"Natalie!" panggil Nathan saat Natalie hendak berjalan keluar sekolah.
"Ya, Nathan?" balas Natalie.
"Pulang bareng, yuk!" ajak Nathan.
"Emangnya, rumah kita searah?" tanya Natalie.
"Nggak, sih. Tapi, gue pengen tau rumah elo yang mana," jawab Nathan ngeles.
"Oke, deh," jawab Natalie.
Di perjalanan ke rumah Natalie, Nathan berbincang-bincang tentang banyak hal dengan gadis itu. Mobil Nathan yang tadinya hanya diiringi musik saja, jadi agak sedikit ramai karena perbincangan Nathan dengan Natalie.
Sesampainya di depan rumah Natalie, setelah sekitar satu setengah jam menempuh macat, mereka berdiam diri di dalam mobil dengan perasaan canggung. Nathan tersenyum memerhatikan Natalie.
"Nat..."
"Ya?"
"Gue... Gue.. Gue suka sama elo. Elo mau jadi pacar gue, gak?" tanya Nathan hati-hati dan tergagap-gagap.
Natalie kaget, tapi justru senang sekali mendengar pengakuan Nathan. "Aku kasih jawabannya besok pagi ya, Nathan. Makasih udah dianterin pulang."
"Sama-sama, Nat," jawab Nathan ramah.
Malamnya, Natalie memberitahu Nick tentang kejadian itu lewat sms. Nick, di lain tempat, merasa tertusuk tepat di tengah-tengah bagian lubuk hatinya. Natalie salah. Ternyata, setelah selama ini, Nick adalah orang pertama di dalam persahabatan Nick-Natalie yang jatuh cinta. Nick jatuh cinta pada Natalie. Tapi, sayangnya, Nathan, teman baik Nick yang lain, lebih dulu membuat sebuah aksi kecil yang berdampak besar. Natalie sendiri merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, ia tidak ambil pusing.
"Jadi, Nick, menurut kamu, aku terima atau kutolak, ya?" tanya Natalie bimbang.
Nick menarik nafas diam-diam berusaha melawan pedihnya rasa sakit di hatinya. "Ikutin kata hati kamu, Nat. Nathan itu cowok baik, ramah, dan idaman banyak cewek. Jadi, elo bisa sekalian berterimakasih pada Tuhan YME sudah diberikan karunia kayak Nathan. Dilain sisi, mungkin elo beprikir ada sesuatu yang menjanggal dan kurang dari sosok Nathan. Tapi, gue saranin, kalian mending jadi satu aja. Gue yakin, bakal langgeng. Gue pengen liat dua temen baik gue bahagia.. sama satu sama lain."
Natalie tersenyum. "Oke, deh, Nick. Makasih ya.. Maaf aku ngerepotin."
"Nggak kok, Nat. Congrats with Nathan!" ucap Nick memaksakan diri untuk ikut bahagia.
Natalie mengangguk seperti Nick bisa melihatnya dan memutuskan panggilan.
###
Esoknya, sekolah ramai dengan rumor Natalie-Nathan jadian. Padahal, Natalie belum berkata apa-apa tentang pernyataan Nathan. Nick sendiri heran dengan cepatnya berita yang belum pasti tersebar seantero sekolah.
"Nathan!" Natalie memanggil Nathan ketika ia melihat cowok itu sedang tidak dikerubungi banyak orang.
"Hey, Nat!" sapa Nathan balik.
"Hmm... Kok, bisa nyebar, sih?" tanya Natalie heran dan bingung serta malu.
Nathan menggeleng dan mengangkat bahu. "Gue juga gak tau, Nat. Oh iya, kalo elo masih butuh waktu untuk jawab, gue tunggu, kok. Mendingan, elo ke kelas, deh. Ntar, kalo terlambat kasian elonya."
Natalie kesemsem sendiri. "Nathan, makasih, ya. Nanti, insya allah aku jawabnya pas istirahat." Nathan hanya memberikan gadis ini senyumnya.
Nick yang sedang memerhatikan kedua tingkah teman baiknya, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan bersabar. Ia kalah langkah. Sebenarnya, memang ia sudah memaksa dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Natalie dari awal mereka meresmikan diri jadi sahabat. Nick selalu berpikir kalo hubungan Natalie dan dirinya hanya sebatas sahabat. Padahal, di antara sejuta kenangan mereka bersama, ada hal-hal yang membuat keduanya lupa kalo ternyata mereka hanya sekedar sahabat. Nick juga berpikir bahwa hubungan yang lebih dari persahabatan akan merusak semuanya. Ia tidak berani mengambil resiko. Nick membatasi dirinya untuk sekedar menjadi teman baik buat Natalie yang bisa sekaligus menyayangi dan menjaga gadis itu. Tapi, setelah selama ini, Nick tahu kalo dirinya dan Natalie mempunyai sesuatu yang sebenarnya ada di antara mereka sejak awal.
Nat, yang terbaik buat elo adalah yang terbaik buat gue... bisik Nick dalam hati.
###
"Kamu pulang sama siapa, Nat?" tanya Nathan setelah mengetahui jawaban Natalie.
"Terserah. Kamu nggak ada latihan band?" tanya Natalie balik.
"Ada. Kalo emang mau nunggu, ntar aku rada cepet, deh," jawab Nathan.
"Yaudah," balas Natalie diikuti senyumnya.
Sepulang sekolah, Nathan berkumpul bersama band-nya. Nick yang dari tadi udah nggak semangat gara-gara kabar Natalie-Nathan beneran jadian, jadi harus berakting layaknya dia senang. Bahkan, ketika Natalie bercerita dengan berapi-api di sudut ruangan sebelum band-nya latihan, Nick harus memaksakan sejuta senyum demi sahabatnya.
Di sudut lain, Nathan diam-diam memerhatikan gerak-gerik ceweknya yang sedang ngobrol bareng Nick. Ada yang beda dari raut muka Natalie. Gadis itu, di mata Nathan, terlihat lebih gembira, lebih lepas, dan lebih rileks di hadapan Nick. Nathan yang tidak mau ambil pusing dan kebawa emosi, hanya berasumsi bahwa Natalie masih agak-agak kesemsem.
"Nick! Yuk!" ajak Nathan memecah obrolan.
"Sebentar ya, Nat," pamit Nick pada Natalie. "Sip, gan!"
Hari ini, posisi penyanyi dan pengiring musik diganti. Nick dipilih menjadi vokalis dan Nathan dipindahkan menjadi pemain gitar. Drummer digantikan oleh personil lain. Lagu yang dibawakan kali ini berjudul Enchanted yang di-cover Owl City. Nick pribadi mendedikasikan lagu ini untuk Natalie. Seandainya gadis itu tahu.
###
Beberapa hari setelah hari itu, Nick mendapat kabar bahwa ia harus menemani ayahnya mengambil S2 selama 2 tahun di Australia. Kabar itu mengagetkan Nick, tapi juga melegakan. Di satu sisi, ia harus meninggalkan Natalie dan membiarkan gadis itu menikmati masanya bersama Nathan. Di sisi lain, ia bisa menemukan pelarian di Australia. Tapi, sampai saat ini, Nick masih belum tahu cara memberitahu Natalie.
"Halo!" sapa Nick lewat ponselnya yang langsung diangkat Natalie di deringan pertama.
"Ya, Nick?" sapa Natalie balik.
"Lagi sibuk, gak? Gue ganggu, ya?" tanya Nick hati-hati.
"Nggak, kok. Ada apa?" tanya Natalie terdengar sedang santai.
Nick menarik nafas. "Gue mau pergi, Nat."
Natalie yang sedang berbaring, membetulkan posisinya menjadi duduk. "Kemana? Kok, kayaknya kamu mau pergi kedengeran sedih banget.."
"Ke Australi, Nat," jawab Nick pendek.
Natalie seketika mematung.
"Nat?"
"Oh.. Heh.. Ke Australia? Kapan?" tanya Natalie berusaha menahan emosinya yang baru saja pecah.
"Dua minggu lagi, Nat," jawab Nick yang secara tidak langsung bisa merasakan pecahnya emosi Natalie.
"Berapa lama?"
"Dua tahun."
"Du-dua tahun, Nick?"
"Iya. Tapi, nggak lama, kok."
Natalie diam.
"Nat, gue minta maaf, ya.. Ngasih taunya mendadak."
"Aku ke rumah kamu, ya, besok."
"Terserah kamu. Gue ikut aja."
Natalie langsung mematikan panggilan. Diam-diam, ia menangis. Entah atas dasar apa, airmata itu terus mengalir. Natalie ingin memberitahu Nathan, tapi tidak dalam kondisi yang seperti ini.
###
Esoknya, saat keadaan rumah Nick kosong dan terlihat tenang, Natalie menyempatkan diri bersinggah ke rumah sahabatnya itu. Nick menyambut Natalie dengan senyum permintaan maaf.
"Kenapa harus sekarang?" tanya Natalie langsung tanpa menduduki sofa ruang tamu.
Nick menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menatap mata sedih sahabatnya. "Gue juga gak tau, Nat. Gue bener-bener minta maaf. Ya, kalo ini yang terbaik buat gue, gue mohon elo ngerti ya, Nat."
Natalie tidak tahan lagi dan menitikkan airmatanya. Ia meringkuk dan berkata, "Haha... Maaf ya, Nick. Aku jadi nangis gini. Hmm.. Tapi, ntar bawain aku oleh-oleh, ya?" Gurauan Natalie terdengar perih.
Nick memaksakan tawa. "Iya, iya. Kalo nggak ada gue, kan, masih ada Nathan."
Natalie tersenyum pahit. Seandainya, Nathan itu mirip kamu, Nick. Bisik Natalie dalam hati.
###
Di bandara, di hari keberangkatan Nick, Nathan, Natalie, dan personil band-nya Nick mengantarkannya bersama-sama. Nick pribadi merasa terharu dan lega. Tapi juga, ia merasa khawatir akan Nathan dan Natalie serta kondisi fisik dan batin Natalie saat nanti ia pergi.
"Nathan, aku boleh berbicara dengan Nick sebentar? Berdua saja?" tanya Natalie lembut pada Nathan. Nathan menangguk senang.
"Hey, Nick!" sapa Natalie pahit.
"Hey, Nat! Jangan nangis lagi, ah. Nanti, gue berangkatnya nggak tenang," jawab Nick.
"Nggak, kok. Semoga, di Australia, kamu udah ketemu cewek cantik, ya. Hehehe..." balas Natalie pahit. "Jangan lupain aku sama temen-temen." Sekejap, Natalie memeluk Nick.
Di kejauhan, Nathan yang memerhatikan gerak-gerik mereka jadi senewen sendiri. Namun, Nathan tau kalo Natalie itu teman baik Nick dari kecil. Jadi, Nathan tidak ambil pusing dan tidak akan terbawa emosi.
Beberapa saat kemudian, Nick mulai memasuki bandara. Dari luar, Natalie beserta teman-teman lainnya mengikuti arah jalan Nick sampai akhirnya mereka tidak bisa melihat Nick dan keluarganya lagi.
0 comments:
Post a Comment