Friday, November 18, 2011

Unspoken Chemistry (Part 2)

Posted by Unknown
Esoknya, Natalie tiba di sekolah sedikit lebih pagi dari biasanya. Soalnya, hari ini adalah hari dimana orkestra sekolah akan mengadakan semacam konser mini. Natalie butuh banyak waktu buat bersiap-siap. Begitu juga dengan Nick. Cowok yang aslinya jorok, males, dan gila itu jadi seketika bersih, rapi, dan kelihatan dewasa dengan setelan kemeja kotak-kotak hitam-putih dengan daleman kaos putih bertuliskan "LADIES LOVE ME", jeans hitam dengan sepatu converse hitam-putih-abu-abu, serta dog-tag dan gelang-gelang cowok yang melingkar di beberapa bagian tubuhnya. Hari ini, sekolah mereka akan mengadakan acara mini konser khusus untuk mengapresiasikan musik.

Di ruang make-up, Natalie berganti baju menggunakan gaun putih sepaha dan celana legging hitam serta sejenis wedges berhak cokelat dengan motif strip putih di atas warna dasar hitam. Rambut Natalie dikepang samping dan telinganya dipasangi anting putih. Tak lupa, wajah Natalie yang putih dan berpostur tulang simetris dihiasi dengan blush berwarna merah muda dan lipstick berwarna soft pink dengan lipgloss-nya. Natalie yang postur tubuhnya sepantaran dengan postur tubuh model, biasa menarik perhatian, terutama perhatian-perhatian dari cowok.

Selesai dirias, semuanya berlatih untuk yang terakhir kali tanpa ada cacat sedikitpun. Natalie beserta teman-teman biola 1-nya bermain sebagai intro pada bagian pertamanya, lalu, sebagian dari biola 1 ada yang dipecah menjadi 1-a dan 1-b. Natalie ada di kelompok 1-b yang akan membedakan suara latar musik menjadi sedikit lebih mengayun dan lantang.


Di sisi ruang latihan lainnya, mata Nick tidak henti-hentinya memerhatikan ketukan-ketukan drum yang harus ia mainkan beberapa saat nanti. Ada sedikit perasaan deg-degan alias panik di dalam diri Nick.


###


"Baby, it's not just you... You know it hurts me too.. Watching you leave, with tears on your sleeve.. Notice that mine aren't exactly dry..." sang vokalis band bernyanyi dengan merdunya. Membuat 3/4 cewek di ruangan meleleh seketika.
Natalie menyaksikan pertunjukan itu masih dari ruang latihan yang ada di belakang panggung. Ia terpana dengan penampilan sang vokalis. Setelah lagu selesai, Natalie senyam-senyum sendiri kayak orang gila. Dilihatnya cewek-cewek lain juga kayak gitu, jadi dia PEDE aja.


Ruang latihan dibuka oleh Nick. Sesaat, ia mengamati seisi ruangan sebelum akhirnya mendapati dirinya diberikan tepuk tangan meriah dari anak-anak orkestra. Tetapi, sampai sekarang, Nick masih mencari sosok Natalie. Kenapa dia? tanya Nick dalam hati.


KREEEEEK!... Pintu dibuka oleh Natalie. Nick memutar kepalanya dan melihat sosok Natalie yang sudah dirias dan dihiasi banyak macam dandanan. Seketika, Nick merasa aneh dan tidak mengenali sosok yang ada di hadapan matanya. Tapi, setelah beberapa saat, dia sadar dari perasaan terpesonanya pada Natalie.


"Good job, Nick!" ucap Natalie sambil merangkul sahabat baiknya.
Nick agak sedikit kaget tiba-tiba dirangkul sahabatnya. Ada rasa yang nggak biasa dirasakannya selama ini saat berdekatan dengan Natalie. "Ma-makasih, ya, Nat." Balas Nick dengan satu pelukan hangat.
"Kamu mainnya bagus banget. Semangat, ekspresif, terus tuh, beat-nya dapet!" puji Natalie berapi-api. "Pokoknya, band-nya keren, deh."
Nick tersenyum dan sedikit merona, tapi tidak terlihat. "Thanks, Nat. Berlebihan banget. Elo tampil kapan?"
"Ntar lagi. Pakaianku jelek banget, ya?" tanya Natalie sedikit agak risih dengan pakaiannya.
"Nggak, kok. Nggak. Elo kelihatan cantik. Pake banget. Nggak boong, deh," jawab Nick 75% dari hati. Cantik banget sampe-sampe gue lupa kalo gue itu sahabat elo... sambung Nick dalam hati.
Natalie tersenyum. "Kamu kan, sahabat aku. Makanya kamu bilang gitu."
"Nggak. Coba tanya aja Nathan, Liam, sama Kevin. Pasti mereka bilang yang sama," ujar Nick merasa agak diremehkan sebagai sahabat.
"Haha... Aku percaya, kok," jawab Natalie sambil menggandeng sahabatnya itu.


Penampilan Natalie bersama anak-anak orkestra malam ini menutup acara dengan sempurna. Semua berjalan lancar dan semuanya menikmati. Waktu sudah mulai malam dan Natalie lupa bilang bahwa ia bakal pulang jam segini. Alhasil, Nick mengantarkan Natalie dengan mobilnya.


"Nathan baik, ya?" tanya Natalie tiba-tiba saat Nick dan dirinya sedang berada di dalam mobil.
Nick agak sedikit terkejut. "Nathan? Menurut gue sih, emang dia baik banget sama banyak orang."
Natalie tersenyum. "Pinter nyanyi, bisa main gitar, ganteng, baik. Kurang apa coba?" Natalie bergumam dan bertanya lebih kepada diri sendiri.
Lampu lalu lintas berubah merah. Nick menatap Natalie dari sudut matanya. "Lo.. suka sama dia?"
"Nggak. Kagum aja," jawab Natalie jujur. "Oh, iya.. Nick, ada salam dari Lea. Dia bilang, kamu main drumnya keren banget."
"Oh. Makasih," jawab Nick agak sedikit lesu.


Sampai di depan rumah Natalie, Nick memberhentikan mobil dan membukakan pintu layaknya pria gentle. Natalie agak terkesima dengan ke-gentle-an Nick. Pipinya agak sedikit merona.
"Thanks ya, Nick," ucap Natalie.
"Sama-sama. Lain kali, teleponnya diisi dulu batrainya supaya nggak repot," ujar Nick lembut. "Night!"
"Night!" balas Natalie sambil tersenyum malu.


###


Setelah melakukan rutinitas malam, Nick berbaring di atas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar. Sejuta pertanyaan dan rasa bercampur aduk dan tertuang dalam ruang kosong yang sedang ditatapnya.
Kenapa hari ini Natalie cantik banget? Kenapa hari ini gue jadi  gak jelas? Kok, rasanya beda ya, kalo deket-deket Natalie? Terus, gue jadi rada aneh pas dia bilang dia kagum sama Nathan... Ah.. Paling cuma aneh sesaat aja. Besok juga udah nggak. Kalo keterusan, tinggal bilang ke Natalie, gue butuh waktu buat sendirian. Hmm... Gue pinter juga...
Kalimat-kalimat itu datang menghampiri benak Nick seraya ia memutar kejadian-kejadian hari ini. Lama-kelamaan, matanya sudah tidak kuat menahan kantuk dan akhirnya ia pergi ke alam mimpi.


Di lain tempat, Natalie membuka isi tas kecilnya yang tadi ia bawa seharian. Hari ini, ia mendapatkan nomor Nathan. Dia sudah berkenalan dengan Nathan beberapa saat sebelum pulang tadi. Nathan terlihat sangat mempesona dan terlihat banget bad-boy yang gentle di wajahnya. Natalie nggak bisa dibilang cuma kagum. Dia beneran naksir!


'Hey! Ini aku Natalie...' Natalie mengetik sms-nya, lalu mengirimkannya. Tidak sampai lima menit, datang balasan dari Nathan.
'Hey, Nat! Salam kenal! Kangen ya, sama gue?'
'Hahaha... Nggak, kok. Ngetes aja ini bener nomor kamu apa nggak.' Kirim.
'Iyalah... Kalo bukan, nomor siapa lagi ini?... Lagi apa, Nat?'
'Lagi bersihin make-up. Kamu?' Kirim.
'Lagi main-main gitar. Bosen banget, Nat. Hmm.. ada ide buat bikin lagu?'
'Hmm.. apa ya? Kamu lagi ngerasain apa? Happy? Sad? Galau? Anything?' Kirim.
'Lagi seneng... soalnya, tadi sukses penampilannya. :)'
Natalie tersenyum sendiri dari tadi. Lalu, "Halo?"
"Hey... Kirain udah ketiduran. Ternyata lanjut di telepon. Ada ide apa, nih?" tanya Nathan di seberang sana.
"Kamu pernah suka atau kagum atau naksir seseorang?" tanya Natalie hati-hati.
"Dulu? Belum. Sekarang? Barusan aja, gue yakin gue kagum sama seseorang," jawab Nathan rada-rada buat Natalie salting.
Natalie menarik nafas. "Buat lagu tentang dia aja. Terus, kalo suatu hari kamu mau nyatain perasaan kamu, kasih lagu itu ke dia atau nyanyiin. Siapa tau, perasaan kamu dibales."
Nathan diam dan ber-Hmmm ria. "Bagus juga, tuh. Oke, deh. Makasih ya, Nat. Have a nice sleep. Jangan lupa do'a sebelum tidur."
"Oke, deh. Sama-sama. You too," ujar Natalie sebelum ia mengakhiri panggilan.
Panggilan berakhir. Natalie memeluk ponselnya dan menghempaskan badan di atas ranjang. Setelah sekian menit tersenyum bahagia, Natalie tertidur.


###


Dua hari setelah itu, Natalie berangkat sekolah bersama Nick. Tadinya, Nathan sudah memvoluntirkan diri untuk jadi sopir pribadi Natalie, tapi Natalie menolak. Hubungan Nathan dan Natalie sudah lebih dari sekedar teman baik, tapi belum sampai pacaran. Sementara itu, Nick dan Natalie sendiri agak sedikit menjauh dari satu sama lain.
"Ntar, pulang mau gue anter apa pulang sama Nathan?" tanya Nick hati-hati sebelum Natalie keluar dari mobilnya.
"Nanti aku kasih tau," jawab Natalie diikuti senyumnya. Nick membalas senyum manis gadis itu.
Palingan elo nanti pulang bareng si Nathan... Loh? Kok, gue jadi sinis, sih? batin Nick. Sesaat Natalie sudah mulai menjauh dari mobil Nick. "NATALIE!"
"Ya?"
"Hati-hati!"
Natalie tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Nick pergi ke tempat parkir. Ia memarkirkan mobilnya dan menuju kelas sesegera mungkin.


###


"Boleh duduk disini?" tanya Nathan saat melihat meja kantin tempat Natalie duduk sedang tidak ada orangnya.
Natalie tersenyum dan mempersilakan Nathan duduk dengan senyuman dan anggukan.
"Nggak makan, Nat?" tanya Nathan.
"Lagi nggak laper," jawab Natalie datar. "Kamu sendiri?"
"Gue mau pesen. Tapi, nggak enak masa gue makan elo ngeliatin gue makan?" pancing Nathan ramah.
Natalie tersenyum. "Yaudah, aku pesen juga, deh."
Kemudian, Natalie dan Nathan memesan makanan mereka masing-masing. Setelah ibu-ibu kantin balik ke tempat ia memasak, Natalie berdiam lagi. Nathan agak sedikit heran dengan sikap Natalie.
"Lagi sakit ya, Nat?" tanya Nathan sambil menatap lurus ke Natalie.
Natalie memutar arah kepalanya. "Nggak. Nathan, kalo nge-PHP-in orang itu rasanya gimana, ya?"
Nathan agak sedikit kaget. "PHP? Hmm... Yang jelas, orang itu bakal nggak ngerasa atau bahkan sengaja. Tapi, tergantung dari sisi mana kita ngeliatnya. Kalo kita ngeliat dari sisi si korban, mungkin kita bakal berpikir pelakunya itu nggak tau diri. Tapi, kalo kita liat dari sisi alasan si pelaku berbuat seperti itu, kita bakal tau alasan aslinya dan kita bakal bisa menilai lebih jelas."
"Oh... Eh, makanannya udah dateng," ujar Natalie sedikit lebih bersemangat.


Di sisi lain ruangan, Nick memerhatikan sahabatnya, Natalie dan teman satu band-nya Nathan sedang asyik berbincang-bincang. Ada sedikit rasa tidak enak dan sesak di dadanya saat melihat senyum Natalie merekah dari sudut ke sudut. Nick langsung terdiam dan meneruskan pekerjaannya.


Setelah usai makan siang, semua anak mendapat sisa waktu 10 menit untuk melakukan apapun sebelum bel masuk berbunyi. Nick menghampiri Natalie.
"Nat, elo suka sama Nathan, ya?" tanya Nick dengan lembut dan berhati-hati.
"Hah? Err... Nggak tau, deh," jawab Natalie labil.
"Jujur aja. Gue kan, teman baik elo," bujuk Nick.
"Kalo iya, kenapa?" tanya Natalie sedikit agak terbuka.
Nick agak sedikit kaget. "Nggak. Lebih baik lo terus terang, Nat. Daripada ntar elo jadi PHP-nya dia dan dia nge-PHP-in elo. Mending elo terus terang."
"Kamu kok, tiba-tiba nanya kayak gini?"
"Gue nggak mau aja dua temen baik gue sama-sama sakit hati nantinya kalo nggak ada yang berani jujur."
"Makasih ya, Nick," ucap Natalie sambil memeluk Nick. "Sekarang, elo tau jawaban yang tepat atas pertanyaan kita 10 tahun yang lalu. Ternyata, gue bakal jatuh cinta lebih duluan daripada elo."
Nick tersenyum pahit mendengar kata-kata itu. Dia cemburu...

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos