Thursday, January 26, 2012

Attached (3)

Posted by Unknown
Seperti yang kuinginkan, Alif menarikku kembali dari gandengan. Ricky merasa agak nggak fair. Tapi, dia tau dia harus akting. Aku udah ngejelasin sebelum dia datang.
"Elo nggak boleh beduaan sama cowok .." ucap Alif pelan, tapi tegas sambil menggenggam lenganku.
"Dan elo nggak boleh bertigaan sama cewek di rumah gue!" ucapku nggak kalah tegas.
"Kenapa?" tanya Alif. "Elo cemburu?!"
"Hahaha.. Seharusnya elo nanya itu ke diri lo sendiri. Kenapa gue nggak boleh pergi sama dia?!" tanyaku tak mau kalah. "Elo takut gue nggak balik?!"
Alif menarik nafas. Udah keliatan ntar lagi meledak. "TERSERAH! PERGI KALO ELO MAU PERGI! GUE NGGAK PEDULI!"
Ricky bertindak. Ini di luar rencana. "Eh, elo boleh tegas sama cewek, tapi nggak ngebentak juga!"
"Elo diem! Ajak cewek elo pergi!" tegas Alif. "Dan kalo perlu, lapor ke nyokap gue, Feb, kalo gue nggak becus jagain elo!"
Aku, sebagai cewek, melayangkan satu tamparan ke pipi Alif dan meneteskan airmata. "KELUAR DARI RUMAH GUE, LIF! KALIAN BERDUA! Rick, elo pulang aja!"
"Feb, elo nggak apa-apa?" tanya Ricky.
Aku berusaha nggak terdengar lemah. "Udah, Rick. Elo pulang aja. Makasih." Dengan suara setengah bergetar, aku mengucapkan peringatan sekali lagi, "KELUAR, LIF! Dan elo berdua juga!"
~~~
Aku menangis di balik pintu. Mengutuk semua perasaan yang ada. Alif. Cowok gila yang nggak lebih dari penjaga dan anak tetangga. Tapi, kenapa dia bisa buat aku ngerasain karma?! Kenapa aku semakin lama semakin ngerasa terikat sama dia?! Ini bukan bagian dari rencana! Dan aku nggak siap buat ngakuin semuanya, kalo aku... Aku... aku suka sama Alif.
Aku membuka kunci pintu dan berlari ke kamar. Terserah Alif mau masuk apa nggak. Yang jelas, aku akan coba buat nggak peduli.
~~~
"Feb, maafin gue, Feb," pinta Alif di depan pintu kamarku. Aku nggak ngunci pintu, jadi pas dia nyoba buka, dia masuk perlahan. "Febby..."
Aku memejamkan mata. Pura-pura tidak dengar, tidak lihat, dan tidak merasakan apapun. Pura-pura tidur untuk sesuatu yang kukira tidak akan pernah terjadi.
"Febby, please maafin gue," pinta Alif sekali lagi. Akhirnya, aku nggak kuat.
"Emang, dengan maafin elo, airmata gue yang tadi kebuang bisa masuk lagi? Emang semua bakal baik-baik lagi setelah gue maafin elo? Emang..." aku memutus yang terakhir karena serius, nggak sanggup ngucapin. "Emang... perasaan yang udah aku rasain bisa ilang kalo aku maafin.. kamu?"
Alif diam.
~~~
Beberapa hari setelah itu, Papa dan mama pulang. Nggak ada lagi Alif, nggak ada lagi Tante Vita. Dan Vera-Wini masuk lagi. Sialan mereka! Enak banget tinggal pergi, tinggal dateng. Aku sendiri masih baru pulih dari luka yang kemarin.
"Cowok lu, Feb?" tanya Vera sambil menuju ke sebuah arah.
"Feb, dia kenapa ngeliatin elo mulu?" tanya Wini sekarang, ke arah yang sama.
Aku mengikuti telunjuk mereka. Cowok itu. Cowok yang ngebuat aku ngerasa terikat dan kayaknya karma datang menjemput.
"Samperin, gih, Feb!" suruh Wini.
"Ngapain?!" tanyaku nyolot.
"Siapa tau, dia mau nembak. Elo kan, udah ceritain semuanya," ujar Vera.
"Hahaha... Ngayal lo!" ucapku.
Kami bertiga melewati cowok itu. Tapi, ia langsung bergegas mengejar langkahku. Alif. KENAPA SELALU DIA?!
"Feb!" panggil Alif. Aku meneruskan langkahku. Vera dan Wini udah senewen ngeliat tingkahku. "Febby!"
"Apaan sih?!" akhirnya aku kesal sendiri.
"Elo pulang sama gue!" suruh Alif seenak udelnya.
"Ya udah, Feb. Kita duluan, ya," pamit Vera setia kawan. SIALLLLLLLL!!!!
~~~
"Gue juga sayang sama elo, Feb. Elo dengerin, dong," pinta Alif setengah nyolot setengah maksa.
"Yaudah, terus kalo elo sayang sama gue, gue harus gimana? Gue udah nggak ngerasain apa-apa, kok," jawabku membuka luka lama lagi.
Alif melongos. "Jadi, elo udah..."
"Iya. Gue udah move on. Gue males mikirin masalah kayak gini. Capek. Nggak guna. Dan, nggak penting," jawabku sambil seolah-olah nancepin pisau ke hati sendiri. SAKIT! "Lagian, gue yakin, apa yang elo rasain itu cuma ulah karma."
"Elo percaya karma?" tanya Alif. Aku menjawab dengan jawaban abu-abu. "Gue nggak pernah nyangka elo percaya karma. Elo bodoh, Feb. Ini semua bukan karma. Gue beneran sayang sama elo dan gue pengen elo jadi lebih dari tetangga, lebih dari adek kelas, lebih dari.. yang jelas, gue pengen elo jadi punya gue. Karena gue yakin, elo juga ngerasa terikat sama gue." Alif narik nafas. "Dan, ini BUKAN KARMA, Feb."
Aku hanya diam. Meneteskan airmata bukan hal yang tepat saat ini. Tapi, itulah yang hanya bisa kulakukan. Alif kontan memelukku. "Jangan nangis lagi, cantik. Nanti, cantiknya ilang." Seperti potongan dalam mimpi. Namun kali ini, semuanya nyata. Dan kini aku percaya, kalau tidak ada karma. Semua sudah diatur Tuhan dan apapun yang terjadi, itu tergantung Tuhan. Bukan karma.
"Gue juga sayang sama elo dan gue mau jadi punya lo," jawabku. Alif mengecup keningku.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos