Thursday, March 1, 2012

Request Bagas

Posted by Unknown
Pendaftaran SMA Harapan Bangsa baru saja dibuka untuk anak-anak kelas 9 yang sebentar lagi akan lulus meninggalkan sekolah lamanya masing-masing. Irsan mengikuti tes masuk SMA yang beda banget sama tes masuk SMP. Pasti. Tapi, karena emang otaknya cerdas, bagi dia soal itu sudah bisa ia terjang.
Pengumuman diterima atau tidaknya akan diumumkan seminggu sebelum pengumuman kelulusan. Sudah pasti, siswa yang mendaftar ke SMA HB (Harapan Bangsa) semakin deg-degan. Bukan hanya karena menunggu pengumuman kelulusan, namun juga menunggu pengumuman masuk tidaknya ke SMA harapan mereka.
"Dek, elo yang ngeliat pengumuman apa gue?" tanya Mutia, kakak perempuan Irsan yang sekarang sudah berkeluarga.
"Gue aja. Gue males elo yang ngeliat. Ntar elo duluan yang nangis kalo gue keterima. Benci gue," jawab Irsan kena banget.
"Sialan lo, dek," balas Mutia nggak kalah kena.
Beberapa saat kemudian, suami dan anak-anak Mutia memasuki rumah. Mereka sedang bersilaturahmi. Karena sudah lama sekali semenjak terakhir mampir ke rumah orangtua sendiri.
%%%
"Permisi, Kak, kelas 10-2 dimana?" tanya Febri ramah kepada kakak OSIS yang sedang bertugas menjadi pengawas MOS.
"Ntar kamu lurus aja, terus belok kanan. Ada papan gantungnya kok, di atas pintu kelasnya," ucap kakak OSIS itu pada Febri.
Febri berjalan menuju koridor yang ditunjuk kakak OSIS itu. Saat ingin berbelok, ia bertabrakan dengan seorang cowok. Putih, tinggi, manis. Febri aslinya pengen marah, tapi mengetahui cowok yang barusan tabrakan sama dia itu modal tampang, dia nggak jadi marah. Emang dasar cewek. Ngeliat produk bagus langsung luluh. Kalo cowok ngeliat produk bagus langsung semangat. Aneh.
MOS kali ini katanya tidak separah tahun lalu. Semua berjalan santai dan nggak ada sampe suruh lari ngitarin sekolah berapa kali. Nggak ada yang namanya suruh baris-berbaris ampe pingsan. Nggak ada! Semua lebih efektif.
"Silakan perkenalkan nama kalian masing-masing," suruh kakak OSIS yang mengawas di kelas 10-2.
Febri, yang duduknya pojok kanan depan, terpaksa mulai pertama. Dengan atribut MOS-nya, ia berdiri dan mulai memperkenalkan diri.
"Nama saya Aulia Febriyani dari SMP 1. Terimakasih," ucap Febri kalem. Ia berjalan balik ke tempat duduknya.
Diikuti beberapa orang lagi, sesi perkenalan hampir selesai. Namun, tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar.
"Assalamu'alaikum," ucap seorang cowok. Febri mengenal rupanya. Cowok yang tadi tabrakan sama dia. "Heh, liat ini! Ada teman kalian yang berani ngelawan kakak OSIS! Mau diapain?!"
Sekelas diam, kemudian menyorakki anak tersebut.
"Apa sih, lu?! OSIS nggak mencerminkan diri terbaik! Jangan gitu, dong!" ucap anak lelaki itu pada cowok yang dikenal Febri.
"Kan, berani banget lu!" ucap cowok itu. DEBUG! Bogem mentah melayang ke pipi kanan anak lelaki itu. Dibalasnya pukulan itu dengan tendangan tepat di tulang kering. Kemudian, kegaduhan terjadi.
"HEI!" teriak Febri dan seluruh anak-anak cewek yang ada disana.
Salah satu meja terdorong dan mengenai pinggang Febri. Ia meringis kesakitan dan tiba-tiba perkelahian berhenti. Melihat Febri jatuh meringkuk di sebelah meja, semua mata tertuju padanya. Pelaku yang udah babak belur berdiri merapikan baju dan berlari menuju Febri.
"Eh, elo nggak apa-apa?" tanya cowok putih. Febri diam. Kesal. Dia punya mata gak, sih?! Punya otak gak sih?!
"Bego emang elo! Nggak pantes jadi anak kelas 11! Udah tau jatoh kayak gitu masih elo tanya!" ucap anak lelaki tadi. "Sini, gue bawa elo ke ruang PMR!" Anak lelaki itu membantu Febri bangkit dengan melingkarkan lengan kiri Febri di lehernya.
Kak Intan, salah satu pengawas di ruang 10-2 menunjukkan arah ke PMR. Seketika koridor ramai dengan kerumunan murid-murid baru dan senior.
%%%
"Eh, makasih, ya.." ucap Febri saat ia dibaringkan di atas tempat tidur PMR oleh anak lelaki itu. "Nama elo siapa?"
"Irsan," jawab anak lelaki tadi. "Elo?"
"Febri," ucap Febri. "Jangan berantem lagi. Inget, di dunia ini yang kita butuhin temen. Bukan musuh."
"Hahaha.. Selama mereka nggak mancing, gue nggak nyala. Selesai," ucap Irsan tegas.
"Tapi, gimanapun itu, elo harus bisa kontrol emosi. Karena elo udah mau 17," ucap Febri.
"Ya, deh," balas Irsan sekenanya.
%%%
Irsan dan Febri sudah menjadi siswa resmi di SMA HB. Irsan dan cowok putih yang pernah berkelahi dengannya dulu sekarang malah jadi sahabat dekat. Nggak nyangka, kan?
"San, ikut futsal, gak?" tanya cowok putih itu.
"Ikut. Tapi, gue nyusul," jawab Irsan. "Sat, gue bawa motor sendiri. Elo mending bareng yang laen. Nunggu gue lama, woy!"
"Ya udah, deh," ucap Satrio.
Irsan berlari menuju lorong 10-4, kelas Febri. Sebelum sampai disana, ia mengeluarkan sebuah amplop dan bunga mawar putih yang ia beli tempo hari.
Berbeda dengan suasana kelas 10-4, yang cowok-cowok pada menepi dan sudah tahu akan rencana Irsan yang bakal nembak Febri hari ini juga. Sementara yang cewek, sebagian yang sudah tahu ikut keluar, sebagian yang belum disuruh keluar juga.
TOK! TOK! TOK!
"Assalamu'alaikum," salam Irsan saat memasuki ruangan kelas Febri.
"Wa'alaikumsalam," jawab anak-anak yang berada dalam kelas.
"Ada Febri, gak?" tanya Irsan sopan.
"Ada. Febri!" panggil satu per satu secara bersautan.
Febri berjalan mendekat ke arah Irsan. Namun, saat kira-kira sudah berjarak satu meter, Irsan menyuruh Febri berhenti.
"Ini, gue mau ngasih ini buat elo. Terima, ya," ucap Irsan. Ia menyuguhkan bunga mawar putih tadi dan berlutut di depan Febri.
Febri, yang nggak tau apa-apa, kaget sendiri. "Dalam rangka apa, San?"
Irsan berdehem. "Gue suka sama elo dan gue pengen elo jadi pacar gue. Elo bersedia, nggak?"
Seisi kelas bersorak. Febri memerah. Irsan berusaha nggak sumringah. Soalnya, cowok butuh keberanian besar buat ngelakuin ini dan cewek butuh kepastian besar buat menerima semua ini.
"Gue.." jawab Febri menggantung. "Juga suka sama elo."
Irsan berdiri dan memberikan amplop pada Febri. Sorakan "BUKA! BUKA! BUKA!" mulai terdengar. Febri merobek ujung sebelah kanan amplop tersebut dan menarik isinya. Surat.

Febri,
Elo tau awal pertemuan kita? Pas gue jelek banget babak belur... Ya, mungkin elo masih inget atau udah lupa. Tapi, elo perlu tahu, saat itu, gue nggak dengerin elo sama sekali. Gue sibuk benerin detak jantung gue. Karena elo buat semua jadi bergerak cepat.
Senyum lo, tingkah laku lo.. Selama sebulan ini gue merhatiin elo. Nggak sadar ya..? Sori kalo ini terlalu cepat buat elo. Tapi, gue nggak suka nunggu. Gue suka kepastian.
Feb, gue sayang sama elo. Gue harap elo juga gitu.. <3
Irsan.. ~S.A lo~

Seandainya kelas sepi, Febri udah meluk Irsan berapa kali kayaknya. Dia cuma bisa tersenyum sementara Irsana mendekat merangkulnya. Setelah acara itu, Irsan mengajak Febri menonton futsal.
%%%
Bentar lagi kenaikan kelas. Febri pengen banget sekelas sama Irsan. Soalnya, nggak enak kalo pacaran beda kelas. Mojoknya nggak mantep. Dan nggak bisa duduk sebangku.
"Feb, kamu liburan kemana?" tanya Irsan sepulang sekolah sehabis UAS semester dua.
"Di rumah aja," ucap Febri.
"Ke mall yuk! Bareng Satrio sama yang lain. Kita nonton film bareng. Mau, gak?" Irsan menawarkan pada Febri.
"Ayo aja. Kak Satrio yang waktu itu berantem sama kamu?" tanya Febri.
"Iya. Masih diinget aja.." goda Irsan.
"Selalu.. Kalo itu nggak terjadi, kita gak kayak gini, San," ucap Febri.
Mereka pulang dengan mobil Irsan. Sepulang sekolah ini, Irsan mengajak Febri makan ke restoran. Untung uang bulanan ngasihnya di hari yang pas. Jadi, bisa nraktir pacar.
Sesampainya di restoran, nggak disangka Irsan bertemu dengan Satrio.
"Sat!" panggil Irsan.
"Hey! Ya, kaaaan... Mau makan bareng," ledek Satrio. "Hai, Feb!"
"Hai, Kak," sapa Febri balik.
"Iya, nih. Laper. Elo sendirian, Sat?" tanya Irsan.
"Tadi bareng Nanda sama Dean. Tapi, karena gue mesen, mereka pulang duluan gue yang bayarin," jawab Satrio. "Ya udah. Have a good date!"
"Makasih, Kak," ucap Febri kalem.
"Sama-sama. Awas pacar lu modus," goda Satrio.
Febri dipersilakan duduk oleh Irsan. Kemudian, mereka memesan menu favorit masing-masing dan semua biaya ditanggung Irsan. Febri membayangkan indahnya kalo dia bisa terus kayak gini sama Irsan.
%%%
Di setiap kisah, badai pasti datang. Dan disinilah ia muncul. Febri sedang dilanda masalah hati. Akhir-akhir ini, Irsan sering nyuekin sms dan telepon Febri. Alhasil, Febri curhat ke Satrio. Semua-muanya. Dari mulai awal kenapa sampe solusinya gimana. Satrio yang emang dekat dengan keduanya ikut membantu. Ia nggak mau ngeliat sohibnya patah hati dan pacar sohibnya ikutan patah hati.
"Feb, kata Irsan, hari ini kamu pulang dianterin gue," ucap Satrio pada Febri sebelum Febri menghampiri Irsan. Sekarang mereka udah satu kelas di kelas 11. 11-5.
Febri tersenyum pahit dan mengikuti Satrio. "Kak, kata dia apa tadi?"
"Dia ada urusan penting," ucap Satrio.
"Sepenting apa?"
"Nggak perlu tahu."
"Ih, kok dia sekarang gitu sih?! Udah nggak sayang sama aku kali, ya?" ratap Febri.
Satrio membatalkan niat untuk menyalakan mesin mobil. "Hey, Feb, Irsan lagi sibuk. Tapi, pasti dia bakal ngeluangin waktu buat sama kamu."
Febri tersenyum. Kak Satrio mood booster banget!
%%%
Hubungan Irsan dan Febri semakin meregang. Sementara itu, Febri dan Satrio justru semakin dekat. Irsan mulai panas dan cemburu.
"Feb, aku mau ngomong," aja Irsan pada Febri pas istirahat pertama.
"Disini aja nggak bisa?" tanya Febri.
"Nggak!" bentak Irsan. Febri langsung nurut dan mengikuti langkah pacarnya.
Mereka berjalan menuju taman sekolah dan duduk di atas bangku taman. Febri tahu apa yang akan terjadi dan Irsan masih galau menentukan apakah semua ini harus ia beritahu?
"Maaf, Feb. Akhir-akhir ini aku nggak pernah nyamperin kamu, nganterin kamu, atau apalah.. Aku lagi sakit, Feb," ucap Irsan. "Tapi, kalo emang kamu udah sebel sama aku, tinggalin aku. Setidaknya ngelepas kamu kayak gini bakal nambahin sakit sedikit aja dibanding kamu lepas duluan."
Febri tersentak. "Kamu sakit apa, San?"
"Kamu nggak perlu tau, Feb," jawab Irsan.
Febri meringkuk. Menangis. Menyaksikan itu, Irsan membuang muka. Sedih. Selalu sedih bagi seorang cowok melihat wanita yang dicintainya menangis.
"Feb.." panggil Irsan. "Kamu mending sama Satrio aja. Dia keliatan lebih ngerti kamu."
"Kamu nyindir?"
"Nggak. Kenyataan, kan?!"
Febri menarik nafas. "Kalo boleh jujur, iya! Aku kesel sama kamu, aku mau marah! Aku nggak suka sama cara kamu ninggalin aku diem-diem. Setidaknya, aku cewek kamu. Kamu bisa kasih tau aku, kan! Sekarang, aku udah keburu jatuh cinta sama yang lain. Dan salah kamu, San! Kamu telat!"
Irsan membalikkan badan dan menatap tajam di bola mata Febri. "Ya? Itu karena aku sayang sama kamu, jadi aku nggak mau kamu tau tentang aku. Sekarang kamu kejar Satrio! Kalo emang kamu lebih sayang sama dia! Bagus, kan?! Kamu dapet apa yang bener-bener kamu sayang! Bukan sekedar kamu suka!"
Febri berdiri menampar Irsan. "Ya.. Aku nyesel pernah jadi punya kamu!" Kemudian cewek itu pergi meninggalkan Irsan yang semakin merapuh.
%%%
Putusnya Irsan-Febri menjadi peluang besar bagi Satrio. Ia langsung mengambil langkah dan sekarnag Febri jadi miliknya. Di lain sisi, Irsan berusaha memaafkan Febri dan Satrio.
Pensi tahunan akan diadakan seminggu lagi. Irsan diminta membacakan sebuah puisi. Selain terkenal dalam futsal, Irsan juga bagus dalam bidang sastra.
%%%
Mengenalmu butuh segenap jiwa..
Mencintaimu kutaruhkan segenap hati..
Kehilanganmu bukan bagian dari rencanaku..

Aku s'lalu berkata,
Yang terlalu cepat akan selalu terlalu cepat..
Begitu juga kedatanganmu..

Semakin cepat gelap datang, semakin cepat pula terang pergi..
Semakin aku berusaha bertahan, semakin muncul siluetmu di benak hati..
Yakinlah kasih, meski kau bilang kau menyesal,
Bagiku, kau masih yang terindah..

Ketika membacakan puisi tiga bait itu, Irsan hanya membayangkan wajah Febri. Cewek yang pernah menjadi miliknya. Bersatu karena perkelahian, berakhir dengan perkelahian. Bersatu karena musuhnya, berakhir karena sahabatnya. Cewek yang menjadi kenangan terindah. Setidaknya untuk saat ini saja..

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos