Afa sekarang udah ada di Bandung. Jadi siswa SMA, padahal ia hanya dua tahun bedanya denganku. Emang otaknya Afa itu jenius banget, Dia akselerasi berapa kali pas SD. Aku emang beruntung banget dapet Afa. Soalnya, selain jadi kakak, pacar, sahabat, dia juga rela tutoring aku.
Liburan kenaikan kelas tahun ini bakal aku habiskan sama Afa di Bandung. Cuma keluarganya dia, keluargaku, dan kami berdua. Di area Lembang, kami sudah memesan villa untuk liburan. Afa malah kesenengan pas tahu kalo aku bakal liburan bareng dia. Dia juga lagi off ngejer materi. Jadi, sama-sama bakal menikmati liburan kali ini.
~~~
"Kareeeeeeeeeeeeeeeen!!!! Allahuakbar!" teriak Afa pas bajunya basah karena barusan, aku ngeguyur dia pake selang dan selang itu semprotannya ngucur deras banget. "Kareeeen!!! Ih, kena kamu sama aku!"
Aku meletakkan selangnya dan berlari agar Afa tidak bisa mengejarku. Tapi, Afa larinya jauh lebih cepat dari lariku. Jadinya, ya udah, giliran aku digendong dan dijatohin ke kolam dekat villa itu. Dingin banget!
Seperti dibangunkan, saat kepalaku berada dalam air, seluruh hati berkata, Afa cuma sahabat, Key. Nggak bisa jadi lebih. Elo nggak sayang dia sebagai pacar. Kemudian, aku mengangkat kepalaku dari kolam dan berenang menuju tepian kolam. Afa menungguku disana.
"Key, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Afa khawatir melihat perubahan ekspresi wajahku. Aku diam. Menekuk lutut dan memeluknya. "Key! Karen!"
Aku berdiri dan berlari menuju kamarku di villa ini. Aku tahu Afa mengikutiku dari belakang. Namun, aku menguncinya di luar kamar. Aku langsung masuk kamar mandi dan mengganti semua pakaian lalu merenung di dekat jendela kamar.
Elo emang nggak sayang sama Afa lebih dari sahabat. Elo cuma nganggep dia sahabat dan kakak. Kasihan Afa, Key. Lepasin dia.. suara dalam hatiku kembali menggema.
TOK! TOK! TOK! Aku tidak menjawab. Pasti Afa.
"Key, kamu makan, dong," pinta Afa dari luar pintu. Ia kembali mengetuk pintu kamarku. "Key, please... Eat your dinner."
Aku akhirnya membukakan pintu. Membiarkannya masuk. Afa menatap mataku. Merah, bengakak. Ia menaruh piring makanku di meja dekat pintu dan duduk di ujung tempat tidurku.
"Kamu marah?" tanya Afa lembut. Aku menggeleng.
"Kok, dari tadi nyuekin aku?" tanya Afa lagi.
Aku berdehem. "Fa, aku mau ngomong sesuatu."
"Ngomong aja, Key," ujar Afa.
"Fa.." potongku. "Aku nggak bisa sayang sama kamu lebih dari sahabat. Mungkin dulu, aku bisa. Tapi, sekarang, aku udah makin dewasa. Aku sadar kalo ternyata kamu sama aku itu yaaaa, sebatas sahabat, Fa."
Afa diam. Menunduk. Menekan-nekan dahinya dan mengurut kepalanya. Keheningan itu menyisakan banyak jarak antara aku dan dia. Keheningan itu meruntuhkan semua jembatan kasih sayang yang dulu kokoh. Keheningan itu adalah hal yang menyakitkan untuk aku dan Afa.
"Key.." mulai Afa. "I loved you once, I still do, I always will. Kalo emang kamu udah sadar tentang perasaanmu, jangan lupain aku. Karena, kamu boleh sayang sama aku sebatas sahabat. Tapi, aku nggak bisa sayang sama kamu sebatas sahabat."
Aku menyembunyikan kepalaku di antara kedua telapak tanganku. Aku menangis. Mengatakan hal itu menyakiti sahabatku sendiri. Dan terlebih lagi, menyakiti aku.
"Maaf, Fa," ucapku lirih. Afa menggenggam jemariku dan tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok Afa menangis.
~~~
Liburan kenaikan kelas kemarin bukan malah refreshing, tapi malah buat down. Kelas 9 kali ini, aku udah bebas. Bebas milih. Ada hal-hal kecil yang masih mengingatkanku dengan Afa, tapi aku berusaha untuk tidak peduli. Hati ini memang masih belum terisi. Aku menunggu orang itu kembali. Orang yang akan mengisi lagi. Menggantikan Afa.
~~~
"Karen!" panggil Dita tiba-tiba saat aku ingin memasuki kelas.
"Kenapa, Dit?" tanyaku polos.
"Ada yang nyariin di kelas 9-3," ucap Dita. "Duluan ya, Ren."
Aku melambaikan tangan dan berjalan menuju 9-3. Yang seharusnya aku udah duduk manis di kelas, jadi digangguin sama pertemuan ini. Tapi, nggak apa-apalah. Setidaknya, bel masuk masih lama.
"Assalamu'alaikum," salamku di depan kelas 9-3.
"Wa'alaikumsalam," jawab anak-anak yang nongkrong di 9-3.
"Ada yang nyariin gue, ya?" tanyaku.
"Oh iya. Kar, tadi elo disuruh Bu Dian ke kantor. Katanya kalas 9-6 dicariin tapi nggak dateng-dateng," ucap salah satu dari anak cowok yang sedang nongkrong.
"Oh... Ya udah, makasih, ya," salamku lalu keluar lagi menuju kantor guru.
Ternyata, Bu Dian sedang sholat. Aku balik lagi ke kelas. Kalo misalnya Bu Dian emang ada perlu, pasti nanti dia nyamperin ke kelas. Jadi, aku tidak perlu khawatir.
~~~
"Tolong difotokopiin. Terus, sebelum pulang, bagiin ke temen-temen kamu," ucap Bu Dian padaku.
Aku dapat tugas suruh fotokopi soal matematika. Padahal, kurang dari 20 menit lagi, bel pulang berbunyi. Mau nolak, tapi nggak sopan. Alhasil, aku bergegas ke tukang fotokopi dan meminta 31 fotokopi dari yang asli. Kemudian, tepat saat aku balik lagi, kelas udah sunyi. Udah pada pulang.
Alhasil, aku meletakkan kertas-kertas fotokopian itu di atas meja guru di kelas. Besok palingan semua langsung inisiatif ngambil.
Kemudian, aku menuruni tangga untuk pulang. Setelah tadi merapikan buku di kelas, sendirian, aku jadi anker sama kelas. Kayak ada kesan berhantunya gitu. Jadinya, buru-buru keluar sekolah.
Dan yang nyesek adalah, Papa nggak bisa jemput. Aku nungguin angkot satu-satu dateng, tapi nggak ada yang kosong. Percuma ngetem di depan sekolahku, kalo nggak bisa ditumpangi.
"Hei!" sapa seseorang dari belakangku. "Kok, elo belum pulang?"
"Hai! Tau nih, masa dari tadi angkotnya nggak ada yang kosong," ucapku sambil mengelus-elus lengan sendiri.
Dia berpikir. "Elo jurusan kemana angkotnya?"
"Terminal. Elo?" tanyaku balik.
"Sama. Ya udah, barengan aja," ucapnya sambil mengajakku nyetop angkot yang agak kosong.
Anehnya, pas ada dia, angkot berasa sepi. Walhasil, kita naik dan pergi menuju terminal. Aku ingat wajah dia, dia yang tadi nyariin di kelas 9-3. Si Rey.
~~~
Nggak disangka, besok dan seterusnya, Rey dan aku jadi temen seangkot. Kita selalu pulang bareng dan terakhir kali adalah Rey nanya nomor telepon aku.
Hai, Ren.. -Rey
Hai, Rey. Tumben sms.. -Aku
Iseng. Hape gue berasa nggak bernyawa. ._. -Rey
Yaaaah, kirain kenapa.. Ya udah, gue belajar dulu, ya. :) -Aku
Sip. Makasih udah buat hp agak rame. :P -Rey
Aku tersenyum membaca pesan masuk dari Rey yang terakhir. Cowok ini... Sok kenal banget, tapi asik. Tadi, di angkot, kita berdua ngobrolin apa aja. Nyambung banget. Dan nggak kerasa, perlahan aku mulai senang bergaul sama Rey.
~~~
TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK! Suara-suara itu menggema di lorong sekolah. Rey sedang berlutut di hadapanku. Aku udah nggak bisa ngerasain apa-apa lagi. Nge-fly sejadi-jadinya.
"Ren, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Rey sambil memberikan setangkai bunga. Aku, salting, menerima bunga itu.
"Mau banget!" ucapku. Kemudian, seisi lorong menyorakkiku tidak henti. Rey berbisik padaku. Katanya, hari ini pulangnya dia yang nganter. Aaaaaah!!! Aku makin seneng!!!
~~~
Di depan rumah, sudah ada mobil keluarganya Afa. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku menarik Rey supaya tidak berinisiatif masuk. Rey memberikanku tatapan kurang setuju.
"Kok gak boleh masuk?" tanya Rey, polos.
"Kamu disini dulu. Ada yang bakal nggak suka sama kamu kalo aku ajak masuk," ucapku sambil menatap Rey di benik matanya.
"Siapa?" tanya Rey.
"Afa," jawabku.
Sebelum Rey sempat kusembunyikan, Afa keluar. Dengan jemarinya di dalam kantong, dia menatap sekeliling dan menemukan aku dan Rey. Tatapannya berubah. Hangat menjadi dingin. Namun, gerak tubuhnya sama. Aku mulai gemetar. Seakan tau, Rey menggenggam tanganku. Aku menyembunyikan wajahku di lengan Rey.
"Hey, Key!" sapa Afa. Panggilan 'Key'...
"Hai, Fa! Tumben mampir," sapaku balik setengah hampir mati karena takutnya. "Fa, kenalin, ini... te-.. pacar aku, Rey."
Rey mengulurkan tangannya. Afa menjawab uluran itu secara dingin. Kali ini bisa kubaca dari gerak tubuhnya. Rey memberikan senyum hangatnya pada Afa. Saat ini mungkin dia sudah mengerti apa yang terjadi.
"Cie, yang jadian. Kapan-kapan gue minta PJ, ya..." ucap Afa. Kata 'gue' tidak pernah kudengar dari mulut Afa sebelumnya.
Rey tersenyum dan merangkulku. "Iya. Ya udah, ya.. Gue mau jalan sama cewek baru. Pamit dulu."
Aku bersyukur dan berterimakasih sebanyak-banyaknya pada Rey. Berkatnya, aku tidak perlu berhadapan dengan Afa secara canggung.
~~~
"Afa pacar kamu, ya?" tanya Rey diikuti suapan nasi goreng yang baru saja diantar.
"Mantan.." ucapku sambil menerawang.
"Pertama?"
"Maksudnya?"
"Mantan pertama?" tanya Rey.
"Iya. Kenapa? Sangar ya?" tanyaku.
Rey menarik nafas dan menelan nasi gorengnya. "Dia masih sayang sama kamu, ya?"
Aku menatap Rey heran. "Nggak tau."
"Keliatan, Ren. Kamu tau, pas tadi dia senyum ke kamu, keliatan banget dia itu pengen banget ada di posisi aku. Dan pas dia jabat tangan aku, Ya Allah, sedingin es batu! Dia kayak gak rela," ucap Rey. Aku tersenyum.
"Iya kali, Rey. Tapi, aku sih, bodo amat. Lagian, mungkin menurut Afa, aku masih sayang dia lebih dari sahabat kali. Padahal mah, aku udah ada kamu," gombalku. Rey tersenyum.
"Abisin minumnya. Nggak usah ngegombal mulu," ucap Rey. Aku terkekeh dan menikmati traktiran Rey.
~~~
Annive tiga bulan, hubunganku sama Rey sudah sangat baik. Semua mendukung dan jujur, aku ngerasa selalu safe pas sama Rey. Entah mungkin karena sering naik angkot bareng atau apa, yang jelas Rey itu gentlemen.
Pulang sekolah kali ini Rey nggak bareng aku. Aku juga udah bilang nggak apa-apa ke dia, karena baru-baru ini rumah telepon dapet kabar buruk. Aku bergegas pulang dan menitip salam untuk Rey pada kawan-kawannya.
"Assalamu'alaikum," salamku saat sampai rumah.
Tidak ada sahutan sampai akhirnya beberapa suara menjawab salamku. Aku bingung dan sejak tadi memang perasaanku nggak enak. Aku menghampiri semuanya yang sedang terduduk sepi di dalam ruang keluarga. Beberapa wajah sudah terlihat basah dan banyak pasang mata yang memancarkan kesedihan dan sembap.
"Ada apa?" tanyaku.
Mama hampir membuka suara, namun kata-katanya hanya sampai tenggorokan. Aku mulai takut. ADA APA?!
"Afa kecelakaan, Key. Beberapa jam yang lalu. Sekarang dia di rumah sakit, masih belum sadar. Udah cukup lama," ucap Mama akhirnya.
Merasa ditikam, aku berlari menuju kamar, mengunci diriku, menyembunyikan wajahku di dalam bantal, dan membanjiri tempat tidurku dengan airmata. Mengapa hal ini terjadi saat aku sedang berbahagia dengan Rey? Kenapa harus begitu? Apa ini karma karena aku memutuskan hubungan dengan Afa?
Segala macam hal terlintas di benakku, tapi aku hanya mencairkannya di atas seprai rapi. Aku tak sanggup berkata apa-apa, bahkan aku tidak tahu harus berbicara apa. Untuk sesaat, aku merasa Afa sudah mengingkari janjinya bahwa dia tak akan meninggalkanku seperti yang Rachel lakukan. Aku membencinya sekarang, namun juga takut kehilangan dia.
~~~
Malam ini, aku sekeluarga mengunjungi kediaman Afa. Walaupun tidak ada gunanya, karena Afa masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tapi, akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk Afa. Aku berusaha menguatkan setiap saraf dan perasaan agar tidak runtuh saat melihat hal terburuk yang sebentar lagi akan muncul di hadapanku.
Pintu kamar rawatnya sedikit terbuka. Di dalam masih ada beberapa perawat dan seorang dokter yang memeriksa keadaan Afa. Separah apa? Sekejam itukah aku sampai tidak ingin melihatnya?
Kami masuk akhirnya. Melihat tubuh lemas yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Tangan kanannya dibalut perban dan aku bisa tahu bahwa itu patah. Balutan perban yang melingkar di kepalanya terlihat merah darah. Kakinya... Aku meraba bagian bawah kakinya. Aku bisa merasakannya, tapi bagaimana dengan Afa?
Afa tersadar beberapa jam kemudian. Aku menggenggam jemarinya dan tertidur di samping infusnya. Saat ia bergerak, kontan aku membuka mata.
"Key?" ucapnya lemah.
Aku diam. Semua rasa sakit hati Afa menusuk ke jantungku. Aku memaksakan diri untuk menatap matanya. Semakin dalam kutatap, semakin aku merasa luluh. Afa... Aku memeluknya. Sadar bahwa Afa akan menahan sakitnya demi untuk menerima pelukanku, aku enggan melepas pelukan itu. Perasaan bersalah, sakit, kangen, dan segala macam perasaan lainnya menghantam otak dan hatiku. Dan aku menangis. Afa mengusap airmataku dengan lengan kirinya.
"Jangan nangis. Kasian aku nanti lebih sakit lagi ngeliat kamu sedih," ucap Afa sambil tersenyum. Senyum seseorang yang sudah terlalu banyak merasakan sakit.
Aku tersenyum. Memaksa sejuta otot wajahku untuk tidak menyakiti perasaan Afa. "Kok bisa, Fa?"
"Nggak tau.. Berdo'a aja, aku nggak harus pakai kursi roda. Soalnya, kayaknya kaki aku patah," jawab Afa sambil menatapku dengan ketegaran.
Aku memeluk tangannya yang kugenggam. "Aku bakal ada disini sampai kamu sembuh, Fa. Kamu nggak boleh kayak Rachel seenaknya ninggalin aku. Kalo pun emang harus, aku mau aku orang terakhir yang bisa ngasih Goodbye pake senyum."
Afa tersenyum. Hangat.
~~~
Kira-kira dua minggu, aku balik lagi ke rumahku. Menjalani rutinitas sekolah. Sudah dua minggu juga aku tidak berkomunikasi dengan Rey. Mungkin dia marah. Tapi, memang semuanya salahku. Dia patut marah.
TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK! Suara-suara itu menggema di lorong sekolah. Rey sedang berlutut di hadapanku. Aku udah nggak bisa ngerasain apa-apa lagi. Nge-fly sejadi-jadinya.
"Ren, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Rey sambil memberikan setangkai bunga. Aku, salting, menerima bunga itu.
"Mau banget!" ucapku. Kemudian, seisi lorong menyorakkiku tidak henti. Rey berbisik padaku. Katanya, hari ini pulangnya dia yang nganter. Aaaaaah!!! Aku makin seneng!!!
~~~
Di depan rumah, sudah ada mobil keluarganya Afa. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku menarik Rey supaya tidak berinisiatif masuk. Rey memberikanku tatapan kurang setuju.
"Kok gak boleh masuk?" tanya Rey, polos.
"Kamu disini dulu. Ada yang bakal nggak suka sama kamu kalo aku ajak masuk," ucapku sambil menatap Rey di benik matanya.
"Siapa?" tanya Rey.
"Afa," jawabku.
Sebelum Rey sempat kusembunyikan, Afa keluar. Dengan jemarinya di dalam kantong, dia menatap sekeliling dan menemukan aku dan Rey. Tatapannya berubah. Hangat menjadi dingin. Namun, gerak tubuhnya sama. Aku mulai gemetar. Seakan tau, Rey menggenggam tanganku. Aku menyembunyikan wajahku di lengan Rey.
"Hey, Key!" sapa Afa. Panggilan 'Key'...
"Hai, Fa! Tumben mampir," sapaku balik setengah hampir mati karena takutnya. "Fa, kenalin, ini... te-.. pacar aku, Rey."
Rey mengulurkan tangannya. Afa menjawab uluran itu secara dingin. Kali ini bisa kubaca dari gerak tubuhnya. Rey memberikan senyum hangatnya pada Afa. Saat ini mungkin dia sudah mengerti apa yang terjadi.
"Cie, yang jadian. Kapan-kapan gue minta PJ, ya..." ucap Afa. Kata 'gue' tidak pernah kudengar dari mulut Afa sebelumnya.
Rey tersenyum dan merangkulku. "Iya. Ya udah, ya.. Gue mau jalan sama cewek baru. Pamit dulu."
Aku bersyukur dan berterimakasih sebanyak-banyaknya pada Rey. Berkatnya, aku tidak perlu berhadapan dengan Afa secara canggung.
~~~
"Afa pacar kamu, ya?" tanya Rey diikuti suapan nasi goreng yang baru saja diantar.
"Mantan.." ucapku sambil menerawang.
"Pertama?"
"Maksudnya?"
"Mantan pertama?" tanya Rey.
"Iya. Kenapa? Sangar ya?" tanyaku.
Rey menarik nafas dan menelan nasi gorengnya. "Dia masih sayang sama kamu, ya?"
Aku menatap Rey heran. "Nggak tau."
"Keliatan, Ren. Kamu tau, pas tadi dia senyum ke kamu, keliatan banget dia itu pengen banget ada di posisi aku. Dan pas dia jabat tangan aku, Ya Allah, sedingin es batu! Dia kayak gak rela," ucap Rey. Aku tersenyum.
"Iya kali, Rey. Tapi, aku sih, bodo amat. Lagian, mungkin menurut Afa, aku masih sayang dia lebih dari sahabat kali. Padahal mah, aku udah ada kamu," gombalku. Rey tersenyum.
"Abisin minumnya. Nggak usah ngegombal mulu," ucap Rey. Aku terkekeh dan menikmati traktiran Rey.
~~~
Annive tiga bulan, hubunganku sama Rey sudah sangat baik. Semua mendukung dan jujur, aku ngerasa selalu safe pas sama Rey. Entah mungkin karena sering naik angkot bareng atau apa, yang jelas Rey itu gentlemen.
Pulang sekolah kali ini Rey nggak bareng aku. Aku juga udah bilang nggak apa-apa ke dia, karena baru-baru ini rumah telepon dapet kabar buruk. Aku bergegas pulang dan menitip salam untuk Rey pada kawan-kawannya.
"Assalamu'alaikum," salamku saat sampai rumah.
Tidak ada sahutan sampai akhirnya beberapa suara menjawab salamku. Aku bingung dan sejak tadi memang perasaanku nggak enak. Aku menghampiri semuanya yang sedang terduduk sepi di dalam ruang keluarga. Beberapa wajah sudah terlihat basah dan banyak pasang mata yang memancarkan kesedihan dan sembap.
"Ada apa?" tanyaku.
Mama hampir membuka suara, namun kata-katanya hanya sampai tenggorokan. Aku mulai takut. ADA APA?!
"Afa kecelakaan, Key. Beberapa jam yang lalu. Sekarang dia di rumah sakit, masih belum sadar. Udah cukup lama," ucap Mama akhirnya.
Merasa ditikam, aku berlari menuju kamar, mengunci diriku, menyembunyikan wajahku di dalam bantal, dan membanjiri tempat tidurku dengan airmata. Mengapa hal ini terjadi saat aku sedang berbahagia dengan Rey? Kenapa harus begitu? Apa ini karma karena aku memutuskan hubungan dengan Afa?
Segala macam hal terlintas di benakku, tapi aku hanya mencairkannya di atas seprai rapi. Aku tak sanggup berkata apa-apa, bahkan aku tidak tahu harus berbicara apa. Untuk sesaat, aku merasa Afa sudah mengingkari janjinya bahwa dia tak akan meninggalkanku seperti yang Rachel lakukan. Aku membencinya sekarang, namun juga takut kehilangan dia.
~~~
Malam ini, aku sekeluarga mengunjungi kediaman Afa. Walaupun tidak ada gunanya, karena Afa masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tapi, akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk Afa. Aku berusaha menguatkan setiap saraf dan perasaan agar tidak runtuh saat melihat hal terburuk yang sebentar lagi akan muncul di hadapanku.
Pintu kamar rawatnya sedikit terbuka. Di dalam masih ada beberapa perawat dan seorang dokter yang memeriksa keadaan Afa. Separah apa? Sekejam itukah aku sampai tidak ingin melihatnya?
Kami masuk akhirnya. Melihat tubuh lemas yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Tangan kanannya dibalut perban dan aku bisa tahu bahwa itu patah. Balutan perban yang melingkar di kepalanya terlihat merah darah. Kakinya... Aku meraba bagian bawah kakinya. Aku bisa merasakannya, tapi bagaimana dengan Afa?
Afa tersadar beberapa jam kemudian. Aku menggenggam jemarinya dan tertidur di samping infusnya. Saat ia bergerak, kontan aku membuka mata.
"Key?" ucapnya lemah.
Aku diam. Semua rasa sakit hati Afa menusuk ke jantungku. Aku memaksakan diri untuk menatap matanya. Semakin dalam kutatap, semakin aku merasa luluh. Afa... Aku memeluknya. Sadar bahwa Afa akan menahan sakitnya demi untuk menerima pelukanku, aku enggan melepas pelukan itu. Perasaan bersalah, sakit, kangen, dan segala macam perasaan lainnya menghantam otak dan hatiku. Dan aku menangis. Afa mengusap airmataku dengan lengan kirinya.
"Jangan nangis. Kasian aku nanti lebih sakit lagi ngeliat kamu sedih," ucap Afa sambil tersenyum. Senyum seseorang yang sudah terlalu banyak merasakan sakit.
Aku tersenyum. Memaksa sejuta otot wajahku untuk tidak menyakiti perasaan Afa. "Kok bisa, Fa?"
"Nggak tau.. Berdo'a aja, aku nggak harus pakai kursi roda. Soalnya, kayaknya kaki aku patah," jawab Afa sambil menatapku dengan ketegaran.
Aku memeluk tangannya yang kugenggam. "Aku bakal ada disini sampai kamu sembuh, Fa. Kamu nggak boleh kayak Rachel seenaknya ninggalin aku. Kalo pun emang harus, aku mau aku orang terakhir yang bisa ngasih Goodbye pake senyum."
Afa tersenyum. Hangat.
~~~
Kira-kira dua minggu, aku balik lagi ke rumahku. Menjalani rutinitas sekolah. Sudah dua minggu juga aku tidak berkomunikasi dengan Rey. Mungkin dia marah. Tapi, memang semuanya salahku. Dia patut marah.
0 comments:
Post a Comment