Tuesday, February 28, 2012

Request Erin

Posted by Unknown
"Far, pulang bareng ya?" ajak Rian sepulang sekolah. Saat dilihatnya Farina sudah keluar kelas, ia langsung menhampiri gadisnya itu.
"Ya udah. Kamu bawa motor?" tanya Farina sambil mengikat tali sepatunya. Sebagai jawaban, Rian mengangguk dan menggandeng tangan Farina.
Sepanjang perjalanan pulang, kedua orang itu asyik mengobrol. Ketika melihat sebuah warung gado-gado, mereka mampir sebentar. Selain laper, Rian juga perlu membicarakan sesuatu dengan Farina.
"Far, kamu SMA mau dimana?" tanya Rian.
"Nggak tau. Kamu sendiri?" tanya Farina. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang ditakuti Rian.
Rian menarik nafas. "Seminggu sebelum kita lulus, aku bakal pergi ke Jerman. Ayahku keterima kerja disana."
Farina menghentikan seruputan minumnya. Mendengar kata-kata Rian, ia terdiam dan menatap kosong benda yang ada di hadapannya. Rian mencoba untuk melihat ke arah lain, karena sesaat lagi kekasihnya ini akan meneteskan sesuatu yang akan sangat menyayat hati Rian.
"Harus sebelum kita lulus?" tanya Farina sambil mengelap beberapa tetes airmatanya dengan lengan seragam sekolahnya. Rian mengangguk. Terlalu sakit untuk mengucapkan kata-kata. Sama seperti Farina. "Ya udah, sekarang kita nikmati waktu yang ada. Setidaknya, aku bakal kangen banget sama 3 tahun kita."
Rian tersenyum pahit. Ninggalin elo, ngucapin semua ini, butuh perjuangan dan perlawanan ego, Far. Gue sayang banget sama elo, tapi gue harus pergi. Maafin gue, Far. Detak jantung Rian bergerak cepat. Dan untuk pertama kalinya, di hadapan Farina, ia menangis.
"Cuma elo yang boleh ngeliat airmata gue selain keluarga gue. Itu bukti kalo gue aslinya nggak kuat buat ngelepas lo," ucap Rian sambil mengurut-urut dahinya. "Kalo gue udah di Jerman nanti, elo jangan lupain gue, ya, Far. Karena elo itu udah jadi pemilik tiga tahun terbaik masa remaja gue. Gue sayang banget sama elo. Sayang banget, Far."
Farina menunduk dan diam-diam nafasnya tidak teratur. Ia menangis. Mungkin baru kali ini tangis Farina terdengar sangat menyakitkan di telinga Rian. SANGAT MENYAKITKAN!
~~~
"Ih, Farina maunya apa sih?! Resek banget jadi orang?! Masa ya, sahabatan sama cowok gue, tapi diem-diem ngegebet! Dasar, bitch banget!" gerutu Laras, mantan sahabat baik Farina.
Selama dua tahun ini, tingkah laku Farina berubah banget. Dari yang kalem dan baik, sekarang jadi ngeselin dan bitchy. Bahkan, temennya semua cowok. Semenjak Rian pergi, sifat Farina berubah 180 derajat. Mungkin ini salah satu adaptasi sama keadaan hatinya Farina, tapi kalau ada yang lebih baik, kenapa harus kayak gini?!
Beberapa saat sesudah MOS masuk SMA, Farina menjadi inceran anak-anak OSIS yang cowok-cowok. Cantik sih, iya. Tapi, yang buat mereka niat banget ngejer-ngejer Farina itu ya karena gayanya yang gandeng sana gandeng sini.
Di kelas 11-1, kelas Farina sekarang, untung aja anak-anak cowoknya kuat iman. Jadi, masih nggak mempan sama nafsunya Farina. Walaupun kadang-kadang agak hanyut, tapi setidaknya mereka menghargai kodrat cewek dan harga diri mereka sendiri.
"Rin, elo cocok tau gak jadi model sampul Playboy!" sindir Eri, salah satu dari cowok-cowok 11-1. Farina tersenyum genit mendengar itu. Bahkan, ia tertawa lepas.
"Bisa aja. Ntar semua mata memandang, loh, Ri," ucap Farina. Di lain sisi, Eri menggeleng tidak percaya.
Akhir-akhir ini, Farina deket dengan salah satu dari perkumpulan cowok 11-1, Dewa. Dewa ini anaknya alim banget dan seriusan, bentrok sama Farina. Tapi, entah kenapa, mereka jadi nempel gitu.
"Far, kalian semua, denger, gue punya gombalan.." ucap Dewa di tengah-tengah lingkaran perbincangan 11-1. "Apa bedanya Garuda sama kamu?"
"Apaaaa???" tanya anak-anak itu.
"Kalo garuda di dadaku, kalo kamu di hatiku," jawab Dewa sambil melirik ke arah Farina. Farina tersenyum. "Kalo persamaannya?"
Hening.
"Mereka sama-sama jadi bagian dariku," jawab Dewa diikuti sorak-sorai. Beberapa dari perkumpulan itu sadar kalau semua gombalan itu dituju untuk Farina.
~~~
Udah makan, Far? -Dewa
Udah. Elo sendiri? -Farina
Belum. Males gue makan. -Dewa
Yaaaah, makan dong. Kalo sakit, repot. Kasian ortu lu. -Farina
Iya, Mama... -_- -Dewa
Yaudah, makan dulu, gih, Wa. Gue tungguin, deh. -Farina.

Sebagian besar isi pesan masuk Farina seperti itu. Dewa. Dewa. Dewa. Dewa. Dan beberapa nama lain yang tidak semesra itu.

Hai, Far... -Dewa
Hey, kakak.. Udah selesai makan? -Farina
Udah. Eh, Far, kenangan terbaik elo apa? -Dewa

Membaca pesan itu, Farina teringat bayangan Rian. Rian. Tapi, dia tidak mau terlihat mellow, jadi dia berkata;

Pernah ketemu sama banyak orang. Khususnya elo. -Farina
Sok banget gombal. Cewek tuh, jangan ngegombal. Cewek itu harusnya digombalin ;) -Dewa
Ya udah, gombalin gue dong... -Farina
Hmmm... Kamu tau apa yang ngalahin bagusnya benda langit di siang dan malam hari? -Dewa
Apa? -Farina
Wajah kamu kalo lagi bersinar itu ngalahin matahari. Lembutnya hatimu itu ngalahin awan. Pancaran matamu itu meredupkan sinar bintang. Dan yang paling indah adalah keanggunanmu ngalahin bulan.. -Dewa
Aaaaaah... Ya Allah, Wa, kamu bisa aja. Seriusan, aku ngefly. Demi apapun, kamu belajar ngegombal dari mana? -Farina
Bakat kali. Hehe... Dibuka kursus gombal. -Dewa
Ya udah, aku daftar deh.. -Farina.
Kalo begitu, kamu murid satu-satunya dong... ;) -Dewa
Yaaaaa.. kelasnya sepi dong. :P -Farina
Nggak... Kelasnya bakal ramai dengan dentuman jantung kita. -Dewa
Aaaaah... Ngefly lagi.. -Farina

Dan kata-kata gombalan berlanjut hingga larut malam. Keduanya saling jatuh cinta, tapi juga saling bertahan. Dewa bertahan untuk mencari waktu yang tepat, Farina bertahan untuk tidak memberikan hatinya untuk kedua kalinya kepada orang yang terlihat tepat.
~~~
"Anjrit! Dewa-Farina jadian?!" suara desas-desus anak-anak seangkatan mulai terdengar di penjuru koridor kelas 11.
"Wa, lu jadian sama Farina?" tanya Ricky.
"Wa, sialan lu! Gue kelambatan ngelahkah nih!" gerutu Erman.
"Wa, hati-hati, Farina cewek gak bener.. Awas di 3-in," ujar Elita, penggemar rahasia Dewa.
Lain lagi dengan komentar 98% cewek-cewek.
"Yah.. Gue kasian sama Dewa. Pasti si Farina bakal nyelingkuhin."
"Ya Allah, mau berapa banyak koleksi cowoknya si Farina?!"
"Ampun deh... Ini cewek kok, nggak kenal neraka, ya?"

Farina dan Dewa tidak berkomentar. Keduanya tersenyum dalam keributan, menikmati setiap desas-desus, mengamini beberapa dari mereka, dan tersenyum sinis pada mereka yang iri. Namun, keduanya juga teriris dalam ramai. Farina menangis mendengar komentar dari bibir cewek-cewek, sedangkan Dewa tersayat menyadari semuanya hanya sebatas gosip.
~~~
Pemilihan OSIS sudah dekat lagi. Dewa mencalonkan diri jadi OSIS. Begitu juga beberapa temannya. Farina, di lain sisi, tidak tertarik sama sekali. Padahal, banyak yang yakin banget kalo Farina bakal nyalonin jadi OSIS. Tapi, mereka semua salah.
"Kok elo nggak ikut OSIS, Far?" tanya Dewa.
"Ngapain? Jangan ikut OSIS, gue udah eksis," jawab Farina sekenanya sambil menatap layar hp-nya.
"Elo nggak mau eksis dalam kebaikan, Far?"
"Hahaha... Emang OSIS baek semua?"
"Setidaknya, sebagian besar baik, Far."
"Haha. Itu menurut elo. Gue sih... Nggak pernah mikir begitu," ucap Farina sambil meletakkan handphone-nya.
Dewa tersenyum. "Gue baik, kan?"
"Iya kali," jawab Farina sekenanya.
Dewa tersenyum kecut. Bagaimana lagi dia harus lebih baik? Farina membalasnya dengan anggukan.
~~~
"Wa, kok, kagak lo tembak sih" tanya Arwan, teman seperjuangannya Dewa.
"Nunggu tanggal bagus atau waktu bagus," jawab Dewa. "Gue masih nggak yakin aja.."
"Halah... Padahal tiap malem udah OTP-an, BBM-an, segala macem.. Najong lu!" ledek Arwan sambil menempeleng kepala Dewa.
"Heh, itu namanya PDKT! Jangan sok tau, deh," jawab Dewa menempeleng balik.
"Gue do'ain cepet jadian. Biar maju dan nggak stuck. Okeh?" ucap Arwan. Dewa mengangguk.
Beberapa hari setelah itu, terdengar kabar kalau Farina sudah jadian sama anak SMA lain. Tapi, melihat Farina yang sikapnya nggak buat heran, Dewa menanyakan langsung.
"Far, elo udah jadian?" tanya Dewa pada Farina.
"Haha.. Masih masa pendekatan. Dianya baik banget. Gue males nolak," ucap Farina. Dewa melongos.
"Oh.." ucap Dewa singkat.
"Wa, tau gak sih, elo manggil gue 'Far', ingetin sama mantan. Jangan panggil gue 'Far' lagi. Benci gue sama nama panggilan itu," ucap Farina.
Dewa tersentak kaget. "Mantan? Segitu berartinya elo sampe ngebenci nama panggilan itu?"
Farina terdiam. "Nggak salah kan, gue move on dan ngebenci satu kenangan? Nggak, kan?"
"Nggak ada yang salah. Tapi, bukan berarti kenangan buruk adalah suatu pertanda buruk buat ke depannya. Nggak gitu," ucap Dewa.
Farina terkekeh. "Jangan nasehatin gue. Nggak bakal mempan."
~~~
Setelah perdebatan itu, Farina-Dewa meregang. Nggak ada lagi BBM-an, gombalan, atau apalah yang biasa mereka lakukan. Karena, sebentar lagi akan ada yang datang membawa sesuatu yang lebih menyakitkan, tapi juga menghangatkan.
"Perkenalkan, nama saya Rian. Saya murid pindahan dari Jerman," ucap Rian lantang di depan kelas 11-1.
Farina mengangkat wajahnya dan melihat sosok hangat itu. Dia lagi. Cowok yang ngubah jati dirinya, cowok yang buat dia kayak gini, cowok yang buat dia nggak bisa tepatin janjinya buat nggak ngelupain dia, cowok yang buat semuanya jadi kayak gini. Cowok itu.
Rian menyusuri jalan menuju tempat duduknya. Di sebelah Farina. Tempat kosong yang memang bukan hanya sekedar bangku sekolah, tapi juga tempat yang seharusnya menjadi teritori Rian untuk mencintainya. Tempat dimana nggak akan ada Dewa atau cowok lain. Tempat dimana Farina akan luluh dan melepas semua kebohongan jati dirinya. Tempat dimana, mata Dewa akan runtuh bersama pecahan hatinya.
"Hai, Far," sapa Rian. Farina berdiri dan berlari keluar meninggalkan tetes airmata di lantai tempat ia berlari.
Anak-anak sekelas ribut. Guru sendiri tidak ingin memperpanjang masalah. Namun, lima menit Farina tidak berlalu, Dewa menghampirinya. Diikuti ekor mata Rian dari kejauhan.
"Rin," panggil Dewa, melihat ringkuk badan Farina di sudut taman sekolah. "Jadi dia?"
Farina merintih dan terisak.
"Jadi, dia cowok istimewa yang ngasih panggilan itu? Panggilan yang elo benci? Jadi dia yang punya kenangan sama elo? Jadi dia?" tanya Dewa, perih, sakit, tapi mencoba untuk bertahan.
"Iya, Wa. Itu kenapa gue nggak pernah nganggep elo-gue serius. Karena dia masih megang hati dan jati diri gue sebenernya. Bukan karena gue emang nakal, bukan! Gue nggak kayak gini! Cuma dia yang bisa buat gue kolaps dan tiba-tiba lemah," aku Farina. "Nggak pernah ada Dewa, nggak pernah ada cowok lain, nggak pernah ada siapapun kecuali dia. Karena siapapun itu, kalau bukan nama Rian, hati gue nggak bakal terima."
Dewa menjauh. Mendengar semua pengakuan itu, dia pecah berkeping-keping. Melangkah menjauhi pujaan hatinya, berusaha untuk tegar meninggalkan kesan manis selama ini, dan belajar dari keterlambatannya dan ketidaksadarannya bahwa gadis itu masih menaruh hati pada pria di masa lalunya.
"Makasih, Far. Thanks buat BBM-nya dan waktunya. Setidaknya, sekarang gue yang ngerasa kalo elo udah genggam hati gue," ucap Dewa. "Rian cowok beruntung. Elo harus balik sama dia."
Farina berdiri dan berjalan di belakang Dewa. Ia menguatkan hati dan pikiran menghadapi wajah tak asing itu.
~~~
Sepulang sekolah, Rian menghampiri Farina. Farina yang tidak sadar akan ada badai datang menerjang, menjadi tidak stabil.
"Far," sapa Rian. "Apa kabar?"
"Baik, kok. Kamu apa kabar?" tanya Farina.
"Baik," jawab Rian. "Aku kangen banget sama kamu, Far."
Farina memalingkan wajah. "Kamu tau, selama ini, aku berubah. Gara-gara kamu. Aku berubah jadi cewek nakal yang mainannya cowok. Aku berubah jadi cewek gak bener dan beda banget sama waktu dulu kita sama-sama." Farina menarik nafas. "Tapi, sekarang aku nggak mau gitu lagi. Kamu udah ada disini. Kamu udah balik dengan jati diri aku lagi."
Rian tersenyum. "Semoga nggak terlambat.."
Dari kejauhan, Dewa menyaksikan adegan pelukan Rian-Farina. Dua orang yang emang nggak bisa dipisahkan. Dua orang yang sama-sama memiliki. Dua orang yang seharusnya nggak merusak hati Dewa. Dan seorang cewek yang udah ngebuat Dewa jatuh untuk pertama kalinya. Farina.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos