuccino, Mbak," jawabku. "Ne?"
"Hot milk-tea," jawab Une.
Setelah mengulangi pesanan kami, si pelayan meminta kami menunggu sepuluh sampai lima belas menit. Aku melihat ponselku sebelum membuka obrolan dengan Une. Mama mengirim pesan ingin menyusulku di sini. Aku segera membalasnya dan mengiyakan. Setelah membalas pesan Mama, aku menatap Une.
"Kenapa lo?" tanyanya.
"Mama mau ke sini," jawabku. Une mengangguk-angguk.
"Besok pasti sekolah berisik bange, deh. Bakal makin banyak tuh, hiasan merah hati dan perintil-perintilannya," ucap Une.
Aku terkekeh. "Lo aneh tahu, Ne. Segitu cintanya sama mode, yang jelas-jelas dunia cewek banget. Tapi, enggak suka sama hal-hal yang semeriah merah hati. Perasaan lo kan, waktu itu bilang masih demen yang begitu-begitu."
"Ya, kalau yang batas sweet, gue masih toleransi. Kalau sampai ada yang heboh teriak-teriak..." aku Une. "Geli tahu."
Aku kembali terkekeh. "Emang dulu pas pacaran sama Zeus, enggak pernah lo heboh salting gitu?"
Une menarik nafas panjang dan membuangnya. "Pernah, sih. Gue dikasih boneka sama banyak lagi. Tapi, udah gitu aja. Ya, the fact kalau gue pacaran sama anak yang dibanggain satu sekolahan aja udah bikin gue panas-dingin dulu. Jadi, itu kebahagiaan sederhana sebelum semuanya dirusak sama dia sendiri."
"Masih lo simpan?" tanyaku.
"Bonekanya masih, tapi enggak gue letakkin di kamar. Alergi," beber Une. Aku tersenyum lega.
"Lo beneran belum move on dari Zeus?" tanyaku lagi.
"Udah, kok," jawab Une. "Kan, udah 'pacaran' sama lo, Al."
Une tersenyum usil membuatku ingin mengacak-acak rambutnya. "Oh, iya."
"Al, lo kok, enggak pernah gue lihat pacaran sama cewek?" tanya Une mengalihkan pembicaraan.
Aku menarik nafas. "Ada satu cewek, Ne, yang dari dulu enggak pernah berhasil gue pacarin. Dan berhubung gue orangnya susah banget suka sama orang atau ngerasa nyaman, ya sudah, gue nungguin dia mulu. Makanya, lo enggak pernah lihat gue pacaran."
Une mengangguk-angguk sok mengerti. Seandainya aku bisa semudah itu mengatakan gadis itu adalah dirinya. Ah, sudahlah nyatanya Al, lo berhasil kok, menjadi pacar pura-puranya Une. Mungkin sejauh itu saja yang bisa kutapaki dalam sejarah mengejar perasaan Une.
"Sumpah ya, kalau orang bilang kita pacaran, gue kadang geli sendiri," komentar Une. Aku menautkan alisku.
"Kok?" tanyaku singkat.
"Iyalah. Perasaan kita mesra aja enggak, udah dibilang pacaran," jawab Une. Aku tersenyum.
"Mungkin orang-orang bilang kita pacaran gara-gara lo kalau natap gue suka berharap gitu," godaku.
"Idih, Al, jangan menyedihkan gitu, ah," balas Une. "Lo kali tuh, suka banget ngegodain gue, ngacak-ngacak rambut gue sampai gue gedeg sendiri."
Aku tertawa. "Lagian, itu poni lo dipelihara sampai mirip rambut gitu. Mana tambah cokelat aja rambut lo. Gue kan, gemes."
"Iya, gue imut sih, makanya lo gemes," ucap Une asal. Aku meraih rambutnya dan mengacak-acaknya.
"Terlalu percaya diri tuh, enggak baik," ujarku.
"Mulai kan, ah! Al, berantakan ini jadinya!" seru Une kesal sambil memukul-mukul tanganku. Aku pun menghentikannya.
"Besok Ne, lo harus dandan biar cantik. Masa gue udah ganteng, lo masih aja tetep kayak gini penampilannya?" ledekku.
Une tersenyum. "Gue janji sama lo, ya. Besok gue bakal make over parah biar nanti lo menelan ledekan lo sendiri. Terus, nanti gue datang ke pestanya sama lo, tapi pulang sama kakak kelas ganteng yang kecantol sama gue. Biarin aja, besok gue pokoknya mau jadi cewek cantik."
Aku tertawa mendengar ucapan Une. Setidaknya, ia akan berdandan dan berhias diri. Meskipun, tanpa riasan apapun gadis ini sudah sangat menarik dan lebih dari cantik bagiku. Apalagi nanti jika sudah dibumbui berbagai macam bedak dan perlengkapan rias wanita lainnya.
"Assalamu'alaikum, Tuan dan Nona," sapa Mama di antara tawaku.
"Wa'alaikumsalam, Tante," jawab Une sambil menyambut tangan Mama dan menciumnya.
"Wa'alaikumsalam, Mamaku nan cantik," balasku.
"Kalian duduk berdua, dong. Masa jadi Mama yang duduk di samping Une?" ujar Mama. Une menurut dan pindah ke sampingku.
"Ma, kata Une, besok dia mau di-make up supercantik," beberku. "Mama aja nanti yang rias Une, ya? Mama kan, jago."
Une melotot ke arahku dan memukul lenganku. "Idih, apaan sih, Al?! Enggak usah, Tante. Sumpah, aku dandan sendiri aja."
"Oh, enggak apa-apa, Ne. Besok sore, sebelum kalian berangkat, Mama bakal ke rumah Une buat dandanin Une," ujar Mama dengan senyumnya yang tulus. "Sekalian mau ngobrol sama Mama kamu juga, Ne."
Une tersenyum segan. "Yah, aku enggak bisa nolak kalau udah gini."
Aku tersenyum simpul menatap kedua wanita ini. Kedua wanita yang mendapat dan memegang hatiku.
Tak lama, pesanan kami datang dan Mama pun menyusul untuk memesan pada pelayan setelah itu. Aku dan Une menikmati sesi makan ini sambil berbincang-bincang. Bahagia itu sederhana...

Hari Pesta Dansa XII sudah di sini. Sekolah bagaikan pasar dengan segala ornamen merah hati yang menjijikkan. Kata-kata romantis menghias hampir seluruh dinding sekolah kami yang aslinya melapuk. Ruang aula sudah disterilkan dan semua dekorasi sudah nyaris rampung dan menyilaukan mata. Mereka yang bernasib malang tanpa pasangan akan berbondong-bondong pergi bersama teman sebangku atau paling tidak pacar mereka yang berbeda sekolah. Dugaan Une tepat, sekolah ramai. Bahkan, Anita pun heboh dengan prihal gaunnya dan riasannya. Sesuai tradisi, seisi sekolah dipulangkan lebih awal. Sengaja aku mengantarkan Une dengan mobil hari ini agar dapat membawa Mama sekaligus sebelum benar-benar memulangkannya ke rumahnya bersama Mama.
"Al jemput jam setengah 6, ya," ucapku saat menurunkan mereka di depan rumah Une. Une tersenyum, begitu juga Mama. Aku pun melaju pulang.
Papa, yang tak biasanya berada di rumah, kini menantiku dengan tuksedo pilihan Une kemarin. Mau apa Papa?
"Ini jasnya?" tanya Papa saat aku keluar dari mobil. Aku mengangguk.
"Papa ngambil dari mana?" tanyaku bingung.
"Ada di atas tempat tidur kamu," jawab Papa. "Pasti Une yang milih, kan?"
Aku tersenyum. "Ya, kalau Al yang milih, jatuhnya jadi nabrak, Pa. Al kan, mana ngerti fashion-fashion gitu."
Papa tertawa. "Papa udah siapin gel rambut sama tadi Mama udah nitip Papa belikan kamu mawar putih, kan? Udah ada semua di kamar kamu. Terus, kamu jangan pakai mobil butut itu. Pakai mobil kantor Papa aja."
"Serius, Pa?" tanyaku takjub. Papa tersenyum simpul. Aku bergegas ke kamarku dan bersiap-siap.
Sebelumnya, aku mandi terlebih dahulu. Kemudian, baru semua kerumitan dimulai. Ini seperti adegan film romantis di mana tokoh prianya akan mengajak kencan pacarnya untuk pertama kali. Semua harus sempurna dan sophisticated. Aku menyemprotkan parfum pria mahal yang jarang sekali kupakai ke seluruh tubuhku. Kemudian, kukenakan kemejaku dan melihat diriku sendiri di cermin. Kebiasaan pria adalah selalu memuji dirinya sendiri keren.
"Lo keren banget, Al," ucapku pada diriku di dalam cermin. Kemudian, aku mengencangkan bisepku.
Kulanjutkan sesi berpakaianku. Aku mengambil jas berwarna putih gading yang tadi dibawakan Papa dan memakainya. Aku mengencangkan bagian kerahnya dan mengancingkannya. Kuusap seluruh bagian depan jas. Jam mahal punyaku yang dihadiahkan Papa saat ia pulang dari dinasnya dulu kulingkarkan di pergelangan tangan kiriku. Kemudian, aku menyisir rambutku yang sebenarnya lebih baik ditinggalkan berantakan seperti tadi agar terlihat seksi. Kuusapkan gel rambut dari Papa dan membuat rambutku lebih mudah diatur. Kumasukkan ponselku ke dalam saku jasku. Sisanya hanya sepasang sepatu pantofel cokelat. Aku memakainya dan sempurna.
Tak disangka, waktu sudah lewat hampir dua jam hanya dengan berdandan serapi ini. Kubayangkan Une dan Mama yang sibuk di rumahnya sana. Kuharap Une akan tampil seelegan yang kuharapkan. Ma, do your magic to my princess...

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos