Bunda, ayah, dan Ozry sedang pergi ke acara sekolah Ozry. Aku ditinggal sendirian di rumah dengan televisi (lengkap beserta kabel channel dan remotnya), komputer dan sambungan internet, serta cemilan. Aku juga ditinggal dengan kabar baru bahwa di sebelah rumahku sudah ada penghuninya yang katanya dulu sahabat kecilku.
Bunda dan ibu dari anak tetangga itu dulu sempat berteman. Aku mendengar cerita ini dari bundaku sendiri. Kata bunda aku juga pernah bersahabat dengan anak itu, tapi kemudian, ia diterbangkan ke kota lain untuk operasi ginjal. Bunda bilang anak itu punya penyakit ginjal dan waktu itu harus segera dioperasi. Aku juga sempat mendengar bunda berkata bahwa aku menangis tanpa henti saat tahu sahabatku itu harus menjalani operasi. Sebagai seorang ‘sahabat’ dari anak itu, aku percaya saja cerita bunda.
Bel rumahku tiba-tiba berbunyi. Aku mengerang cukup keras. Dari tadi, ada saja sesuatu yang mengagetkan waktu ‘home alone’-ku. Akhirnya, aku—dengan tidak senang hati—membukakan pintu untuk siapapun itu yang baru saja membunyikan bel rumahku.
“Ini ada titipan dari ibu gue buat keluarga lo. Katanya, gue suruh kasihin ke penghuni rumah lo,” ucap seorang anak laki-laki sebayaku saat pintu kubuka.
“Lo siapa?” tanyaku tak kalah kurang ramah.
“Tetangga sebelah,” jawabnya.
“Nama lo?”
“Ashton. Ashton Butlesy,”
“Oh. Ya udah, tell your mom I said thanks,” ucapku mengakhiri percakapan singkat itu.
Jadi ini sahabat kecilku? Bahkan sebagai yang katanya sahabat, aku tidak ingat apapun tentang dia. Apa mungkin waktu dia pergi, aku membuat rencana melupakannya dan akhirnya berhasil? Yang jelas, itu tidak penting. Ashton, ‘sahabat’ kecilku, bukan seperti yang ada dalam bayanganku. Jadi, mau dia sahabatku atau tidak, aku sungguh tidak peduli.
&&&
Liburan ini aku benar-benar menggantikan peran ‘Kevin McCallister’ sebagai anak yang ditinggal keluarganya pergi. Tapi, ini versi keluargaku. Bunda selalu sibuk dengan undangan yang bertubi-tubi datang ke rumah. Ayah sibuk kerja, padahal jelas-jelas ini adalah liburan. Ozry, adikku yang masih berumur empat tahun, sibuk dengan ‘Girl Scout’-nya. Aku, oh, aku sibuk mencari cara agar bisa menjadi sesibuk keluargaku. Alhasil, aku dapat rencana untuk pergi setiap hari ke taman dekat rumahku untuk berolahraga, foto-foto, atau hanya bersantai saja.
“Hi!” sapa Ashton saat aku sedang asyik menjepret-jepret tupai yang ada di ranting pohon.
“Oh, kamu. Halo juga,” sapaku balik berusaha untuk menjadi seekor bebek yang sangat cuek.
“Dari dulu, lo emang cinta banget sama tupai dan kamera, ya?” tanya Ashton tiba-tiba.
“Maksud lo?”
“Waktu lo umur enam tahun, elo maksa gue buat maksa orangtua lo beliin lo kamera sendiri.”
Aku tersentak akibat ucapan Ashton. Jangan-jangan, dia sudah tahu namaku.
“Allyssia, lo jahat ya, ngelupain gue. Padahal, selama gue operasi dan terapi di London, gue selalu inget muka lo dan senyum lo yang manis,” ucap Ashton.
Sedetik kemudian, aku sudah terlihat sangat bodoh di depan Ashton. “Really?”
Ashton mengangguk. Aku menggeleng. Kemudian, anak itu mengulurkan tangan dan tersenyum. Senyumnya manis, hangat, dan sangat familiar.
“In case, lo udah lupa sama gue, my name is Ashton Butlesy. And you must be Allyssia MacCane, right?” ucap Ashton.
Aku yang benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, menjabat uluran tangan Ashton dan mengiyakan dugaannya. Selama beberapa menit, telapak tangan kami saling menggenggam satu sama lain. Di saat yang sama, aku dihujani segala macam kenangan masa lalu dengan bocah yang sedang kujabat tangannya ini. Refleks, aku menghentikan ‘penjabatan’ tangan itu dan melingkarkan tanganku di leher Ashton.
“Kamu tersenyum, kan?” dugaku saat aku memeluk Ashton.
“Kok tahu?” tanya Ashton.
“You always smile whenever I give you a big hug,” jawabku.
Terdengar hembusan nafas lega dari Ashton. Ia mempererat pelukan dan menenggelamkan wajahku di dalam peluknya.
&&&
Berminggu-minggu setelah kejadian itu, aku akhirnya bisa sibuk dengan berbagai aktivitas yang Ashton berikan pada kami berdua. Bunda dan ibunya Ashton ikut bahagia dengan bersatunya kami… untuk yang kedua, dan mungkin akan berlangsung lama.
Dugaanku tentang rencana akan melupakan sahabat kecilku saat dia pergi menjalani operasi benar. Dulu, aku berencana seperti itu dan berhasil. Lalu, sahabatku itu kembali lagi dalam rupa yang lebih baik dan lebih dewasa. Sudah lima tahun sejak kami berpisah dan berhasilnya aku melupakan seorang Ashton dari ingatanku. Sekarang, semuanya sudah kembali seperti lima tahun lalu.
&&&
Hari ini, Ashton tidak mengajakku bermain. Datang ke rumahku saja tidak. Rumahnya sepi sama sepinya dengan rumahku. Akhir-akhir ini, Ashton jarang bertemu denganku. Padahal, hari ini aku seharusnya bahagia karena sedang berulangtahun ke-15. Tapi, tidak seperti yang seharusnya, aku malah sedih dan tiba-tiba jadi takut. Takut kehilangan seseorang yang sama untuk kedua kalinya.
Aku memutuskan untuk meringkuk di ranjang tidurku dan menangis sampai mataku benar-benar bengkak sebesar bola tenis. Untung, keluargaku sedang tidak ada di rumah semua, jadi mau aku teriak-teriak pun, tidak ada yang tahu, kecuali para tetangga.
“Tinggalin gue lagi aja. Nggak masalah, kok. Gue bisa ngelupain elo dan gue bener-bener niat ngelupain elo selamanya supaya kapanpun lo kembali lagi, gue nggak akan bisa inget!” isakku.
&&&
Ulangtahunku benar-benar terlupakan. Semua orang lupa, bahkan semua orang tiba-tiba tidak peduli lagi denganku. Sampai hari ini saat ada yang mengetuk pintu rumahku, padahal jelas-jelas bel tinggal dipencet!Aku sengaja mendiamkan ketukan pintu yang khas Ashton itu. Itu bukan Ashton. Itu hanya seseorang yang akan meninggalkanku untuk kedua kalinya.
Ketika orang itu benar-benar sudah tidak berniat mengetuk lagi, aku membukakan pintu. Ada bunga beserta kartu kecil yang diletakkan orang tadi di atas kesetan kaki rumahku. Aku mengambil bunga itu dan kartu kecil itu. Sesaat, aku merasa senang dan terharu. Tapi, kemudian aku membuang bunga itu ke tempat sampah. Aku hanya menerima kartu kecilnya.
Dear Allyssia,
Here’s your birthday present. Sorry, it isn’t much, but I bought it for you with all my heart and my own money. So, I hope you like it and please, don’t throw it away.
P.S: Come see me at the Community Center. I have a bigger present for you. See you, there… Ashton B. <3
Tanpa sadar, aku menitikkan airmata dan memungut bunga pemberian orang itu dan bergegas ke kamar untuk berganti baju. Setelah siap dan terlihat ‘cukup’, aku berlari menuju gedung Community Center di ujung komplek. Dengan perasaan campur aduk, aku menguatkan diri dan mengolah nafas sebisanya agar sampai disana.
&&&
“SURPRISE!” seru seisi ruangan Community Center padaku saat aku membuka pintu masuk. Aku langsung menutup mulutku dan menatap kejutan itu. Tapi, masih ada yang kurang, Ashton tidak ada di sini.
Akhirnya, pesta diresmikan dan seluruh tamu yang datang menikmati acaranya. Aku malah takut, kecewa, sedih, dan galau. Orang yang memberiku bunga dan kartu itu tidak ada di sini. Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi mataku dan menarikku keluar.
“Jangan buka mata, sebelum aku suruh buka, ya?” perintah suara seseorang yang sudah akrab di telingaku. Aku mengangguk.
Grasak-grusuk bunyi sesuatu, tapi aku bertahan dengan mata tertutup. Aku berusaha menebak apa kejutan dari orang ini. Walaupun penasarannya sudah akut, aku berusaha menunggu perintah selanjutnya dari orang ini.
“Open your eyes!” perintah orang itu.
Aku membuka mata dan melihat orang tersebut serta jejeran anak-anak Girl Scout adikku memegangi spanduk bertuliskan, “Will you be my girl?” Aku merasa seperti roket yang terbang. Sungguh berasa seperti terbang ke langit yang ke-7.
“Jadi…” ucap Ashton ragu-ragu. Aku masih setengah tidak sadar lantaran sedang terbang. “Kalo nggak mau juga nggak masalah. Kita bisa jadi teman kayak dulu, Lyss.”
“No… Wait, I’d love to be your girl,” jawabku cepat seraya berjalan mendekati Ashton.
“Really?” tanya Ashton dengan wajah tersenyum.
“Yeah. I’ve been waiting for this moment. I’ve tried erasing you from my memory, but the more I tried, the more I missed being next to you. Until the day we met again. Even if I’ve succeed on forgetting you, I still feel that empty hole,” jelasku. Ashton menarikku dalam pelukannya dan mengecup keningku lembut.
“Aku nggak akan pernah pergi lagi. Janji. Not for the second time. Not when I finally get my dream girl. Not when I finally here, next to you,” ucap Ashton.
Lalu, sorak sorai orang-orang tiba-tiba terdengar di telingaku. Pipiku berubah seperti buah tomat dan menundukkan wajah dalam pelukan Ashton. Ashton hanya mengelus punggungku dan tersenyum.
0 comments:
Post a Comment