Saturday, July 9, 2011

DOKUMENTASI CINTA (Part 2)

Posted by Unknown
Keadaan berubah sedikit seru saat Brian mencuri-curi momen untuk memotret penumpang mobil ini. Aku—dengan susah payah menyembunyikan wajahku—berusaha untuk tidak bertemu kontak dengan lensa fokus yang dipegang Brian agar tidak dijepret. Tapi, aku bertaruh, Brian dapat satu foto dimana aku terlihat bersembunyi.
            “Lo itu aneh, Fi. Lo cinta banget foto-foto objek, tapi nggak suka banget dijadiin objek. Seharusnya, lo bisa jadi dua-duanya sesekali,” komentar Brian seolah ia bisa membaca gerak-gerikku.
            “Kan, kondisinya gak tepat, Yan. Ini di mobil,” aku berusaha mengelak.
            Brian menepuk punggungku. “Jujur aja, lo nggak suka difoto, kan?”
            Gue menatap Brian, “Apa kata lo aja, deh.”
***
            Kerjaan seksi dokumentasi jadi berubah 180 derajat. Aku bekerja jadi perekam, sementara Brian asyik mengambil foto sana-sini dengan kameraku dan kameranya. Sudah sekitar seribu kali aku mendengus dan mengutuknya. Brian yang tidak merasa bersalah, terus melanjutkan pekerjaannya. Tapi, aku berusaha untuk tidak ambil hati atas perubahan sistem kerja yang menurutku tidak adil ini.
            “Kok muka lo kusut, Fi?” tanya Brian yang menjumpaiku kesal saat menyendiri di saung dekat vila.
            Aku menatap Brian dan berkata, “Lo tuh, seharusnya bertanggungjawab ngerekam. Gue harusnya bertanggungjawab foto-fotoin momen-momennya. Gak sesuai rencana kerja. Bete!”
            Brian mengambil posisi duduk di sebelahku dan berkata, “Kenapa lo nggak bilang sama gue kalo lo nggak suka gue ngambil kendali bagian ngejepret? Jangan jadi murung gitu, dong. Nanti, kalo hasil rekamannya nggak bagus, tanduk si Erik berdiri dan nyeruduk gue. Lo mau kayak gitu?”
            “Gue males ngomong sama lo. Ujung-ujungnya juga, pasti lo yang menang. Meskipun, gue udah berusaha maksa kayak lo, tetep aja raja tukang maksa itu elo. Jadinya, percuma jug ague minta gantian,” ucapku jujur.
            Giliran Brian yang terlihat kusut. “Segitu parahnya lo nggak suka sama sifat maksa gue, Fi?”
            “Bukan gitu. Maksud gue… Gue males aja kalo gue udah mohon, tapi hasilnya yang itu lagi, yang itu lagi,” ucapku yang kemudian merasa bersalah.
            Brian menarik nafas. “Ya udah, deh. Sekarang, kita gantian aja. SLR lo udah gue tuker batrenya. Yang tadi habis. Lo tinggal pake. Ini handy-cam gue belum abis juga batrenya?”
            “Tadi, udah gue tuker, kok,” jawabku. Brian mengembalikkan SLR-ku dan mengambil handy-cam miliknya. “Brian!” panggilku saat melihat dia berjalan menjauh.
            “Apa?” tanya Brian.
            “Lo nggak marah, kan?” tanyaku. Brian menggeleng. Terbesit rasa menyesal di hatiku dan sempat kulihat wajah kecewa di air muka Brian.
***
            Acara sore hari sudah selesai. Sekarang, kami semua berkumpul di aula dalam vila. Karena aku termasuk panitia—yang kata Erik wajib kumpul—jadi, aku mau tidak mau ikut duduk di aula itu. Sedangkan yang bukan panitia sudah bisa tertidur pulas.
            “Hari ini, kerja kalian bagus! Konsumsi, perlengkapan, sama dokumentasi kerjanya top banget! Yang kebersihan sama keamanan boleh kerja sekarang. Jagain kita tidur, ya? Soalnya, tadi siang kan, kalian masih santai-santai, jadinya sekarang giliran kalian,” ucap Erik.
            “Siap, Bos!” ucap para anggota seksi keamanan dan kebersihan.
            “Oke, deh. Gue dan kawan-kawan ini cabut tidur, ya? Selamat ngeronda!” salam Andre.
            Kami semua kembali ke kamar masing-masing. Aku sengaja tidak ikut dengan alasan insomnia. Yang sedang menjaga malah membolehkanku.
            Di aula yang ada tivinya ini, aku menyalakan kameraku dan memeriksa satu demi satu foto hasil hari ini. Dari mulai saat di mobil sampai tadi sebelum tidur. Aku bisa membedakan mana hasil bidikan Brian dengan hasil bidikanku. Punya Brian sudah pasti lebih ‘boyish’ daripada punyaku. Dan satu lagi, hasil dari jepretan Brian selalu ada… Aku!
            Aku jadi salah tingkah. Itu benar-benar nyata. Semua foto yang diambil Brian selalu ada akunya. Sebagai objek, gayaku juga superalami dan sangat menarik. Ada saat aku tertawa dengan Vina yang sengaja Brian close-up, ada saat aku sedang terlihat sangat galau di tengah-tengah tawa semua temanku, ada saat aku sedang bingung dengan ucapan Yusuf, ada saat aku tersenyum paksa saat Erik mengejekku, ada saat aku bersembunyi dari jepretan Brian di mobil, dan ada saat aku menutupi wajahku malu karena aku memergoki Brian sedang mengambil fotoku.            Tapi, aku berusaha tidak mengambil pusing masalah ini.
            Kemudian, setelah melihat hasil potretan Brian, aku meneliti hasil jepretanku. Menariknya, di setiap gambar yang kubidik, selalu ada… Brian! Ini benar-benar sebuah kebetulan yang unik. Bahkan, tidak bisa disebut dengan kebetulan. Secara tidak sengaja dan tanpa berpikir, otakku memfokuskan satu objek, yaitu Brian di setiap foto. Gestur tubuh dan gerak-gerik Brian dalam tiap foto juga sama alaminya dengan aku di setiap foto yang sudah Brian ambil. Ini benar-benar aneh. Namun, entah kenapa jantungku berdegup kencang dan segera aku berlari ke kamarku yang payahnya tidak sekamar dengan Vina.
            Malam ini, alasan insomniaku jadi nyata. Aku benar-benar susah tidur dan yang terngiang di benakku hanya satu, Brian! Itu sungguh menyeramkan sekaligus menenangkan? Setidaknya, itulah yang kurasa saat pikiran tentangnya melintas di benakku.
***
            Esoknya, aku bangun agak kesiangan. Kalau Vina tidak memencet hidungku sampai aku kehabisan nafas, aku tidak akan termegap-megap bangun. Aku mengejar Vina sampai kamar mandi, karena perbuatannya itu yang hampir membuatku tewas dengan tragis. Akhirnya, Vina menyerah dan memberikanku handuk. Lalu, ia mendorongku masuk kamar mandi agar aku bisa terlihat lebih baik dari diriku yang belum terbilas air.
            “Cieee, bangunnya pagi banget, Na,” sapa Erik saat ia duduk di meja makan.
            “Maaf, Rik. Gue tadi malem baru bisa tidur jam satu. Jadinya, gue kesiangan bangun dan parahnya, hampir tewas tadi!” aku menjelaskan dan melirik Vina.
            Vina terkekeh. “Setidaknya, Fi, lo nggak jadi tewas dan langsung bangun, kan?”
            “Iya, sih,” jawabku sambil mengambil posisi duduk di sebelah Erik.
            “Ini yang masak seksi konsumsi. Kalo menurut gue, hasilnya cukup memuaskan Yusuf yang doyan banget masakan asin,” ucap Aqil yang duduk di sebelah Vina.
            Erik terkekeh. “Betul banget, Qil! Liat tuh, si Yusuf lahap.”
            “Eh, ente-ente jangan pada sirik sama gue. Ini masakan disyukuri, meskipun emang selera gue banget. Tapi, seenggaknya itu para cewek dan cowok seksi konsumsi udah berhasil masak makanan enak buat seorang kayak gue,” ucap Yusuf yang lahap menyendokkan makanannya.
            “Perut lo doang, dong, yang kenyang, Cup! Perut kita-kita gimana? Udah lidah diserbu garem, perut mules, nafsu makan ludes. Mantep, ya?” tambah Brian.
            “Itu sih, DL!” jawab Yusuf diikuti tawanya yang mencerminkan kepuasan luar dalam.
            Aku hanya tersenyum menatap perdebatan mulut itu. Selain kata-kata mereka yang lucu, cara mereka menyampaikannya yang berapi-api bisa membuat wajahku berolahraga.
***
            Acara kali ini adalah acara bebas. Semua bisa berolahraga mengelilingi vila, bisa bersantai-santai di dalam vila, bisa juga pergi ke kota dengan dua mobil untuk belanja oleh-oleh, atau malah kembali tidur seperti yang dilakukan Andi dan sobat-sobat cowoknya. Yang cewek kebanyakan memilih pilihan ketiga. Sementara aku memilih untuk mengitari vila sambil kembali memotret beberapa hal di dekat sana.
            “Kalo mau kumpul lagi, telepon gue ya, Rik!” aku mengingatkan.
            “Sip! Jangan jauh-jauh, ya!” pesan Erik.
            “Iyaaa!” jawabku kemudian berlalu.
            Pemandangan di sekitar vila benar-benar indah. Walaupun dipenuhi sejuta warna hijau, aku masih senang dengan objek bidikkan kamera yang terbentang bebas ini. Dari mulai vila yang kami tempati sampai sawah milik penduduk sekitar, semua memancarkan karisma sendiri yang menarik seorang fotografer untuk memotretnya. Ada juga binatang-binatang gunung dan burung-burung yang berterbangan bebas. Pokoknya, betul-betul mempesona.
            “Sendiri aja, Fi,” sapa Brian tiba-tiba.
            Saat itu juga, aku kaget dan jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Aku berusaha tenang dan berhasil.
            “Males ngajak Vina. Si Vina malah keluyuran bareng yang lain sambil belanja. Gue lagi mau cari momen yang pas, nih,” jawabku setenang mungkin.
            “Gue boleh ikut?” tanya Brian hati-hati. “Kalo nggak boleh, gue gak maksa, kok.”
            Aku tersenyum dan berkata, “Boleh, kok.”
            Brian menghembuskan nafas dan berjalan denganku.
            “Lo dari dulu emang seneng banget ya, sama fotografi, Fi?” tanya Brian memecah hening yang canggung.
            Aku mengangguk dan sesekali membidik sebuah objek.
            “Istirahat dulu, yuk,” ajak Brian. Aku meliriknya dan menggeleng. “Ya udah, kalo nggak mau, lanjut juga boleh.”
            Kali ini, ucapan Brian mengusikku. “Tumben.”
            “Tumben apa?”
            “Kok, lo nggak maksa-maksa lagi?”
            “Jadi, lo mau gue berubah jadi tukang paksa lagi?”
            “Eh, bukan gitu. Maksud gue, ada apa kok, seketika lo berubah?”
            “Pengen aja,” jawab Brian penuh misteri.
            “Bisa lebih spesifik karena apa?” aku beranikan diri bertanya.
            “Kenapa? Lo merasa terusik?” tanya Brian.
            Aku terdiam sesaat. “Nggak, kok. Kalo lo nggak mau kasih tau juga nggak masalah. Bagus kalo lo mau berubah.”
            Brian mengangguk-angguk. “Boleh pinjem kameranya?”
            “Oh, boleh-boleh,” jawabku. “Ini.”
            Brian mengambilnya dan mulai asyik dengan sekitarnya. Aku yang membiarkannya bertingkah seperti itu hanya bisa tersenyum dan merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku. Kalau biasanya di dekat Brian aku hanya bisa diam dan ayo-aja, sekarang malah salah tingkah dan berdebar-debar.
            “Coba lo berdiri di sana, Fi! Sekali aja, dong. Biar ada kenang-kenangannya,” pinta Brian.
            Aku menghela nafas dan menurut. “Sekali aja, ya?”
            “Iya. Janji!” tegas Brian. Akhirnya, aku mengikutinya dan tersenyum pada kamera. Jadilah, Brian memotretku untuk yang kesekian kali dalam perjalanan ini. Untung saja, sebagian besar itu berisikan teman-teman lainnya. Kalau tidak, bisa mati berdiri kami diserang Erik.
            Brian kembali berjalan menyusuri jalan setapak sampai akhirnya ia kelelahan dan meminta untuk istirahat. Aku yang sama lelahnya mengabulkan pintanya. Entah kenapa, rasanya suasana ini menenangkan.
            “Liat-liat hasilnya, yuk!” usul Brian.
            “Ya udah,” jawabku.
            Setelah sama-sama setuju, kami berdekatan dan melihat hasil jepretan semuanya. Brian masih belum sadar kalau apa yang sudah dipotretnya berisikan aku. Meskipun ada yang hanya rambut saja atau lengan saja atau punggung saja, tetap saja ada aku di setiap fotonya. Begitu juga dengan punyaku. Saat Brian mulai senyum sendiri, aku memerah. Tapi, aku berusaha keras agar Brian tidak melihatku berubah jadi saudaranya tomat.
            “Pasti Erik marah nanti,” ucap Brian setelah melihat semua foto dan meletakkan kameraku di samping kanannya.
            “Kenapa?” tanyaku yang giliran tidak mengerti.
            Brian mengubah posisi duduk dan berbalik sepenuhnya menghadapku. “Lo masih belum ngerti, ya?”
            “Maksud lo apa, sih, Yan?” tanyaku yang 100% tidak paham.
            “Semua foto hasil jepretan gue, semuanya ada potongan diri lo. Mau bagian tubuh mana aja, pasti ada,” jawab Brian berani. “Dan, secara nggak sengaja atau sengaja—gue nggak tau pasti—hasil jepretan lo juga rata-rata berisikan gambar gue, Fi. Sementara Erik maunya ada anak-anak lain. Apa bener nggak ada something wrong between us?”
            Aku terkaget dan langsung menatap Brian. “Oh ya? Lagian, nggak semuanya kok, foto gue sama lo. Buktinya, ada foto-foto temen-temen juga. Meskipun, masih ada aja sisa-sisa bagian tubuh gue atau elo. Terus, kita emang nggak ada apa-apa, kok. Kegeeran banget, sih.”
            “Hmmm… Gitu, ya?” tanya Brian yang terdengar kecewa di telingaku.
            “Iya,” jawabku seolah-olah yakin sekali, padahal dalam hati aku ragu. “Gue balik, ya?”
            “Kenapa? Erik kan, belum nelpon,” sergah Brian. “Eh, tapi, terserah lo. Kalo lo mau balik, gue yang anterin. Kan, dari sini ke vila jauh juga.”
            “Ng… Ya udah, deh,” jawabku kurang yakin.
            Akhirnya, Brian dan aku kembali ke vila. Kecanggungan ini benar-benar menggangguku. Mau bagaimanapun cara agar bisa mencairkan rasa canggung ini, tetap saja serasa dingin dan aneh.
***

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos