Tuesday, November 22, 2011

Unspoken Chemistry (Part 4)

Posted by Unknown
Satu tahun pertama di Australia...

Nick menyusuri lorong tempat kelasnya berada. Di tengah jalan, ia berhenti dan menyapa gadis yang sudah tiga bulan menjadi pacarnya. Meskipun sudah punya pacar, Nick masih lebih menyayangi dan mencintai Natalie yang entah bagaimana kabarnya. Nick jadi seketika lost-contact dengan Natalie saat sudah dua bulan berada di Australia.
"There's something I need to tell you, Nick," ucap gadis baru milik Nick yang bernama Nayla.
"What is it?" tanya Nick sambil merapikan barang-barangnya yang baru saja dia tuangkan ke dalam tasnya.
"I.. I think we can't go no longer than this. I feel like there's no chemistry at all in our relationship," jelas Nayla lembut. "I hope you understand, Nick. We can still be friends, though."
Nick tersenyum. Sudah lama ia ingin mendengar hal ini dari gadis ini, karena ia tidak pernah berani menyakiti perasaan seorang wanita sampai membuat wanita itu nangis. Hanya setahun yang lalu saja, ia berhasil membuat Natalie menangis dan sesungguhnya, ia sangat menyesal.
"I thought I was the only one who thinks that our relationship... you know..." Nick tersenyum dan memeluk Nayla. "But, it was fun."
Nayla membalas perkataan Nick dengan senyum.

###
Dua tahun di Australia. Nick pulang....

"Naura, kamu nanti sekolahnya bareng Kak Nick, ya.. Jangan nakal-nakal," pesan Mama Naura pada anaknya.
Keluarga Naura adalah keluarga yang setelah dua tahun ini menjadi teman baik keluarga Nick. Nick sendiri senang mempunyai dan mengenal orang-orang seperti mereka. Naura, yang dua tahun lebih muda dari Nick dipercayakan pada Nick oleh orangtuanya. Naura akan bersekolah di SMA yang sama dengan Nick.

Sampai di Indonesia lagi, Nick beserta keluarganya dan Naura langsung menuju rumah. Mereka semua jet-lag dan pegal-pegal karena kelamaan duduk. Naura yang dari awal perjalanan asyik bercanda dengan Nick seakan-akan tidak menghiraukan rasa letihnya. Bahkan, ia sempat semangat sekali menyambut suasana Indonesia. Nick senang melihat calon adik kelasnya menyukai suasana Indonesia.

###

Beberapa minggu setelah mengurus data-data sekolah dan daftar ulang, Nick dan Naura diperbolehkan masuk sebagai murid baru. Di sekolah, banyak sekali orang yang menyambut Nick dengan senang. Nathan bersama band-nya menyambut Nick dengan bahagia dan semangat. Karena mereka akan mendapatkan personil lama mereka yang kali ini sudah lebih handal. Selain itu, Natalie belum terlihat pagi ini.
"Than, lu sama Natalie masih jalan?" tanya Nick iseng.
"Alhamdulillah masih. Elo gimana? Sama cewek yang tadi, ya?" goda Nathan.
Nick tertawa kecil. "Congrats, bro. Gue lagi sendiri. Barusan putus..."
"Aseeek... Pasti sama cewek Australia, ya? PJ-nya tuh, seharusnya dikirim," balas Nathan dengan tawanya yang lepas.
"Hahaha... Bisa aja," ucap Nick singkat.
Beberapa saat kemudian, Nick melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Natalie berdiri di antara kerumunan anak-anak cewek di kelasnya. Gadis ini terlihat lebih cantik dari yang dudlu di mata Nick. Dua tahun sudah ia meninggalkan gadis ini dan melewatkan banyak perubahan dari Natalie. Natalie terlihat lebih jangkung. Wajahnya memancarkan cahaya kedewasaan dan kini rambutnya semakin kecokelatan.
"Nat, ada Nick, tuh," tegur salah satu gadis yang sedang berbincang dengan Natalie.
Natalie membalik badan dan melihat sosok Nick. Sejuta rasa menghujam tubuh dan batinnya. Senang, bahagia, haru, tidak percaya, marah, tapi yang paling bisa ia rasakan adalah sesuatu yang kali ini sudah terlengkapi lagi. Yang selama dua tahun lalu sempat kosong dan tidak bisa digantikan, sekarang terisi lagi. Seperti di film-film, Natalie berjalan mendekati Nick dan menyapanya.
"Hey, Nick!" sapa Natalie ramah. "Apa kabar?"
"Hey, Nat!" jawab Nick ragu-ragu. Gadis ini sudah lebih berani. "Gue... baik-baik aja sekarang."
Natalie diam. Nick pun diam. Ada satu jarak yang sangat jauh yang terdapat di antara keduanya. Tapi, di lain sisi, ada satu buah kelengkapan yang saling terpancar di kedua mata dan hati mereka.
"Lo mau duduk dimana?" tanya Natalie. Satu lagi hal yang disadari Nick; sahabatnya yang dulu penggemar berat kata aku-kamu, sudah bertransformasi.
"Yang kosong dimana?" tanya Nick balik sambil agak tersenyum.
"Sebelah gue kosong. Nathan nggak sekelas sama gue soalnya," jawab Natalie enteng.
"Ya udah," jawab Nick mengikuti langkah Natalie.
Suasana di antara mereka berdua kembali hening dan canggung. Nick ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini sudah ia pendam. Namun, melihat kondisi hati Nick dan suasana yang sedang diberikan Natalie, Nick mengurungkan niatnya.


###


Istirahat pertama, kelas ramai dengan obrolan mayoritas cewek. Yang cowok-cowok malah asyik main bola di lapangan utama. Nick menyendiri dan memandang setiap sudut ruangan yang saat ini sedang ia tempati. Beda. Dua tahun itu waktu yang cukup lama untuk mengubah segalanya. Dari mulai benda-benda sampai seseorang. Dua tahun waktu yang cukup tepat untuk mengubah suasana hati dan hubungan. Nick sadar, Natalie sudah bukan Natalie yang dulu sering bermain bersamanya dan mencurahkan segala isi hatinya di malam hari sebelum tidur. Natalie sudah punya orang lain.
Natalie sendiri sedang menyendiri di perpus. Nathan dari tadi mencoba menghubunginya dan tidak digubris. Bagi Natalie, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk tumbuh dewasa dan bergerak maju. Dua tahun adalah jarak yang pas untuk ditebarkan di antara dua manusia untuk saling mengerti diri masing-masing dulu. Selama dua tahun, secara perlahan-lahan, Natalie mengerti dirinya bukan milik Nathan. Perasaannya berubah. Dia masih bingung, tapi dia tahu dia sudah sadar akan perubahan itu. Dia mencoba menjauh, tapi perasaan tidak dapat diatur. Mereka semakin mendekat, sementara Natalie sendiri semakin mencoba untuk menghindar. Namun, Natalie sadar, dua tahun itu terlalu lama dan sudah cukup untuk jadi penyeselan saja.


"Nick, I need your help," pinta Naura yang tiba-tiba muncul di depan pintu kelas Nick.
Nick langsung sigap menghampiri Naura dan membantu gadis itu. "What's wrong?"
"I couldn't understand any of the lesson. I'm so frustrated," jawab Naura dengan wajah yang sangat frustasi.
Nick menarik lengan gadis itu dan mengajaknya duduk. "Calm down. Everything's gonna be easy. If none of the lessons make sense, just tell me. I'll teach you when we get home. Okay? Try asking in Indonesian. You're gonna be fine."
Naura menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menghapus rasa frustasinya. Nick yang iba melihat gadis mungil itu merangkulnya. "Don't cry. You're a big girl, Naura. You can do it just fine."
Naura tersenyum dan pamit balik ke kelasnya.
Sementara itu, di dekat ambang pintu, tepat sebelum benar-benar memasuki ruangan, Natalie memerhatikan gerakan manis yang baru saja dilakukan Nick untuk seorang gadis kecil. Gerakan itu seakan menusuk lubuk hati Natalie tepat di bagian tengah dan berhasil memecahkan hatinya yang baru saja pulih dan terlengkapi. Semua itu emang udah terlambat buat gue... batin Natalie menyesal.
Natalie berlari menuju perpustakaan sekolah dan berdiam disana sampai bel masuk berbunyi. Nathan menemukan gadisnya dan berbicara padanya.
"Ada apa, sih?" tanya Nathan hati-hati.
"Aku mau ngomong sama kamu, Than," ucap Natalie membuat hati Nathan gusar. Nathan mengubah posisi duduknya dan menatap gadis di hadapannya sedalam-dalamnya. "Aku rasa... kita udah nggak cocok lagi, Than."
Nathan terkesiap. "Kenapa?"
"Aku rasa aku jahat setiap ada di dekat kamu. Aku cuma sandiwara. Pura-pura senyum. Mungkin, di awal-awal, semua itu tulus. Tapi, setelah beberapa bulan terakhir ini, aku tau aku sebenernya nggak mencintai dan suka sama kamu secara tulus. Aku jahat sama kamu, Than," ucap Natalie berusaha keras menahan isak tangisnya sendiri.
Nathan menarik nafas. "Aku juga udah sadar, kok, Nat. Kamu emang akhir-akhir ini agak beda. Dan, nyatanya, aku juga udah ngerasa lebih baik kita udahan. Kamu perlu waktu buat jadi dirimu sendiri dan aku juga perlu waktu buat nenangin diri. Kalo ini emang yang terbaik, Nat, aku mau kok, jadi temen kamu. Sekedar teman."
Natalie tersenyum dan refleks memeluk Nathan. "Makasih, kamu udah ngertiin aku selama ini. Makasih udah mau jadi pengisi hari-hari aku pas Nick lagi nggak ada. You're gonna be one of those sweet memories that'll be remembered. Makasih ya, Than."
Nathan membalas pelukan itu dan menatap Natalie dengan serius. "It's never too late to confess. I know you think that it's too late. But, he's still waiting. He's waiting for the perfect time, perfect place, and perfect girl. It could be you. And you're waiting too. Just show your love and I believe, he'll notice you."
"Kamu ngomong apa, sih? Masa iya.. Udah, ah. Mending, kita balik ke kelas aja," ujar Natalie sambil salting.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos