Saturday, February 25, 2012

Request Chelvia (Part 1)

Posted by Unknown
Ini cerita gue tentang elo. Elo yang memulai, elo juga yang mengakhiri. Gue nggak pernah tahu kalo kita bakalan.. ya, elo taulah, nyatu gitu. Tapi, dengerin aja..

"Chel, mau gak, jadi pacar gue?" Rai menatap mataku dan sesaat aku tersentak. Di depan teman-teman dekat kami, dia meminta.
"Bisa tunggu beberapa hari? Kalo gue udah siap, gue kasih jawaban," jawabku, singkat. "Dan, elo juga harus siap-siap.. nerima jawaban gue."
Rai tersenyum. Aku ikut tersenyum. Sebatas itu dan sesaat lagi, satu bagian kecil dari masa remajaku akan berubah. Terdengar dramatis, tapi mungkin seperti itu.

Gue nggak akan bilang kalo elo adalah hal terindah yang pernah terjadi di hidup gue. Nggak. Aslinya, gue sebel sama elo. Tapi, buat apa gue sebel, gue galau, gue meluapkan semua isi hati gue pakai tangisan, kalo elo cuma diam. Merasa nggak bersalah.

"Gue mau, Rai," jawabku di saat yang kukira tepat. Hal ini kuucapkan beberapa hari setelah permintaan itu. "Gue mau jadi pacar lo."
Rai tersenyum seperti baru saja mendengar berita terbahagia yang pernah ia dengar. "Makasih, ya. Dan sekarang, gue nggak bakal nyakitin elo. Bahkan, gue nggak akan pernah bikin elo sedih dan galau. Suer!" ucap Rai menjanjikan. Giliran sekarang aku terbang.
Semua berawal dari sini. Semuanya.

Gue sempet berpikir semuanya terlalu cepat. Tapi, apa salahnya nyoba? Ya, gak? Apa salahnya merealisasikan harapan teman-teman? Mereka selalu mencocokkan kita, bahkan yakin kalo suatu hari, kita emang bakal jad satu. Suatu hari.. Dan itu terjadi.

Hari pertama, aku mencoba mengkontaknya. Berhasil. Kutanya sedang apa dan banyak pertanyaan-pertanyaan manis lainnya tentang harinya. Menyenangkan, kah? Dan selalu kuakhiri dengan.. 'I love you so much'. Itu tidak salah, kan? Mereka sudah banyak tahu sekarang. Senang, mendukung.. Kuharap, dia juga seperti itu.

Kita udah annive loh.. Gue, elo... Kita! Sebulan. Sebulan, ya. Waktu yang cukup sebentar dan bahkan menurut gue, yaaa terlalu cepat. Lalu, selalu saja ada badai di setiap musim semi. Elo tau kan, maksud gue?

'Bales dong.. BBM-nya. Masa aku PING! berkali-kali nggak nyautin?! :'(' Setiap malam, hampir seluruh malamku saat itu, penuh dengan kegalauan. Aku mulai takut akan kehilangan, kekecewaan, dan segala kebalikan dari hal yang dia janjikan.
'Udah dibales, ya. Good night, nice dream.' Jawabnya singkat. Sesingkat aku menarik nafas.
'Thanks, udah dibales. Good night juga. I love you so much, Rai.' Dan dariku sepanjang itu. Tidak seimbang. Tapi, selama dia membalas, aku sudah senang.

Badai itu muncul...

'Rai kemana sih?! Nggak dibales dan bahkan nggak di-read! Bete!' satu dari sekian keluhanku. DIA DIMANA?!
'Sabar, ya.. Lagi sibuk kali.' ujar seorang teman. 
'Gimana mau sabar? Selalu kayak gini...' jawabku.
'Tapi, dia masih sayang kan...' ucapnya lagi.
'Mungkin ...' jawabku, ambigu.

Isi pesan elo malam itu..

Chel, gue rasa kita udah nggak cocok. Temenan lagi aja, ya. Makasih buat satu bulan 8 harinya. Maaf gue nggak bisa nepatin kata-kata gue. Maaf...

Dan ini pesan gue yang tidak sempat kekirim ke elo, karena gue udah keburu nangis. Elo tau.. Sakit! Sakit banget..

Hmm... Salah Rai, salah. Kita bukan udah nggak cocok. Tapi, kamu berhenti berharap, sementara aku masih. Berat sebelah. Kamu berhenti bertahan, tapi aku masih ingin bertahan. Kamu berhenti menggenggam, tapi aku terlalu lemah untuk menarikmu lagi. Buat satu bulan 8 harinya, aku masih ingin lebih lama. Karena, kupikir, kita nggak bisa berhenti sampai sini. Mana janji kamu?! Aku... jatuh. Terhempas. Tapi, harus aku hadapi. Semoga akan ada yang datang membawa senyumku kembali. :'(

Tapi, itu terlalu terlihat lemah. Ini balasan gue. ..

Sip. Iya. Kayaknya, enakan temenan. Sama-sama, Rai. :) Jangan jaim-jaim. :D

Elo nggak pernah tau kan, betapa panjang gue nangis? Nggak kan?! Hahaha.. Elo tau, gue masih nunggu janji lo.. Masih.

0 comments:

Post a Comment

Blog List

 

Re-A-Lis-Tic Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos